Radio menyala sebelum Ranu sempat menelan tegukan kopi terakhirnya.
"Pos Sangkala, ada laporan kecelakaan tunggal di Simpang Arteri Wanaraja. Motor versus pembatas jalan. Korban satu, laki-laki, tergeletak. Pelapor pengendara ojek yang lewat." Suara Bu Harni dari ruang dispatch tenang seperti biasa, padahal jam dinding garasi baru menunjuk pukul tiga lewat tujuh menit. "Ranu, kamu yang paling dekat. Unit Dua masih di RS Sentana, belum kosong."
"Diterima, Bu. Meluncur." Ranu sudah berdiri sebelum kalimatnya selesai. Tangannya menyambar kunci dari papan, kakinya menendang sandal jepit, menggantinya dengan sepatu lapangan yang talinya tak pernah ia lepas. Di sebelahnya, Cempaka sudah lebih dulu di pintu samping ambulans, menarik sarung tangan sambil menguap.
"Subuh-subuh begini, jalan kosong. Untung satu kali ini," gumam Cempaka.
"Jangan diomongin. Nanti macet datang."
Mesin menyala dengan suara batuk yang Ranu hafal betul. Ambulans tua itu—nomor lambung Sangkala Satu—punya tabiat sendiri. Pintu belakang harus dibanting dua kali. Sirene kadang ngadat di putaran ketiga. Tapi malam ini ia jalan, dan jalan kosong subuh adalah satu-satunya hadiah yang Kota Sangkala kasih kepada orang seperti Ranu.
Lampu kota berkelebat di kaca depan. Ranu tahu jalan ini seperti tahu garis di telapak tangannya sendiri. Lewat depan Pasar Wanaraja yang masih tutup, belok di tikungan dekat masjid yang tembok depannya retak, lalu turun ke arteri. Ia tidak butuh peta. Petanya ada di kepala—lengkap dengan jam macet, gang tikus, dan jembatan tua satu jalur yang jadi mimpi buruk setiap sopir ambulans di kota ini.
Di kursi belakang, Cempaka menyiapkan tas trauma. "Collar, papan, bidai. Oksigen?"
Ranu melirik spion kecil. "Cek tekanannya."
Cempaka memutar keran tabung. Bunyi desis pelan. "Setengah lebih sedikit. Cukup buat satu pasien, asal nggak lama."
"Selalu asal nggak lama," sahut Ranu pelan.
Mereka sampai dalam empat menit. Di bawah lampu jalan yang separuh mati, sebuah motor matik teronggok miring, spionnya pecah berserakan seperti gigi. Korban tergeletak miring beberapa meter dari motornya, satu kaki terlipat ke arah yang salah. Seorang pengemudi ojek berdiri panik di pinggir, ponselnya masih menyala.
Ranu melompat turun. Mata, telinga, tangan—itu urutannya. Sebelum menyentuh, ia melihat dulu. Genangan gelap di bawah kepala korban. Dada yang masih naik-turun, tapi pendek-pendek.
"Mas, jangan sentuh dia," Ranu menahan ojek yang hendak mengangkat korban. "Bapak ini napas masih ada. Kalau leher kena dan kita asal angkat, bisa lumpuh seumur hidup. Bantu saya pegangin senter, ya."
Ia berlutut di aspal yang masih menyimpan panas siang. Tangannya menahan kepala korban, menjaga garis lurus leher dengan kepala. "Pak, dengar suara saya? Pak?" Tidak ada jawaban, hanya erangan tipis. Sadar, tapi tidak penuh.
"Cempaka, collar."
Cempaka sudah di sisinya, memasang penyangga leher dengan gerakan yang tak perlu dilihat dua kali. Jari Ranu menyusuri kepala korban dan menemukan sumber genangan itu—robekan di kulit kepala, deras, tapi bukan yang paling membunuh. Yang membunuh adalah hal-hal yang tak terlihat: leher, dada, perut.
"Tekanan di kepala dulu," kata Ranu. Cempaka menekan kasa tebal ke luka. Ranu meraba dada korban, menekan pelan di kanan dan kiri. Yang kiri terasa berbeda—ada gerak yang tak seharusnya, retak iga yang ia rasakan di ujung jari. Napas korban memburuk, dadanya naik tapi seperti tertahan.
"Iga kiri patah, kemungkinan ada yang nusuk dalam. Kita nggak bisa lama di sini."
Menit emas. Begitu Ranu menyebutnya dalam hati. Jeda singkat antara tubuh yang roboh dan kesempatan terakhir. Bukan keajaiban, bukan kepahlawanan—hanya keputusan yang harus diambil dalam hitungan detik, dengan tangan dan alat yang ada, lalu lari.
"Papan spinal. Kita gulingkan tiga hitungan."
Mereka memasang papan, mengikat korban, mengangkatnya ke brankar dengan gerakan terkoordinasi yang sudah ratusan kali mereka ulang. Ranu memasang sungkup oksigen, memutar keran—desis itu lagi, dan ia tahu tabung itu cuma sahabat sementara. Monitor jantung tua dipasangkan ke jari korban. Angka muncul, naik turun. Tekanan rendah. Nadi cepat dan tipis. Tubuh yang sedang kehabisan darah di tempat yang tak bisa Ranu lihat.
"Sangkala Satu ke Pos," Ranu menekan tombol radio sambil menstabilkan infus di lengan korban. "Bu Harni, kami bawa satu, laki-laki, sekitar empat puluh, trauma berat. Cedera kepala, dugaan iga kiri patah dengan trauma dada, tekanan turun. Kami butuh RS yang siap trauma. Tolong telepon dulu, jangan sampai kami sampai pintu baru ditolak."
Jeda di radio. Lalu suara Bu Harni, masih tenang, tapi Ranu menangkap getar tipis di baliknya. "Diterima, Ranu. Sentana penuh. Aku coba Karyahusada. Bawa ke sana, aku telepon duluan."
"Diterima."
Mereka melaju. Jalan subuh masih kosong—hadiah itu belum dicabut. Sirene menjerit menembus barisan ruko yang tertidur. Di belakang, Cempaka memompa balon resusitasi, matanya tak lepas dari dada korban yang naik-turun. Ranu menyetir dengan satu telinga di radio, satu mata di spion, dan seluruh tubuhnya menghitung jarak. Tiga kilometer ke Karyahusada. Lewat jembatan tua, belok kiri, lurus.
Di jembatan satu jalur itu, untuk sekali ini, tak ada truk yang menghadang. Ranu melewatinya dengan napas tertahan. Korban di belakang masih bertahan. Monitor masih berbunyi, belum datar.
Mereka tiba di gerbang IGD Karyahusada. Petugas sudah menunggu dengan brankar—berkat telepon Bu Harni. Ranu menyerahkan korban, melaporkan kondisinya dengan kalimat-kalimat pendek dan padat, lalu mundur. Pekerjaannya berhenti di pintu itu. Setelah pintu, korban bukan lagi miliknya. Itu aturan yang harus ia terima setiap hari, dan setiap hari ia membencinya sedikit.
Di luar, Cempaka bersandar di ambulans, menyalakan rokok yang tak pernah benar-benar ia isap habis. "Bertahan, kayaknya. Kalau dia mati, mati di bangsal, bukan di belakang kita."
Ranu mengangguk. Untuk hari ini, itu cukup. Ia merebut sebatang dari Cempaka, mengempit di sela jari tanpa menyalakan, kebiasaan bodoh yang membuatnya merasa punya sesuatu di tangan.
Radio di pinggangnya berdesir lagi. Suara Bu Harni, kali ini berbeda. Ada sesuatu yang ia tahan.
"Sangkala Satu, masih siaga?"
"Masih, Bu."
"Ada panggilan baru. Orang tua jatuh di rumah, sesak." Bu Harni menyebut alamatnya. "Gang Kenanga Tiga, RW empat, Kelurahan Tambaksari."
Ranu membeku. Rokok di sela jarinya jatuh ke aspal. Tambaksari. Gang Kenanga. Ia kenal alamat itu. Ia kenal terlalu baik. Itu kawasan yang sama—gang yang sama tempat setahun lalu segalanya runtuh, tempat sesuatu yang ia kubur dalam-dalam dan tak pernah ia ceritakan ke siapa pun.
"Ranu?" Suara Bu Harni. "Kamu dengar?"
Cempaka menoleh, membaca wajah partnernya. "Ranu. Kenapa?"
Ia menelan ludah. Tangannya, yang tak pernah gemetar saat menekan dada orang yang sekarat, kini terasa dingin di sisi tubuhnya.
"Diterima, Bu," jawabnya pelan. "Kami meluncur."