Koran itu sudah terlipat dua ketika sampai ke tangan Ranu, sudut-sudutnya lembap oleh embun subuh yang menempel di meja Pos Sangkala. Gilang yang membawanya, meletakkannya tanpa sepatah kata, hanya menunjuk dengan dagu ke halaman lima, kolom bawah, tempat sebuah judul dicetak tidak besar tapi cukup untuk membuat Ranu berhenti menyeruput kopinya.
Menit yang Hilang di Jalanan Sangkala.
Ia membaca perlahan. Wardah menulisnya seperti orang berjalan di atas kaca: hati-hati, setiap pijakan diperhitungkan. Tak ada nama rumah sakit yang disebut telanjang. Tak ada nama pasien. Yang ada hanya angka-angka yang telah diaburkan, waktu tunggu yang dibiarkan bicara sendiri, dan satu kalimat yang membuat dada Ranu berdenyut: "Di kota ini, ada pintu yang lebih lama terbuka bagi yang mampu, dan lebih cepat tertutup bagi yang tidak." Tak satu pun kata di situ bisa diseret ke pengadilan. Tapi tak satu pun juga bisa dibantah.
"Sudah dibaca orang se-pos," kata Cempaka, muncul dari balik pintu dengan rambut masih setengah diikat. Ia menarik kursi, membalik koran itu untuk membacanya sendiri, meski Ranu tahu ia sudah hafal setiap barisnya. "Bu Harni sampai lupa mencatat panggilan tadi malam."
Ranu tidak menjawab. Ia melipat kembali koran itu dan menyelipkannya ke dalam tas trauma, di antara sarung tangan cadangan, seolah kertas itu benda medis yang harus disimpan bersih. Ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya. Bukan kemenangan. Lebih seperti berdiri di tepi jalan dan mendengar sirene dari kejauhan, belum tahu menuju siapa.
Pagi itu panggilan datang seperti biasa—lansia sesak napas di kompleks dekat Simpang Arteri Wanaraja, sungkup oksigen dipasang, monitor jantung menunjukkan irama yang masih mau bekerja sama. Rutin. Tapi di sela pekerjaan, Ranu menangkap sesuatu yang berbeda pada orang-orang. Seorang penjaga warung menatapnya sedikit lebih lama. Seorang ibu yang menemani suaminya bertanya, setengah berbisik, "Betul, Mas, katanya ada rumah sakit yang suka nolak orang?" Riak itu kecil, tapi ia bergerak, menjalar dari mulut ke mulut seperti air yang mencari celah.
Menjelang siang Bu Harni memanggilnya ke meja dispatch. Perempuan itu tidak menyalakan lampu ruangan, hanya duduk dalam cahaya yang masuk dari jendela, log tebalnya terbuka di depannya.
"Ada telepon dari Dinas tadi," katanya, suaranya rata, tapi Ranu mengenal cara Bu Harni menahan sesuatu di ujung kalimat. "Bukan untukmu. Untuk Pak Damar. Tapi aku yang mengangkat pertama."
"Soal artikelnya."
Bu Harni mengangguk. Jarinya bergerak di atas garis-garis log, tanpa arah, seperti sedang menenangkan diri sendiri. "Mereka bertanya dari mana wartawan itu dapat angka. Aku bilang aku tidak tahu apa-apa soal wartawan." Ia mengangkat wajah. "Aku tidak berbohong, Ranu. Aku memang tidak menyerahkan apa-apa. Tapi aku juga tahu, angka seperti itu tidak jatuh dari langit."
Ranu berdiri diam. Ia teringat sore ketika ia menyalin waktu-waktu penolakan itu diam-diam, dan Bu Harni yang memergokinya lalu memilih ikut merapikan tanpa banyak tanya. Rahasia yang dulu terasa sunyi kini punya bunyi. Dan bunyi selalu menarik telinga yang tidak diundang.
Panggilan berikutnya, sore harinya, membawa mereka ke RS Sentana. Bukan kasusnya yang mengejutkan—pasien kecelakaan ringan, cukup dijahit, cukup diobservasi—melainkan siapa yang berdiri di lobi ketika brankar mereka dorong masuk.
dr. Prayoga.
Direktur itu jarang turun ke depan. Ia manusia ruang rapat, manusia lantai atas, yang biasanya hanya dikenali lewat foto di dinding dan tanda tangan di surat penolakan. Tapi sore itu ia ada di sana, jas rapi, tangan di saku, mengamati arus keluar-masuk seolah menghitung sesuatu. Matanya menemukan Ranu, dan ia tidak berpaling.
"Anggara," katanya. Ia menyebut nama itu tanpa tanya, tanpa hangat. "Kau rajin sekali membawa pasien ke sini belakangan ini."
"Kami membawa ke mana pun yang mau menerima, Dokter."
Sudut bibir dr. Prayoga naik sedikit, bukan senyum, lebih semacam pengakuan bahwa lawan bicaranya tidak bodoh. Ia melangkah mendekat, cukup dekat untuk berbicara pelan, cukup jauh untuk tetap tampak sopan bagi siapa pun yang menonton.
"Aku baca koran pagi ini," katanya. "Menarik. Angka-angkanya rapi. Terlalu rapi untuk seorang wartawan yang menebak-nebak." Ia menatap Ranu lekat. "Angka seperti itu hanya bisa datang dari orang yang setiap hari memegang catatan. Yang tahu jam berapa ambulans datang. Yang tahu berapa lama sebuah keputusan tertahan."
Ranu menjaga wajahnya tetap datar, meski di dalam dadanya ada yang mengencang. "Dokter menuduh saya?"
"Aku tidak menuduh siapa-siapa." dr. Prayoga meluruskan lengan jasnya. "Menuduh butuh bukti. Aku hanya sedang memikirkan, kalau catatan sebuah lembaga bisa bocor ke koran, artinya lembaga itu punya orang yang tidak bisa menjaga apa yang bukan miliknya. Itu masalah kepercayaan, Anggara. Dan masalah kepercayaan biasanya diselesaikan dengan mencari, satu per satu, siapa yang tidak layak dipercaya."
Ia mundur selangkah, kembali menjadi direktur yang sopan, mengangguk pada seorang perawat yang lewat. "Sampaikan salamku pada atasanmu. Pak Damar, ya? Kudengar ia orang yang mengerti pentingnya ketertiban."
Ranu tidak menjawab. Ia mendorong brankar kosong keluar dari lobi, dan udara sore yang panas terasa lebih ringan begitu ia melewati pintu itu—pintu yang sama, pikirnya, yang dua tahun lalu tidak mau terbuka untuk seorang anak bernama Wira.
Di dalam kabin Ambulans Sangkala Satu, Cempaka menatapnya dari kursi kanan. "Apa yang dia bilang?"
"Dia sedang mencari lubang," kata Ranu, menyalakan mesin. "Dan sekarang dia tahu ada lubangnya."
Ia menoleh ke arah RS Sentana yang mengecil di kaca spion. Artikel Wardah hanya beberapa paragraf yang hati-hati, tidak menyebut satu nama pun. Tapi ia telah menjatuhkan batu ke air yang selama ini diam. Riaknya sudah bergerak keluar, menjauh, menyentuh tepian. Dan Ranu tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa riak yang sama sedang bergerak balik—menuju Bu Harni yang lognya jadi incaran, menuju Wardah yang namanya kini dicari, menuju Pak Damar yang meja kerjanya akan segera didatangi telepon-telepon yang tidak menyenangkan.
Ia menekan pedal. Sirene belum ia nyalakan; belum ada yang perlu diselamatkan sore itu. Tapi entah kenapa, tangannya melayang sebentar di atas sakelar, seperti menimbang sesuatu yang belum bernama.