“Saya terima nikah dan kawinnya Reinara Kalista Adhitama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
Dalam hitungan detik, Reinara merasakan dunianya runtuh. Ia merasa sesak, tiba-tiba saja seperti ada rantai yang mengekang tubuhnya bersamaan dengan terdengarnya kalimat ijab Kabul yang terlontar.
“Mbak Rei, sudah waktunya untuk keluar,” panggil seorang wanita berseragam formal, salah satu kru WO yang bertugas menjemput Reinara.
Seorang pemuda masuk ke ruang tunggu Reinara, menatapnya dengan tatapan campur aduk. Sementara Reinara langsung berkaca-kaca melihatnya.
“Kakak …,” rengek Rei, ia langsung berhambur memeluk pemuda itu erat.
“Maaf Kakak gak bisa bantu kamu, Rei,” bisik Rayyan, kakak Reinara dengan suara serak.
Perasaannya menjadi campur aduk, apalagi melihat ekspresi sendu adiknya sekarang. Ia gagal melindungi adiknya dan menyelamatkan Rei dari rencana gila papanya.
“Kakak … aku gak mau nikah. Aku masih pengen bebas, aku masih mau lakuin banyak hal,” rengek Rei tanpa sadar telah menumpahkan tangisannya.
Mata Rayyan memanas, dadanya sesak mendengar rengekan adiknya.
“Maaf … maaf,” ucap Rayyan dengan nada rendah. Ia merasa sangat menyesal dan begitu lemah. “Kakak gak punya kuasa apa-apa buat tolong kamu, Rei.”
Walaupun ia membawa adiknya kabur sekarang, Papanya pasti akan selalu menemukan mereka dan akan memberikan hukuman yang jauh lebih buruk bagi mereka, terutama Rei. Rayyan tidak ingin hal itu terjadi dan tambah mempersulit hidup adiknya.
“Maaf Mas, Mbak … sudah waktunya,” ucap kru WO memperingatkan sedikit takut-takut.
Rayyan menarik napas panjang, menguatkan dirinya. Ia membantu Rei untuk memperbaiki pakaian Rei, kemudian menggandeng tangan adiknya dan menuntun Rei berjalan keluar.
Begitu pintu ruang akad dibuka, Rei dan Rayyan berjalan perlahan memasuki ruang akad. Seketika tatapan seluruh penghuni ruangan tertuju pada Reinara.
Ia tampil begitu anggun di balik balutan pakaian adat paes ageng yang sarat akan nilai-nilai budaya. Di ujung sana, seorang laki-laki menundukkan kepalanya telah berdiri menunggu. Keduanya berjalan diiringi gamelan yang mengalun lembut.
Rayyan mengantarkan adiknya, menyerahkan tangan Rei pada lelaki yang beberapa menit lalu telah resmi menjadi suami Reinara. “Hari ini saya serahkan dia padamu. Saya tahu kamu orang baik Naka, tolong jaga adik saya. Jika suatu hari kamu tidak lagi bisa menjaganya, tolong kembalikan dia pada saya, jangan sakiti dia Naka.”
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Rayyan pun menepi dan bergabung dengan Prasetya.
Untuk pertama kalinya Rei dapat melihat langsung rupa pria yang dijodohkan dengannya, Bayanaka. Saat pria itu mengangkat kepalanya, tubuh Rei dibuat terpaku sesaat.
Segala bayangannya mengenai rupa Naka selama ini terpatahkan, pria itu jauh lebih tampan dari bayangannya. Kulit kecoklatan, fitur wajah yang tegas, alis lebat, dan mata kecoklatan, mampu menyihirnya untuk sesaat.
Naka menuntun Rei untuk duduk di kursi yang sejak tadi kosong di sebelahnya. Rei dituntun untuk mencium punggung tangan Naka, dilanjutkan dengan Naka yang mengecup kening Rei.
Kemudian seorang wanita menyodorkan kotak beludru yang berisi sepasang cincin. Tangan Rei bergetar halus saat hendak memasukkan cincin tersebut ke jari manis Naka, sangat berbeda dengan Naka yang sangat tenang.
“Dengan ini Raden Mas Bayanaka Soewandi dan Reinara Kalista Adhitama telah resmi menjadi pasangan suami-istri,” ucap pembawa acara yang kembali diikuti dengan tepuk tangan meriah.
**
Reinara merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah melewati serangkaian upacara adat yang begitu kental dengan adat Jawa. Ia merasa sekujur tubuhnya telah mati rasa saking pegalnya.
Ceklek!
Pintu yang terbuka tiba-tiba membuat Reinara terlonjak kaget, ia sontak menoleh dan mendapati Naka baru saja masuk.
“Kamu ngapain masuk di sini?!” pekik Reinara terkejut, sekaligus melotot galak.
Naka mengernyitkan kening, membuat alisnya bertautan. “Ini kamar kita kan?” tanya Naka sedikit bingung.
“Siapa bilang? Ini kamarku!” ucap Rei judes, menatap galak penuh was-was pada pria yang baru saja menjadi suaminya.
“Kalau begitu saya tidur dimana?” tanya Naka menjadi kebingungan sendiri. Ekspresi kebingungan sangat tak cocok di wajahnya, terlihat lucu.
Rei mengendikkan bahunya tak acuh, sembari kembali fokus pada cermin di hadapannya. “Cari saja kamar lain, atau tanya bibi. Intinya jangan tidur di kamarku! Aku gak mau berbagi kamar dengan orang lain,” putus Rei seorang diri.
Naka yang telah lelah tampak menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya kasar. Bukannya menuruti perintah Rei, ia malah berjalan mendekati wanita itu, membuat Rei sontak menatapnya horor.
“Ngapain kamu?!” pekik Rei was-was, ia menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Sepertinya kita perlu berbicara sedikit,” ucap Naka dengan nada rendah.
Rei mengernyitkan kening. “Bicara apa? Aku capek! Kita bicarakan besok aja,” tolak Rei mentah-mentah, suaranya sedikit bergetar takut.
Tentu saja. Baginya sekarang Naka adalah ancaman, ia berpikir apa yang akan dibicarakan Naka pasti tak akan jauh-jauh dari masalah malam pertama. Sontak Rei bergidik ngeri, membayangkannya saja sudah begitu menggelikan.
“Jangan dekat-dekat deh! Kalau mau bicara ya bicara aja di sana!” ucap Rei menghentikan Naka yang semakin mendekat padanya.
Naka menghela napas, menuruti perintah Rei tanpa protes. Ia berdiri dengan jarak sekitar tiga meter dari tempat Rei duduk. “Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, tapi untuk yang paling urgent sekarang adalah masalah kamar.”
“Dilihat dari jawaban kamu, saya bisa pastikan kalau pisah kamar itu hanya keinginan kamu sendiri kan? Kamu belum bicarakan itu dengan papa kamu,” tebak Naka yang mampu membuat Rei terdiam.
Melihat diamnya Rei membuat Naka semakin yakin tebakannya benar. Ia kembali menghela napas. “Saya tidak bisa pisah kamar, Rei,” ucap Naka yang mampu membuat Rei kembali melotot.
“Jangan macam-macam ya kamu! Menjadi suamiku bukan berarti kamu bisa macam-macam sama aku!” ancam Rei galak.
“Dengar dulu, Rei,” ucap Naka cepat dengan lembut. Wajahnya kelihatan begitu lelah. “Saya tidak berniat macam-macam dengan kamu, saya mengerti dengan posisi kamu. Saya hanya tidak ingin jika orang tua kita mengetahui bahwa kita pisah kamar, itu saja.”
Rei memicingkan matanya penuh kecurigaan. Bagaimanapun Naka adalah orang asing yang baru ia kenal beberapa jam lalu. “Kenapa aku harus percaya ucapan kamu?”
“Pantang bagi saya melanggar ucapan saya sendiri, Rei. Sekali laki-laki berucap, pantang ditarik kembali. Pegang ucapan saya,” ucap Naka serius, berusaha meyakinkan Rei.
“Saya akan mengatur semuanya. Kita tidak akan tidur di ranjang yang sama dan saya tidak akan berbuat apa-apa pada kamu, setidaknya tanpa persetujuan kamu,” ucap Naka kembali.
Rei terdiam, menimbang-nimbang penawaran yang diajukan Naka. Tidak begitu buruk, tetapi ia masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya.
Matanya tak sengaja menangkap wajah Naka yang begitu lelah, membuat Rei menjadi tak tega. “Oke. Kita akan bicara lagi besok. Tapi, pegang ucapan kamu ya!” putus Rei pada akhirnya.
Rei menatap ranjang di kamarnya yang hanya ada satu buah, kemudian kembali menatap Naka. “Aku gak mau loh ya tidur di lantai atau di tempat lain!” ucapnya duluan memperingatkan.
Naka tersenyum tipis kemudian mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang berada di dekat jendela. Walaupun sofa tersebut tak cukup besar untuk mampu menampung tubuh Naka yang besar dan tinggi. Bahkan kakinya menggantung di ujung sofa, tetapi tak mampu mengalahkan rasa penat di tubuh Naka yang butuh segera diistirahatkan.
Ada perasaan kasihan yang terbesit di hati Rei melihatnya, tetapi segera ditepis olehnya dengan cepat.
“Bodo amat deh!” ucap Rei, buru-buru menyelesaikan rangkaian perawatan wajah malamnya dan begegas naik ke kasur.
**