Semenjak kejadian tanda merah, rambut basah dan aroma parfum yang berbeda. Renata mulai tak tenang, ketika suaminya pergi pagi dan pulang malam. Ia merasa resah dan takut, jika kecurigaannya benar. Bahkan, sejak saat itu Renata dan Bagas tidak melakukan hubungan suami istri selama dua Minggu. Bagas benar-benar menolak dan lelah sekali ketika pulang bekerja, ia hanya akan tidur dan tak menghiraukan istrinya.
Padahal, Renata sedang berusaha untuk mengandung anak dari Bagas. Namun, sepertinya Bagas akan mengatakan percuma saja, dan Renata tetap akan mendapatkan garis satu pada alat tes kehamilan.
Malam itu, Bagas pulang pukul dua dini hari. Terdengar bunyi bel beberapa kali, dan membuat Renata seketika bangun. Tidak biasanya Bagas memijit bel, karena sudah mempunyai kunci cadangan.
Renata dengan terburu-buru, turun ke lantai satu dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat Bagas tengah sempoyongan dibopong oleh seorang pria.
“I-ni, ada apa?” tanya Renata gelagapan.
“Pak Bagas mabuk, nyonya. Saya anggota tim Marketing di kantor, ini kunci mobil milik pak Bagas.” Pria itu memberikan kunci mobil milik Bagas, karena dia tengah mabuk dan tak sanggup untuk menyetir.
“Terimakasih sudah membantu suami saya pulang.” Renata meraih tangan Bagas dan membopongnya.
“Sama-sama, saya permisi dulu ya. Mobil sudah saya parkir di dalam garasi,” ucap pria itu sambil berpamitan.
“Baik, terima kasih.” Renata pun masuk dan membawa Bagas.
Renata tidak sanggup membawa Bagas untuk naik ke lantai dua, ia hanya menidurkan suaminya itu di atas sofa. Mulut Bagas meracau tak jelas, kalimat yang ia ucapkan sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Renata.
Sedangkan Renata sendiri, sibuk membuka jas dan sepatu milik Bagas. Ia mencium bau minuman pada mulut Bagas, menyatu dengan aroma parfum yang kemarin ia cium di tubuh Bagas.
Aroma itu sangat khas. Aroma parfum seorang wanita, wangi vanila yang melekat pada tubuh Bagas bukanlah ciri khas parfum seorang pria. Renata yakin, jika parfum itu milik seorang wanita.
Renata membuka kancing kemeja milik Bagas, karena ia melihat suaminya kepanasan. Namun, matanya harus terbelalak ketika tanda merah itu kini melekat pada d**a bidang milik Bagas. Seketika, Renata membekap mulutnya. Tanda itu benar-benar bukan tanda lain, itu adalah tanda cinta yang diberikan oleh seseorang, seperti tanda yang dulu sering Bagas berikan padanya.
Jantung Renata kembali berdetak tidak karuan, ia sudah tidak bisa menunggu dan sabar dengan apa yang dilakukan oleh Bagas. Kali ini, ia harus melakukan sesuatu agar hatinya tidak sakit dan rasa penasaran itu terjawab.
Renata pun mengambil ponsel milik Bagas yang tersimpan di dalam saku jasnya. Kemudian, Renata membuka pola pada ponsel Bagas yang masih membentuk huruf R. Ia mencari pesan dan panggilan, bahkan membuka galeri foto di sana. Namun, tidak ada hal yang mencurigakan di dalam ponsel milik Bagas. Semua pesan dan panggilan hanya dari dirinya, rekan kerja dan relasi kantornya.
Namun, ada satu simbol yang tampil di atas status bar. Dimana simbol itu membentuk seperti sebuah kubus yang terbelah dua bagian.
Renata pun menekan simbol itu, kemudian tampilan layar ponsel milik Bagas berubah total. Mulai dari wallpaper dan ikon yang tidak sama seperti biasanya.
Bahkan di sana ada tulisan, ruang ke dua. Renata pun bingung sekaligus penasaran, ia baru tahu jika di dalam ponsel Bagas ada ruang ke dua. Renata mencoba membuka pola yang sama membentuk huruf R, namun gagal dan pola itu salah. Ia kembali mencobanya, dan tetap gagal. Kejadian ini semakin membuat dirinya curiga pada Bagas, apalagi pola yang tidak sama membuat Renata yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu.
Tak lama, terdengar Bagas menggeliat. Dengan terburu-buru, Renata menyimpan ponsel milik Bagas ke dalam saku jasnya. Bagas pun mengerjapkan matanya, dan berusaha mengumpulkan ingatannya yang masih samar. Kepalanya terasa pening saat ini, ia bahkan menatap jam dinding yang terlihat ada dua. Setelah kesadarannya sudah terkumpul, Bagas menatap Renata yang terdiam. Tidak ada satu patah kata pun yang ia tanyakan pada Bagas, karena Renata ingin menangis dan tak sanggup berbicara.
“Kamu belum tidur, sayang?” tanya Bagas sambil bangkit dan memeluk Renata.
Sontak saja, perlakuan Bagas yang tak biasa itu membuat Renata heran. Mengapa tiba-tiba suaminya berubah kembali seperti awal pernikahan mereka?
Bagas mengingat ucapan pak Rio tiga jam yang lalu di acara pesta pengangkatannya sebagai CEO. Ia mengatakan jika dukungan terbesar dalam hidupnya adalah istrinya sendiri, baik ketika susah atau sudah sukses pun. Pak Rio tetap setia pada istrinya, seketika Bagas pun teringat Renata yang selalu sabar menyikapi dirinya. Seolah ada dorongan besar, Bagas tiba-tiba bersikap lembut pada Renata.
“Ayo kita tidur, aku rindu kamu.” Bagas mengelus lembut rambut Renata.
Renata pun menatap Bagas intens, “kamu ... udah nggak mabuk, mas?”
Bagas tertawa kecil, “ ha ha siapa yang mabuk, sayang. Aku hanya minum sedikit terus ketiduran.”
Renata tahu saat ini Bagas berbohong, jika memang sedikit ia pasti bisa menyetir mobilnya.
Bagas mencium Renata dengan lembut, ia bahkan menggendong istrinya itu ke dalam kamarnya. Walaupun tubuh Bagas masih sedikit sempoyongan. Malam itu, untuk yang pertama kalinya setelah dua Minggu berlalu, mereka kembali melakukan hubungan suami istri secara romantis.
Pagi hari setelah sarapan. Bagas tergesa-gesa pergi ke kantor, tampaknya ia terlambat hari ini. Karena semalam beberapa kali melakukannya, dan ia hanya bisa tidur satu jam saja. Bagas masuk ke dalam ruangannya, dan terlihat menarik napas dalam-dalam karena berlarian dari lantai satu menuju lantai sepuluh menaiki tangga darurat, karena lift terlihat penuh oleh karyawan lain.
“Selamat pagi, Pak Bagas,” ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja masuk dan menutup pintu kembali.
Bagas membalikkan tubuhnya menatap wanita itu, namun raut wajahnya terlihat tak bersahabat.
“Gimana tidur pak Bagas, nyenyak? Tadi malam—“
Bagas menarik lengan wanita itu, dan membuat tubuhnya menempel pada dinding. Sorot matanya sangat tajam menatap wanita yang memakai Id Card, bertuliskan Selena Marcella, sudah jelas sekali jika wanita itu salah satu karyawan di perusahaan tempat Bagas bekerja.
“Kamu, kenapa membuat tanda di sini?” Bagas menunjuk dadanya.
“Sudah aku bilang, jangan melakukan hal itu diacara pesta malam tadi,” sambung Bagas.
Namun, Selena tidak mau ambil pusing dengan tatapan Bagas yang tajam itu. Ia terlihat mengelus d**a bidang milik Bagas.
“Melakukan apa, sayang? Kita nggak melakukan apa pun tadi malam. Hanya sebuah tanda merah, apa aku nggak boleh melakukannya?” ucap Selena santai.
“Tadi malam aku mabuk, dan nggak ingat apa pun. Kemudian, aku melakukannya dengan istriku. Dia bilang tanda itu ia yang buat, tapi aku tau Renata nggak bisa melakukannya,” jelas Bagas.
Selena mengangguk, “iya tanda itu aku yang buat, lantas kenapa? Apa Renata marah padamu? Jika ia sudah tau, tolong beritahu dia jika aku tengah mengandung anak suaminya.”
Mata Bagas seketika terbelalak, ia sangat terkejut dengan penuturan dari Selena. Apakah benar wanita simpanannya itu tengah mengandung anaknya?
“Kamu hamil?” tanya Bagas seolah tak percaya.
Selena pun mengangguk mantap, “iya sayang, aku hamil anak kamu. Bukannya kamu justru menyuruh aku hamil? Dan akan bahagia kalau kita punya anak? Tapi tatapan kamu seolah lain, ada apa? Apa Renata pun sudah mengandung anak kamu, sekarang?”
Bagas hanya menghela napasnya, baru saja ia akan berubah sikap pada Renata karena dirasa akhir-akhir ini, ia terlalu dingin dan menunjukkan bahwa dirinya sudah mulai lelah dengan rumah tangga itu. Bagas sudah berniat akan bersikap seperti dulu lagi, karena takut Renata mencurigainya. Walau bagaimanapun, Bagas tidak boleh ketahuan lebih awal. Namun, dengan kehamilan dari Selena, Bagas tidak tahu harus melakukan apa. Karena Renata sudah pasti tidak akan setuju jika dirinya menikah lagi.
“Sayang, kamu kok melamun? Mikir apa sih? Kamu bahagia 'kan aku hamil? Jangan lupa, janji kamu untuk menikahi aku.”
Bagas mengangguk pelan, permasalahan yang ia buat sudah sejak lama ia jalani. Bagas dan Selena sudah menjalin hubungan, semenjak satu tahun yang lalu. Ketika Renata selalu gagal mengandung seorang anak.
Selena pun memeluk Bagas erat, ia bahagia karena Bagas tetap memilihnya.