Namanya Rania. Dia sekarang sedang bersembunyi di kolong tempat tidurnya di lantai atas. Ia menahan ketakutan. Gemeretak giginya berusaha dihentikan dengan menutup rapat bibir atas dan bawah. Rania cemas berlebihan kalau pria jahat itu akan menemukan tempat persembunyiannya. Dari dulu, begitulah cara dia untuk selalu melindungi diri dari konflik yang terjadi dalam keluarga. Setiap kali orang tuanya bertengkar atau ramai warga memprotes keluarganya yang dituding melakukan praktik investasi bodong, Rania pasti disuruh masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Pada saat demikian, ia kerap mendengar suara jeritan dari lantai bawah. Orang-orang berteriak sementara ibu dan ayahnya membantah keras sehingga keributan terus menjalar tanpa ada yang melerai sampai mereka merasa tak puas lalu saling ancam lapor ke polisi.
Kak Reza, kakak laki-laki yang senantiasa menjaga Rania selalu berdiri di depan pintu kamar untuk berjaga. Akan tetapi, semenjak orang tua mereka diculik oleh pria jahat yang mereka juluki sebagai Tangan Merah sebab ia selalu mengenakan sarung tangan berwarna merah. Seolah hendak menyamarkan noda darah akibat kekejaman yang banyak dilakukannya. Rania belum pernah melihat langsung wajah penjahat tersebut. Katanya adalah seseorang yang dibayar oleh orang lain yang memiliki masalah bisnis dengan orang tua mereka. Kini lelaki tersebut kembali datang sedangkan Kak Reza dan Rania yang sedang menonton televisi di ruang keluarga mendadak terdiam.
“Rania! Bisakah Kamu matikan teve itu sekarang?” pinta kak Reza dengan nada berhati-hati.
Adiknya dengan rasa penasaran lantas menekan tombol power pada remote. Mereka mendengarkan secara saksama. Bermula dari volume irama yang lirih sebuah musik horor dimainkan dari ruang piano milik ayah. Tanpa pernah ingin menjawab rasa ingin tahu, kakak beradik itu sudah tahu bahwa seorang pria asing telah berada di dalam tempat tinggal mereka. Selalu muncul pertanyaan dari mana sosok tersebut bisa masuk, padahal semua pintu dan jendela telah dikunci. Dia seperti hantu bagi Rania meski kini di usianya yang sudah 16 tahun. Kak Reza pun menyuruhnya agar segera naik ke kamar di lantai 2 tanpa harus membuat suara, segera bersembunyi dan baru keluar apabila ia memanggil nama Rania.
Sementara adik perempuan mengunci diri di kamar, Reza sebagai saudara laki-laki berusaha keras untuk melindungi keselamatan mereka. Meskipun ia sendiri juga kadang takut setengah mati menghadapi sosok bermuka gelap tersebut. Reza berjalan penuh waspada dan diam-diam memeriksa satu ruangan di sana. Sering dia saksikan pria asing nan menakutkan itu telah duduk di depan alat musik klasik. Hingga mereka berhadapan dan Rania tidak akan pernah melihat siapa dan bagaimana cara orang jahat telah memukuli kakaknya.
“Rania! Rania!” bisik suara kak Reza di depan lubang pintu kamar Rania.
Remaja perempuan tersebut segera keluar dari kolong ranjang tidur lalu memeriksa dari lubang kecil pintu untuk memastikan bahwa yang datang ialah kak Reza. Rania lantas membuka pintu kemudian melihat senyum dari mulut kakak yang mengalirkan darah. Mukanya lebam tapi Reza memberitahukan berita baik kalau penjahat tadi sudah pergi dari sini. Mengetahui hal itu, cepat saja Rania mengambil kotak p3k dari dalam rak meja belajarnya. Kak Reza duduk di atas kasur lalu segera diobati luka sobeknya.
“Sampai kapan Kita terus begini, Kak? Lebih baik melapor ke polisi supaya orang itu ditangkap.”
Rania mengkhawatirkan keadaan kakak laki-laki yang selalu berakhir dengan luka pukul dan hantaman benda tumpul pada pelipis.
“Bagaimana Kita bisa melaporkan ke polisi? Dia ke sini hanya ingin mendapatkan sesuatu darimu, Rania.”
“Cincin itu. Cincin dari leluhur yang Kamu pakai itu,” ujar kak Reza.
Rania pun melihat kepada jari telunjuk kanannya. Ia berusaha melepaskan cincin permata hitam, tapi tetap tak bisa. Benda yang melingkar itu seperti melekat pada jari tangan, tidak mau dilepas. Rania rela menyerahkannya kepada si Pria jahat asal tak kembali ke rumah mereka selamanya. Ia kasihan dengan kak Reza yang selalu menjadi tameng hingga mengorbankan kondisi fisiknya yang semakin kurus dan lemah. Penjahat tadi memang bertubuh besar, tinggi lagi lebih kuat untuk menyerang siapa pun penghalangnya.
Kak Reza menguatkan Rania supaya tetap menyimpan cincin itu ada padanya bahkan jangan pernah berusaha dilepas. Ia tidak masalah harus dipukuli, yang penting Rania ini selamat. Mereka kembali turun ke lantai bawah dan seperti biasa setelah kejadian pasti kondisi seluruh ruangan menjadi berantakan. Kedua bersaudara lekas membereskan segalanya, menata kembali barang dan membuang serpihan kaca dari benda yang pecah di lantai. Malam ke-17 rumah mereka tampak sangat terang dibandingkan kediaman tetangga yang mana lampu telah rata dimatikan. Rania dengan kak Reza sibuk bersih-bersih di saat semua orang sudah terlelap dalam keheningan.
Suatu ketika pada kesekian kali teror musik horor terjadi, Rania terpaksa bersembunyi di belakang gorden jendela kamarnya. Ia tak sempat mengambil tempat sembunyi di bawah tempat tidur karena pria jahat itu keburu sampai di depan pintu kamar. Rania tidak tahu lagi nasib buruk apa yang menimpa saudara laki-lakinya di lantai bawah. Tak terdengar suara kesakitan. Dan sekarang penjahat dari luar sana dengan mudah memutar gagang pintu. Dia sudah masuk bersama denting suara tongkat besi yang sengaja dibenturkan dengan dinding. Rania semakin ketakutan sebab kain tirai yang menutupi hendak disingkapkan secara perlahan. Ia pun menutup rapat mata agar tak melihat wajah bengis dari penculik orang tuanya hingga entah hilang di mana. Erat genggaman tangan, Rania berharap masih memperoleh keselamatan.
“Kak Reza, tolong Aku,” jerit kepiluannya di dalam hati.
Di ruang gelap penglihatan, bak muncul kilatan cahaya. Rania terus menutup mata hingga kesilauan yang memenuhi kepala serasa membuat ia tertidur dan tiba-tiba terbangun di atas dedaunan kering gugur dari pepohonan. Gadis ini telah tersesat di sebuah pulau misterius. Perasaan baru saja ia masih di dalam kamar bahkan melihat jalan di luar rumah dari kaca jendela, tapi di mana Rania kini? Batang pepohonan besar ibarat menjadi pagar rumah dan langit menjadi atapnya. Ini adalah pemandangan dari alam liar. Rania mencoba satu kali memanggil nama sang Kakak. Namun kemudian, banyak suara lain yang muncul dari segala arah saling bersahutan. Entah hewan atau manusia ia tak dapat melihat sosok mereka yang hadir di area hutan nan gelap.
Rania terengah karena panik hingga kekurangan oksigen dan suara-suara aneh itu juga semakin keras membisingkan telinga. Ia cepat menutup kedua indera pendengaran dengan telapak tangan sambil berlari untuk kabur dari tempat mengerikan ini. Dia terus melarikan diri tanpa arah maupun tepi. Tidak jelas tujuannya sampai Rania tiba di depan sebuah gua dengan tumbuhan lumut dan pakis yang hampir menutupi mulut bangunan alami tersebut. Dia langsung masuk saja guna mendapatkan lokasi teraman. Suara-suara aneh tadi pun akhirnya menghilang.
Namun, desah tarikan nafas mulai mengusik. Rania yang tidak bisa lagi pergi atau bersembunyi ke mana pun terpaksa mencari tahu sumber bunyi dari makhluk hidup. Ke dalam lorong gua yang semakin dalam, panjang dan sempit dia temukan semacam altar dengan tatanan batu-batu besar. Bagian puncaknya pipih seperti untuk meletakkan sebuah persembahan.
“Panggung seperti ini untuk apa?” ucap Raina penuh rasa khawatir.
Pandangan matanya terbelalak. Dia sampai menutup mulut yang menganga saking terkejutnya. Tak sanggup Rania meneriakkan ketakutan. Ada hal aneh terjadi karena bebatuan besar itu tiba-tiba retak dan bergetar mengeluarkan sulur tanaman yang bercahaya. Tanaman itu hidup. Terus tumbuh memanjang seakan hendak melilit tubuh Rania.
Selangkah demi selangkah ia mengambil jalan mundur. Semakin takut dan gelisah, ia tak memperhatikan lagi keadaan di belakang. Rania tersandung batu yang tertanam dalam tanah gua yang lembap. Dia terjatuh sambil tetap menyaksikan pertumbuhan tanaman yang super cepat, bergerak meliuk membentuk bayangan. Seluruh area ruangan gua begitu terang karena pancaran sinar yang dihasilkan oleh tanaman aneh di hadapan. Kaki si Gadis terus menjejak agar sulur-sulur itu menjauh darinya. Ketika Rania berupaya bangkit berdiri, muncul seorang anak laki-laki yang dalam sekejap membungkam mulutnya. Dia menggelengkan kepala seakan berkata kepada Rania yang lebih tua agar jangan berteriak.
Mata keduanya bertatapan hingga kemudian membuat Rania jatuh pingsan. Dalam tidur panjang, musik horor dari ruangan piano kembali terdengar di alam bawah sadar. Rania merasa tengah tenggelam di dalam air. Ia kesulitan bernafas. Tubuh gadis itu melayang-layang dengan tangan dan kaki bergerak sembarang mencari pegangan. Rania tidak sanggup bicara apalagi kembali memanggil kakak laki-lakinya. Genangan air itu bisa masuk ke dalam tenggorokan. Jutaan gelembung udara menghimpun diri Raina sampai arus air di sekitar raganya yang sebelumnya berombak menjadi semakin tenang.