Ingar suara genderang yang mulai ditabuh. Semua orang kini membuka mata dengan sinaran matahari redup pada puncaknya malam. Rania tidak sanggup berkata-kata akan apa yang dilihat sebelumnya. Kabut dingin di dalam hutan mengepung sekalian manusia. Ia sempat khawatir karena tidak dapat mengetahui keadaan di sekeliling termasuk posisi Noe. Masih di sebelah kanan tempat duduknya atau tidak. Rania kemudian juga mendengarkan kembali bunyi-bunyian yang tidak jelas. Semakin berisik dan menyempitkan perasaan saat gendang besar dipukul tambah kencang. Ia takut manusia di sini tidak hanya tersesat raganya namun juga akal sehat sekaligus keyakinannya. Rania benar-benar ingin pulang.
Pekat kabut terus menipis. Sekarang sedikit demi sedikit penglihatan kembali normal. Manusia satu sama lain tahu bahwa mereka masih bertempat sesuai posisi semula. Tidak ada yang berpindah kecuali setiap genggaman tangan kini memiliki satu manik berwarna merah delima agar disimpan. Rania pun mendapatkan satu di tangannya dan dia dibuat percaya tak percaya.
“Ini untuk apa?”
“Sudah, simpan saja. Kata Ketua kalau kita berhasil mengumpulkan 100 manik maka siapa saja itu pasti akan langsung balik ke dunia asal,” jelas Noe.
“Lihat. Aku sendiri juga telah mengumpulkan 2 butir hingga malam ini.”
Satu manik per hari agar bisa terkumpul seratus biji manik? Jadi mereka harus bertahan di pulau misteri selama 100 hari yang mana sama saja hingga 400 tahun? Rania merasa terusik. Tidak ada logika lagi yang bisa digunakan untuk menjawab. Mereka keburu mati saat keluar. Ia bertanya kepada Noe.
“Apa ada peluang di suatu hari bilamana kita tidak mendapatkan sebutir manik ini lagi?”
Noe menjawab, “Kalau Kamu pada satu malam tidak mengikuti ritual yang diadakan pemimpin seperti sekarang.”
“Apakah cara itu akan berhasil?” Rania meragu.
“Kami tidak tahu. Sampai kini belum ada yang mampu membuktikan. Menurut cerita paman Dave, pernah ada tiga orang yang nyaris mencapai 100 jumlah manik tapi setelah mendapatkan 99 butir keesokan paginya mereka meninggal. Entah jiwa itu memang mati bersama jasad yang dikuburkan di pulau ini atau hanya karena ruh mereka telah kembali ke dunia nyata. Namun itu berarti tetap saja mereka pulang dalam kematian.”
Rania menerima penjelasan Noe dan menanggapinya sebagai sebuah kebodohan. Warga pasti telah diperdaya. Ia menanyakan hal lain lagi, mungkin saja ada semacam kewajiban lain yang dikenakan ke tiap orang. Dan ujungnya terbukti, ini soal bagaimana seseorang menyalahgunakan kekuasaan. Dengan doktrin pemimpin kelompok tersebut harus dipatuhi demi keselamatan mereka selama tinggal di pulau, semuanya bersedia melakukan apa pun yang ia kehendaki. Memperlakukannya seperti raja dan tidak boleh menentang setiap keputusan yang ia tetapkan sesuai kepuasan pribadi. Ada sanksi atau hukuman yang berlaku di tempat ini tapi tak ada apresiasi kecuali setiap warga menyerahkan sebuah hasil penelitian dari apa-apa yang terdapat di area pulau misteri. Jika pemimpin benar-benar dibuat kagum dan bangga maka ia akan diberi jabatan sebagai menteri atau sebatas orang yang berhak mendapatkan hadiah. Ia diberi hak memilih gua yang letaknya lebih tinggi daripada milik warga lain. Jatah makanan juga lebih banyak dengan kualitas paling bagus. Uang tidak berlaku di sini, jadi berlakulah hukum barter. Tentu prakriknya tidak mudah. Kadang konflik antar manusia timbul saat orang yang merasa lebih tinggi kedudukannya karena telah berjasa pada pemimpin mereka mulai berlagak paling kaya lagi serakah.
Paman Dave yang mana cuma seorang tukang servis jam bahkan lebih memilih memakan buah sedapatnya tanpa perlu harus mengemis minta barter. Begitu pun Noe yang banyak diajarkan untuk hidup mandiri di dalam hutan.
“Rania, mari kita pulang.”
Ajakan Noe menyadarkannya dari lamunan. Kembali anak laki-laki itu memegang tangan Rania supaya lekas bangkit lalu berjalan bergandengan. Sikap Noe terlampau manja jika dipandang sebagai anak lelaki 12 tahun, tetapi akan jadi romantis apabila ia adalah seorang pemuda yang seumuran atau lebih tua sedikit dari gadis tersebut. Bila dirasa-rasakan Rania justru malu dilihat banyak orang begini karena Noe juga bukan adik kandung baginya. Dia berharap Noe tidak banyak menaruh harapan padanya. Anak laki-laki tersebut layaknya seorang remaja yang tengah pertama kali mengalami ketertarikan pada lawan jenis saja.
“Eh! Paman Dave?” Rania terkejut sebab tak melihat orang paling dewasa yang tinggal di dalam gua mereka bertiga.
Paman Dave ternyata tidak mengikuti jalan kepulangan keduanya. Beberapa saat setelah Noe dan Rania masuk ke dalam rumah gua, masih kosong tidak ada sesiapa. Mengapa uncle Dave belum kembali jua?
“Rania, Aku bawakan buah apel untukmu. Bagian yang busuk sudah kuhilangkan. Setelah Aku cuci dengan air bersih Kamu bisa memakannya.”
Noe yang baru saja kembali lagi dari luar gua membawa sejumlah apel berwarna merah dan kuning.
“Mana paman Dave?” tanya Rania.
Ada hal-hal yang ingin ia ketahui dari beliau. Noe mengatakan kalau Paman sedang mengambil air bersih. Tadi mereka telah bertemu dan sebentar lagi beliau pasti datang karena hanya depan-belakang sama Noe. Entah mampir dulu ke mana si Paman. Rania pun memutuskan untuk sedikit mengawali pertanyaannya kepada anak lelaki tersebut. Apakah mendiami alam liar di mana tidak dapat dibedakan secara kasat mata antara siang dengan malam membuat mereka tak tidur selama 24 jam?
Noe menjawab, tidak mungkin. Setiap manusia butuh waktu istirahat melalui cara tidur. Hanya sekadar duduk-duduk dan bersantai mustahil mengobati rasa lelah pada seseorang. Kadang cukup dengan tidurlah mereka bisa melupakan kegelisahan dan ketakutan hidup di pulau asing yang tak terpetakan dari dunia nyata.
“Jam tidur setiap orang bisa jadi berbeda alias sesuka hati saja. Kalau pingin tidur ya tidur, kalau tidak mengantuk ya kami pakai waktu buat beraktivitas ringan. Ya memang Aku juga pernah berpikir jika uncle Dave tidak tidur selama selama hampir dua hari, tetapi hal itu belum mengganggu kondisi kesehatan Paman. Kantong matanya juga tidak menghitam.” Tunjuk Noe dengan melingkarkan ibu jari dan telunjuk pada kelopak mata. Kerak hitam pada batu perapian tiba-tiba membekas di kulit lingkaran matanya.
Rania tertawa kecil saat Noe berusaha melucu. Berselang waktu tanpa hitungan pasti, paman Dave muncul sambil menenteng jeriken yang dipenuhi air. Beliau lalu menuangkannya pada sebuah gentong tempat penampungan di sudut ruang.
“Ada apa Rania? Kamu sepertinya masih bingung dengan suasana di sini.” ujar uncle Dave.
Tanpa sungkan berkatalah Rania, dari mana mereka dapatkan beberapa peranti yang tak mungkin secara murni sanggup dibuat di tempat serba alam seperti ini. Contoh, sesuatu dari bahan plastik tadi. Paman Dave pun memberian respons.
“Kami menemukannya di sekitar lembah kemudian Saya bersihkan hingga se-higienis mungkin. Ha-ha. Untungnya tanaman hutan ada juga yang bisa dijadikan bahan pencuci.”
Bukan itu maksud Rania. Jika dijumpai barang-barang bekas produk industri berarti sebelum mereka telah ada peradaban manusia modern di pulau misteri. Beberapa benda seperti jeriken, botol minuman, baskom bahkan alat potong dari bahan stainless steel yang terbukti tidak mudah berkarat. Paman Dave tak mampu menjelaskan tapi hanya sedikit barang rumah tangga itu yang biasa mereka temukan. Mungkin memang pernah ada manusia lain yang sengaja membawanya kemari. Namun, mustahillah jika hal tersebut telah dibawa oleh individu-individu yang tersesat jalan pulang seperti mereka.
Alaminya di sekeliling pulau mesti terdapat bagian air atau lautan. Sayang sekali belum ada satu pun di antara warga yang menemukan tepi pantai walau berani berkelana sendiri tanpa dukungan teman. Mereka selalu memutar arah hingga kembali ke titik awal yakni tempat semula di mana gua masing-masing berada.
Rania masih berat hati menjalani kehidupan ganjil di bagian bumi tak terlihat ini. Dia berkata-kata sendiri sambil berjalan mendekati lubang batu yang telah menjadi jendela. Dari dalam gua ia melihat ke arah luar di mana hanya ditumbuhi pohon tinggi dan semak belukar. Rania penasaran, dari mana Noe maupun paman Dave telah mendapatkan sumber makanan. Apakah lokasinya sangat jauh ke pelosok hutan sehingga ia tidak sanggup mengetahui mana itu pohon apelnya, mana itu pohon buah persiknya.
“Jika Rania ingin tahu, nanti siang ikutlah denganku,” ajak si Noe sambil memberikan setengah bagian buah apel yang masih layak makan kepada teman perempuan tersebut.
Rania memperolehnya dengan tangan kanan. Daging buah yang masih sangat segar tak kelihatan kalau sebagian sudah busuk maupun berlubang dimakan ulat. Rania lantas melamunkan angan tentang tempat di mana ada banyak pepohonan lebat akan bermacam buah begitu juga sungai yang mengalirkan air bening di bawahnya.
Tetapi tidak. Itu adalah sebuah tempat yang sangat mengerikan. Tidak mudah bagi setiap orang bisa mencapai lokasi sumber makanan tersebut. Meskipun buah dan dedaunan yang layak diolah menjadi bahan sayur-mayur, jalan menuju ke sana cukup sulit. Ia harus bersabar, tak kenal lelah apalagi menyerah. Banyak warga yang harus terluka demi mengumpulkan setiap tetes air hingga segigit saja buah masak dari sana. Rania belum tahu banyaknya sisa luka yang bahkan telah membekas di tubuh Noe maupun uncle Dave sebab tertutupi setelan pakaian panjang mereka.
Jika demikian, kenapa Noe bersemangat untuk mengajak Rania ke tempat yang terkenal subur tersebut? Apakah dia ingin menumpahkan rasa sakit kepada warga baru yang terlalu ingin tahu?