Menatap langit malam lewat ventilasi cafe yang mulai sepi membuat-nya merasa nyaman, apalagi alunan musik santai yang di main-kan di Cafe itu. Dhara menyeruput coklat panas-nya lalu mengusap kedua tangan-nya yang terasa dingin agar lebih hangat.
"Heii, boleh aku disini?" tanya-nya sambil membawa secangkir coffe di tangan.
Dhara melirik-nya, lalu mata-nya mengintari Cafe itu. Padahal masih banyak tempat kosong, kenapa dia memilih duduk dengan-nya?
"Aku hanya butuh teman," kata-nya seakan mengerti pertanyaan yang belum Dhara tanya-kan.
Dhara mengangguk, setelah orang itu duduk, untuk beberapa menit tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Canggung, dan Dhara tidak suka itu.
"Kamu asli orang sini?" tanya-nya memecahkan keheningan.
Dhara mendonggak, menggeleng sebagai jawaban.
Hanya itu. Dia tidak bertanya lagi, Dharapun tidak berminat untuk membuka topik.
Sudah pukul 10 malam, Cafe disini sudah sangat sepi, hanya tersisa 5 orang pelanggan termasuk Dhara dan orang itu. Pegawai di Cafe itupun sudah memberitahu-nya untuk segera keluar, yeah pengusiran secara halus.
"Arthur," dia menyondor-kan tangan-nya.
Dhara mengerenyitkan dahi-nya, sedetik kemudian membalas jabatan tangan-nya.
"Dhara."
"Kita pernah bertemu," kata orang bernama Arthur itu. Dhara sambil membereskan laptop dan barang-barang-nya di meja hanya diam tidak menjawab.
"Tunggu, kamu ngga ingat aku?" Arthur menahan lengan Dhara yang ingin pergi.
Dhara melirik tangan-nya lalu mendonggak, "Ngga."
Dhara melepas-kan cekalan Arthur, lalu membalik-an badan-nya dan pergi.
"Senja!" ucapan keras Arthur membuat Dhara mengurungkan niat-nya yang baru jalan beberapa langkah.
Dhara membalik-an badan-nya menatap Arthur yang tersenyum manis pada-nya. Tubuh-nya mematung tidak bergerak, Dhara agak speechless.
"Kamu benar-benar ngga ingat aku ya," kata Arthur saat sudah di depan Dhara.
Dhara yang masih speechless tidak menjawab perkataan Arthur, hingga Arthur mengusap kepala Dhara.
Spontan Dhara menghempas-kan tangan Arthur, "Terlalu lama," kata Dhara dengan wajah datar.
Wajah Arthur berubah menjadi sedih, "Maaf. Aku tidak bermaksud buat kamu menunggu," Arthur menatap manik mata indah Dhara dengan rasa bersalah.
Dhara membalik-an badan-nya berniat melanjut-kan langkah-nya, Arthur kembali menahan lengan Dhara dan membalik-an badan-nya lalu memeluk Dhara dengan erat.
"Maaf Dhara..maaf.." Arthur membisikan kata maaf berulang kali dengan lembut sambil memeluk-nya.
Dhara hanya diam tidak membalas pelukan Arthur.
"Kita bicara," ucap Arthur seakan memohon. Dhara terdiam berpikir sejenak, lalu melirik pegawai Cafe yang seakan meminta-nya untuk segera pergi karena memang sudah mau tutup.
"Gak disini," jawab Dhara menarik lengan Arthur keluar dari Cafe.
Dhara menarik Arthur ke sebuah taman yang di penuhi berbagai lampu warna-warni sebagai hiasan, kebetulan taman itu dekat dengan Cafe tadi.
"Jujur aku kecewa..kamu sama sekali tidak mengingat-ku," ujar Arthur membuka topik.
"Wajar, aku tidak pernah bertemu kamu sudah berapa lama? kamu sudah banyak berubah," jawab Dhara tanpa menatap Arthur.
"Kamu memang berniat melupakan-ku ya?"
Dhara menggeleng, "Lupa begitu saja. Bukan-nya masalalu memang harus di lupakan ya?" Dhara tersenyum miring.
"Aku memang masalalu-mu tapi aku juga masa depan-mu."
"Aku tidak menganggap-mu begitu, masalalu ya masalalu, jangan ikut campur dengan kehidupan masa depan-ku, kalau ingin berteman ya berteman saja, bukan berarti kamu harus ikut campur urusan dunia-ku," kata Dhara panjang lebar.
Arthur yang mendengar itu membuat d**a-nya seakan di tusuk ribuan jarum, sakit sekali. Perempuan yang di cintai-nya berkata seperti itu pada-nya, rasa-nya seperti di tolak berkali-kali oleh pujaan hati.
"Kamu sudah punya kekasih?" tanya Arthur dengan perasaan campur aduk.
"Memang-nya ada urusan-nya dengan-mu?" Dhara malah balik bertanya.
"Dhara.." Arthur menatap Dhara sedih.
Dhara tersenyum, "Walaupun kamu sudah kembali. Jangan lupa perjanjian kita dulu," Dhara menepuk bahu Arthur.
"Aku ingin mengajak-mu ke pantai," kata Arthur saat Dhara beranjak. "Kalau kamu mau," lanjut Arthur.
"Sudah malam, besok aku harus kuliah pagi," Dhara meninggal-kan Arthur sendirian.
Arthur terdiam, ia pikir Dhara akan senang melihat-nya, ternyata ekspetasi tidak seindah realita. Bahkan Arthur kesal tadi saat Dhara tidak mengenal-nya sama sekali, memang-nya perubahan Arthur se-drastis itu?
Dibalik rasa kesal-nya, Arthur lebih merasa sedih. Kata-kata itu..apakah itu artinya Arthur dan Dhara hanya akan sebatas masalalu?
Mata Arthur berkaca-kaca membayang-kan hidup-nya tanpa Dhara, lebih tepat-nya hidup-nya tanpa Dhara karena Dhara sudah di miliki orang lain.
***
Dhara menutup mulut-nya agar menahan isakan-nya, air mata Dhara keluar begitu saja.
"Kamu kembali, tapi ini lama sekali," bisik Dhara pada diri-nya sendiri.
Dhara ingin sekali memeluk Arthur erat, tapi ia tidak bisa mengingkari janji yang di buat-nya sendiri. Arthur sudah berbohong, dia sudah mengingkari janji.
Mata-nya melihat keluar jendela taksi menatap kendaraan yang berlalu lalang.
"Mba sedang ada masalah ya?" tanya supir taksi yang ternyata mendengar isakan Dhara.
Dhara buru-buru menghapus air mata-nya, hanya tersenyum menanggapi.
"Semoga cepat selesai ya mba masalah-nya," ucap-nya tulus seakan memberi-kan semangat pada Dhara.
"Terimakasih," jawab Dhara pelan namun masih terdengar.
Beberapa puluh menit kemudian, Dhara sampai di kost-annya, setelah memberikan uang pada supir taksi, Dhara pun turun lalu masuk ke dalam kamar kost-nya.
Tentu saja sudah sepi karena sudah hampir larut malam, untung-nya di kost ini tidak ada batas waktu.
Dhara langsung membersihkan diri-nya, setelah selesai, Dhara merebahkan diri-nya di kasur.
Bayang-bayang Arthur terus menghantui-nya, tatapan rasa bersalah, tatapan memohon, tatapan sedih, tatapan seakan putus asa, tatapan seakan takut kehilangan Dhara.
Ting!
Dhara bangun dari tiduran-nya karena mendengar notif di ponsel-nya, ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas.
From: 0897×××××
setelah selesai kampus, bisa kita bertemu?
Dhara meremas ponsel-nya, dia tahu betul itu siapa. Itu pasti Arthur, dan tahu darimana dia nomor ponsel baru Dhara?
Dhara mengetikan balasan-nya,
To: 0897×××××
tau darimana nomor ku?
Ting!
From: 0897×××××
Rayna
Dhara terdiam, Rayna adalah teman-nya yang paling dekat dengan Dhara, karena Rayna dan Dhara memang sudah berteman sejak SMP bahkan dengan Arthur saja Rayna bisa di bilang dekat.
Tunggu, seingat Dhara, Rayna pun mengganti nomor ponsel-nya karena sudah kadaluwarsa.
To: 0897×××××
dapat darimana nomor Rayna?
From: 0897×××××
aku memang sudah berkabar dengan Rayna sudah lama, lewat media sosial
Dhara termenung, media sosial ya? menghubungi Rayna bisa tapi kenapa menghubungi-nya tidak bisa?
Jantung-nya berpacu lebih cepat, pikiran macam-macam sudah bersarang di otak-nya.
Bagaimana kalau Arthur malah bersama Rayna? bagaimana kalau Arthur lebih mencinta Rayna di banding diri-nya nanti?
Begitu banyak pertanyaan-pernyataan yang memenuhi otak-nya saat ini.
Dhara tidak membalas ia memilih untuk tidur, mempersiapkan diri untuk hari esok.
................
"Dhara, hei!" panggil seorang perempuan cantik berkuncir satu itu sambil berlari ke arah-nya.
Dhara menoleh, tersenyum. "Hai."
Gadis itu tersenyum manis, senyuman itu membuat siapa saja pasti terpesona melihat-nya.
"Kamu ada matkul pagi juga?" tanya Rayna, Dhara mengangguk.
"Ada nih, kebetulan."
Rayna mengangguk paham, "Siang nanti kita lunch bareng gimana? cafe depan aja," ajak Rayna.
Dhara terlihat memikir, "Emm boleh deh," jawab-nya lalu tersenyum hingga lesung pipit-nya terlihat.
"Oke, duluan ya!" ujar Rayna lalu melangkah pergi.
Dhara menatap punggung Rayna yang perlahan menghilang di balik dinding, menghela nafas-nya. Hati-nya berdenyut sakit mengingat tentang kejadian semalam.
Setelah tersadar, Dhara kemudian pergi menuju ruang kelas-nya karena sebentar lagi dosen akan segera datang.
Setelah selesai, saat-nya jam makan siang. Saat Dhara baru masuk ke dalam cafe ia melihat Rayna yang sudah duduk di dalam salah satu kursi di pojok kiri, ia pikir Rayna akan terlambat karena memang biasanya selalu begitu.
"Rayna," panggilan Dhara membuat Rayna yang tadi-nya fokus ke layar gadget kini mendonggak.
"Oh, duduk, Ra," ucap Rayna sambil tersenyum.
"Sudah lama ya? kamu tumben sekali datang duluan," ujar Dhara tertawa kecil tanpa di duga Rayna pun ikut tertawa.
Dhara kemudian memesan Beef bowl dan Matcha latte, sedangkan Rayna hanya memesan Sandwich karena ia sudah memesan minum duluan.
Rayna terlihat sibuk bermain ponsel sementara Dhara hanya mengintari sekeliling cafe, namun mata-nya tiba-tiba terpaku melihat seorang pria yang baru saja masuk ke dalam cafe, ia terlihat mencari seseorang dan mata-nya bertemu dengan mata coklat Dhara.
Pria itu tersenyum lalu menghampiri-nya, Rayna yang menyadari ada seseorang yang menghampiri meja-nya pun mendonggak, "Hei!" Rayna spontan berdiri.
Pria itu membalas pelukan Rayna saat Rayna tiba-tiba memeluk-nya, Dhara yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan-nya.
Sejauh apa sih hubungan mereka? batin Dhara sedih.
"Dhara," panggil pria itu saat sudah duduk di samping Dhara dan Rayna. Ya, seperti yang kalian tebak dia adalah Arthur.
Dhara pura-pura sibuk bermain ponsel, Arthur menghela nafas.
"Kamu masih ingat cafe ini ya?" ujar Rayna antusias mengalihkan atensi Arthur.
"Natuurlijk," Arthur tertawa di ikuti Rayna.
"Ouch, di sini bukan di Amsterdam, ya!" peringat Rayna dengan wajah garang, melihat itu Arthur semakin tertawa.
Kuping Dhara panas melihat interaksi dua manusia itu, apalagi mendengar tawa mereka yang terdengar begitu bahagia.
Tunggu, Amsterdam? jadi bahkan Rayna tau Arthur selama ini di Amsterdam? Dhara meremas ponsel-nya kuat-kuat.
"Aku sudah membuat wishlist yang aku cerita-kan pada-mu untuk kita lakukan nanti!" Rayna berbicara dengan mata yang berbinar.
"Kita akan mengabulkan-nya ketika aku sudah selesai dengan urusan-ku," ujar Arthur saat sudah memesan minuman.
Spontan raut wajah Rayna menekuk, "Memang-nya kamu punya urusan apa?" tanya Rayna penasaran.
"Tentu saja dengan teman-mu," jawab Arthur menatap Dhara yang masih berpura-pura tidak peduli dengan mereka.
Rayna tersenyum tipis menanggapi, Dhara mulai risih saat Arthur terus menatap-nya, ia mendonggak dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa tidak bilang sih dia datang?" Dhara mulai meluap-kan rasa kesal-nya.
"Hanya kebetulan, dia yang mengajak aku makan siang tapi aku sudah buat janji dengan-mu," jawab Rayna menyengir.
Dhara memejam-kan mata-nya, tidak lama kemudian pesanan Dhara dan Rayna pun tiba. Dhara fokus terhadap makanan-nya sementara Arthur dan Rayna masih berbincang random dan tertawa.
Dhara terlampau kesal menjadi orang ketiga mereka, ia berdiri dan mengambil tas-nya.
"Mau kemana?" tanya Rayna spontan berdiri.
"Aku sudah kenyang," ujar Dhara. Arthur melirik makanan Dhara masih tersisa banyak sementara minuman-nya sudah habis.
"Kalian lanjut saja reuni-nya," lanjut Dhara lalu membalik-an badan-nya.
"Dhara, tidak baik makanan tidak di habis-kan," ujar Arthur membuat Dhara membalik-an badan-nya.
"Kalau begitu, kamu saja yang makan."
"Dhara kamu itu kenapa sih? tidak biasa-nya loh buang-buang makanan," kata Rayna kesal dengan Dhara.
"Untuk apa aku makan di tempat yang bahkan mereka tidak menganggap aku ada? aku tidak mau jadi orang ketiga, kalian lanjut saja," kata Dhara lalu melenggang pergi.
Rayna yang ingin mengejar Dhara pun di tahan Arthur, "Mungkin dia sedang setres karena skripsi," kata Arthur menenang-kan.
Rayna menghela nafas-nya, "Mungkin iya, tapi Dhara tidak biasa-nya seperti itu."
Arthur tersenyum tipis menanggapi, tapi di sisi lain ia sendiri berfikir bahwa Dhara ingin menghindar dari-nya.
Kemudian Rayna dan Arthur kembali duduk, lalu pesanan Arthur pun tiba. Mereka kembali berbincang dan tertawa, Arthur melihat wajah antusias Rayna, ia tersenyum kecil. Sekilas pikiran-nya tertuju pada Dhara, namun ia kembali fokus pada Rayna.
Di sisi lain, Dhara menggigit bibir-nya menahan tangis. Ah, Dhara benci menjadi cewek lemah yang hanya bisa menangis.
Setelah perlahan Dhara mulai tenang, ia memejamkan mata-nya menetralisir perasaan-nya yang campur aduk. Dhara berjalan ke halte bus untuk menunggu taksi yang kebetulan halte itu berada di dekat cafe.
Dhara memasangkan ear-pods ke telinga-nya, benda itu mengalunkan lagu-lagu Coldplay band luar negri favorit-nya.
Seorang pria datang sembari membawa minuman botol di tangan-nya, ia melihat Dhara yang sedang menikmati lagu sambil bermain ponsel.
Tidak lama kemudian taksi datang, pria itu melirik kanan kiri tidak melihat ada-nya orang lain disini, jadi ia berfikiran bahwa Dhara memesan taksi online.
"Kak," ujar-nya menepuk bahu Dhara. Spontan Dhara menoleh, melepas-kan benda itu dari telinga-nya.
"Pesan taksi ya?" tanya pria itu sambil melirik ke arah taksi online yang sudah menunggu, Dhara mengikuti arah mata pria itu kemudian beralih menatap pria itu.
"Makasih ya," ujar Dhara tersenyum manis, lalu berdiri menghampiri taksi tersebut. Pria itu memegang d**a-nya yang terasa berdetak lebih kencang.
"Cantik banget," gumam-nya secara tidak sadar.
Pria itu berandai bisa bertemu Dhara kembali, apa yang akan terjadi. Ia juga berharap bisa setidak-nya berteman dengan gadis manis itu
Dhara yang sudah di dalam taksi kemudian memasang kembali ear-pods saat sudah menjawab supir taksi yang bilang, "Sesuai aplikasi ya, Mba."
Dhara melirik jalanan di balik jendela, ia sesekali bersenandu mengikuti lirik lagu yang di dengar.
Setelah beberapa menit kemudian ia sampai di depan apartement-nya, setelah Dhara melakukan pembayaran online, ia turun dan masuk ke dalam gedung apartement.
Setelah memasuki lift, Dhara menekan tombol angka 5. Kemudian pintu lift itu terbuka, Dhara keluar dan berjalan memasuki kamar apart-nya.
Dhara merebah-kan diri-nya di kasur, sungguh hari yang melelah-kan. Padahal hanya mengikuti satu matkul dan makan siang, tapi mood Dhara sudah seburuk ini.
Ia melirik jam di atas nakas yang menunjukan angka 13.50. Dhara beranjak kemudian mengganti baju-nya dengan baju rumahan, ia kembali merebahkan diri-nya di atas kasur tidak lama kemudian mata-nya terpejam.
Jam analog menampilkan pukul 15.30, disaat itu juga Dhara membuka mata-nya, ia melentur-kan badan-nya yang terasa kaku.
Dhara mengambil ponsel-nya dan melihat ada banyak notif dari Rayna.
4 Message from Rayna
From: Rayna
kamu sedang ada masalah ya?
From: Rayna
cerita kan pada-ku
From: Rayna
jangan melampiaskan pada orang yang tidak bersalah, Dhara.
From: Rayna
kamu tau sikap-mu tadi itu buruk?
2 Message from Arthur
From: Arthur
skripsi-mu ingin ku bantu? kebetulan skripsi-ku dapat nilai bagus.
From: Arthur
mau dinner bersama?
Dhara menghembuskan nafas-nya, kemudian mengetik keyboard membalas pesan Rayna dan Arthur.
To: Rayna
kamu tidak tau apa-apa, tidak usah ikut campur.
To: Arthur
tidak.
Ting!
From: Arthur
yakin tidak mau? aku berusaha meringankan beban-mu loh.
Dhara mulai tergoda dengan tawaran Arthur, memang siapa yang tidak mau dengan bantuan membuat skripsi? Dhara memang sudah sangat setres menghadapi revisi-revisi yang di berikan dosen kepada-nya.
"Ya tuhan, kenapa dia harus kembali!" teriak Dhara frustasi.
Di sisi lain hati-nya masih dengan Arthur, tapi sisi kecewa Dhara lebih besar terhadap Arthur. Tapi untuk perihal skripsi ini, Dhara ingin mengesampingkan gengsi-nya.
To: Arthur
place?
Ting!
gercep sekali batin Dhara.
From: Arthur
aku jemput, dimana apartement-mu?
To: Arthur
send location?
Di lain tempat, Arthur tersenyum memandang profil Dhara yang terlihat sangat cantik dengan rambut di kepang, dan dress soft pink yang melekat pada tubuh-nya.
"Erg mooi," gumam Arthur tanpa sadar.
Sinar matahari senja yang perlahan menurun itu menyinari Arthur yang duduk di balkon sambil terus tersenyum memandang ponsel-nya menampilkan foto sang pujaan hati.
Dhara memesan junk food karena perut-nya sudah lapar. Ah, mengingat tadi siang Dhara tidak sempat makan banyak.
Sambil menunggu, Dhara kemudian pergi mandi lalu mengeringkan rambut-nya menggunakan kipas, Dhara tidak pernah menggunakan hair dryer karena akan membuat rambut rusak.
Tidak lama kemudian pesanan Dhara pun sampai, Dhara turun dan mengambil makanan tersebut. Ia memesan burger, lychee ice, dan beberapa makanan penutup.
Setelah di rasa kenyang, jam menunjukan pukul 16.00, Dhara merasa bosan, ia berencana ingin keluar jalan-jalan menggunakan sepeda yang terparkir di parkir sepeda apartement.
Dhara segera bersiap, memoles wajah-nya dengan beberapa make-up agar membuat-nya terlihat fresh, menggunakan Rok Lipit pink dan crop top putih serta sling bag hitam-nya.
Setelah terlihat perfect, Dhara melakukan aksi terakhir yaitu menyemprotkan parfum dengan wangi yang begitu khas bunga.
Dhara segera keluar dari apartement lalu bergegas ke tempat parkir, ia membuka kunci gembok yang berada di roda belakang-nya.
"Sore, Mba. Mau jalan-jalan ya?" sapa satpam yang berjaga di area parkir tersebut.
Dhara tersenyum, "Sore, pak. Iya, nanti paling saya pulang malem ya pak," kata Dhara sambil menaiki sepeda-nya.
"Iya, Mba. Hati-hati ya," ujar satpam tersebut ramah.
Dhara mengangguk, "Duluan pak," Dhara menggoes sepeda-nya meninggalkan parkiran.
Mata Dhara mengelilingi sekitar, melihat burung-burung berterbangan, angin sore yang menerpa wajah-nya begitu lembut, serta langit senja yang begitu cantik memanjakan mata.
Dhara berhenti menikmati langit senja itu, mengeluar-kan ponsel-nya dan memotret diri-nya dengan background senja.
sunset is beautiful❤️
Dhara meng-upload ke story i********:-nya.
Dhara kembali menggoes sepeda dengan ear-pods yang terpasang di telinga-nya.
Kemudian Dhara berhenti, ia membeli French fries dan iced tea di stand jualan yang berada di sana. Dhara memakan makanan dan minuman-nya sambil menikmati alunan musik, mata-nya tertuju menatap langit yang begitu sulit untuk di alihkan.
Seorang pria dengan kamera di tangan-nya menatap perempuan manis yang kini duduk sambil memakan French fries-nya, di tambah angin yang membuat rambut panjang perempuan itu terbawa. Ia tertawa saat perempuan itu tiba-tiba tersedak.
Seakan menyadari sesuatu, tangan yang sedari tadi memegang kamera pun mengarah ke perempuan itu, ia memotret beberapa candid yang membuat perempuan itu terlihat cantik dan natural sekali di dalam foto-nya.
Setelah memantap-kan hati, ia menghampiri perempuan manis itu. Duduk di sebelah-nya.
Dhara yang menyadari itu pun menoleh, kening-nya mengerut. Pria itu tersenyum menatap-nya, Dhara melepas-kan ear pods di telinga-nya.
"Kamu yang tadi ya?" kata Dhara sambil tersenyum.
Pria itu mengangguk, menyondor-kan tangan-nya, "Dhika," kata-nya memperkenal-kan diri.
Dhara menerima tangan itu, "Dhara."
"Kamu seperti-nya suka sekali senja?" kata Dhika sambil terus memandang wajah cantik Dhara.
Dhara terkekeh, lalu mengangguk.
"Oh ya, kamu kuliah semester berapa?" tanya Dhika penasaran.
"Semester akhir," kata Dhara dengan mata menyipit karena angin yang begitu kencang membuat mata Dhara refleks.
"Keliatan muda," kata Dhika speechless.
"Kamu semester berapa?" tanya Dhara balik.
"Semester 6."
"Adik tingkat dong ya," Dhara tertawa kecil.
"Aduh, siap kak," Dhika ikut tertawa.
"Lagi sibuk skripsi ya sekarang?"
Dhara meminum iced tea-nya, lalu mengangguk.
"Kamu kuliah di mana?"
"Di UI, kalau Dhara?"
Dhara menoleh dengan mata melotot, "Sama," kata-nya terkejut. "Tapi aku tidak pernah melihat kamu," lanjut Dhara meminum minuman-nya kembali.
Dhika tertawa, "Di kampus itu banyak sekali manusia-nya, tidak mungkin Dhara akan ingat semua meskipun melihat mereka."
"Kamu benar," kata Dhara mengangguk.
Mereka kembali berbincang random, lalu tertawa bersama karena Dhika menceritakan hal lucu lain-nya.
Tidak terasa matahari sudah terbenam sempurna, langit sudah gelap, dan Dhara tidak menyadari langit senja favorit-nya sudah di gantikan dengan langit malam.
"Dhara tidak dingin?" tanya Dhika melihat pakaian Dhara.
Dhara menggeleng pelan, "Aku sudah biasa. Kamu sendiri tidak pulang?"
"Aku ada urusan, kebetulan mau kerja kelompok nanti malam," jawab Dhika sambil melihat Dhara yang membuang sampah.
Dhara melirik jam di layar ponsel-nya menunjukan pukul 18.30.
"Aku juga sudah ada janji," kata Dhara.
Dhika mengangguk mengerti, "Mau aku antar?" tawar Dhika.
Dhara menggeleng, "Aku naik sepeda. Kamu kesini naik apa?" tanya Dhara.
"Aku naik bus."
"Lalu kamu mau antar aku naik apa?" tanya Dhara tertawa. Dhika menggaruk alis-nya salah tingkah.
"Aku duluan ya," ujar Dhara lalu menaiki sepeda-nya dan perlahan menghilang dari pandangan Dhika.
"Aku lupa meminta nomor ponsel-nya ya tuhan," gemas Dhika merasa menyia-nyiakan kesempatan.
Setelah sampai di parkiran apartement, Dhara kemudian bergegas masuk ke dalam lift, ia segera mengganti baju-nya dengan rok flare dan sweater crop. Membawa beberapa buku dan MacBook, lalu memasukan-nya ke dalam tas.
Ponsel Dhara yang sedang di charger berdering, membuat Dhara menghampiri-nya. Melihat name contact itu lalu mengangkat-nya.
"Aku sudah di depan apartement."
"Aku kesana, 5 menit lagi," kata Dhara lalu mematikan telfon-nya.
Ia kembali bercermin, setelah di rasa cukup rapih penampilan-nya, Dhara men-touch up liptint di bibir-nya.
Dhara keluar dari kamar apartement-nya lalu mengunci-nya. Ia melihat mobil Arthur yang memang sudah di beri tahu Arthur plat nomor-nya, lalu Dhara menghampiri-nya.
"Selamat malam," sapa Arthur saat Dhara masuk ke dalam mobil-nya. Dhara hanya menjawab dengan tersenyum tipis.
"Kamu cantik sekali," kata Arthur terpana.
"Aku tidak mau memakan waktu banyak," ujar Dhara risih di tatap Arthur.
Arthur menghela nafas, lalu mengemudi-kan mobil-nya sesekali ia melirik Dhara yang sibuk bermain ponsel.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di salah satu restoran makanan Jepang. Dhara sedikit shock saat melihat nama restoran itu.
"Ayo," kata Arthur ingin menggenggam jemari Dhara, spontan Dhara menolak-nya. Gadis itu berjalan mendahului Arthur yang mematung.
Dhara melirik ke kanan kiri untuk mencari bangku yang masih kosong, hingga mata-nya berhenti pada salah satu tempat di sisi glass wall yang menampilkan jalan raya kota Jakarta di atas.
Dhara berjalan lalu ia segera duduk di ikuti Arthur yang sedari tadi hanya mengekor.
"Kamu kesulitan di bagian mana?" tanya Arthur saat sudah memesan pada waiter.
Dhara mengintari sekeliling-nya, restoran ini begitu indah dengan aksesoris kota Tokyo, miniatur kota-kota di Jepang, bunga sakura, dan lain-lain.
Dhara berdecak kagum, interior yang begitu matang, pikirnya. Arthur tersenyum tipis melihat Dhara yang masih kagum tidak mendengarkan pertanyaan-nya.
"Dhara," panggil Arthur. Seakan tersadar, Dhara sontak menatap Arthur.
"Kamu kesulitan di bagian mana?" tanya Arthur sekali lagi.
Dhara menjawab, "Semua-nya."
Arthur terkekeh, "Boleh aku lihat revisi-an terakhir-mu?"
Dhara segera mengeluar-kan buku tebal hasil revisi skripsi-nya. Arthur membaca setiap lembar itu dengan teliti, dia begitu fokus sampai tidak menyadari pesanan-nya sudah tiba.
Dhara memakan mochi rasa mattcha yang di pesan Arthur, ia memandangi Arthur yang begitu serius.
Di lembaran terakhir, Arthur menghela nafas-nya. Menatap Dhara yang juga menatap-nya.
"Seharus-nya kamu fokus saja dengan judul penelitian yang kamu ambil, tidak perlu mencantum-kan hal yang tidak berhubungan dengan judul, kamu sampai mencantumkan hal yang tidak perlu sementara hal yang perlu malah kamu lupakan," kata Arthur panjang lebar sambil menunjukan halaman-halaman skripsi Dhara yang tidak tepat isi-nya.
Dhara mengangguk-ngangguk paham. "Untung saja dosen-mu baik, kalau dosen-ku sudah tidak menerima lagi revisi-an skripsi," kata Arthur melihat ada 3 buku hasil revisi skripsi Dhara di atas meja.
Dhara mencemberut-kan bibir-nya. Arthur terkekeh geli.
"Nanti ku buat-kan point-point yang harus kamu revisi, dan harus kamu ingat skripsi itu adalah hasil penelitian," ujar Arthur kembali mengingat Dhara seperti meng- copas dari artikel karena sedikit aneh menurut Arthur.
"Hm."
Arthur tersenyum, lalu mengambil gelas hot coffee nya yang sudah dingin dan menyesap-nya perlahan.
Dhara sibuk mencatat hal-hal yang tadi di katakan Arthur, otak-nya sedang berfikir keras. Arthur tidak mampu menahan rasa gemas-nya.
Dhara merasa puas setelah menambahkan beberapa point, ia mendonggak menatap Arthur yang sedari tadi terus menatap-nya.
"Terimakasih," kata Dhara tersenyum lebar. Arthur mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah jam setengah sembilan," kata Dhara melihat ponsel-nya.
"Mau pulang?" tanya Arthur melihat Dhara yang memberes-kan barang-nya.
"Ya kamu kira aku mau apa lagi?" tanya Dhara heran.
"Kita belum bicara perihal kita, aku memberi-mu waktu tadi untuk fokus pada urusan-mu, tapi sekarang tolong beri aku waktu untuk kita bicara serius," kata Arthur menatap Dhara berharap.
Dhara menghela nafas-nya, "Sudah malam Arthur," Dhara berusaha menolak.
"Tidak sampai jam sepuluh," bujuk Arthur.
"Hm," Dhara memilih menyerah.
Arthur tersenyum senang.
"Aku sering bertanya tentang kabar, keadaan-mu dan apa saja yang sudah kamu lalui tanpa-ku pada Rayna."
Dhara diam, tidak menjawab, tetapi ia tetap menyimak. Arthur kembali melanjut-kan kalimat-nya.
"Semua yang ku lakukan itu demi diri-mu, agar saat aku pulang aku sudah sukses dan bisa membahagiakan-mu."
Dhara memejam-kan mata-nya, "Kamu tau? aku juga mempunyai sosial media, aku mempunyai nomor w******p, tapi kenapa kamu bertanya tentang-ku pada Rayna sementara kamu bisa bertanya langsung pada-ku?" jawab Dhara panjang lebar menahan emosi-nya.
"Ak-" belum sempat Arthur membalas, Dhara menyela-nya.
"Kamu bisa menghubungi Rayna yang berstatus teman-mu tapi tidak bisa menghubungi-ku yang berstatus kekasih-mu?"
Tanpa sadar air mata Dhara meluruh jatuh.
Bibir Arthur bungkam, ia seakan tidak mampu membuka suara.
"Sebenar-nya kamu mencintai-ku atau Rayna?" Akhirnya, ini yang selama ini Dhara tahan.
Arthur menatap Dhara dengan sendu, Dhara menghapus air mata-nya.
"Rayna teman kita, kamu sendiri tau itu. Kamu tidak seharus-nya bertanya itu," kata Arthur.
"Tapi kamu berprilaku tidak adil! aku tau Rayna teman kita, tapi aku kekasih-mu, perlakukan aku lebih spesial di banding kamu memperlakukan Rayna!"
Arthur memijat dahi-nya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Sebenar-nya kita memang sudah bukan pasangan kan? kita sudah membuat janji, dan kamu mengingkari janji itu, kamu lupa?"
Dhara menatap Arthur yang juga menatap-nya.
"Tapi aku tidak pernah memutuskan hubungan kita," ujar Arthur tidak terima.
Dhara tersenyum sinis, "Kalau begitu aku yang memutuskan-nya."
Ucapan mantap itu terdengar dari bibir Dhara sementara Arthur terdiam.
"Jangan begitu," jawab Arthur pelan.
Dhara membuang pandangan-nya tidak mau menatap Arthur.
"Aku janji akan merubah sikap-ku pada Rayna."
Dhara menoleh menatap-nya, "Bagaimana kalau kamu mengingkari janji?"
Arthur menatap Dhara ragu, "Kita akan putus."
Dhara menunduk, lalu mendonggak, menatap Arthur, "Aku terima."
Arthur tersenyum lebar, ia mendekati Dhara dan memeluk-nya erat.
"Aku sangat merindukan-mu Dhara," bisik Arthur di samping telinga Dhara.
"Hou veel van je," lanjut Arthur. Dhara membalas pelukan Arthur tak kalan erat.
Rasanya beban dan rindu yang selama ini Dhara tahan hilang begitu saja, Arthur sudah kembali, Arthur-nya kembali ke pelukan-nya.
"Ik houd ook van jou," balas Dhara pelan.
Arthur yang terkejut langsung melepas-kan pelukan mereka, memegang bahu Dhara dengan tatapan bertanya.
"Aku bisa berbahasa Belanda sedikit, teman-ku orang Belanda," ujar Dhara seakan mengerti arti tatapan Arthur.
Arthur tersenyum mengangguk lalu mengusap rambut indah Dhara.
Ponsel Arthur berdering, menandakan ada telepon masuk.
Rayna calling you
Arthur segera mengangkat-nya, "Ya?"
"Aku sudah menambah-kan wishlist-ku loh."
"Begitu ya?" Arthur menatap Dhara.
"Kamu awas saja ya, bersiap-siap untuk mengabulkan-nya."
"Tentu saja, aku akan mengabulkan-nya," jawab Arthur tertawa kecil.
"Besok mari kita sarapan bersama, aku akan membuatkan sandwich yang kamu suka."
"Boleh, nanti ku ajak Dhara ya," kata Arthur melihat air muka Dhara yang sudah terlihat tidak suka.
"Kamu sudah berbaikan dengan Dhara memang-nya?"
"Aku sedang bersama Dhara."
"Wahh, Dharaa kamu sudah berbaikan dengan Arthur? selamat yaaa."
Dengan tanpa dosa gadis itu berkata demikian, Dhara dengan rasa kesal berdiri sambil membawa tas-nya. Arthur yang melihat itu segera menahan Dhara.
"Kamu kenapa?" tanya Arthur panik.
"Kamu masih bertanya aku kenapa? tidak sampai 15 menit kamu bilang akan merubah sikap-mu pada Rayna," ujar Dhara kesal.
Arthur mengusap wajah-nya, "Aku sudah duluan buat janji dengan Rayna, tidak mungkin ku tolak tiba-tiba," Arthur menggenggam lengan Dhara.
"Begitu ya? terserah saja, aku tidak mau sarapan dengan Rayna. Kalian berdua saja, dan kamu jangan lagi mengganggu-ku," Dhara menunjuk Arthur.
"Aku masih kekasih-mu Dhara," kata Arthur frustasi.
"Terserah!" kata-kata keramat Dhara keluarkan.
Arthur menghela nafas bingung harus memilih teman dekat-nya atau kekasih-nya. Kalau saja Dhara mau mengerti Arthur dan Rayna, pasti Arthur tidak akan frustasi.
"Dhara..please.." Arthur memohon dengan wajah putus asa. Tangan-nya menggenggam jemari Dhara.
Dhara menggeleng, keputusan-nya sudah bulat. Dhara tidak bisa terus-menerus lembut pada Arthur.
"Kamu sudah janji. Jangan seperti anak kecil begini," kesal Dhara.
Arthur melepas-kan tangan Dhara. "Kita itu teman dari kecil kan..kenapa kamu begitu tidak menyukai Rayna? bukan-kah dia teman-mu?" jujur saja Arthur sangat penasaran.
Dhara memejam-kan mata-nya, bayangan kesalahan fatal Arthur dan Rayna bersarang di otak-nya. Bertahun-tahun mereka menyimpan rahasia, bahkan Dhara tidak tau apapun.
"Bodoh!" Dhara mengumpat untuk pertama kali-nya pada Arthur.
"Kamu bodoh tapi aku lebih bodoh karena terus mencintai-mu!" teriak Dhara lalu membalikan badan-nya meninggal-kan Arthur.
Arthur terdiam. Sedikit shock karena sikap Dhara yang sangat sensitif. Padahal mereka baru saja kembali melepas rindu, tapi kini hubungan mereka kembali renggang hanya karena masalah sarapan.
Di sisi lain Dhara dengan perasaan kesal menyetop taksi. Ia masuk dengan buru-buru agar tidak terkejar Arthur, Dhara yakin Arthur pasti akan mencari-nya.
Kenapa aku mencintai manusia bodoh itu sih batin Dhara berteriak.
Dhara sudah lelah mengeluar-kan air matanya karena Arthur. Ia memilih untuk menghindar saja mulai saat ini. Daripada terus-menerus mengetahui interaksi dan hubungan Rayna dengan Arthur semakin lengket.
****
"Arthur, kemana Dhara?" heran Rayna melihat Arthur yang datang sendirian dengan wajah muram. Seperti-nya Arthur juga kurang tidur semalam, terlihat dari kelopak mata-nya.
Arthur menggeleng pelan, "Aku dan Dhara kembali bertengkar."
Rayna mengerut-kan dahi-nya, "Lagi? kenapa?"
Arthur menyender-kan tubuh-nya pada kursi, ia memijat pelipis-nya. Lalu menceritakan kejadian semalam dengan detail. Rayna menghela nafas-nya mendengar penuturan Arthur.
Rayna menyesap teh hangat-nya, lalu menoleh ke arah Arthur dengan tatapan ragu. "Apa..itu artinya kita memang stop untuk berteman?" tanya Rayna dengan wajah sedih.
Arthur menatap Rayna, pria itu menggeleng cepat. "Dhara hanya sedang kecewa pada-ku," ujar Arthur meyakinkan.
Rayna tersenyum tipis, "Hubungan-ku dengan Dhara juga renggang." kata-nya sambil melirik sekitar.
"Maaf."
Rayna menoleh, "Untuk?" mengangkat sebelah alis-nya.
"Hubungan-mu dengan Dhara. Padahal kamu dan Dhara sudah bersahabat sejak kecil," Arthur jadi tidak enak hati.
Rayna tertawa kecil, "Bukan salah-mu. Memang aku juga yang tidak jujur pada Dhara," kata Rayna menenangkan.
"Ta–"
"Syuttt," Rayna menempelkan jari telunjuk di depan bibir-nya. "Aku tidak merasa kamu salah. Kalaupun iya, aku sudah memaaf-kan mu lebih dulu sebelum kamu minta maaf," tutur Rayna tersenyum.
Pria itu ikut tersenyum, hati-nya merasa nyaman. Rayna selalu membuat Arthur merasakan kenyamanan, maka dari itu Arthur selalu tidak bisa jauh dari Rayna dan tidak bisa menolak permintaan Rayna.
"Aku sudah membuat sandwich kesukaan-mu, apakah kamu akan membiarkan makanan itu begitu saja?" Rayna melirik piring Arthur yang masih lengkap dan teh yang masih utuh.
Arthur terkekeh, ia segera memakan-nya. Rayna kembali tersenyum menatap Arthur yang sudah mulai ceria kembali. Rayna juga mencari topik lucu agar Arthur kembali lebih bersemangat dan antusias, ia tidak suka melihat Arthur yang hanya murung dan terlihat setres.
Di sisi lain, Dhara sedang memakan sarapan bubur-nya dengan hati yang tak karuan. Membayang-kan Arthur dan Rayna makan bersama dan berceloteh ria. Ah, hati Dhara jadi panas.
Gadis itu segera meminum s**u-nya dengan cepat, ia mengambil tas-nya lalu berangkat menuju kampus.
Seperti biasa, Dhara selalu berangkat menggunakan taksi online. Jarak apartement-nya ke kampus tidak begitu jauh, memakan waktu hampir 20 menit.
Saat Dhara hendak menuju kantin karena ia lupa membawa s**u kotak kesukaan-nya, gadis itu melihat seseorang yang dikenali-nya kemarin. Dhara tersenyum senang.
"Dhika!" panggil Dhara tidak terlalu kencang agar tidak menjadi pusat perhatian.
Pria itu sedang berbicara pada teman-nya, seperti-nya perihal pelajaran karena teman-nya menunjukan isi buku yang tebal pada Dhika. Pria itu mendonggak, mata-nya melebar terkejut.
"Nanti lagi ya," kata Dhika pada teman-nya, ia yang mengerti pun langsung pergi.
"Akhirnya ketemu," ujar Dhika saat Dhara sudah di depan-nya.
"Sama-sama ada jam pagi ya?" Dhara tertawa kecil.
Dhika mengangguk. "Dhara sendirian? nggak sama teman?"
Senyum Dhara langsung luntur, Dhika yang menyadari itu spontan panik. "Maaf-maaf, aku ada salah kata ya?"
Dhara kembali tersenyum, menggeleng pelan.
Dhika yang merasa tidak enak menggaruk alis-nya bingung.
"Aku mau beli sesuatu dulu, kamu nggak ke kelas?" tanya Dhara. Dhika menggeleng sebagai jawaban.
"Sebentar lagi sih, jam 9," kata Dhika.
"Yasudah, aku duluan ya."
Dhika segera menyadari sesuatu, ia menarik lengan Dhara. "Boleh aku minta nomor ponsel Dhara?" pria itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
Dhara berpikir sebentar lalu mengangguk, ia menyebutkan nomor pada Dhika lalu pria itu segera mengetik-nya di tambah kontak.
"Terimakasih," ujar Dhika tersenyum puas. Dhara terkikik lalu mengangguk.
Gadis itu kembali melangkah lalu menghilang karena kerumunan. Dhika tertawa kecil merasa lucu melihat Dhara yang seakan tertelan manusia-manusia disana.
"Haduh, lupa uang cash nya terakhir buat bayar taksi," Dhara berbicara pelan dengan tangan yang terdapat dompet kosong.
"Nggak bisa bayar online ya buk?" tanya Dhara.
"Nggak bisa, Mba."
Dhara berdecak kesal. "Saya bayar aja Bu, berapa semua-nya?" tanya seorang perempuan di samping Dhara sambil membawa keranjang-nya.
Dhara menoleh, ia membuang wajah-nya tidak mau menatap gadis itu. Setelah membayar, perempuan itu memberi plastik belanjaan Dhara.
"Kamu masih marah?" tanya-nya polos.
"Terimakasih," Dhara tidak menjawab pertanyaan bodoh itu.
"Akan ku bayar, berapa no rek mu?" tanya Dhara mengeluarkan ponsel-nya.
Rayna menggeleng, "Tidak usah." gadis itu menolak.
"Aku bukan tidak punya uang sepeser pun, aku hanya tidak punya uang cash," ujar Dhara ketus. Anggaplah Dhara ini jahat karena berbicara begitu pada teman-nya sendiri.
Rayna menghela nafas, memejamkan mata-nya agar tidak terbawa emosi agar tidak adamasalah.