Angel dan Giandra mengunjungi beberapa apartemen, tetapi tidak ada yang langsung terasa cocok. Tempat pertama terlalu jauh dari kantor, tempat kedua terlalu mahal, sedangkan tempat ketiga membuat Angel merasa sesak.
"Kita tidak harus terburu-buru," kata Giandra.
"Aku takut kalau terlalu lama, kita justru berubah pikiran."
"Kalau keputusan kita benar, waktu tidak akan merusaknya."
Angel menatap lelaki itu. Dulu Giandra selalu ingin memenangkan sesuatu secepat mungkin. Kini ia mampu menunggu tanpa menjadikan keraguan Angel sebagai penolakan.
Apartemen keempat memiliki balkon kecil dan dua kamar. Angel menyukainya karena ia tetap dapat memiliki ruang kerja sendiri.
"Kalau kita bertengkar, kamar kedua menjadi tempat pengungsian," candanya.
"Kalau kita bertengkar, kita bicara. Tapi kamar kedua tetap milikmu."
Mereka menandatangani kontrak bersama setelah membaca setiap pasal. Tidak ada nama yang lebih berkuasa. Biaya dibagi sesuai kemampuan, dan keduanya sepakat pekerjaan rumah bukan tugas Angel seorang.
Bianca membantu kepindahan mereka. Saat melihat kamar lama Angel kosong, hatinya terasa aneh.
"Kamu sedih?" tanya Angel.
"Sedikit. Tapi aku juga bahagia."
"Kita masih akan bertemu hampir setiap hari."
"Aku tahu. Aku hanya sedang merelakan kebiasaan lama kita."
Angel memeluknya. "Rumah kita berubah, bukan persahabatan kita."
Malam pertama di rumah baru, Giandra menyerahkan satu kunci kepada Angel.
"Ini rumahmu juga," katanya.
Angel menggenggam kunci itu. Ia pernah takut hubungan akan menghilangkan dirinya. Namun kali ini, rumah tersebut dibangun dari percakapan dan pilihan yang setara.
Perusahaan keluarga Diego mengirimkan tawaran baru. Setelah beberapa pemegang saham mundur, dewan membutuhkan seseorang untuk menstabilkan keadaan. Mereka menawarkan kursi pemimpin kepada Diego dengan kebebasan penuh dari ayahnya.
"Ini kesempatan mengambil kembali sesuatu yang dulu menjadi milikmu," kata Giandra.
Diego membaca dokumen itu tanpa antusias. "Aku tidak tahu apakah aku masih menginginkannya."
Usaha keamanan digital mereka baru mulai berkembang. Kembali ke perusahaan besar berarti kekuasaan dan uang, tetapi juga dunia lama yang pernah membuat Diego merasa semua orang dapat dijadikan alat.
Ia menceritakan tawaran itu kepada Bianca pada malam yang sama.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bianca.
"Aku ingin mendengar pendapatmu."
"Pendapatku boleh kamu dengar, tetapi keputusan tetap milikmu."
Diego tersenyum. "Kamu selalu mengingatkanku."
Bianca mengatakan bahwa kembali bukan berarti gagal berubah, sama seperti menolak bukan berarti melarikan diri. Yang penting adalah alasan di balik pilihannya.
Diego meminta waktu satu minggu. Ia menemui para karyawan lama, memeriksa kondisi perusahaan, dan berbicara dengan dewan. Setelah itu ia menawarkan jalan tengah: ia bersedia menjadi penasihat sementara, tetapi tidak meninggalkan usaha barunya.
"Saya akan membantu memperbaiki tata kelola," katanya kepada dewan. "Namun saya tidak akan menutup kesalahan masa lalu demi citra perusahaan."
Tawaran itu diterima dengan syarat yang jelas. Diego pulang membawa perasaan lega.
"Jadi kamu memilih keduanya?" tanya Bianca.
"Aku memilih pekerjaan yang bisa kulakukan tanpa kembali menjadi diriku yang lama."
"Jawaban yang bagus."
"Apakah aku mendapat hadiah?"
Bianca menatapnya tajam. Diego langsung mengangkat tangan.
"Pilihan kata yang buruk. Tidak ada hadiah dan tidak ada taruhan."
Bianca tertawa lalu mencium bibirnya singkat. "Anggap itu bukan hadiah. Itu pilihanku."
Karier Bianca kembali menanjak. Namun sebuah merek kecantikan meminta tubuhnya terlihat lebih kurus untuk kampanye berikutnya. Agensi menyarankan Bianca menjalani diet ketat selama dua minggu.
"Tubuhmu adalah bagian dari pekerjaan," kata perwakilan merek. "Kami hanya meminta penyesuaian kecil."
Bianca pulang dengan pikiran kacau. Ia berdiri di depan cermin, memeriksa setiap bagian tubuhnya dan mendengar kembali komentar-komentar kejam dari masa skandal.
Diego datang membawa makan malam dan melihat makanan itu tidak disentuh.
"Kamu sakit?"
Bianca menceritakan tuntutan klien. Diego tidak berkata bahwa tubuhnya sempurna atau melarangnya menerima pekerjaan.
"Apa tuntutan itu aman menurut dokter?" tanyanya.
"Kemungkinan tidak."
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin pekerjaan itu, tapi aku tidak mau pingsan lagi."
Bianca berkonsultasi dengan ahli gizi dan meminta kontrak diubah. Merek tersebut menolak. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, Bianca menolak kampanye besar karena syarat yang membahayakan kesehatan.
Keputusan itu menjadi berita. Beberapa model lain kemudian menceritakan pengalaman serupa. Bianca mengubah penolakan tersebut menjadi kampanye tentang kesehatan pekerja industri mode.
"Aku takut karierku akan berakhir," katanya kepada Angel.
"Mungkin satu pintu tertutup. Tapi kamu tidak harus mengecilkan tubuhmu supaya bisa melewatinya."
Bianca menatap dirinya di cermin lagi. Bayangan yang terlihat bukan perempuan lemah atau korban skandal. Ia melihat seseorang yang akhirnya berani mengatakan cukup.
Pada malam hari ia makan bersama Diego tanpa menghitung setiap suapan. Diego bercerita tentang pekerjaannya dan tidak menatap piring Bianca.
Kebebasan itu terasa sederhana, tetapi sangat berarti. Cinta yang sehat tidak menjadikan tubuh sebagai hadiah, milik, ataupun proyek untuk diperbaiki.
Tinggal bersama membuat Angel dan Giandra menemukan kebiasaan masing-masing yang selama ini tersembunyi. Giandra sering meninggalkan pakaian di kursi. Angel suka bekerja sambil menyalakan musik keras. Hal kecil itu masih bisa ditertawakan.
Masalah sebenarnya muncul ketika Giandra mengundang rekan kantor makan malam tanpa memberi tahu Angel.
Angel pulang dalam keadaan lelah dan mendapati lima orang berada di ruang tamunya.
"Kita perlu bicara," katanya kepada Giandra setelah para tamu pergi.
"Mereka datang mendadak."
"Kamu tetap punya waktu mengirim pesan. Ini rumahku juga."
"Aku tidak berpikir kamu akan keberatan."
"Itulah masalahnya. Kamu memutuskan untukku."
Pertengkaran membesar. Giandra merasa Angel menghubungkan setiap kesalahan kecil dengan taruhan masa lalu. Angel merasa Giandra mulai kembali mengabaikan batas ketika keadaan sudah nyaman.
"Mungkin kita terlalu cepat tinggal bersama," kata Angel.
Kalimat itu membuat Giandra terdiam. Ia ingin membantah, tetapi memilih keluar berjalan kaki agar emosi mereka mereda.
Angel menelepon Bianca, tetapi sahabatnya tidak mengatakan siapa yang benar.
"Apa yang kamu butuhkan dari Giandra?" tanya Bianca.
"Pengakuan bahwa rumah ini juga milikku."
Ketika Giandra kembali, ia membawa dua lembar kertas. Mereka menulis aturan rumah bersama: tamu harus disepakati, pembagian tugas dibuat jelas, dan masalah tidak boleh dibiarkan lebih dari satu hari.
"Aku minta maaf," kata Giandra. "Aku bertindak seolah persetujuanmu pasti ada."
"Aku juga minta maaf karena menggunakan masa lalu untuk memenangkan pertengkaran."
Mereka tidak langsung berpelukan. Mereka menyelesaikan percakapan sampai keduanya benar-benar memahami masalah.
Pertengkaran pertama tidak menghancurkan hubungan mereka. Justru dari sana, Angel mengerti bahwa hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah tempat dua orang tetap dihargai ketika konflik datang.