Bianca merasa mual selama beberapa pagi. Ia mengira tubuhnya kembali kelelahan setelah rangkaian pemotretan. Namun ketika siklus bulanannya terlambat, sebuah kemungkinan membuatnya takut.
Ia membeli alat tes dan melakukannya sendirian. Dua garis muncul.
Bianca duduk di lantai kamar mandi. Ia mencintai Diego, tetapi mereka baru mulai membangun hubungan kembali. Kehamilan itu membawa kebahagiaan sekaligus kecemasan yang sulit dijelaskan.
Orang pertama yang ia telepon adalah Angel.
"Aku hamil," katanya begitu sahabatnya datang.
Angel terdiam, lalu memeluknya. "Kamu bagaimana?"
"Aku belum tahu. Senang, takut, semuanya bercampur."
"Kamu sudah memeriksakan diri?"
Bianca menggeleng. Angel menemaninya ke dokter. Hasil pemeriksaan awal memastikan kehamilan, tetapi dokter meminta kontrol lanjutan karena usia kandungan masih sangat muda.
"Aku harus memberi tahu Diego," kata Bianca setelah keluar.
"Iya. Tapi lakukan ketika kamu siap."
Malamnya Bianca mengajak Diego datang. Lelaki itu langsung menyadari ada sesuatu yang serius.
"Aku hamil," kata Bianca tanpa berputar-putar.
Diego membeku. "Kamu yakin?"
"Sudah diperiksa."
Kebahagiaan muncul di wajah Diego, tetapi ia menahannya. "Apa yang kamu rasakan?"
Pertanyaan itu membuat Bianca menangis. Diego tidak langsung membicarakan pernikahan atau masa depan. Ia menanyakan perasaan Bianca lebih dahulu.
"Aku ingin mempertahankannya," jawab Bianca. "Tapi aku takut kehilangan diriku sendiri."
Diego berlutut di hadapannya. "Kamu tidak harus kehilangan apa pun. Kita akan membuat keputusan bersama, dan tubuhmu tetap milikmu."
Bianca memegang wajahnya. Untuk pertama kalinya, kabar besar tidak berubah menjadi alasan seseorang mengatur hidupnya.
Diego ingin menikahi Bianca. Namun ia menunggu tiga hari sebelum menyampaikan keinginan itu agar lamarannya tidak terdengar seperti akibat kepanikan.
"Aku sudah ingin membangun hidup bersamamu sebelum tahu tentang kehamilan," katanya. "Tapi aku tidak mau kamu menerima karena merasa terpaksa."
Ia tidak membawa cincin. Mereka duduk di meja makan apartemen Bianca dengan dua cangkir teh yang sudah dingin.
"Kalau aku bilang belum siap?" tanya Bianca.
"Kita tetap membesarkan anak ini bersama jika itu pilihanmu."
"Kalau aku tidak pernah mau menikah?"
Diego menarik napas. "Aku akan sedih, tapi aku tetap menghormatinya."
Bianca belum memberi jawaban. Ia meminta waktu dan Diego menerimanya.
Kabar kehamilan hanya disampaikan kepada Angel dan Giandra. Angel segera membuat daftar perlengkapan bayi sampai Bianca menyuruhnya berhenti.
"Anaknya bahkan belum sebesar buah anggur," kata Bianca.
"Aku hanya bersiap."
Giandra menepuk bahu Diego. "Kamu akan menjadi ayah."
"Itulah hal paling menakutkan yang pernah kudengar."
"Bagus. Berarti kamu mengerti tanggung jawabnya."
Bianca memikirkan lamaran itu selama beberapa minggu. Ia membayangkan rumah bersama Diego, tetapi juga mengingat betapa keras ia membangun kebebasannya kembali.
Suatu sore ia mengajak Diego ke pasar malam tempat kencan baru mereka dimulai.
"Aku mau menikah denganmu," katanya di dekat bianglala.
Diego menatapnya terkejut.
"Bukan karena bayi ini," lanjut Bianca. "Bukan karena keluargamu, media, atau rasa takut. Aku memilihmu karena aku melihat siapa dirimu sekarang dan aku ingin tumbuh bersamamu."
Diego mengeluarkan cincin sederhana dari saku. "Aku membawanya setiap hari, tapi berjanji tidak akan menunjukkannya sebelum kamu memberi jawaban."
Bianca tertawa sambil menangis. "Sekarang kamu boleh menunjukkannya."
Diego berlutut. "Bianca, maukah kamu menikah denganku sebagai pasangan yang bebas memilih, bukan hadiah yang pernah kuperebutkan?"
"Iya."
Orang-orang di sekitar mereka bertepuk tangan tanpa mengetahui panjangnya jalan menuju jawaban itu. Diego memasangkan cincin lalu memeluk Bianca dengan hati-hati.
Bianca memandang cahaya pasar malam. Dahulu cinta membuatnya berpikir seseorang harus dikorbankan. Kini ia menerima cinta tanpa mengorbankan dirinya.
Bianca dan Diego mengundang Angel serta Giandra makan malam. Cincin di jari Bianca langsung menarik perhatian Angel.
"Kalian bertunangan?" pekiknya.
Bianca mengangguk. "Dan ada kabar lain."
Ketika mendengar Bianca hamil, Angel memeluknya sambil menangis. Giandra menyalami Diego, lalu mengingatkan bahwa menjadi ayah bukan perkara sederhana.
"Aku tahu," jawab Diego. "Aku sudah mulai membaca banyak hal dan justru semakin takut."
"Takut berarti kamu tidak meremehkannya," kata Bianca.
Mereka sepakat merahasiakan kehamilan sampai kondisi kandungan lebih kuat. Rencana pernikahan juga dibuat sederhana. Bianca menolak pesta besar yang diinginkan ibu Diego.
"Aku tidak mau hidup kita kembali menjadi pertunjukan," katanya.
Diego mendukungnya. Mereka memilih upacara kecil yang hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.
Namun berita pertunangan bocor setelah seorang pegawai toko mengenali cincin Bianca. Wartawan mulai menunggu di depan apartemen.
"Kita bisa menyangkal dulu," saran Rena.
Bianca menggeleng. "Aku tidak mau berbohong. Kita cukup mengatakan bahwa pertunangan itu benar dan hal lainnya tetap pribadi."
Diego berdiri di sisinya ketika pernyataan disampaikan. Tidak ada kisah romantis berlebihan. Mereka hanya mengatakan bahwa hubungan tersebut dibangun kembali setelah melalui proses panjang.
Malamnya Bianca menatap cincin di jarinya. "Apa kita terlalu cepat?"
"Kamu masih boleh berubah pikiran," jawab Diego.
Bianca menggenggam tangannya. "Aku tidak ingin berubah pikiran. Aku hanya takut."
"Aku juga takut. Kita jalani ketakutan itu bersama."
Pada pemeriksaan berikutnya, Bianca dan Diego mendengar detak jantung bayi untuk pertama kalinya. Suara kecil dan cepat itu memenuhi ruang pemeriksaan.
Diego menunduk, menutupi wajahnya. Bahunya bergetar.
"Kamu menangis?" tanya Bianca.
"Tidak."
Dokter tersenyum. "Tidak apa-apa kalau calon ayah menangis."
Diego akhirnya tertawa dalam air mata. Ia meminta izin merekam suara detak tersebut dan mendengarkannya berulang kali sepanjang perjalanan pulang.
Kebahagiaan itu disertai perubahan besar. Bianca sering mual, cepat lelah, dan harus mengurangi pekerjaan. Ia sempat merasa tubuhnya bukan miliknya lagi.
"Semua orang bertanya tentang bayi," keluhnya kepada Angel. "Tidak ada yang bertanya tentang aku."
Angel menggenggam tangannya. "Kalau begitu aku bertanya. Kamu bagaimana?"
Bianca mengaku bahagia sekaligus takut kehilangan karier dan identitasnya. Angel tidak menyuruhnya bersyukur atau berhenti mengeluh.
Diego juga belajar. Ia sempat membuat jadwal makan dan istirahat tanpa bertanya, membuat Bianca marah.
"Aku hamil, bukan kehilangan kemampuan berpikir," katanya.
Diego langsung merobek jadwal itu. "Maaf. Aku panik dan kembali mencoba mengendalikan keadaan."
Mereka kemudian menyusun jadwal bersama berdasarkan saran dokter. Diego tetap memperhatikan, tetapi tidak mengatur tanpa persetujuan.
Setiap malam mereka mendengarkan rekaman detak jantung bayi. Bagi Bianca, suara itu bukan rantai yang mengikat masa depannya. Ia adalah kehidupan baru yang akan mereka sambut tanpa menghilangkan kehidupan yang sudah dimiliki.