Giandra membeli cincin, tetapi menyimpannya selama hampir sebulan. Ia ingin melamar Angel tanpa kejutan besar yang membuat perempuan itu terpaksa menjawab di depan orang lain.
Pada suatu Minggu pagi, ia mengajak Angel sarapan di balkon rumah mereka.
"Aku ingin membicarakan sesuatu," katanya.
"Kamu terlihat seperti akan memecatku."
Giandra tertawa gugup. "Aku ingin menikah denganmu. Tapi sebelum menunjukkan cincin, aku ingin tahu apakah kamu sudah siap membicarakannya."
Angel terdiam, kemudian mengangguk. "Aku siap."
Giandra berlutut dan membuka kotak kecil. "Aku tidak meminta kamu melupakan siapa diriku dahulu. Aku meminta kesempatan menjadi pasanganmu dengan jujur sepanjang hidup kita. Maukah kamu menikah denganku?"
Air mata Angel jatuh. "Iya."
Giandra memasangkan cincin ke jarinya. Tidak ada kamera atau tepuk tangan, hanya dua cangkir kopi dan tanaman kecil yang kini tumbuh subur di sudut balkon.
Mereka memberi tahu Bianca dan Diego sore itu. Bianca memeluk Angel dengan hati-hati karena perutnya semakin besar.
"Sekarang giliranku mengurus pernikahanmu," kata Bianca.
"Tidak. Kamu akan melahirkan sebentar lagi."
"Aku bisa memberi pendapat dari sofa."
Angel meminta pernikahan kecil setelah bayi Bianca lahir. Ia tidak ingin sahabatnya memaksakan diri.
"Kita punya waktu," katanya. "Pernikahan bukan perlombaan."
Giandra menyetujui. Cincin itu bukan garis akhir hubungan mereka, melainkan tanda bahwa keduanya memilih arah yang sama tanpa perlu berlari.
Bianca dan Diego belum sepakat memilih nama. Diego membuat daftar panjang, sedangkan Bianca selalu menemukan alasan menolaknya.
"Nama ini terlalu sulit diucapkan," katanya.
"Yang itu terlalu umum."
"Kalau yang ini?"
"Mengingatkanku pada orang yang menyebalkan di sekolah."
Perdebatan kecil itu berlangsung selama beberapa hari. Angel dan Giandra ikut memberi saran, justru membuat daftarnya semakin panjang.
Pada pemeriksaan berikutnya, dokter memberi tahu bahwa bayi mereka perempuan. Diego menangis lagi, meskipun sebelumnya bersikeras ia akan tetap tenang.
"Putri kita," katanya di mobil.
Bianca tersenyum. "Aku ingin namanya memiliki arti kebebasan."
Mereka akhirnya memilih nama Aruna, yang mengingatkan pada cahaya pagi. Nama tengahnya dipilih dari nama mendiang nenek Bianca, seseorang yang dahulu mengajarinya untuk tidak menyerahkan hidup kepada penilaian orang.
"Aruna Kirana," ucap Diego. "Aku menyukainya."
Bianca menempelkan tangan ke perut. Bayi itu bergerak seolah memberikan persetujuan.
Mereka menyiapkan kamar tanpa membaginya dalam warna yang dianggap khusus untuk anak perempuan. Ada rak buku, gambar langit, dan sebuah kursi tempat Bianca membayangkan akan membacakan cerita.
"Kita tidak tahu akan menjadi orang tua seperti apa," kata Bianca.
"Kita pasti melakukan kesalahan," jawab Diego.
"Yang penting, kita mau mengaku dan memperbaikinya."
Diego memeluk Bianca dari belakang. Mereka tidak menjanjikan kehidupan sempurna untuk Aruna. Mereka hanya berjanji bahwa putri mereka tidak akan tumbuh sebagai hadiah, alat, atau kepanjangan ambisi orang tuanya.
Kontraksi pertama datang dua minggu lebih awal. Bianca sedang makan malam ketika rasa sakit membuat sendoknya terlepas.
"Sepertinya waktunya," katanya.
Diego panik lebih hebat daripada yang diperkirakan. Ia mengambil tas rumah sakit, lalu lupa menaruhnya di mobil. Bianca yang menahan sakit justru harus mengingatkan.
Angel dan Giandra menyusul ke rumah sakit. Persalinan berlangsung lama. Diego tetap berada di sisi Bianca dan melakukan semua yang diminta tanpa mencoba mengatur tenaga medis.
"Aku tidak sanggup," kata Bianca ketika rasa sakit semakin kuat.
"Kamu boleh takut," jawab Diego. "Tapi kamu tidak sendirian."
Berjam-jam kemudian tangis bayi memenuhi ruangan. Bianca menangis ketika Aruna diletakkan di dadanya. Diego mencium kening istri dan putrinya bergantian.
"Dia kecil sekali," bisiknya.
"Dan suaranya besar sekali," jawab Bianca lemah.
Di luar, Angel memeluk Giandra ketika menerima kabar bahwa ibu dan bayi selamat. Mereka diperbolehkan masuk beberapa saat kemudian.
"Halo, Aruna," kata Angel. "Aku tante yang akan mengajarimu melawan ayahmu kalau dia terlalu banyak aturan."
"Aku mendengarnya," protes Diego.
Semua tertawa pelan.
Malam itu menjadi malam terpanjang sekaligus awal baru. Bianca menatap putrinya yang tertidur dan memahami bentuk lain dari merelakan: menerima bahwa sebagian hatinya kini berjalan di luar tubuhnya, tumbuh sebagai manusia yang suatu hari akan mempunyai pilihannya sendiri.
Hari-hari pertama menjadi orang tua tidak seindah foto. Aruna sering terbangun, Bianca kelelahan, dan Diego beberapa kali salah memasang popok.
Pada minggu kedua, Bianca menangis tanpa alasan yang dapat dijelaskan. Ia merasa gagal karena kesulitan menyusui dan tidak menikmati setiap detik seperti yang sering dikatakan orang.
"Aku seharusnya bahagia," katanya kepada Diego.
"Kamu bahagia dan lelah bisa terjadi bersamaan."
Diego menghubungi dokter setelah mendapat persetujuan Bianca. Pemeriksaan menunjukkan Bianca mengalami gejala gangguan suasana hati setelah melahirkan dan membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Bianca sempat merasa malu, tetapi Angel mengingatkan pengalaman konselingnya saat hamil.
"Kamu tidak harus menjadi ibu sempurna," kata Angel. "Aruna membutuhkan ibu yang mau menerima bantuan."
Diego membagi waktu merawat bayi, menyewa bantuan sesuai kesepakatan mereka, dan memastikan Bianca memiliki waktu tidur. Ia tidak mengambil alih semua tugas seolah Bianca tidak mampu.
Perlahan keadaan membaik. Suatu pagi Bianca dapat menikmati matahari sambil menggendong Aruna tanpa merasa takut.
Di hari yang sama, surat dari kakek Aruna tiba. Ayah Diego menulis bahwa ia tidak meminta dibawa bertemu cucunya sebelum Bianca dan Diego merasa aman. Ia hanya mengirim doa dan sebuah permintaan agar suatu hari diberi kesempatan memperbaiki hubungan.
"Apa kamu ingin membalas?" tanya Bianca.
"Belum sekarang," jawab Diego. "Aku ingin memastikan setiap keputusan tentang Aruna kita buat bersama."
Bianca menyetujui. Mereka menyimpan surat itu tanpa janji.
Angel dan Giandra datang membawa makanan serta rancangan undangan pernikahan. Rumah menjadi ramai oleh tawa, tangis bayi, dan perdebatan mengenai warna undangan.
Bianca memandang orang-orang yang dicintainya. Hidup mereka tidak menjadi sempurna setelah kebenaran terungkap atau setelah cinta dipilih kembali. Namun kini setiap luka dibicarakan, setiap batas dihormati, dan setiap kebahagiaan tidak lagi dibangun dengan mengorbankan orang lain.
Aruna membuka mata, lalu menggenggam jari Bianca. Di dalam genggaman kecil itu terdapat masa depan yang belum ditulis dan kebebasan yang akan mereka jaga bersama.