Proyek internasional Bianca dimulai ketika Aruna berusia empat bulan. Perjalanan pertama hanya berlangsung lima hari, tetapi meninggalkan putrinya terasa lebih berat daripada yang ia bayangkan.
"Aku bisa membatalkannya," kata Bianca di bandara.
"Kamu bisa, kalau itu memang pilihanmu," jawab Diego. "Tapi jangan membatalkan hanya karena merasa ibu tidak boleh pergi bekerja."
Bianca akhirnya berangkat. Diego mengirim kabar tentang Aruna tanpa membuat istrinya merasa bersalah. Ia tidak mengatakan bayi mereka terus menangis atau rumah terasa kacau, meski tetap jujur ketika Bianca bertanya.
Pada hari ketiga, Aruna demam ringan setelah imunisasi. Diego segera menghubungi dokter dan memberi tahu Bianca.
"Aku pulang sekarang," kata Bianca panik.
"Dokter bilang kondisinya aman. Kita pantau bersama. Kalau memburuk, aku yang memintamu pulang."
Bianca melakukan panggilan video sampai Aruna tertidur. Keesokan paginya demamnya turun.
Ketika Bianca pulang, ia memeluk Aruna dan Diego lama sekali. Ia menyadari bekerja tidak membuatnya menjadi ibu yang meninggalkan anak. Memercayai Diego mengasuh Aruna juga bukan berarti menyerahkan perannya.
Perjalanan selanjutnya terasa lebih mudah. Mereka membangun kebiasaan baru: panggilan singkat pada pagi hari, video Aruna setiap malam, dan waktu keluarga tanpa pekerjaan ketika Bianca kembali.
Enam bulan itu berbeda dari perjalanan Bianca sebelumnya. Ia tidak lagi pergi untuk melarikan diri atau membuktikan sesuatu. Ia pergi karena mencintai pekerjaannya dan selalu pulang karena mencintai keluarganya.
Angel mengetahui dirinya hamil dua bulan setelah pernikahan. Berbeda dari Bianca, ia tidak langsung merasa bahagia. Kenangan akan luka dari Zico dan taruhan Giandra membuatnya takut kehilangan kendali atas masa depan.
"Aku belum yakin siap menjadi ibu," katanya kepada Giandra.
Giandra tidak menunjukkan kekecewaan. "Kita periksa dulu. Setelah itu kita bicara tentang semua pilihan dengan dokter."
Hasil pemeriksaan memastikan kehamilan berjalan baik. Angel meminta beberapa hari untuk memikirkan perasaannya. Giandra menunggu tanpa menekan.
Ia akhirnya memutuskan melanjutkan kehamilan. "Aku masih takut, tapi aku menginginkan anak ini."
"Aku akan mendampingimu," kata Giandra.
"Bukan mengambil alih."
"Mendampingi," ulangnya.
Bianca menangis bahagia ketika mendapat kabar. Ia segera menawarkan semua perlengkapan Aruna, lalu berhenti ketika menyadari dirinya mulai menentukan terlalu banyak.
"Maaf. Kamu pilih sendiri apa yang dibutuhkan," katanya.
Angel tertawa. "Sebagian boleh aku pinjam. Tapi kamar bayi akan kami atur sendiri."
Kehamilan membuat persahabatan mereka memasuki tahap baru. Bianca membagikan pengalaman tanpa menganggap semua yang dialaminya pasti terjadi pada Angel. Sebaliknya, Angel berani meminta bantuan saat membutuhkannya.
Giandra menemani pemeriksaan pertama dan menangis ketika mendengar detak jantung. Malamnya ia berbisik kepada perut Angel, "Kamu tidak harus menjadi apa pun untuk membuat Ayah bangga. Datanglah sebagai dirimu sendiri."
Angel memegang tangannya. Kehadiran yang mereka nantikan bukan hadiah atau bukti kemenangan hubungan. Ia adalah kehidupan baru yang akan mereka sambut dengan kebebasan dan tanggung jawab.
Pada ulang tahun pertama Aruna, Bianca membuat sebuah kotak berisi surat untuk putrinya. Ia ingin Aruna membacanya ketika cukup dewasa untuk memahami perjalanan orang tuanya.
Diego membaca surat itu setelah mendapat izin.
"Kamu menulis tentang taruhan?" tanyanya.
"Iya. Aku tidak ingin dia mengetahui masa lalu kita dari orang lain."
Diego terdiam, lalu mengambil kertas sendiri. Ia menulis pengakuan bahwa pernah memperlakukan ibunya sebagai sasaran permainan. Ia tidak meminta Aruna membela atau memaafkannya.
"Aku ingin dia tahu ayahnya pernah salah," katanya. "Dan perubahan tidak menghapus tanggung jawab."
Mereka menyimpan kedua surat bersama foto keluarga. Di dalam kotak juga ada surat dari Angel dan Giandra yang berisi harapan agar Aruna tumbuh tanpa takut berkata tidak.
Perayaan ulang tahun berlangsung sederhana di halaman rumah. Ayah Diego sudah menyelesaikan sebagian masa hukumannya dan mendapat izin hadir dengan pengawasan. Ia menjaga jarak sampai Bianca sendiri mempersilahkannya mendekat.
"Terima kasih," katanya.
"Batas kami tetap sama," jawab Bianca.
"Saya mengerti."
Ia memberikan buku cerita buatan tangan, bukan hadiah mahal. Di halaman terakhir tertulis bahwa seorang anak tidak harus mewarisi kesalahan keluarganya.
Bianca memasukkan buku itu ke dalam kotak masa depan. Bukan sebagai tanda semua sudah dimaafkan, melainkan bukti bahwa seseorang sedang berusaha berubah.
Ketika lilin ditiup, Aruna justru meraih krim kue dan mengoleskannya ke wajah Diego. Tawa pecah di seluruh halaman.
Masa lalu mereka berat, tetapi hari itu masa depan terasa jauh lebih besar.
Damar kembali membawa kabar bahwa ia akan menikah. Perempuan bernama Livia itu mengetahui seluruh masa lalunya dan meminta bertemu Bianca serta Angel sebelum menerima lamaran.
"Aku ingin tahu apakah dia benar-benar bertanggung jawab atau hanya pandai bercerita," kata Livia.
Bianca dan Angel tidak menutupi apa pun. Mereka menjelaskan taruhan, rekaman, serta akibat yang harus ditanggung.
"Apakah kalian sudah memaafkannya?" tanya Livia.
"Sebagian," jawab Angel. "Tapi keputusan menikah dengannya bukan tanggung jawab kami."
Damar tidak meminta kedua perempuan itu meyakinkan Livia. Ia berkata bahwa Livia bebas pergi setelah mengetahui semuanya.
"Aku akan tetap menjalani perubahan ini meski kamu tidak menikah denganku," katanya.
Livia meminta waktu. Sebulan kemudian ia menerima lamaran dengan syarat mereka mengikuti konseling pranikah.
Damar mengundang semua orang ke acara kecil. Bianca awalnya ragu, tetapi akhirnya hadir bersama Diego. Angel dan Giandra juga datang.
Dalam sambutannya, Damar tidak mengubah masa lalu menjadi kisah lucu.
"Aku pernah berpikir kedewasaan lelaki diukur dari apa yang bisa direbut," katanya. "Aku salah. Kedewasaan dimulai ketika kita berhenti menyalahkan orang lain dan menerima akibat pilihan sendiri."
Bianca melihat Diego dan Giandra mendengarkan dengan tenang. Tiga lelaki yang dulu duduk membuat taruhan kini berdiri sebagai manusia berbeda. Bukan karena cinta perempuan menyelamatkan mereka, melainkan karena mereka memilih menghadapi keburukan diri sendiri.
Proyek Bianca berakhir dengan sukses. Rumah mode menawarkan perpanjangan, kali ini dengan semua syarat yang pernah diajukan Bianca. Anehnya, ia tidak langsung ingin menerimanya.
"Aku sudah mendapatkan yang ingin kubuktikan," katanya kepada Rena. "Sekarang aku ingin membuat sesuatu milikku sendiri."
Bianca berencana membangun agensi kecil yang melindungi kesehatan serta hak model muda. Rena tertarik menjadi mitra.
"Penghasilannya mungkin tidak sebesar kontrak internasional," kata Rena.
"Tapi dampaknya bisa lebih lama."
Diego mendukung, tetapi tidak menawarkan modal sebelum diminta. Bianca menyusun rencana bisnis dan mencari pendanaan secara profesional. Setelah semuanya jelas, ia menerima investasi Diego dengan kontrak yang menempatkan keputusan kreatif sepenuhnya di tangannya.
Angel juga memilih mengurangi beban kerja menjelang persalinan. Ia tidak merasa gagal ketika menyerahkan sebagian tugas kepada tim.
Pada suatu sore, Bianca dan Angel duduk di taman sambil melihat Aruna belajar berjalan. Perut Angel sudah membesar.
"Kita sudah jauh sekali," kata Angel.
"Dari dua perempuan yang hidupnya hampir diatur oleh taruhan."
"Dan oleh keputusan kita sendiri yang buruk."
Mereka tertawa.
Bianca mengeluarkan sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan dirinya, Angel, Giandra, dan Diego sebelum semua rahasia terbongkar.
"Aku dulu ingin membuangnya," katanya. "Sekarang aku pikir foto ini tidak lagi memiliki kuasa atas kita."
Mereka memasukkannya ke kotak surat Aruna sebagai bagian dari sejarah, bukan luka yang harus disembunyikan.
Yang dilepaskan Bianca bukan kenangan. Ia melepaskan rasa malu yang menempel pada kenangan tersebut. Angel melepaskan ketakutan bahwa kebahagiaan selalu akan direbut kembali.
Di depan mereka, Aruna jatuh saat melangkah lalu berdiri lagi dengan bantuan tangannya sendiri. Bianca dan Angel menahan diri untuk tidak langsung mengangkatnya.
Aruna tertawa dan berjalan ke arah mereka.
Keduanya membuka tangan, bukan untuk menentukan jalannya, melainkan untuk menyambut pilihan kecil yang dibuatnya sendiri.