Setelah acara makan malam kemarin maka tepat mulai hari ini aku dan Mikaila resmi melakukan pendekatan dengan maksud supaya kami lebih mengenal satu sama lain. Tugasku sederhana, katakanlah aku bertugas sebagai sopir pribadi serta pengawal pribadinya yang siap mengantar dan menjaga Mikaila kemana dan dimana saja. Yang membuat tugas ini menjadi menyebalkan hanyalah tentang bagaimana caraku memberitahu Farren tentang hal ini tanpa membuatnya banyak tanya. Sisi menyebalkan Farren adalah dia yang tidak bisa diam saat mengetahui tentang hal baru dan aku tidak siap bila dia terus menerus menanyakan perihal aku dan Mikaila sepanjang hari nantinya.
Aku membukakan pintu mobil untuk Mikaila saat kami sudah sampai di sekolah. Selama perjalanan sama sekali tidak ada percakapan diantara kami. Yang ada hanyalah kecanggungan karena ini adalah kali pertama kami sedekat itu. Perlu aku ingatkan bahwa sebelumnya aku dan Mikaila sama sekali tidak pernah berinteraksi sebelum kejadian di ruang osis itu. Aku jadi berpikir, berarti saat dia memanggilku itu dia sudah tahu bahwa kami dijodohkan ya?
"Makasih," katanya setelah keluar dari mobil.
"Sama-sama." jawabku kemudian mengikutinya berjalan menuju kelas, kelasnya.
Aku anak IPA sedangkan dia anak IPS dan mulai hari ini hingga seterusnya aku harus mengantarkan dia sampai ke kelasnya. Kemudian menunggu dia ketika pulang sekolah karena biasanya kelas unggulan sering mendapatkan tambahan kelas. Mungkin sesekali mengajaknya ke kantin bersama dan pergi menonton saat pulang sekolah. Mungkin lain waktu karena sekarang aku melihat seorang murid laki-laki tersenyum kepada Mikaila, aku cemburu.
Mikaila langsung mendatangi siswa itu melupakan keberadaanku yang sama sekali belum jelas apa status kami. Aku hanya bisa tersenyum kecut saat keduanya berjalan berdampingan menuju lorong IPS.
"Lo kenapa diem terus disini?" tanya Farren yang entah sejak kapan berdiri di sebelahku.
"Nggak, tadi gue lupa bawa tas ini baru ambil," bohongku.
Dia hanya mengangguk. "Lupa bawa tas gara-gara liatin Mikaila terus ya?" tanyanya.
Aku mendengus. "Ini masih kepagian buat ngomongin dia, udah ayo ke kelas." ajakku.
"Iya-iya Nona Sachar, pagi-pagi begini kenapa coba mukanya kusut gitu?" tanyanya di tengah perjalanan kami menuju kelas.
"Karena pagi-pagi begini gue udah berurusan sama lo yang ngeselin," jawabku asal.
"Mohon maaf sebentar, ini setiap pagi kan emang begini ya bukan cuma hari ini. Terus kenapa saya jadi dibilang ngeselin?" tanyanya tidak terima.
Aku hanya mengendikan bahu kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan Farren yang sepertinya sedang menyiapkan aksi protes lanjutan.
"Lea kok gue ditinggal sih?" tanyanya setengah berteriak.
"Lo lambat, sebentar lagi bel masuk bunyi." jawabku saat merasakan Farren berlarian menyamakan langkah kakinya denganku.
"Ih lo aneh deh Le," katanya setelah kami sampai di depan kelas.
"Gue? Biasa aja perasaan," jawabku tak acuh memilih duduk.
Farren ikut duduk di sebelahku kemudian mengamatiku dari atas sampai bawah. "Lo nggak salah minum obat kan?"
Aku memicingkan mataku. "Sembarangan kalo ngomong!" ketusku.
"Lea, lo dipanggil ke ruang kepsek sekarang," kata Bryan teman sekelasku.
"Sekarang?" tanyaku memastikan dan dia hanya memberi anggukan sebagai jawaban. Aku langsung menatap Farren seolah mengatakan 'tumben jam segini dipanggil kepsek' dan dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Udah sana pergi, mungkin ada urusan penting kali." katanya.
"Iya, nanti bilangin ke Bu Sandra ya kalo gue dipanggil kepsek," kataku sebelum pergi.
"Siap, baek-baek ya Le jangan-jangan lo mau di drop out lagi..." candanya kemudian tertawa.
"Mana mungkin," balasku sambil menyentil keningnya kesal dan hanya dibalas dengan kekehan oleh Farren.
Aku pergi ke ruang kepala sekolah dengan perasaan bertanya-tanya. Aku memang seringkali harus menangani urusan di sekolah ini tapi tidak pada jam pelajaran agar tidak mengganggu kegiatan sekolahku. Semua urusan itu akan dibicarakan denganku sepulang sekolah kecuali ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa ditunda. Jadi pertanyaanku apa sesuatu yang tidak bisa ditunda itu sehingga aku harus meninggalkan kelas pagi-pagi seperti ini padahal aku dikenal sebagai anak yang tidak pernah bermasalah selama dua tahun aku bersekolah disini.
Aku mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Aku merasa sedikit terkejut saat melihat keberadaan Leo yang seharusnya sudah di drop out dari sekolah sedang menatapku tajam sekarang ini. Kemudian di sebelahnya duduk seorang laki-laki dewasa, Anthony D'silva ayahnya.
Sekilas ku lihat ayah Leo terkejut melihatku. "Ada masalah apa Pak Gibran?" tanyaku setelah duduk.
"Maaf Saya harus mengganggu kamu di pagi hari, tapi Leo dan ayahnya menolak keputusan Nona Lea perihal Leo yang di keluarkan dari sekolah." jawabnya terlihat sungkan.
"Oh, jadi anda keberatan pada bagian mananya Tuan D'silva?" tanyaku kepada Ayah Leo.
"Kenapa putra saya harus di keluarkan dari sekolah? Dia tidak melakukan kesalahan apapun," kata Ayah Leo yakin.
"Apakah putra anda tidak memberitahukan perkara yang sebenarnya kenapa dia di drop out dari sekolah?" tanyaku tenang.
"Itu, itu hanyalah kesalahpahaman. Dia tidak melakukan apa yang dituduhkan, saya tidak terima dengan keputusan ini." jawabnya membuat aku terkekeh.
"Ah maaf, anda pikir saya asal mengambil keputusan? Terlebih saya berada di tempat kejadian perkara saat kejadian,"
"Berapa uang yang kalian mau?"
"Maksudnya?"
"Saya bisa membayar berapapun untuk pembatalan drop out putra saya."
Aku menggertakan rahangku. "Anda pikir Sekolahan ini kekurangan uang hah? Bahkan aset yang dimiliki oleh sekolah jauh lebih besar daripada aset anda sekarang. Lalu anda pikir anda bisa membeli keputusan saya?" tanyaku.
"Anda dan putra anda silakan meninggalkan tempat ini sekarang." kataku tegas.
Tanpa mengatakan apapun keduanya langsung pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Aku menghela nafas akhirnya masalahku di pagi hari selesai.
"Nona Lea," panggil Pak Gibran.
"Iya Pak Gibran?" tanyaku.
"Setelah ini akan di adakan rapat atas perintah Tuan Sachar, nona diminta mengikuti rapat tersebut."
"Rapat apa?" tanyaku heran karena tidak biasanya grandpa mengadakan rapat di jam sekolah.
"Mengenai kasus Leonardo, Tuan bilang bahwa beliau merasa kecolongan dan mungkin saja ada kasus lain yang seperti ini hanya saja tidak terekspose," terangnya.
"Jam berapa rapatnya?"
"Sekarang nona." jawab Pak Gibran.
Aku mengangguk kemudian mengikuti Pak Gibran menuju ruang rapat. Untung saja jam pelajaran sudah mulai sehingga tidak ada murid yang berkeliaran di luar kelas karena aku akan risih saat mendapatkan tatapan bertanya-tanya dari mereka.
•••
Aku selesai rapat bertepatan dengan bel istirahat. Hal yang kami bicarakan saat rapat menghasilkan keputusan bahwa setiap ruangan yang ada di sekolah ini akan dipasangi CCTV kecuali kamar mandi yang akan dipasang di luar dan mengarah ke pintu masuk. Itu adalah usulanku sebenarnya, karena memasang CCTV di setiap sudut sekolah dirasa jauh lebih efisien.
Aku langsung berjalan menuju kantin karena sebelumnya aku sudah memberitahu Farren bahwa kami bertemu disana saja. Dia juga sudah ku minta tolong untuk langsung memesankan makanan untukku karena aku sekarang merasa kelaparan.
"Abis rapat ya?" tanyanya sambil tersenyum saat aku sampai di depannya.
Aku mengangguk kemudian meminum jus mangga yang ada di meja. "Haus banget gue Ren," kataku setelah selesai minum.
"Emang nggak dikasih minum?" tanyanya.
"Dikasih tapi pas udah selesai, gue tinggalin lah mending pergi ke kantin sekalian makan." jawabku yang sekarang sedang bersiap memakan mie ayam yang sudah Farren pesankan.
"Kadang gue heran masa,"
"Heran kenapa?" beoku.
"Ada gitu ya bule demen banget makan mie ayam," katanya membuatku hampir saja tersedak.
"Mirror please, situ juga bule tapi demen makan bakso, batagor, siomay, ketoprak, gado-gado, semuanya lo makan asal enak." balasku.
"Siapa sih yang bisa nolak makanan enak?" tanyanya.
"Nah ya itu jawaban gue." kataku sebelum melanjutkan aktivitas makanku.
Kami berdua sama-sama fokus makan terlebih aku yang sejak tadi sudah mendeklarasikan diri bahwa aku kelaparan. Tidak sampai sepuluh menit mangkuk mie ayamku sudah kosong.
"Ih lo berantakan makannya Le," kata Farren kemudian mengusap sudut bibirku dengan tisu, hal biasa.
Aku meringis. "Kan lo tau gue emang berantakan kalo abis makan mie ayam dan sejenisnya," kataku merebut tisu yang ada di tangan Farren kemudian membersihkan sekitar mulutku.
"Iya nggak ada anggun-anggunnya sama sekali, kayak anak kecil. Pantes jomblo terus sampe sekarang," katanya terdengar prihatin.
"Sialan!" seruku sambil melemparkan tisu bekasku.
"Lo tau nggak?" tanyanya saat aku baru saja membuka aplikasi i********: di ponselku.
"Apa?" kataku balik bertanya.
"Masa dari tadi Mikaila lirik-lirik ke arah tempat kita duduk," katanya setengah berbisik.
Aku langsung melihat ke arah meja tempat dimana Mikaila dan teman-temannya duduk. Disana juga ada siswa yang tadi pagi bersama dia rupanya. Selama beberapa detik pandangan kami sempat bertemu sebelum akhirnya aku memutuskan kontak mata itu. Dia selalu menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Entahlah, tapi sepertinya dia tidak memberiku celah untuk mengenalnya lebih dekat meskipun katanya dia sendiri yang menerima perjodohan ini.
"Jadi kapan lo mau cerita ke gue?" tanya Farren membuatku bingung.
"Cerita apa?"
"Lo sama Mikaila," jawabnya terdengar kesal.
"Emang gue sama Mikaila kenapa?" tanyaku bingung, Farren kan baru sekali memergokiku memperhatikan Mikaila.
Dia berdehem. "Lo sama Mikaila dijodohin kan?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.
Aku hanya menatapnya datar, dia tahu darimana coba. Yang tahu perihal ini kan baru aku, Mikaila dan kedua orangtua kami. Aku tahu, pasti mommy yang menceritakannya kepada Mamah Farren, mereka kan bersahabat dekat makanya aku dan Farren juga bersahabat dekat meskipun baru satu sekolah saat SMA.
"Tau darimana?" tanyaku memastikan.
"Tante Karina," jawabnya.
Aku menghela nafas. "Mommy kenapa sih mulutnya ember banget." gerutuku.
Farren terkekeh. "Jadi kapan mau cerita sama gue?"
"Ntar kalo gue mau,"
"Dih apaan, pulang sekolah ya?" negonya.
"Nggak bisa, soalnya gue jadi supirnya Mikaila." tolakku.
Farren terlihat menahan tawanya, dia menyebalkan.
"Jadi ceritanya lagi PDKT nih?" tanyanya.
"Iya kali nggak tau, udah ah ayo balik ke kelas." ajakku.
"Nggak mau nyamperin Mikaila dulu Le?" goda Farren.
"Ngomong lagi gue DO lo dari sekolah!" kesalku yang hanya dibalas dengan kekehan dan rangkulan di bahuku. Dasar manusia menyebalkan.
•••
Aku menunggu Mikaila di depan kelasnya mengabaikan tatapan bertanya dari anak kelas dua yang tertuju padaku. Sebagai senior tertinggi atau anak kelas tiga, aku cukup dikenal baik oleh teman satu angkatanku ataupun adik kelasku. Tapi pembawaanku yang terkesan tidak peduli dengan sekitar membuat jarang diantara mereka yang berani menyapaku.
Aku mengecek arloji di pergelangan tanganku, sudah hampir 15 menit aku berdiri disini tapi belum ada tanda-tanda kelas Mikaila selesai. Aku menghela nafas kemudian menyandarkan tubuhku ke tembok dan memainkan ponselku.
"Lea, kamu ngapain disini?" tanya Mikaila yang sepertinya baru keluar dari kelasnya diikuti oleh teman-temannya.
"Nungguin kamu," jawabku datar.
"Uhm, sorry, hari ini aku mau ngerjain tugas kelompok di rumahnya Shilla." katanya.
Aku menatapnya datar kemudian beralih menatap teman-temannya yang hanya tersenyum kikuk kepadaku.
"Aku antar."
"Nggak usah, aku bareng mereka aja biar sekalian." tolaknya.
Aku menghela nafas kemudian menyodorkan ponselku padanya, membuat dia kebingungan.
"Tulis nomor kamu disitu," kataku.
Dia tidak menjawab dan langsung mengetikan sesuatu di ponselku. Aku menerima ponselku setelah dia selesai mengetikan nomornya. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi nomor Mikaila.
"Itu nomorku, lain kali kalo nggak bisa pulang bareng tolong kabari biar aku nggak usah nungguin." kataku.
"Maaf," katanya terdengar menyesal.
"Hm, nanti kabarin kalo mau udah selesai biar aku jemput." kataku.
"Iya," jawabnya singkat.
Aku pergi meninggalkan mereka menuju tempat parkir. Sekolah sudah sepi tentunya karena jam pulang sekolah sudah berlalu sejak hampir 45 menit yang lalu. Aku langsung mengendarai mobilku pulang ke rumah dengan perasaan sedikit kesal. Bayangkan, aku sudah menunggu hampir 30 menit dan dia malah ada kegiatan lain. Bukan sepenuhnya salah Mikaila memang karena dari awal kami memang tidak bertukar nomor jadi dia tidak bisa mengabariku terlebih dulu. Tapi sekarang aku sudah memiliki nomornya begitupun sebaliknya semoga semuanya jadi lebih mudah.
Aku sampai di rumah setelah menempuh 30 menit perjalanan. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, yang membuatnya lama adalah kemacetan. Lagi-lagi aku melihat mobil orangtuaku sudah terparkir di garasi membuatku kembali bertanya-tanya. Jika kemarin mereka pulang lebih awal karena membicarakan perjodohanku lalu sekarang apa? Pernikahanku kah?
"Mommy ngapain bawa-bawa koper?" tanyaku setelah keluar dari mobil dan melihat mommy sedang menarik koper dari dalam rumah.
"Mommy sama daddy mau honeymoon dong..." katanya senang.
"Honeymoon?"
"Hehe just kidding darling, tapi daddy ada kerjaan di Paris seminggu dan sebagai istri yang baik mommy harus ikut, sekalian liburan soalnya." jawabnya.
"Terus aku di rumah sendirian?" tanyaku.
"Nah, calon mantu mommy mana? Udah kamu anter pulang?" katanya balik bertanya.
"Oh, dia lagi ngerjain tugas di rumah temennya," jawabku datar.
"Nanti kamu jemput dia terus kamu ajak kesini ya, soalnya Steve sama Anya juga ikut ke Paris." kata mommy dengan senyum mengembang.
Aku memicingkan mataku. "Oke, terus kok mommy bawa-bawa koper sendiri. Bi Sum sama Bi Irah kemana?" tanyaku heran.
"Ah mereka tadi pagi ijin pulang kampung, Bi Sum karena keluarganya ada hajatan kalo Bi Irah karena menantunya lahiran."
"Sepi ya berarti nanti rumahnya," cibirku.
Mommy hanya tersenyum. "Nanti kamu langsung bawa dia ke rumah aja pokoknya, bajunya Mika udah ada disini, tadi Tante Anya yang nganterin bajunya." katanya membuatku curiga.
"Kalian ngerencanain apa?" tanyaku.
Belum sempat mommy menjawab dan daddy sudah keluar dari rumah sambil membawa koper juga.
"Hai baby girl, daddy mau ke Paris dulu ya ada kerjaan. Kamu mau oleh-oleh apa?" tanyanya sambil mengacak rambutku.
"Nggak ada,"
"Oke, kami pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah dan ingat perlakukan calon menantu daddy dengan baik." katanya sebelum masuk ke dalam mobil.
Aku hanya diam menatap kepergian mobil mereka. Firasatku mengatakan bahwa ini semua adalah rencana mereka yang entah apa tujuannya. Mungkin bermaksud mendekatkan kami berdua tapi apapun itu aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba lebih dekat dengannya.
Aku masuk ke dalam rumah dan langsung pergi ke kamarku kemudian mandi. Setelah selesai aku memilih duduk di depan komputerku dan memainkan game karena jam baru menunjukan pukul setengah 5 dan aku tidak tahu Mikaila akan selesai jam berapa.
Aku memainkan game PUBG PC yang merupakan salah satu game favoritku. Sebenarnya diam-diam aku sudah bergabung dengan salah satu e-sport PUBG dan akan mulai ikut turnamen online dalam waktu dekat. Tapi aku dilanda kebimbangan karena posisinya aku sudah masuk kelas 3, takut sekolahku terganggu. Meskipun ini salah satu hobi yang selalu dengan senang hati aku tekuni tapi aku punya tanggung jawab lain yang harus lebih aku prioritaskan.
Sepertinya aku terlalu asyik bermain sampai tidak menyadari saat ada panggilan masuk jika saja aku tidak iseng mengecek ponselku. Ada 3 missed call, dan 2 pesan masuk dari Mikaila yang langsung saja ku buka.
Aku udah selesai [18.30]
Kamu sibuk ya? Biar aku pulang naik ojek online aja, aku udah tau kalo aku harus pulang ke rumah kamu [18.45]
Aku merutuki kebodohanku yang jika sudah bermain game maka aku bisa melupakan segalanya. Astaga, nanti apa kata para orangtua jika tahu aku membiarkan Mikaila pulang sendirian menggunakan ojek online malam-malam begini. Tapi menghubunginya juga sepertinya sesuatu yang sia-sia karena sekarang sudah hampir jam 7 malam.
Aku keluar dari kamar dan melihat rumahku gelap gulita. Tentu saja, hanya ada aku di rumah dan aku sejak tadi sibuk bermain game. Aku menyalakan LED yang berada di jam tanganku, jam ini adalah satu-satunya yang ada di dunia aku yakin itu karena jam ini dibuat secara khusus sesuai permintaanku. Baik lupakan jam limited edition yang aku miliki. By the way, dimana saklar lampu di rumah ini kenapa aku tidak tahu?
Dengan tenang aku mencari saklar-saklar lampu yang entah bersembunyi di balik tembok sebelah mana. Harusnya tadi aku bawa ponselku jadi lebih mudah karena jangkauan cahaya dari LED yang ada di jam tanganku tidaklah seberapa, hanya di sekitarku saja membuatku cukup kesulitan untuk menemukan dimana saklar lampunya.
"Lea," panggil seseorang sambil menepuk bahuku dari belakang, aku hampir saja melompat jika tidak mengenali suaranya ini, Mikaila.
"Ya?"
"Saklar lampunya ada dimana?" tanyanya.
"Aku nggak tau, ini juga lagi nyari," jawabku yang sekarang sudah menatapnya. Mikaila menyalakan flashlight yang ada di ponselnya jadi sekarang keadaan sudah cukup terang untuk melihat dimana letak saklar lampu.
"Kenapa lampunya belum dinyalain?"
"Bi Sum sama Bi Irah lagi ijin pulang kampung, aku lupa soalnya tadi keasyikan main game. Dan maaf juga aku nggak jemput kamu tadi, nggak denger ada telfon," kataku.
Mikaila tidak mengatakan apapun sampai akhirnya kami menemukan saklar lampu yang berada di tembok ruang makan. Ada beberapa saklar disini dan aku tidak tahu ini untuk yang mana saja jadi aku menyalakan semuanya. Rumah langsung terlihat terang sekarang.
"Kamu udah makan?" tanya Mikaila tiba-tiba.
"Belum,"
"Nih," katanya sambil menyodorkan plastik yang ku tebak berisi makanan.
"Makasih." kataku setelah menerima plastik itu.
"Sama-sama, udah aku tebak sih kamu belum makan," katanya terdengar yakin.
"Tau darimana?" tanyaku heran.
"Feeling-ku jarang meleset." jawabnya kemudian tersenyum dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
Aku berjalan menuju dapur mengambil piring untuk menaruh makanan yang Mikaila bawa. Rupanya dia membelikanku nasi goreng.
"Uhm, Lea..." panggilnya sambil memperlihatkan pesan yang dikirim oleh mamahnya.
Sayang nanti kamu tidurnya sama Lea ya, kata Tante Karina dia lupa nyuruh bibi beresin kamar tamu. Baik-baik ya anak mamah, jangan lupa makan malam [19.21]
-tbc-