Di tengah malam yang sunyi itu, perlahan terdengar suara jangkrik yang merdu, dari jauh. Suara burung hantu juga sesekali mengiringinya.
Di sebuah rumah kecil, sederhana, seorang anak lelaki, Kido namanya, menghampiri kasur adik lelakinya. Kido memastikan apakah adiknya sudah tidur kah? Lalu ia tersenyum lega melihat adik tercintanya itu sudah tertidur pulas.
Kido mengamati sejenak wajah lucu adiknya itu ketika tidur nyenyak, mulutnya menganga lebar kemana mana. Haha... Kido tertawa kecil, mengecup pipinya, lalu menyelimutinya.
Kido mengantuk dan kelelahan, banyak sekali hal melelahkan yang sudah dia kerjakan hari itu. Ia pun mematikan lampu remang-remang yang menerangi kamarnya.
Kido lalu menuju ke tempat tidurnya sendiri, yang berseberangan dengan kasur adiknya, di kamar kecil tapi nyaman itu. Tak butuh waktu lama, Kido pun terlelap.
Di kelelapan malam itu, Kido bermimpi.
*****
Kido perlahan menyadari, bahwa dirinya berada di tengah kegelapan. Samar-samar kabut mistis bewarna keunguan menyelimuti sekitar dia, kabut itu seolah memancarkan sedikit cahaya di tengah kegelapan itu.
Suasana sunyi sekali, tapi mencekam.
Semakin sadar, dan terlihat jelas di hadapan Kido, nampak seekor monster yang cukup besar, mengerikan, yang sejak tadi menatap Kido, menyeringai dia.
Ukuran monster itu kira-kira dua kali lebih besar dari dirinya. Kido ketakutan melihat monster tersebut. Aura jahat makhluk itu serasa menusuk kulitnya. Kido mengamati dengan hati-hati, ada rantai besar yang membelenggu kebebasan monster itu.
Kido mengamati dengan hati-hati, ada rantai besar yang membelenggu kebebasan monster itu
"Waaaaah.... kamu tampaknya lezat sekali ya?" Monster itu tiba-tiba berbicara, suaranya sangat aneh, menakutkan.
"Aku ga sabar memakan mu...!! Bagagagagagaga!!! "
Kido terkejut dan ketakutan, monster itu melanjutkan berbicara lagi.
"Tunggu ya..., nggak lama lagi kok, aku akan segera MEMAKANMU!!! Oooh aku sungguh nggak sabar... OOOOOH AKU NGGAK SABAR...!!! Bagagagagagagaaaaa...!!!"
Tiba-tiba Kido terbangun!
Hosh Hosh Hosh...
Dia melihat dirinya sudah berada kembali di kasurnya. Matahari telah terbit. Cahaya pagi itu menerangi kamarnya.
Wajah kido terlihat pucat, bibirnya kering, dan nafasnya berantakan.
Hosh Hosh Hosh...
Keringat membasahi tubuh Kido.
"Kak? Kakak kenapa?" Tanya adik nya terlihat panik, berdiri di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Neyo," jawab Kido.
Ia lalu mengelus rambut Neyo, adik tersayangnya itu. Kido tidak ingin membuat adiknya khawatir. Neyo pun segera mengambil handuk kecil dan membasuh keringat kakaknya. Kido tersenyum hangat, tanda berterima kasih.
"Mandilah, kakak akan segera menyiapkan makanan buat kamu, lalu kita ke sekolah... Okay?"
"Mmm" sahut Neyo mengangguk.