Terdengar suara percikan minyak. Tercium aroma khas bumbu kari. Kido memasak Nasi Kari Wortel untuk sarapan mereka pagi itu.
Tapi Neyo sang adik yang sedang duduk di meja makan, terlihat muram...
"Kakak... Apa kita tidak usah ke sekolah hari ini? Supaya tidak bertemu mereka lagi?"
"Jangan, Neyo. Gini, hari ini kita akan lewat jalan lain, bersembunyi-sembunyi. Kalau misal kita melihat mereka, kita harus langsung lari kabur! Gimana menurutmu?"
"Mmm," Neyo mengangguk. Sepertinya itu ide yang terbaik saat ini.
Sesuai rencana, pagi itu mereka melewati rute lain, yang lebih jauh tapi aman. Maka mereka berangkat lebih awal dari biasanya agar tidak terlambat ke sekolah. Keberuntungan di pihak mereka, Kido dan Neyo berhasil bersekolah seperti biasa.
Karena terbukti sukses, sepulang sekolah mereka melewati rute lain itu lagi. Dan syukurlah, mereka sampai di rumah dengan selamat.
Malam itu, Kido tidak bermimpi buruk lagi. Kido sungguh tidur nyenyak malam itu, hingga terdengar keras dengkurannya. Maka mereka tentu sepakat mulai saat itu, mereka akan selalu melakukan cara yang sama. Pulang pergi sekolah melewati rute alternatif itu. Besoknya terbukti mereka aman lagi. Maka mereka melakukannya terus. Besok, besoknya, dan besoknya lagi.
Seminggu berlalu. Mereka terus melanjutkan cara itu dan belajar di sekolah dengan damai. Hari-hari yang tenang nan damai mereka lalui.
Seusai pulang sekolah hari itu, mereka menyempatkan untuk mampir toko mainan yang menjual Black Bunny.
"Kakak, aku mau lihat Black Bunny," ajak Neyo.
Lalu mereka memandangi mainan itu dari luar kaca etalase. Kido mengelus kepala adiknya,
"Nanti ultahmu sebentar lagi, mainan Black Bunny ini akan jadi milikmu!"
"Yang bener kak...?"
Kido menggangguk.
"Uangku sudah terkumpul. Aku tahu kamu bener-bener ingin mainan ini, Neyo."
Neyo terlihat sangat senang, dan spontan memeluk kakak tercintanya itu.
"Ciee cieee.... Si kakak yatim punya banyak duit nih...!"
Tiba-tiba muncul Kermon dan kawan-kawannya memergoki dan mengejek mereka.
"Wah wah wah... Lewat jalan sini rupanya. Pantas seminggu ini kita tidak melihat duo pecundang ini hahahaha"
Kido langsung menarik Neyo.
"LARI!" Seru Kido.
Kido dan Neyo lari sekuat tenaga. Kermon dan antek-anteknya langsung mengejar mereka! Dan s**l, Neyo tersandung batu di tengah jalan! Kido berusaha menolong nya, tapi Kermon menangkapnya, dan langsung menjambak rambutnya dengan kasar.
"Wah wah wah... Para pecundang sudah berani kabur ya sekarang... hahaha!" Kermon menatap Kido, melotot penuh intimidasi.
Neyo memeluk kakaknya dr belakang, berbisik,
"Ayo kita lawan, Kak..."
Kido menggeleng.
Kermon mencengkeram baju Kido.
"Dari mana aja kalian seminggu ini? Hah!?"
"Ja... jangan ganggu kami" jawab Kido.
"Atau apa? Hah?" tanya Kermon,
"Kenapa kalau kami ganggu kalian?"
Kido terdiam, menunduk. Tidak berani menjawabnya, apalagi melihat matanya. Kermon lalu menendang Kido sangat keras hingga terjatuh ke tanah. Kido kesakitan. Neyo sangat panik.
"Mau apa kamu kalo kami ganggu kalian? Hah...? Mau pukul?" Tantang Kermon.
Lalu Kermon menghampiri, mendekatkan pipinya ke arah Kido.
"Ayo pukul...!" Tantang Kermon kepada Kido. Kido hanya menunduk terdiam.
"PUKUL!" Bentak Kermon.
Kido masih menunduk terdiam. Neyo pun mulai menangis.
"Dasar pengecut. Para pecundang! Hahaha!"
Lalu mereka dengan bengis menghajar Kido dan Neyo. Kido berusaha membentengi, melindungi adiknya sekuat tenaga. Tapi pada akhirnya, Neyo pun terkena banyak pukulan.
Seusai puas menghajar mereka, Kermon berkata,
"Aku juga mau donk mainan itu. BLACK BUNNY...! Ambil uangmu, beli segera dan berikan mainan itu BESOK! Kalo nggak... Hahahaha... Besok kalian PASTI MATI! Hahahahaha."
Kermon tertawa puas, tanpa belas kasihan. Lalu Kermon menoleh ke teman-temannya.
"Ayo pergi."
Berandalan itu meninggalkan kakak beradik malang itu. Lalu Kido dan Neyo berusaha jalan pulang ke rumah dalam keadaan babak belur.