Melupakan, satu kata yang sulit untuk dilakukan jika kamu terus mencobanya, namun menjadi satu kata yang sering dilakukan jika kamu tidak ingin mencobanya
-Syamil
Mentari mulai tampak condong ke barat. Awan-awan jingga mulai menampakkan keindahannya. Sejak berjam-jam lalu. Syam masih menikmati kesendiriannya. Duduk di bawah pohon yang ada di tengah taman kota sembari memegang pensil dan sketch booknya. Meski berjam-jam telah berlalu, tidak ada satu gambar pun yang berhasil Syam buat. Tangannya memang ingin menggambar, namun hati dan pikirannya malam mengembara jauh entah kemana. Mata Syam asik menatap beberapa anak kecil yang tengah berlari. Sesekali mereka tertawa lepas. Seperti tidak ada beban yang dalam hidup mereka. Mendadak Syam teringat akan masa kecilnya, dulu Ia juga seperti itu, bebas tanpa beban, yang Ia tau adalah bermain dan bermain. Permasalahannya hanya sebatas saat dipaksa tidur siang oleh Bunda atau saat Ara marah dan tidak mau bermain dengannya. Dulu sesederhana itu. Ingin sekali rasanya Syam kembali ke masa-masa dulu.
"Kak." Sebuah suara mengejutkan Syam.
Syam menoleh dan mendapati dan mendapati gadis SMA berambut panjang tengah tersenyum kepadanya.
"Boleh minta foto?" Tanya gadis itu lalu tersenyum malu-malu.
"Foto? Sama saya?" Tanya Syam menunjuk diri sendiri. Dan gadis itupun mengangguk.
"Saya kalah dalam permainan, terus hukumannya di suruh minta foto bareng kakak." Gadis itu menjelaskan begitu melihat wajah bingung Syam.
"Oh, ya udah sini." Ucap Syam. Gadis itu pun segera mendekat, mengangkat ponselnya untuk mengambil gambar.
"Kak boleh senyum nggak?" Pinta gadis itu lagi, Syam pun segera menampilkan senyumnya. Senyum yang rupanya akhir-akhir ini jarang muncul di bibirnya.
"Terimakasih kak." Ucap gadis sembari tersenyum begitu mereka selesai mengambil gambar. Syam hanya membalas senyum sekenanya, selepas gadis itu pergi. Syam memilih untuk mengemasi barang-barangnya. Sore ini Syam ingin pulang lebih awal, Ia ingin menghabiskan sore bersama Bundanya.
Syam menghela nafas begitu mobilnya keluar dari taman kota, pemandangan yang Ia hadapi adalah kemacetan. Harusnya Syam tidak kaget, keadaan jalan di sore hari memang selalu sepadat ini. Hal ini dikarenakan sore adalah waktu untuk pulang, dimana hampir semua orang yang beraktifitas di luar rumah akan kembali pulang ke rumah. Syam mencoba bersabar menunggu macet, hingga saat setengah jam telah berlalu namun posisi mobil Syam belum juga menunjukkan perkembangan, dimana mobilnya masih berada di sekitar taman, hanya bergerak beberapa meter saja, hingga pada akhirnya Syam memutuskan untuk melewati jalur tikus.
Untungnya mobil Syam berada di bagian tepi jalan, sehingga memudahkan Syam untuk segera berbelok begitu Ia menemukan jalur tikus untuk di lewati. Jalur tikus yang Syam pilih adalah jalur kompleks perumahan yang cukup sepi. Syam melewati jalur itu dengan santai, hingga saat Syam akan mencapai ujung kompleks Syan menangkap seorang perempuan berjilbab melambaikan tangannya dengan panik meminta pertolongan. Syam bisa melihat di dekat perempuan itu terdapat beberapa orang yang berkerumun. Syam segera menepikan mobilnya, belum sempat Ia turun, perempuan itu segera mendekati mobil Syam dan mengetuk kaca mobilnya, dengan segera Syam membuka kaca mobilnya.
"Mas, bisa tolong antar anak itu ke rumah sakit?" Tanya perempuan itu di sertai wajah panik sembari menahan air matanya. Syam terkejut, tiba-tiba sekelebat bayangan Ara yang sedang menangis muncul di pikiran Syam. Dimana saat itu Ia ingin mengakhiri persahabatan mereka dan akhirnya membuat Ara menangis.
Syam ber-istigfar dalam hatinya. Ini bukan saatnya untuk mengenang. Syam mengalihkan pandangannya pada kerumunan itu, seorang anak kecil tengah terluka parah dengan beberapa darah yang mengalir di kepalanya. Dengan segera Syam turun dari mobil dan membuka pintu mobilnya.
Seorang bapak-bapak menggotong anak itu dan membawanya menuju mobil Syam. "Mbak ayo naik, jagain anak ini." Ucap bapak-bapak itu kepada perempuan berjilbab tadi. Perempuan itu mengangguk dan segera masuk ke kursi belakang mobil Syam kemudian disusul bapak-bapak tadi yang meletakkan anak kecil itu di pangkuan sang perempuan.
Syam segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, Syam berharap semoga jalan sudah tidak macet lagi agar Ia bisa segera sampai rumah sakit dan bisa menolong anak kecil itu.
**
"Terima kasih, Mas." Perempuan itu berucap saat anak kecil yang mereka bawa sudah di tangani dokter. Perjalanan menuju rumah sakit tadi cukup dramatis. Beberapa kali Syam harus mencari jalan tikus untuk menghindari kemacetan yang belum reda. Beruntung anak kecil itu masih bisa terselamatkan hingga mereka sampai di rumah sakit.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah jadi kewajiban saya untuk menolong."
Perempuan itu hanya mengangguk.
Syam melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Syam jadi teringat bahwa malam ini Ia ada janji ingin menemani Ayahnya main catur. Akhirnya Syam memilih untuk permisi, toh orang tua anak itu juga sudah datang beberapa menit yang lalu. Ia juga sudah menelfon polisi untuk menindak lanjuti masalah ini. Saat perjalanan tadi Syam baru tahu jika anak kecil itu adalah korban tabrak lari.
"Saya rasa urusannya sudah selesai. Kalau begitu saya pamit permisi dulu. Kamu tetap di sini atau mau sekalian saya antar pulang?"
Perempuan itu menatap Syam, lalu menggelengkan kepalanya. "Terima kasih. Tapi saya rasa tidak perlu, saya pulang sendiri saja. Sekali lagi terima kasih atas bantuan yang telah Mas berikan."
Syam menganggukkan kepalanya. "Ya sudah saya permisi. Assalamu'alaikum."
Syam berjalan meninggalkan perempuan itu, Ia memejamkan matanya sejenak. Mengapa saat melihat perempuan itu, Ia jadi teringat Ara?. Entah sudah berapa kali Syam mencoba menepis bayangan Ara dari otaknya. Namun wajah Ara selalu saja muncul di pikirannya.
Syam menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan bayangan Ara dari pikirannya dan segera menuju mobil untuk kembali ke rumah.
Melupakan, satu kata yang sulit untuk dilakukan jika kamu terus mencobanya, namun menjadi satu kata yang sering dilakukan jika kamu tidak ingin mencobanya.
**
Syam terlonjak kaget saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. Hampir saja ia tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdetak tak karuan saat melihat orang itu. Namun dengan susah payah ia terus berusaha mengendalikan hatinya agar terlihat biasa saja.
"Loh Ai? Kok disini?" Tanyanya mencoba biasa saja. Padahal hatinya sudah berdetak kencang.
Laila Zahra Hafidza atau Ara, seorang perempuan yang telah memporak-porandakan hati Syam.
"Enggak boleh ya?" Tanya Ara.
Sementara Syam menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Enggak sih. Kamu kesini sendiri aja apa sama Kak Abhi?" Tanya Syam lagi. Sungguh Syam ingin sekali segera mengakhiri percakapannya namun Ia juga tidak bisa jika harus meninggalkan sahabatnya ini begitu saja.
"Ya ampun Syam. Kenapa jadi canggung begini, sih?" Tanya Ara yang sadar akan kecanggungan di antara mereka
"Enggak gitu..." jawab Syam bingung. Sementara Ara tertawa.
"Aku disini sendiri. Tadi nganterin titipannya Bunda. Tapi sebentar lagi Kak Abhi jemput kesini kok." Ucap Ara kemudian yang di jawab dengan anggukan oleh Syam.
"Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu ya Ai.. mau mandi." ucap Syam kemudian. Syam rasa Ia tidak bisa berlama-lama bersama Ara, terlebih jika harus menyaksikan Ara yang dijemput oleh suaminya. Hal itu hanya akan menambah sesak di hatinya saja.
Sesungguhnya Syam tidak ingin menjauhi ataupun menghindari Ara. Melainkan Syam hanya ingin menghilangkan perasaannya kepada Ara, dan menurut Syam salah satu cara untuk menghilangkan perasaannya adalah dengan menghindar untuk beberapa saat hingga perasaan itu hilang. Karena menghilangkan perasaan bukanlah perkara yang mudah baginya.
"Iya. Aku juga mau pulang. Tuh supir aku sudah datang." Ucap Ara disertai kekehan membuat Syam menoleh ke belakang dan mendapati Abhi-Suami Ara turun dari mobil. Rencana Syam untuk tidak melihat pemandangan Ara bersama suaminya gagal. Hati Syam kembali terasa nyeri saat melihat Ara tertawa dan berjalan menghampiri suaminya dan bergelanyut manja di lengan suaminya. Syam mencoba tersenyum meski rasa sakit itu kian menghunus dadanya.
"Baru pulang Syam?" Tanya Abhi berbasa-basi, pria itu menghampiri Syam dengan Ara yang terus menggandeng lengannya.
"Iya.. terus di hadang tuh sama nyonya Abhi" Ucapnya sembari menunjuk Ara yang membuat perempuan itu tertawa.
"Boleh juga sebutannya." Ucap Ara sembari tertawa.
"Apanya yang boleh?" Tanya Abhi menoleh pada Ara.
"Itu, Nyonya Abhi. A.k.a Nyonya Raka Abhimanyu Dirgantara." Ucap Ara gemas sembari mencubit lengan suaminya.
Syam berdeham-deham melihat keromantisan pasangan itu. Dalam hatinya Syam menggerutu sendiri. Ia tidak suka dengan pemandangan di hadapannya.
"Kenapa ehem-ehem?" Tanya Ara sembari melirik Syam.
"Lihat tempat dong Ai.. nggak lihat apa? Ada yang jomblo disini?" Ucap Syam asal. Namun malah membuat dua orang dihadapannya kompak tertawa.
"Makanya buruan cariin aku ipar." Ucap Ara yang langsung membuat Syam sebal.
"Ganteng? Enggak usah ditanya. Mapan? Sudah. Sholeh? InshaAllah. Umur? Juga dudah memenuhi, kan? Tunggu apa lagi Syam? Perempuan juga pasti banyak kan yang ngantri?" Tanya Ara.
Syam terdiam. Lalu matanya sekilas melirik Ara. Hatinya terasa nyeri seketika. Boleh tidak jika Syam menjawab yang Ia tunggu adah Ara?.
"Mungkin belum saatnya. Ya aku sih pasrah saja. Kalau sudah waktunya juga pasti dapat kok." Jawabnya Syam
Syam percaya, suatu saat nanti pasti Ia bisa melupakan Ara. Ia juga yakin, bahwa Allah juga telah menyiapkan jodoh yang terbaik untuknya. Meskipun Syam tidak tahu kapan, dimana dan siapa yang akan menjadi jodohnya. Setidaknya Syam percaya bahwa segala hal yang telah disusun Allah untuknya tentu jauh lebih baik dari apa yang dia harapkan.
***