Syania? Siapa? Gue enggak kenal Syania.
-Syamil
Ketika hati masih dilanda rasa sakit. Maka saat itu juga Ia memilih untuk berlari. Mungkin orang lain berpikir bahwa Ia pengecut. Namun baginya beginilah caranya menjadi lelaki yang sesungguhnya. Karena mencintai perempuan yang sudah dimiliki lelaki lain sangatlah tidak di benarkan. Mulai hari ini Ia bertekad untuk mengubur dalam-dalam perasaannya. Perasan yang sudah pasti bertepuk sebelah tangan. Ia akan mencoba untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa, berpura-pura bahwa tidak pernah ada rasa untuk perempuan itu di dalam hatinya hingga Ia lupa bahwa Ia tengah berpura-pura. Karena sejatinya Ia tidak pantas memiliki rasa seperti itu. Rasa yang menimbulkan dosa pun menyakiti hatinya.
Mungkin dengan Mencari sosok baru yang akan Ia jadikan sebagai tempat persinggahan terakhir baginya mungkin adalah salah satu caranya untuk melupakan. Meskipun Ia juga sadar bahwa semuanya tidak akan mudah.
Namun sekali lagi Ia percaya bahwa Allah pasti akan memberikan kemudahan dari setiap cobaan yang diberikan kepada hambanya. Ia memang hamba yang lemah dan kecil. Namun ia tau bahwa Tuhannya adalah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Besar. Sehingga Ia tidak perlu khawatir jika Ia kembali terjatuh. Karena Ia percaya bahwa Allah pasti akan menolongnya.
Allah bantu aku melupakannya.
Itu adalah doa yang selalu Syam panjatkan di sepertiga malamnya. Lalu selanjutnya Syam akan meminta Ampun kepada Allah atas semua dosa yang pernah Ia lakukan. Termasuk dosa karena telah menyimpan perasaan yang seharusnya tidak ada.
Syam melipat sajadahnya sesaat setelah selesai berdoa dan mengaji. Lalu Ia merebahkan badannya di atas tempat tidur. Mungkin tidur sejenak sembari menunggu subuh tiba bisa membantunya sedikit menenangkan pikiran.
**
"Syania."
Syam tertegun saat tiba-tiba mulutnya menyebut sebuah nama.
"Syania??" Ulangnya sekali lagi dengan penuh tanda tanya. Otaknya berpikir keras tentang nama itu. Pasalnya Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Namun secara tiba-tiba mulutnya menyebut nama itu.
Ini aneh. Pikirnya.
Namun melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima membuat ia segera bangkit dan kembali mengambil air wudhu. Pasalnya subuh sudah lewat setengah jam yang lalu. Ternyata ia terlalu terbuai dalam tidurnya sehingga ia tidak mendengar azan subuh berkumandang.
Lalu siapa Syania? Mengapa Ia menyebut nama itu saat ia terbangun dari tidurnya?.
**
Di dalam ruangannya, Syam terdiam, otaknya tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian pagi tadi. Saat tiba-tiba ia menyebut sebuah nama yang menurutnya sangat asing.
Ia tahu. Nama itu begitu familiar di dunia ini. Namun untuk masuk di dalam daftar nama seseorang yang Syam kenal. Nama itu tidak pernah ada dalam ingatannya.
"Syania." Ucapnya mengulang nama itu sekali lagi. Seolah mencari celah untuk dapat menemukan sesuatu dari nama itu.
Namun semakin Ia berpikir justru kepalanya semakin pusing karena tidak mendapatkan ujung dari teka-teki nama itu.
Sehingga daripada kepalanya semakin pusing, Syam memilih pergi menuju sebuah kafe yang sudah menjadi langganannya sejak Ia mendirikan perusahaannya karena kafe itu berada tepat di seberang jalan gedung perusahaan milik Syam.
"Mau kemana Syam?" Tanya Devan yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Ke kafe depan. Ikut gue yuk." Ajak Syam.
"Lain kali deh. Kerjaan banyak." Jawab Devan lalu berpamitan pergi.
Syam membuka pintu kafe. Aroma kopi menyeruak menusuk indera penciumannya. Langkahnya semakin mantap menuju sebuah kursi yang menjadi tempat favoritnya selama dua tahun ini. Namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap bayangan masa lalu itu kembali hadir di hadapannya. Namun kali ini bukan lagi bayangan. Melainkan kenyataan. Syam ingin berbalik namun rasanya percuma karena kini orang itu sudah memanggil namanya yang membuat Ia harus memasang senyum terindahnya.
"Enggak kerja?" Sapa perempuan itu saat Syam baru saja mendudukkan badannya.
"Sendiri aja?" Tanya Syam yang membuat perempuan itu berdecak.
"Kebiasaan deh. Kalau di tanya tuh di jawab dulu." Kesal perempuan itu yang membuat Syam tersenyum.
"Iya aku kerja." Jawabnya kemudian.
"Mentang-mentang bosnya jadi enak ya. Bisa keluar dari jam kerja dengan bebas."
"Tapi aku nggak kayak gitu juga kali Ai." Jawab Syam yang disambut kikikan dari perempuan itu yang tidak lain adalah Ara.
Syam terdiam sejenak melihat tawa milik Ara. Sesaat Ia rindu dunianya yang dulu. Dimana Ia bisa melihat tawa Ara setiap hari dan tentu saja tawa itu karenanya. Tapi sesaat kemudian Syam sadar bahwa kini dunianya sudah berbeda. Ia tidak boleh terus terjebak dalam dunia masa lalunya.
"Iya aku tahu. Sahabatku enggak mungkin kayak gitu. Terus kamu ngapain disini?"
"Harusnya aku yang tanya. Ngapain kamu disini? Sendirian lagi. Dimana kak Abhi?" Tanya Syam kembali melihat fakta bahwa perempuan di hadapannya sudah dimiliki lelaki lain.
"Kak Abhi itu suamiku Syam. Dia bukan bodyguard ku."
"Ya aku tahu."
"Untuk jam segini ya dia masih di kantornya. Disini aku lagi nunggu temanku. Ada sesuatu yang mau kita bicarakan." Syam menganggukkan kepalanya--paham.
"Terus kamu ngapain disini?" Tanya Ara balik.
"Ya kantorku kan dekat. Didepan sana."
"Aku tahu."
"Ya aku cuma pengen kesini aja. Mungkin menenangkan pikiran sambil ngopi."
"Kamu banyak pikiran ya?" Tanya Ara khawatir, biar bagaimanapun Ia adalah sahabat Syam. Jadi wajar jika Ia khawatir.
Melihat wajah khawatir milik Ara membuat Syam tersenyum miris. Seharusnya Ia bahagia melihat Ara khawatir dengannya. Tapi untuk saat ini, Ia justru tidak suka jika Ara mengkhawatirkannya. Itu sama saja membuat hatinya kembali berharap.
"Aku enggak apa-apa kali Ai. Cuma yaa.. ada sedikit hal yang ganggu pikiran."
"Enggak mau cerita?" Tawar Ara.
Syam tampak berpikir. Dulu memang Ia sering sekali bercerita dengan Ara hampir semua hal tidak ada yang Ia tutupi dari perempuan ini. Tapi itu dulu. Dan sekarang...
"Kayaknya enggak deh Ai. Aku sendiri juga bingung sama yang terjadi sama aku." ucap Syam. Bukan berarti Ia tidak lagi percaya dengan Ara. Tapi jika Ia bercerita kepada Ara, Syam takut terbuai, Syam takut kembali merasa nyaman dan kembali menumbuhkan perasaannya kepada Ara walaupun perasaan yang ada juga masih tersisa.
"Maksud kamu?"
"Eggak apa-apa. Nggak penting kok."
"Ishh..."
Syam hanya tersenyum, kemudian Ia memilih untuk berpindah tempat duduk. Biar bagaimanapun Ara sedang ada janji dengan seseorang dan dirinya juga tidak ingin terlalu lama bersama Ara.
**
Syam kembali ke kantor tepat saat pesanan minumannya datang. Syam sengaja memesan untuk take away karena Ia merasa dirinya tidak bisa berlama-lama melihat Ara. Namun, saat kembali ke kantor pikirannya kembali penuhi oleh nama 'Syania'. Sebuah nama yang sudah jelas sangat asing bagi Syam. Ia menghela nafas, padahal tadi saat Ia bersama Ara, Ia bisa sejenak melupakan tentang nama itu. Tapi sekarang? Nama itu kembali mengusiknya.
Ya. Hanya sekedar nama sih. Karena Syam juga tidak pernah tahu siapa pemiliknya.
"Wuissss Syania. Siapa tuh?." Syam terkejut saat tiba-tiba Rendi sudah dihadapannya. Ia segera menutup sketch booknya. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa tangannya menulis nama itu.
"Siapa Syania?" Tanya Rendi menggoda. Sementara Syam berpura-pura tidak ada sesustu yang terjadi.
"Lo ada perlu apa?" Tanya Syam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Udah bisa move on dari Ara nih ceritanya." Goda Rendi lagi. Namun Syam malas meladeni. Ia malah beranjak dari duduknya dan memilih berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah luar kantor yang menunjukkan kepadatan kota.
"Semoga begitu." Jawab Syam lirih.
Dalam hati, Rendi bersyukur mendengar berita ini. Satu perkembangan baik bagi Syam jika Ia sudah bisa move on dari Ara. Tapi yang mengusik pikiran Rendi saat ini adalah mengapa Syam masih saja terlihat murung. Lalu siapa Syania? Sebuah nama yang tadi ia lihat tengah di tulis sahabatnya itu. Bukan maksud ingin ikut campur. Tapi Rendi rasa ada yang aneh dengan Syam hari ini.
"Mau cerita?." Untuk kedua kalinya Syam mendengar pertanyaan yang sama dari orang berbeda. Syam tampak berpikir. Apakah Ia harus membagi kegelisahannya kepada sahabatnya yang baru menjadi Ayah ini atau tidak.
"Soal Syania mungkin? Tapi kalau enggak mau cerita juga enggak apa-apa. Itu privasi lo." Ucap Rendi sembari meletakkan beberapa berkas di meja Syam.
"Itu ada berkas yang perlu lo tanda tanganin." Lanjut Rendi.
"Gue enggak kenal sama Syania." Ucap Syam dengan tiba-tiba. Matanya masih menatap lurus keluar jendela. Sementara Rendi mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maksud lo?"
Syam menghela nafas panjang. Lalu kembali berjalan dan mendudukkan badannya di kursi kebesarannya. Mengambil pulpen lalu menandatangani berkas yang baru saja di bawa Rendi.
"Nama itu muncul gitu aja di pikiran gue. Dan gue nggak tahu siapa pemilik nama itu." Ucap Syam sembari menutup map berkas yang baru saja Ia tanda tangani.
"Ini aneh Gue tahu itu. Dan anehnya lagi, nama itu selalu muncul di pikiran gue walaupun gue enggak tahu siapa pemiliknya." Lanjutnya.
Rendi menatap Syam bingung. Namun sesaat kemudian ia tersenyum lalu menepuk bahu sahabatnya itu.
"Enggak usah terlalu dipikirin. Mungkin karena lo lagi banyak pikiran kali, jadinya mikir yang aneh-aneh. Jika memang sosok Syania itu ada, yakin aja suatu saat Allah bakal mempertemukan kalian."
***