Dua hari setelah menerima tawaran dari Steven, Nizam merasa hatinya penuh dengan campur aduk antara semangat dan kekhawatiran, selama dua hari tersebut dia tidak bisa untuk tidur dengan nyenyak.
Setiap malam dia habiskan untuk memikirkan banyak kemungkinan, dia beberapa kali pergi ke warnet untuk mencari informasi tentang sepak bola German dan kehidupan disana. Namun satu hal yang dia lupakan adalah mencari tahu identitas dari Steven.
Dalam dua hari tersebut dia juga mulai mencari saran dari beberapa teman dekatnya, dia berharap mereka akan mendukung atau setidaknya memberikan kata penyemangat.
Namun entah dari mana, kabar tentang Nizam yang ingin pergi ke German untuk bermain sepak bola mulai berhembus di sekolah.
Tak jarang teman-temannya menertawakan mimpi Nizam, tak jarang pula yang berbisik mengejek. Beberapa guru bahkan menasehati Nizam agar tidak gegabah mengambil keputusan.
----
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah empat hari berlalu sejak Nizam menyampaikan keputusannya kepada Steven. Siang itu di sekolah, Nizam sedang duduk bersama teman-temannya di kantin. Teman-teman dekatnya, Andi dan Sari, Bahrul dan lainnya, tampak penuh perhatian ketika Nizam mulai berbicara tentang keputusan untuk pergi ke Jerman.
“Jadi, kamu benar-benar akan pergi ke Jerman?” tanya Andi dengan rasa ingin tahu.
“Ya, Andi. Steven sudah mengonfirmasi semuanya. Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran itu,” jawab Nizam sambil menunjukkan senyum yang penuh harapan.
“Wow, itu luar biasa, Nizam! Kamu pasti akan jadi pemain hebat di sana,” puji Sari. “Kamu pantas mendapatkan kesempatan ini.”
Namun, di sudut lain kantin, beberapa siswa lain tampak mengejek dan menertawakan keputusan Nizam.
"Hahaha.... Mungkin dia belum bangun dari mimpinya."
"Dia pikir akan semudah itu."
"Hanya karena dia yang paling jago bermain bola di sini, dia merasa dia akan langsung sukses di sana."
Nizam mendengar bisikan tersebut, tetapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Ia tahu bahwa keputusan ini adalah langkah besar dalam hidupnya, dan dukungan dari orang-orang yang peduli padanya jauh lebih berharga.
---
Di rumah, Nizam duduk bersama keluarganya di ruang tamu, membahas persiapan akhir sebelum keberangkatannya. Bu Rina tampak lebih cemas, entah kenapa hatinya selalu was was semenjak kepergian Steven dari rumahnya, sementara Pak Joko terlihat lebih tegar dalam menghadapi situasi ini.
“Nizam, apakah kamu sudah siap dengan semua persiapan?” tanya Bu Rina.
“Iya, Bu. Steven sudah memberikan semua informasi yang diperlukan. Tapi, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan sebelum berangkat,” jawab Nizam.
“Nanti Pak Rudi, penerjemah Steven, akan membantu dengan urusan dokumen dan bahasa di sana. Kamu hanya perlu fokus pada latihan dan belajar,” tambah Pak Joko.
“Pak Rudi? Oh, iya, aku ingat. Dia yang akan membantu ku dengan semua dokumen, bukan?” tanya Nizam.
“Benar sekali. Dan Steven juga meminta uang untuk bekal hidupmu di sana. Uang itu akan kamu simpan sendiri, dan sisa uangnya akan kami simpan untuk adikmu,” jelas Bapak Joko.
---
Keesokan harinya, Nizam bersama orang tuanya pergi ke sekolah untuk berpamitan. Nizam merasa cemas, tetapi juga bersemangat untuk memulai babak baru dalam hidupnya.
Di sekolah, suasana terlihat agak berbeda dari biasanya. Meski masih terdengar bisik-bisik ejekan, namun pagi ini mereka semua berkumpul untuk memberikan dukungan kepada Nizam. bahkan kepala sekolah, Pak Hasan, mengundang Nizam dan orang tuanya ke ruangannya.
“Selamat pagi, Bapak dan Ibu Joko,” sapa Pak Hasan. “Nizam, kami mendengar tentang kesempatan besar ini, kami sangat bangga dengan keputusanmu. Tapi kami juga menyayangkan keputusan mendadak ini, karena kamu memutuskan untuk meninggalkan sekolah sebelum lulus.”
“Terima kasih, Pak Hasan. Ini adalah langkah besar bagi Nizam, dan kami sangat menghargai dukungan dari sekolah,” kata Bapak Joko.
Pak Joko menambahkan "untuk masalah sekolah, Steven sudah berjanji untuk membantu Nizam agar bisa melanjutkan pendidikan nya di sana."
“baiklah pak Joko, Nizam, Jangan lupakan pendidikanmu di mana pun kamu berada. Teruslah belajar dan berkembang. Pendidikan adalah bagian penting dari perjalananmu,” pesan Pak Hasan sambil memberikan beberapa buku referensi untuk Nizam.
Nizam mengangguk dengan penuh rasa terima kasih. “Saya akan terus belajar, Pak. Terima kasih atas dukungannya.”
---
Setelah berpamitan di sekolah, Nizam dan orang tuanya menuju rumah. Pak Joko, dengan tekad yang kuat, memutuskan untuk menjual satu-satunya harta berharga yang mereka miliki demi mendukung impian anaknya. Dan kebetulan Pak Joko mempunyai 4 petak sawah dan beberapa kebun, semua itu adalah warisan dari mendiang kedua orangtuanya, demi bisa mewujudkan mimpi anak laki-lakinya dia berniat menjual semua nya demi mimpi sang buah hati.
"Buk, ibuk tidak apa-apa kan jika kita menjual semuanya?" Tanya Pak Joko di malam sebelum dia menjual harta berharga nya.
Bu Rina tersenyum dan memeluk suaminya, "Aku bangga sama bapak, ini demi mimpi dan kebahagiaan anak kita pak, Ibuk akan selalu mendukung keputusan bapak."
Keputusan ini adalah keputusan yang berat bagi keduanya, tetapi Pak Joko merasa bahwa ini adalah langkah yang tepat untuk masa depan Nizam.
“nak, kami sudah mengatur semuanya, Uang dari penjualan ini akan kamu gunakan sebagai bekal hidup mu di Jerman dan sisanya untuk biaya sekolah adikmu,” kata Pak Joko sambil menyelipkan uang ke dalam amplop. Uang berjumlah 450 juta itu di bagi dalam dua amplop, satu amplop di masukan ke dalam ransel Nizam dan satu amplop untuk jaga jaga di masukan ke dalam koper Nizam.
“Terima kasih, Pak. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat menghargai semua pengorbanan kalian,” kata Nizam dengan suara bergetar, dia beranjak dari duduknya lalu memeluk bapak dan Ibunya.
“Anakku, ini semua demi masa depanmu. Semoga kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,” jawab Pak Joko dengan penuh kasih sayang.
Bu Rina membalas pelukan Nizam dengan hangat. “Jangan lupakan kami di sini. Kami akan selalu mendukungmu dari jauh. Berusahalah sebaik mungkin dan selalu ingat rumah.”
Sementara adik nya hanya memeluk Nizam dengan sesenggukan.
Nizam mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Aku akan berusaha keras dan tidak akan mengecewakan kalian.”
"Apa semua dokumen sudah kamu masukkan?" Tanya Bu Rina, "Jangan sampai ada yang tertinggal Zam."
"Sudah Buk," balas Nizam, "Semua sudah aku simpan di dalam koper."
---
Hari keberangkatan semakin dekat, dan Nizam semakin sibuk dengan persiapan akhir. Sementara Steven dan Pak Rudi beberapa kali datang ke rumah Nizam untuk memastikan semua dokumen dan persiapan telah lengkap.
“Selamat pagi, Nizam. Pak Joko, Bu Rina,” sapa Steven. “Kami sudah siap dengan semua dokumen. Nizam, pastikan kamu memeriksa semua barang bawaanmu sebelum berangkat.”
“Terima kasih, Steven. Kami sudah menyiapkan semua yang diperlukan. Dan terima kasih juga, Pak Rudi, atas bantuan Anda dengan dokumen dan terjemahan,” kata Bu Rina.
Pak Rudi tersenyum. “Tidak masalah. Kami di sini untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Nizam, jika ada yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi kami.”
Nizam merasa lega mendengar kata-kata dukungan dari semua orang di sekelilingnya. Dengan persiapan yang matang dan dukungan penuh dari keluarga serta teman-teman, ia merasa siap untuk menghadapi tantangan baru di Jerman.
Sebenar nya pak Joko sedikit merasakan perasaan yang mengganjal, karena beberapa hari lalu Steven menelfon pak Joko dan meminta uang untuk membeli tiket ke Jerman, dengan alasan dia belum mendapat kan gaji dari pihak klub. Di tambah lagi satu hari kemudian Steven kembali meminta uang, alasannya untuk mengurus semua dokumen dan perizinan, dan jumlah yang di minta Steven cukup besar bagi Pak Joko.
Tapi pak Joko tetap berpikir positif, mengingat ini adalah keputusan anak nya.
---
Saat hari keberangkatan tiba, Nizam berdiri di bandara bersama orang tua dan adiknya. Ia merasa campur aduk antara semangat dan kesedihan.
“Selamat tinggal, Nak. Jaga diri baik-baik dan selalu ingat nasihat Bapak dan Ibu,” kata Bapak Joko sambil memeluk Nizam.
“Selamat tinggal, Bu, Pa. Aku akan selalu mengingat semua pesan dan dukungan kalian. Terima kasih telah selalu ada untukku,” jawab Nizam dengan penuh rasa syukur.
Nizam mengusap lembut rambut adik nya "jangan nakal, dengarkan bapak dan ibu ya dek"
Bu Rina mencoba lebih tegar meski dia beberapa kali sudah mengusap air mata di pipinya. “Berhati-hatilah dan jangan lupa untuk selalu berdoa. Kami akan selalu mendukungmu dari sini.”
Nizam melambaikan tangan kepada orang tuanya saat ia melangkah menuju gerbang keberangkatan. Dengan tekad yang bulat dan dukungan yang kuat dari orang-orang terkasih, ia siap memulai perjalanan menuju German, tempat di mana mimpi-mimpinya akan mulai menjadi kenyataan.