Pagi itu, Nizam beranjak dari tempat tidurnya di penginapan sederhana. Dengan sedikit uang yang tersisa di kantongnya, ia tahu harus bijak dalam mengatur pengeluaran. Penginapan tempatnya tinggal mematok harga sekitar €25 per malam, dan ia hanya memiliki sekitar €800 tersisa setelah menukarkan sebagian uang dari amplop yang diberikan oleh Pak Joko.
Sambil menghela napas, Nizam merogoh saku celananya untuk memastikan ponselnya masih di tempat. Dengan matahari yang baru saja muncul di ufuk timur, dia memutuskan untuk memulai harinya dengan mencari tahu lebih lanjut tentang tujuannya datang kesini, yaitu Borussia Dortmund U17. Ia mengingat informasi yang diberikan oleh pemilik penginapan, yang menyebutkan bahwa lokasi klub tidak terlalu jauh, hanya dua puluh menit jika menaiki taksi, dan sekitar satu setengah jam dengan berjalan kaki.
"Sepertinya aku harus berhemat dan berjalan kaki saja," gumam Nizam sambil mengenakan sepatunya. "Lumayan, bisa sekalian olahraga pagi."
Setelah berpamitan kepada pemilik penginapan, Nizam mulai berlari ringan. Di sepanjang perjalanan, ia terpesona dengan suasana pagi kota Dortmund. Bangunan-bangunan modern yang berdiri tegak di sekitarnya memberikan kesan megah dan teratur. Sesekali, ia berhenti untuk mengambil napas dan menikmati pemandangan sekitar.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya ia tiba di kompleks Borussia Dortmund U17. Dari kejauhan, ia bisa melihat para pemain muda yang sedang melakukan latihan. Dia mendekati salah satu penjaga pintu gerbang dan mencoba memulai percakapan menggunakan bahasa Inggris, bahasa yang paling dia kuasai selain bahasa Indonesia.
"Hallo, selamat pagi," sapa Nizam dalam bahasa Inggris yang fasih. "Saya ingin tahu apakah ada seseorang agen bernama Steven yang bekerja di sini?"
Penjaga itu mengerutkan dahi sejenak, tampaknya bingung dengan pertanyaan Nizam.
"Steven?" pria itu bertanya. "Tidak ada yang bernama Steven di sini sebagai agen."
Dada Nizam berdebar kencang, matanya sedikit melotot mendengar jawaban dari penjaga tersebut, dengan sedikit bergetar Nizam mulai menceritakan pengalamannya, tentang bagaimana Steven menipunya. Pria penjaga itu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Maaf mendengar itu, anak muda," kata penjaga itu penuh simpati. "Tapi, jangan khawatir. Kamu masih muda, dan ada banyak kesempatan di sini jika kamu benar-benar berbakat."
"Terima kasih, Pak," Nizam membalas dengan senyum tipis, meskipun hatinya sedikit berat.
"Atau aku bisa membantumu pergi ke kedutaan Indonesia." Tawar penjaga tersebut dengan penuh simpati.
"Ah, terimakasih, jika aku pergi ke kedutaan maka aku akan dipulangkan, dan...." Mata Nizam mulai berkaca-kaca saat mengingat pengorbanan yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya untuk mimpinya ini. ".... Aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku."
Penjaga tersebut mengangguk mengerti. "Baiklah jika itu keinginan mu, disini banyak kesempatan untuk anak berbakat, namun kamu juga harus mengecek izin tinggal mu."
"Terimakasih atas nasihat anda."
Karena melihat mata Nizam yang berbinar saat melihat bagaimana anak-anak Dortmund U17 berlatih, penjaga itu akhirnya memperbolehkan Nizam melihat latihan pemain-pemain muda Borussia Dortmund II dari jarak jauh. Nizam terpesona. Gerakan mereka begitu cepat dan terkoordinasi dengan baik, sangat berbeda dari apa yang biasa dia lihat saat bermain di desanya. Kecepatan, teknik, dan strategi yang digunakan sungguh luar biasa.
"Suatu hari nanti," bisik Nizam pada dirinya sendiri, "aku pasti akan bisa berlatih bersama mereka."
Setelah puas melihat latihan, Nizam memutuskan untuk kembali ke penginapan. Di tengah perjalanan, dia melewati taman yang lebih luas dan lebih ramai dari taman yang kemarin saat Steven meninggalkan nya. Tak jauh dari sana, ia melihat sebuah lapangan sepak bola kecil, di mana sekelompok anak muda tampak sedang bersiap untuk bermain.
Nizam memutuskan untuk singgah sejenak dan mengamati bagaimana anak-anak jalanan ini bermain, meski mereka hanya anak jalanan namun teknik dan permainan yang mereka tunjukkan begitu berbeda, sangat terkoordinir, sangat cepat dan presisi.
"Level mereka jauh berbeda dengan SSB di desa ku."
Setelah puas mengamati dan beristirahat, Nizam memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Sore harinya, dia kembali taman tadi siang, berharap bisa berolahraga lebih intens. Ketika dia tiba, ternyata ada sekelompok anak muda yang sedang bersiap melakukan pertandingan sepak bola.
Mata Nizam kembali berbinar melihat mereka. Sebagian besar dari mereka tampak sangat berbakat, bahkan ada beberapa pemain yang tadi pagi dia lihat di tempat latihan Borussia Dortmund U17. Dengan penuh harapan, Nizam mendekati mereka.
"Excuse me," ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih. "Boleh aku ikut bergabung?"
Beberapa pemain hanya mengabaikannya, mungkin karena mereka belum pernah melihat Nizam sebelumnya di lingkungan tersebut. Namun, salah satu pemain yang tinggi dan tampak ramah menghampirinya.
"Hey, kamu bisa main bola?" tanya pria itu dengan aksen Jerman yang kental, memperkenalkan dirinya sebagai Sven Kruger, salah satu striker di tim binaan.
Nizam mengangguk. "Ya, aku dari Indonesia. Aku biasa bermain sebagai gelandang serang."
Sven memandangnya sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah, kamu bisa bergabung di timku."
Nizam begitu antusias mendengar jawaban Sven, matanya tampak berbinar dan senyumnya semakin lebar. "Terima kasih," jawabnya penuh rasa terimakasih.
Ketika permainan dimulai, Nizam merasa agak kesulitan menyesuaikan diri. Gaya permainan di sini jauh lebih keras dan cepat daripada di desanya. Setiap sentuhan bola, setiap gerakan harus dilakukan dengan penuh keseriusan. Namun, dengan cepat dia mulai menyesuaikan diri. Ritme pertandingan mulai ia kuasai, dan lambat laun ia berhasil menunjukkan kemampuannya.
Di salah satu momen, Nizam berhasil memberikan umpan matang kepada Sven yang berhasil menyarangkan gol ke gawang lawan. Kemudian, di menit-menit akhir pertandingan, Nizam sendiri berhasil mencetak gol setelah melakukan dribble cepat melewati dua bek lawan. Timnya berhasil menang, dan sorakan kecil terdengar dari pinggir lapangan.
Setelah pertandingan berakhir, beberapa pemain menepuk pundak Nizam, memberikan selamat, mengakui skill Nizam dan memuji adaptasinya yang cepat.
"Kamu cepat belajar, ya," puji Sven . "Bisa langsung menyesuaikan gaya permainan kami. Bagus sekali."
Nizam tersenyum. "Terima kasih. Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya."
"Besok ayo kita main lagi." Balas yang lain.
"Tentu."
Beberapa hari berikutnya, rutinitas Nizam hampir sama. Pagi-pagi ia berolahraga, mencari informasi tentang penerimaan siswa baru Borussia Dortmund U17 maupun tim sepak bola di sekitarnya. Dan setiap sore, ia bermain sepak bola bersama teman-teman barunya di lapangan yang sama. Mereka kini sudah lebih mengenalnya dan mengakui kemampuannya.
Di pagi itu Nizam berusaha menghubungi keluarga nya sekedar memberi kabar bahwa dia sudah mulai berlatih dengan para pemain muda binaan di klub besar Borussia Dortmund U17, meski itu dilakukan hanya untuk menenangkan keluarganya. Dia tidak berani menceritakan kemalangan yang menimpa nya di sini, dia takut akan membuat sedih dan kecewa kedua orang tuanya, dia hanya bisa memaksakan tawa yang terasa getir ketika mendengar rasa syukur dari ibu nya.
Sudah hampir satu Minggu Nizam terjebak dalam rutinitas yang sama, meski dia sudah mencoba mencari informasi untuk seleksi sekolah sepak bola di sekitar, namun hasilnya masih nihil. Dengan berat hati dia terus menjalani rutinitas yang sama untuk menghemat pengeluarannya.
Dan hari ini seperti hari-hari sebelumnya, Nizam bersama rekan-rekannya bermain sepak bola di taman, ketika mereka sedang bermain seperti biasa, sebuah mobil hitam berhenti di dekat lapangan. Dari dalam mobil, seorang pria keluar dan mengamati pertandingan dari kejauhan. Tanpa disadari oleh Nizam, pria itu adalah Jacob, asisten pelatih tim binaan Borussia Dortmund U17.
Jacob awalnya hanya ingin melihat sebentar karena ada beberapa pemain binaannya, termasuk Sven Kruger, namun semakin lama dia melihat pertandingan itu, dia semakin tertarik dengan permainan Nizam. Gerakannya yang lincah, kecepatan dalam mencari peluang, serta keahliannya dalam membantu pertahanan dan menyerang membuat Jacob tidak bisa berhenti memperhatikan.
Setelah pertandingan berakhir, Jacob mendekati Sven dan bertanya tentang Nizam.
"Siapa anak itu?" tanya Jacob.
"Oh, dia? Namanya Nizam, dari Indonesia," jawab Sven. "Dia baru beberapa hari di sini, dan cukup berbakat."
Jacob mengangguk. "Bisa panggil dia ke sini?"
Sven mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya Jacob yang dikenal keras ini tertarik dengan anak tak dikenal, Sven akhirnya mengangguk dan memanggil Nizam.
"Hallo, Nizam," sapa Jacob. "Saya Jacob, asisten pelatih di Borussia Dortmund U17. Saya perhatikan permainanmu tadi, dan saya terkesan. Kamu punya potensi untuk menjadi pemain profesional."
Nizam begitu terkejut saat Jacob memperkenalkan dirinya. "Terima kasih, Pak Jacob, ini adalah suatu kehormatan bagi saya mendapatkan pujian dari anda."
Jacob tersenyum dan melanjutkan, "Aku dengar kamu mengalami beberapa masalah sejak tiba di sini. Tapi, bagaimana jika aku mengundangmu untuk tes rekrutmen di klub?" Jacob menambah kan, "tapi kamu harus mengikuti seleksi dari pelatih Roger terlebih dahulu."
Nizam hampir tidak bisa mempercayai pendengarannya. "Serius, Pak? Apakah saya benar-benar bisa ikut seleksi?"
Jacob tersenyum lebar. "Tentu saja. Datanglah besok pagi ke kompleks kami. Meski seleksi sudah berlangsung namun aku akan atur agar kamu bisa ikut."
Dengan perasaan meluap-luap, Nizam mengucapkan terima kasih berulang kali. Jacob kemudian berpamitan dan meninggalkan lapangan, sementara Nizam masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sven merangkul bahu Nizam dan berkata "kawan, besok tunjukan pada kami apa yang kamu bisa, jangan takut, aku akan menyambut mu dengan tangan terbuka"
"Terimakasih Sven, ini berkatmu."
"Tidak, ini berkat kemampuan mu sendiri."
Dalam perjalanan pulang ke penginapan, Nizam tak henti-hentinya tersenyum. Akhirnya, setelah segala rintangan dan kesulitan, sebuah peluang emas terbuka untuknya.