Xenia Verniva, seorang gadis dari daerah pelosok yg memiliki cita cita. Ia tidak pernah menyerah akan cita cita nya. Walaupun kondisi keluarga nya sangat tidak memungkin kan. Ia anak pertama dengan sepasang adik laki laki dan perempuan kembar. Memiliki mimpi untuk kuliah di universitas tinggi dan jurusan hukum.
Walaupun dalam tradisi keluarga nya anak pertama harus menjadi tulang punggung bagi keluarga. Itu tidak menghentikan niat nya untuk menggapai cita cita nya.
"XENIA!! BISA TOLONG BANTU AYAH DULU GAK SIH ??!!" Xenia menutup telinga mendengar teriakan ayah nya. Ia yakin ayah nya pasti akan memanggil nya lagi jika ia tidak keluar kamarnya. "Sebentar yah" mau tidak mau ia menutup buku nya dan meninggalkan kamarnya.
"Kenapa sih!?? Kamu gede juga cuma nikah terus di dapur kalo gk kerja. Kenapa harus belajar hukum!? Gak penting!" Omel ayah nya begitu Xenia keluar kamar. Ia hanya bisa menghela mendengar ucapan yg sudah sering ia dengar.
"Ayah butuh bantuan apa coba? Anak mu ini kan gk pinter nyucu ubi" Xenia memutar bola mata nya. Membuat ayah nya marah karna kelakuannya.
"Kalau gitu ayah ajarin kamu ampe paham. Jadi hakim atau jaksa gk bakal jamin hidup kamu bahagia. Kalo bukan karna ngincer kedudukan hakim nenek mu gk bakal meninggal. Dan kalo gak maksain jurusan hukum ibumu juga gk bakal gk bisa nyari kerja." Jelas ayah Xenia panjang sambil mencuci ubi yg baru di panen.
"Yaudah aku juga udah gk belajar ilmu hukum lagi" Balas Xenia kembali memutar bola matanya. Ia mulai membantu ayah nya mencuci ubi untuk di pasarkan.
"Yaudah sini buku buku hukum kamu auah jual aja. Lumayan uang nya bisa buat belu mainan adek adek mu." Balas Ronan, ayah Xenia santai.
Seketika Xenia merasa kesal. Pasal nya uang untuk membeli buku ilmu hukum itu adalah hasil tabungan nya selam ini. Dan itu untuk membeli mainan 2 adik kembarnya.
"Itu kan dari uang Xenia yah" Xenia masih berusaha menahan emosi dengan berbicara pelan.
"Masa kamu kayak gitu aja gak mau. Lagian itu uang jajan kamu juga dari ayah. Buat beli mainan adek adek mu juga kan masih keluarga. Berbagi dikit sama adek aja gamau. Pelit banget." Ronan berucap kesal tanpa menatap Xenia. Masih sambil mencuci ubi ubi dari kebunnya.
"Iya deh yah." Xenia tidak mau berdebat dengan ayah nya. Ia melanjutkan membantu ayah nya mencuci ubi.
"Itu batu anak ayah. Jangan jadi kayak ibu mu ngejar minat gk mikirin masa depan." Ronan tersenyum. Padahal Xenia sedang menggrutu dalam hatinya.
-------------------------------------------------------------
"Bu, ayah mau jual semua buku ilmu hukum aku." Xenia memeluk lengan ibunya. Harusnya sekarang ia berada di kamar nya dan sudab tidur, karna jam menunjukkan pukul 11 malam.
"Sebenernya ibu seneng kamu mau jadi hakim kayak ibu dulu. Tapi, kamu anak pertama Xenia." Tangan lembut Hallen, ibu Xenia mengelus rambut hitam lurus keturunan nya itu.
Edgard Mavendra dan Elyse Marceline. Kedua adik kembar dari Xenia Verniva. Mereka lah yg selalu membuat Xenia merasa tidak bisa menggapai mimpi dengn usaha apapun. Karna sebutannya sebagai "Anak Pertama".