Acaraku di sabtu pagi seperti ini adalah menghabiskan banyak waktu di Kasur setelah 5 hari lamanya aku bekerja dan lembur yang hanya dibayar terimakasih. Selesai mencuci baju dan mengepel lantai aku segera aku kembali ke kamar dan merebahkan tubuh ini.
Ingin rasanya keluar rumah tapi kemana dan sama siapa? Rata-rata temanku sudah menikah dan sudah sulit untuk diajak keluar karna terhalang ijin dari suaminya. Pacar hingga usiaku yang menjelang ke 25 ini aku belum sama sekali pacaran. Bukannya tak ingin tapi aku sulit untuk bisa dekat dengan orang apalagi lelaki.
Sekalinya dekat dengan lelaki yang sudah sangat dekat tapi kami hanya sebatas sahabat dan kini ia sudah menikah dengan kekasihnya sedari kuliah. Dan aku ditinggal sendiri. Galau jelas sangat ketika ia memberitahuku akan menikah dengan gadis pilihannya aku sudah tak sanggup untuk menangis sehingga aku hanya bisa tertawa ketika ia memberi kabar padaku.
Sudah hampir setahun berlalu tapi hingga saat ini aku belum menemukan penggantinya, jika dibilang iri dengan teman-temanku yang sudah menikah jelas mereka sudah mempunyai orang yang bisa membagi kisah mereka sedangkan aku hanya bisa memendam sendiri. Tapi ketika aku memikirkan beratnya menikah seketika aku tak ingin menikah karna ketakutan-ketakukan yang sebenernya belum terjadi tapi aku sudah terlalu takut untuk kenyataan-kenyataan yang aku lihat dari cerita orang,
~~
Aku memutuskan untuk ke gramedia tak ada niat untuk membeli novel sih tapi lebih baik aku jalan-jalan siapa tau ada yang bisa di lihat. Masih jam 11 siang dan belum terlalu ramai di sini karena rata-rata orang akan datang setelah dzuhur atau sore menjelang sore.
Aku segera menuju ke counter novel melihat-lihat apa yang terpajang dan ternyata yang terpajang adalah novel-novel terjemahan yang sebenarnya aku kurang begitu suka karena aku harus berfikir ekstra keras untuk membacanya tetapi entah mengapa satu pengecualian untuk series percy Jackson yang aku baca hingga ahir walaupun butuh waktu yang cukup lama untukku menyelesaikannya karena otakku harus berfikir keras.
Aku berputar-putar mencari novel yang aku sekiranya menarik perhatianku. Tapi bukan novel yang justru menarik perhatianku tapi seseorang yang berada di antara rak komik. Seseorang yang menggunakan bomber jacket berwarna navy yang sepertinya adalah orang yang ku kenal. Dan seperti orang yang beberapa hari terahir mengusik alam mimpiku kembali dengan kehadirannya,
Ku dekati dan ternyata memang benar orang yang sudah mengusik mimpiku beberapa kali dengan kehadirannya yang menurutku tidak wajar. Ku tepuk pundak sebelah kirinya. “A Gema?” ucapku sedikit berbisik karena takut menggangu pengunjung yang lain. Kulihat dia sedikit mengerutkan keningnya dan senyum langsung terukir di bibirnya.
“Hai, Kinan apakabar?”
“Alhamdulillah baik, aa gimana sehat?”
“Alhamdulillah baik juga, sendiri? Atau?”
“sendiri, aa juga kan feeling aku sih sendiri” ia hanya menjawab dengan senyuman yang menampakan giginya.
“ada acara lagi ga abis ini?” tanyaku memberanikan diri karena sebenarnya aku lapar dan sangat ingin makan mcd tetapi malas untuk makan sendiri apalagi di hari sabtu pastinya mcd akan sangat penuh dikunjungi oleh keluarga.
“pengen cari kemeja sih paling ke matahari, kenapa? Mau saya temenin kemana nih?” ucapnya.
“tumben langsung nanya mau kemana, kalau dulu mau nitip beli es krim ke domart aja harus nunggu ditawarin” ledekku.
“udah setaun yang lalu jangan di inget-inget dong. Yuk mau kemana bayar dulu tapi ya” ucapnya sambil membawa beberapa komik ke kasir.
“ga beli kamu nan?” aku hanya menjawab dengan gelengan karena tak ada novel yang menurutku menarik hati untuk dibeli.
“mcd ya a, pengen banget makan sama telornya”
“elah telornya bisa kali masak sendiri ga usah jauh-jauh ke mcd segala”
“nah justru karna aku gagal terus masak telor mcd jadi pengen makan itu” ucapku sambil berjalan menuju mcd dan benar saja terlihat dari kaca mcd penuh dengan keluarga yang membawa anaknya yang berlarian kesana kesini.
“yakin masih mau makan disini? Hokben yu udah lama ga makan hokben sama kamu nan”
“ga pernah kali kita makan berdua biasanya juga kalau ke hokben seRT. Ya udah ayo dari pada di sini tapi ga beli apa-apa”
“nanti saya masakin deh telor mcdnya kalau kamu” aku hanya menatapnya sambil menaikan sebelah alisku. Tanda bahwa aku tak percaya padanya.
Sesampainya di hokben kami segera memesan.
“biasanya paket value nan, lagi banyak uang ya?” aku hanya memandangnya tak suka. Paket value memang paket andalan kami ketika kami sedang bertugas di luar kota guna menghemat uang makan paket value adalah menu yang menurut kami sudah sangat lengkap jika kami sedang ingin makan hokben.
Dulu kami sempat sekantor bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik di Bandung yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Kata orang menjadi auditor itu gajinya besar tetapi menjadi auditor di tempat kami gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja karena kami klien-klien kami juga tidak banyak yang besar.
“kamu udah resign juga nan?” tanyanya
“iya maret kemaren aku resign terus balik lagi ke kampus ngajar tapi pengen cari kerjaan baru sih a, nanti kan juli sampe sepetember libur. Aa masih di tempat yang kemaren?”
“masih, ya di betah-betahin deh nan setidaknya disini lebih baik dari pada kemarin di KAP”
“nah itu akupun merasa dikampus aku lebih terjamin apalagi kalau dapet kelas banyak. Lagian ke kampus juga cuma seminggu 4x jadi lebih santai sih”
“ga ada niatan buat jadi dosen aja nan?”
“doain ya lagi nabung sih buat kuliah lagi S2 udah jalan 4 taun terus-terus jadi asisten mahasiswa yang pertama kali aku ajar aja udah pada lulus aku masih jadi instruktur lab aja” keluhku dan ditanggapi dengan tawanya hingga tersedak
“ngetawainnya ga usah lebay sih jadi keselek kan” ucapku sambil menepuk punggungnya dan memberinya minum
“ya abis perumpamannya gitu amat nan”
“lah emang bener ko”
“udah ini temenin ke matahari ya nan. Cepet abisin makannya” aku sudah tak menanggapi omongannya dan lebih fokus kepada beef yakinikuku.
~~
Setelah makan siang kami memutuskan untuk ke matahari mencari kemeja katanya. Ini kali pertamaku mengantar lelaki membeli baju, biasanya mengantar mama untuk membeli baju papa.
“nyari warna apa?”’
“ga tau, cari yg bagus aja bantuin ke cari nan”
“motif apa polos? Tapi motif aja deh ya tangan panjang kan? Aneh tau kalau aa pake tangan pendek tuh”
“pokonya cari aja yang sekiranya bagus”
Aku melihat-lihat apakah ada yang cocok dengannya. Dan mataku tertuju pada kemaja flannel berwarna dasar hitam dengan aksen garis merah dan navy aku mengambil ukuran L untuknya.
“kemejanya buat kerja apa buat main sih?” dia melihat kepadaku dan mengambil kemeja yang ada di tangganku.
“bagus ini. Cari lagi nan biar sekalian dicoba”
“nyuruh apa miwarang?”
“sama aja deh. Ini bagus ga?” Ia menunjukan sebuah kemeja berwarna polos berwarna hijau army. Aku hanya menggangguk dan berkeliling kembali mencari yang sekiranya cocok untuknya. Tapi yang kulihat adalah counter hoodie yang betuliskan buy one get one Sebagai perempuan jiwa diskonku langsung meronta hahaha.
Aku menemukan jaket yang cocok untukku, berwarna navy dengan motif starwars pada d**a bagian kirinya sepertinya membujuk a Gema untuk membeli jaket bukan hal yang buruk.
“a mau beli jaket ga? Ada buy one get one sharing sama aku yu”
“saya maunya nyari kemeja nan ko dihasut beli jaket sih, udah ayo ikut ke kamar pass”
Seketika aku berhenti dan menatapnya takut
“maksudnya tungguin di depan nanti liat cocok ga” ucapnya sambil menaikan kedua alisnya. Ya kali ga takut di ajak ke kamar pas sama cowo.
Tak lama ia keluar dengan kemeja berwarna hijau armynya yang menurutku terlalu besar karna kemeja polos seperti itu bagusnya untuk model slim fit supaya pas di badan. Aku mendekat ke arahnya dan menarik bagian belakang bajunya sehingga terlihat pas pada tubuhnya.
“kayanya harus ambil satu ukuran di bawah ini deh gede banget ini. Kalau polosan gini bagusnya slim fit”
“iya tapi tadi nyari ga ada yang L ada lagi langsung S”
“yang lain”
Ia keluar lagi dengan kemeja flannel yang aku pilihkan dan menurutku cukup untuknya. Sekedar informasi postur tubuhnya tingginya standar lelaki Indonesia dan badannya tidak terlalu kurus juga tidak gemuk pas walaupun pipinya cubby. Aku hanya mengangguk.
“saya ambil ini deh”
“beli ini doang?”
“iya kan yang army kegedean, mana jaket yang but one get one?”
Kami berjalan menuju counter jaket tersebut ia memilih milih dan pilihannya sama seperti pilihanku.
“kamu mau yang mana?”
“yang di pegang aa”
“sehati amat sih nan. Mba kalau yang ini masih ada yang barunya 2?” tanyanya pada pramuniaga yang sedang bertugas.
“ada sebentar saya ambil ya, sizenya?” ujar pramuniaga tersebut
“yang Xl sama L, kalau jaket pake longgar kan? L cukup?”
“sure. Jadi couplean nih ntar ada yang marah lagi aku coupelan sama aa”
“loh ga kebalik?” aku hanya memutar mataku tanda tak suka
Kami menuju kasir dan aku mengeluarkan kartu member matahari dan kartu debetku karena tak ada niat untuk membeli jaket.
“pake uang saya aja nan, belanjanya banyakan yang saya ko”
“nanti aku transfer ya a” ia hanya mengganguk menjawab pernyataanku.
“mba jaketnya pisah kantong 1 ya”
Kami keluar dengan membawa belanjaan masing-masing.
“ashar dulu yu nan baru pulang”
Memang Gema adalah orang yang sangat rajin beribadah waktu kami sekantor dulu ketika masuk adzan ia akan segera meninggalkan pekerjaannya dan segera menuju masjid. Selesai solat ternyata dia sudah selesai duluan dan menungguku yang membawa belanjaannya biasa cowo dan enggan ribet.
Entah mengapa sedari dulu ketika dia beres solat auranya ketampanannya lebih keluar mungkin air wudhu membuatnya lebih segar.
“thanks, yu pulang rumah kamu belum pindahkan? Masih deket KAP? Bareng aja searah ini ko”
“iya belum pindah ko, dan belum ada niatan buat pindah. Tapi…”
“tapi apa? Belum bisa bawa motor kan?”
“ga usah ngeledeh deh, tapi aku bisa ko nyetir mobil” ucapku jumawa karna setahuku ia adalah satu-satunya lelaki di kantor yang tidak bisa menyetir mobil.
“ohh, jadi mau bareng ga? Apa kamu bawa mobil?”
“gila aja sih sabtu keluar bawa mobil kalau ga kepepet amat mending ngegojek deh”
Ia tak menanggapi ucapanku hanya melihatku sekali lagi untuk memastikan
“emang bawa helm 2?”
“tenang aja yuk” iya mengajakku keluar dari musola dan menuju parkiran tapi yang aneh parkiran motor sudah terlewat apa dia ngajak bareng naik angkot atau naik gocar.
Aku hanya mengekor dibelakangnya hingga berhenti di depan mobil Honda HRV berwarna hitam dan ia membuka jok belakang menyimpan belanjannya. Dia bercanda membawa mobil
“aa bisa bawa mobil? Dari kapan? Aman kan? Aku belum nikah nih belum mau mati atau aku aja deh yang setirin”
“tenang aja kali nan, ayo masuk”
Aku masuk ke kursi penunmpang dengan hati ragu karena masih belum yakin dengan ucapannya.
“saya bisa bawa mobil dari SMA ko udah ada SIM juga dari SMA jadi tenang aman”
“bukannya dulu bilang ga bisa nyetir?”
“trik kali nan biar ga jadi supir kaya rendi”
“bisa aja ngelesnya”
“iyalah emang ga cape apa abis ngaudit lembur beresin LAI sama ML terus jadi supir juga please deh”
“eh a minta norek dong” ia mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan memperlihatkan nomor rekeningnya.
“serius jadi kontak?”
“ya kan biar ga perlu buka-buka M-Bankingnya. Eh nan belakang toserba ini masih ada oyen ga sih”
“ada, kenapa mau? Tapi ga bisa parkir mobil paling paling parkir di toserba sini aja, nanti jalan”
“yuk mau ga? Udah lama ga makan itu” tanpa menunggu persejutuanku ia membelokan mobilnya untuk parkir dalam toserba dan berjalan ke belakang untuk menikmati semangkut es campur.
“pa, mau lagi di bungkus 2 ya”
“3 pa”
“eh nan nomor kamu masih yang dulu kan?”
“yup, aku ga pernah ga nomor sih soalnya udah nyebar juga ribet lagi kalau ganti nomor”
“udah yu pulang udah sore juga”
~~
Senin pagi seperti biasanya aku menjalani runitiasku jam 7 sudah berada di kampus untuk mengajar sampai jam 6 sore aku harus stand by di kampus. Waktu yang sangat lama dan sangat menguras emosi jiwa.
Karna untuk matakuliah yang ku ajar hari ini adalah mata kuliah praktek dan biasanya ketika praktek mahasiswa akan lebih kritis dalam bertanya berbeda dengan dosen tatap muka yang menerangkan materi.
Belum lagi menghadapi mahasiswa yang rewel atau yang maaf lebih lambat dari yang lain. Ketika yang lain memperhatikan di kelas dia asik sendiri dengan ponselnya tapi ketika nilainya jelek yang disalahkan dosennya yang tidak pengertian karena memberi soal yang terlalu susah. Padahal kesalahan jelas terjadi pada mahasiswa itu sendiri.
Jam-jam krisis dalam mengajarku adalah jam 11, jam 3 dan jam 5. Jam 11 jam karena mulai lapar sehingga emosi akan menjadi tinggi, jam 3 mulai mengantuk dan malas, jam 5 rasanya ingin segera untuk menemui Kasur di rumah karena sudah sangat lelah.
Gema Rizki Nugraha
Nannnnnnnn.
Kinan Mentari
Iya?
Gema Rizki Nugraha
Sibuk ga?
Kinan Mentari
Engga sih, ini lagi beberes mau pulang kenapa a?
Gema Rizki Nugraha
Kalau udah sampai rumah kabarin ya.
Bandung, hujan dan macet sungguh luar biasa menurutku tapi setidaknya aku masih berteduh di dalam mobil dibandingkan dengan sepasang suami istri yang berada di sebelah mobilku sedang berhujan-hujanan dan mereka masih tersenyum ditambah sang istri memeluk suaminya berharap suaminya akan hangat karna dipeluk olehnya. Senyum mereka begitu tulus.
Ingin rasanya aku seperti mereka dapat bersama dengan pasangannya. Tersenyum entah hal apa yang dibahas. Di saat umurku yang seperti ini semakin terasa mana yang benar-benar tulus berteman dan mana yang hanya butuh saja. Tetapi ketika teman yang tulus sudah bertemu dengan pasangannya dia akan lebih sibuk dengan pasangannya dibanding dengan kita.
Ponselku bordering
~Gema Rizki Nugraha~ is calling
“iya a”
“masih di jalan ya?”
“iya ko tau, asal nebak aja sih. Saya tenemenin mau? Bandung macet kan?”
“yup, apalagi ujan kaya gini ya begitulah, BTW AA udah sampe rumah?”
“belum, sama kaya kamu masih bermacet-macet ria padahal udah tinggal belok ke arah yang mau ke komplek sih”
“enaknya, aku masih jauh banget ke rumah”
“iya mangkannya saya temenin nan, tadi masuk kelas jam berapa?”
“kalau senin sih jam 7 tadi beres magrib”
“buset berapa SKS kamu hari ini?”
“12 luar biasa emng senin tuh, untung besok masuk jam 12.30 abis subuh bisa tidur dulu bentar”
“besok beres jam berapa?”
“sama sih magrib juga”
“kalau besok saya jemput mau? Biar ga cape nyetir?”
“ngerepotin ahh, lagian kalau cape juga bisa naik gojek, gocar angkot juga masih banyak ko kalau masih magrib”
“sebenernya mau minta tolong sih”
“nah kan udah curiga, yang gini-gini nih pasti ga gratis” ucapku sewot. Ia tertawa sangat nyaring sekali belum pernah aku melihatnya tertawa selepas seperti ini mungkin jika aku melihat langsung matanya entah akan hilang kemana.
“minta temenin ngedimsum sih nan, kan kalau dimsum malam lagian aneh banget makan di sapar sendirian”
“ya sama temen kantor dong ada kali yang mau nemenin”
“ada sih, yaudah kalau kamu emang gamau gapapa ga maksa ko nan”
“lagi ngidam apa gimana? Awas loh buka puasa pake yang pedes-pedes kaya yang kuat aja perutnya”
“besok saya ga puasa nanti lusa saya puasa, masih inget aja saya suka puasa selain senin sama kamis”
“soalnya orang yang aku kenal yang suka puasa daud cuma aa sama…” duhhh kan inget lagi udah mencoba move on tapi ada aja yang bikin inget. Lupain suami orang nan.
“sama siapa nan?”
“sama oranglah, jadi besok ga puasa? Yaudah langsung ketemu di sapar ya?”
“saya jemput aja kamu beres kelas magrib kan? Dari pada saya nunggu di sapar mending nunggu di kampus bisa magriban dulu sama mau liat kampus kaya apa sih sekarang” Gema juga merupakan lulusan dari kampusku bahkan dia dan aku berada dalam jurusan yang sama hanya saja dia mengambil kelas karyawan sedangkan aku mengambil kelas reguler. Jelas aku tidak mengenalnya dan baru tau dia lulusan kampusku setelah kami satu kantor.
“ya gitu-gitu aja sih ga ada yang berubah. Orangnya iya banyak yang berubah”
“oke sebelum magrib saya udah di kampus ya nan”
Selain Gema yang menurutku sekarang bawel juga ia yang mendadak menjadi perhatian kepadaku. Entahlah aku tak mau ambil pusing aku sedang menikmati hari-hariku tanpa mau memikirkan apa yang akan terjadi ke depan sekarang aku lebih memilih let it flow.
~~