Sidang sudah di depan mata, Mirai lega sekali karena menyelesaikan skripsinya tepat waktu dan bisa mengikuti sidang kloter pertama. Meski tidak bisa di pungkiri setelah kelegaan itu, ia juga begitu merasa berdebar karena akan mengkuti sidang akhirnya. Tidak menyangka ia bisa melewati semuanya, meski di awal begitu ragu akan jurusan yang menjadi pilihan orang tuanya. Apalagi kemampuan dia nol besar saat itu.
Kali ini ia sedang bersama dengan Aksa, di rumah singgah teman-teman pengamen. Aksa bilang ingin bermain musik seperti dulu, bernyanyi bersama yang lain dan makan bersama, hitung-hitung sebagai semangat sebelum Mirai melakukan sidang nanti. Memang Aksa tahu saja kalau Mirai butuh hal yang menyenangkan lebih dulu sebelum ketegangan karena menghadapi dosen penguji.
Bicara tentang skri