Cia terpaku. Tak menyangka secepat ini bertemu dengannya. Sosok yang menjadikan ia wanita istimewa juga hina secara bersamaan. Dirinya tidak akan lupa dengan wajah lelaki tersebut. Selamanya menjadi mimpi buruk bagi perempuan yang memilih menutup seluruh tubuh kecuali kedua bola matanya.
"Kana—"
"Maaf. Anda salah orang." Cia menyela sembari melangkah mundur. "Bisa Anda bergeser? Tubuh Anda menghalangi langkah saya."
Bukannya berpindah, lelaki tersebut semakin mendekati seorang perempuan bercadar yang menghipnotis ketika melihat kedua manik matanya. Ia sangat mengenal pancaran tersebut. Walaupun wajah tertutup oleh tabir, ia yakin. Perempuan di hadapannya adalah seseorang yang selama ini ia cari.
"Kana—"
"Nama saya bukan Kana!" sela Cia tajam. "Dan saya mohon, jangan menghalangi langkah saya!"
Lelaki itu tak memedulikan peringatannya. Ia semakin menelisik mata itu. Berusaha mencari kebenaran dari ucapan perempuan memakai gamis hitam di hadapannya. Yang ia dapatkan hanya tatapan penuh luka. Dan untuk sesaat ia terpaku melihat bola mata warna coklat yang terbingkai bulu mata lentik.
Cia menundukkan kepalanya. Ia benci dalam keadaan seperti ini. Ingin sekali ia berlari. Akan tetapi kakinya kaku untuk digerakkan. Bohong kalau ia tak merindukan sosok lelaki di depannya. Walaupun ia berusaha memelankan suara. Cia yakin lelaki tersebut sudah mengenalinya. s**l, kenapa harus sekarang?
"Kamu tidak pandai berbohong, Kana. Benicia Askana."
Tubuh Cia membatu. Ia tak bisa mengelak lagi. Mau berkilah bagaimana pun, lelaki tersebut pasti sudah mengetahuinya. Ia menoleh ke sekeliling. Mencari seseorang yang bisa membantu dari situasi ini. Akan tetapi, tempat parkir sepi. Tak ada seorang pun di sini. Apalagi posisi mereka di antar dua mobil Box. Tak akan ada yang mengira bahwa ada dua sepasang manusia yang saling memandang. Dan saat ia menoleh ke belakang, terasa sunyi. Walaupun di sana ada sebuah cafe yang ramai. Namun, parkiran saat ini terasa lengang.
Berulang kali ia menghela napas dalam. Menormalkan kembali detak jantungnya. Ia percaya pertemuan ini bukan karena kebutulan. Ada tangan semesta yang tela mengatur semua ini. Mungkin ini saat yang tepat untuknya meluruskan masalah di masa lalu.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Cia tersentak ketika ada yang memegang lengannya. Ia meronta. Berusaha melepaskan cengkeraman tersebut. Namun lelaki tersebut malah mempereratnya. Sedangkan netranya memandang tajam manik di depan. Tak peduli wanita itu menolak. Yang pasti hari ini ia harus tahu semuanya. Ke mana selama ini wanita itu bersembunyi. Bagaimana dirinya bertahan hidup. Dan di mana anaknya berada. semua pertanyaan itu harus mendapatkan jawabannya sekarang juga.
"Lepaskan!"
"Tidak!" selanya mengikis jarak. "Sebelum kamu menjelaskan semuanya padaku."
Cia menggeleng. Ia berusaha menjaga jarak darinya. Akan tetapi tiba-tiba saja tangannya di tarik. Sontak, tubuh kecil itu dengan mudah jatuh dalam dekapan lelaki tersebut. Dan rasanya masih tetap sama. Penuh kehangatan dan tentram.
Ia tak berkutik. Otaknya selalu lumpuh berurusan dengan lelaki tersebut. Tuhan, apa yang arus aku lakukan?
"Aku tidak akan melepaskanmu, Kana!"
Cia mendongak. Tanpa sengaja tatapannya terkunci manik legam lelaki tersebut. Untuk sesaat mereka terdiam. Menyelami masa demi waktu yang telah berlalu. Menggiring mereka ke dalam lautan masa lalu yang masih membekas. Mengulang lagi kisah yang belum terselesaikan di antara mereka. Hingga tanpa sadar, butiran air mengenang di pelupuk matanya. Yang siap kapan saja menetes membasahi niqob.
Sekuat hati Cia menolak kenangan itu muncul. Menghalau rasa sesak yang menghimpit paru- paru. Ia tak mau terpuruk lagi. Cukup sudah selama lima tahun ini hatinya terluka. Wanita tersebut sudah berjanji berdamai dengan masa lalu. Jadi, sebisa mungkin ia memaafkan lelaki tersebut. Bukan untuk dirinya. Tapi demi seorang anak yang sudah bisa bertanya di mana ayahnya berada.
"Apa maumu?" Cia bertanya dengan suara pelan. "Tidak cukupkah hubungan kita berada di masa lalu? Tak seharusnya Anda bertemu dengan saya."
"Kana-"
"Berhenti memanggil nama itu!" sergah Cia tajam. "Tahukah Anda bahwa pemilik nama itu sudah mati selepas apa yang sudah Anda lakukan lima tahun yang lalu."
Lelaki itu terkejut. Ia tak menyangka wanita berada di dekapannya telah berubah. Sorot mata yang tajam dan suara sumbang terdengar merinding di telinga. Berbeda dengan seseorang yang ia kenal lima tahun lalu. Mengingat hal tersebut, hatinya terluka kembali. Ini semua salahnya. Tak semestinya berbuat seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi. Semua sudah menjadi bubur. Dan salahkah ia berharap bisa memperbaiki semuanya?
"Maaf, saya harus pergi. Pemisi!"
Cia mendorong paksa tubuh lelaki tersebut. Ia merasakan kekosongan saat lengan itu terlepas. Sama seperti jiwanya. Yang telah kosong ketika lelaki di hadapannya menyuruh untuk pergi. Hampa tak bersisa. Hanya ada kegelapan selama lima tahun belakangan ini. Tak seharusnya ia lari lagi. Tapi hatinya tak kuasa menahan rasa rindu. Bohong bila ia berkata membenci lelaki tersebut. Sebab lelaki itulah yang pertama kali mengenalkan dirinya aka cinta dan luka. Bila ia siap jatuh cinta, maka seharusnya sudah belajar rasanya sakit. Karena yang namanya jatuh pasti menimbulkan kesakitan. Apalagi mengenai perasaan. Jauh lebih menyakitkan.
"Tunggu!" cegahnya. "Ada yang ingin aku bicarakan."
Cia menghela napas lelah. Tidak tahukah bahwa kehadiran lelaki itu membuka luka masa lalu yang belum sempat ia obati. Dan sekarang, rasanya perih memandang tatapan permohonan yang tak akan bisa ia abaikan. Bagiamana pun lelaki bekemeja biru dongker itu pernah mengisi hatinya. Bukan hanya di waktu lampau. Tapi sampai detik ini Cia tak bisa menghapus nama itu dari lubuk jiwanya.
"Maaf saya tidak punya waktu." Cia dapat melihat kekecewaan dalam netra lelaki itu. Tapi, ia tak yakin bisa menjaga hati saat mereka mengobrol bersama. Maafkan aku, Mas. Aku masih belum bisa bercerita banyak denganmu. Karena sampai detik ini aku tidak sanggup melupakan kenangan kita. Maaf, Mas Bani.
Bani tak mengerti harus bagaimana lagi. Ia sudah berusaha untuk membujuknya. Akan tetapi, Kana menolak. Akankah ia melepaskannya begitu saja. Setelah lima tahun lelaki itu berusaha mencari tahu keberdaannya. Tentu saja tidak. Ia akan memaksa Kana untuk mengobrol dengannya. Apapun caranya, ia akan melakukan itu. Walaupun pada akhirnya ia akan melukai wanita kecilnya kesekian kali.
"Apa kamu sudah lupa ... kalau tidak ada perceraian di antara kita, Kana?"
Cia mendongak. Ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Terlihat jelas ia menggeleng lemah. Menatap nanar lelaki yang tak tahu malunya berkata seperti itu. Hatinya remuk. Ingin rasanya Cia memaki lelaki tersebut. Namun, semua tertahan di lidah. Ia tidak bisa berbicara lebih. Sebab jiwanya telah hancur berantakan. Yang tersisa hanya bulir bening turun dari pelupuk matanya. Seketika juga ia mengapusnya kasar. Tak ada guna menangis. Karena tangisan tak akan membalikkan keadaan.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?"
Bukan kalimat penolakan yang Cia lontarkan. Akan tetapi sebuah pernyataan yang menyiratkan ia mau dengan ajakan lelaki tersebut. Cia merutuk mulutnya yang berkata seperti itu. Namun saat melihat binar kebahagian Bani, hatinya merasa hangat. Sungguh cinta membuatnya bodoh seketika.
"Kalau begitu, mari ikut saya. Kita berbicara di dalam cafe."
Cia menggeleng. "Bisa di tempat lain?"
Bani mengangguk. Ia mempersilahkan Kana untuk jalan duluan. Dengan langah ringan ia mengikuti wanita itu dari belakang. Terserah wanita itu mau ke mana. Yang pasti hatinya terasa berbunga-bunga. Penantian panjangnya berbuah manis. Walaupun ia sempat melihat genangan air mata pada pelupuk Kana. Ia masih optimis bisa membaiki semuanya. Mengganti air mata duka menjadi bahagia. "Pakai mobilku?"
"Tidak, terima kasih. Anda bisa mengikuti mobil saya dari belakang."
Bani mendesah pelan. Tapi tak apalah. Yang penting Kana mau bicara dengannya. Itu sudah cukup. Ia akan mendekati Kana lagi pelan-pelan. Sebab ia yakin perempuan itu masih menyimpan rasa untuknya. Karena binar itu masih sama.
Entah ini benar atau salah. Cia masih mengingat kalimat terakhir yang terlontar dari mulut lelaki di belakangnya. Sebuah pernyataan yang menghancurkan jiwa dan raganya. Kalau dipikirkan kembali, bukannya itu sudah termasuk kata talak. Tetapi seenaknya saja lelaki tersebut tak melanjutkan persidangan. Hingga hubungannya saat ini terasa menggantung. Mungkin ini waktu yang tepat untuk meluruskan semuanya. Karena Cia tak ingin lagi berhubungan dengan sosok Arbani. Lelaki yang menawarkan cinta dan duka secara bersamaan.
Bani terbelalak tak percaya. Ia menatap bingung sosok di depannya. Kana berhenti di sebelah mobil yang ia tahu harganya sangat fantastis. "Ini mobilmu?"
Cia menoleh. "Iya. Kenapa?"
"Ini kan ..." Bani tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia sangat tahu mobil keluaran Jerman tersebut. Nominalnya saja sudah bisa mendirikan rumah mewah. Dan dengan santainya perempuan tersebut masuk dan menduduki kemudi.
"Masih mau berdiri di sini?"
Bani menggeleng. Ia berjalan menuju mobilnya yang terpakir. Tak habis pikir dengan mobil yang dikendarai oleh Kana. Ia saja harus menggigit jari melihat mobil yang hanya diproduksi lima ratus unit di Dunia. Dan Kana memilikinya. Seberapa sukses wanita itu sampai bisa memiliki kendaraan mewah.
Cia tersenyum sinis. Terlihat jelas lelaki tersebut melongo dibuatnya. Dirinya yang sekarang, bukan sosok Askana dahulu. Yang bodoh dan mau saja dibohongi. Sekarang ia kuat dan penuh percaya diri. Bahkan ia bisa saja membeli perusahaan lelaki tersebut.
Salah siapa telah melukainya. Ia boleh lemah. Namun tidak dengan tekadnya. Ia memiliki keinganan kuat. Apalagi setelah jagoannya lahir. Ia berusaha memenuhi semuanya sendiri. Karena ia yakin usaha tidak akan menghianati hasil. Biar saja cinta mempermainkannya. Tapi tidak engan keuletan yang menjadikan dirinya sesukses sekarang.
Air matanya boleh menetes ribuan kali. Sebanyak itupun ia harus bangkit dan bertahan untuk lebih baik. Tak akan menyerah dengan keadaan. Sebisa mungkin ia akan berjuang dan berjuang. Bukan untuknya semata. Juga untuk masa depan buah hatinya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam interaksi mereka. Ia tak bisa berbuat banyak saat melihat seseorang wanita pergi dengan lelaki lain. Dulu, ia menjadi penyemangat wanita tersebut untuk bangkit dari keterpurukan.
Dan sekarang, lelaki masa lalu datang menghampiri. Akankah ia tersisihkan kembali sama seperti waktu lampau. Entah mengapa hatinya merasa nyeri. Teringat pertemuan pertama kali setelah mereka tak berhubungan kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Ia tak mungkin menyalahkan takdir yang menuntunnya kembali dengan cinta masa kecilnya. Apalagi, rasa tersebut masih tersimpan erat di dalam hati terdalam. Dan, sekarang. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Membiarkan wanita itu bersama lelaki yang berpontensi melukai. Atau merebutnya. Sebab yang ia ketahui, wanita tersebut masih menyimpan nama lelaki itu. Bukan namanya.
Cinta memang rumit. Penuh dengan misteri dan teka-teki. Tersimpan rapat dalam gulungan benang tak beraturan. Tak tahu di mana akan berlabuh. Dan pergi begitu saja meninggalkan kekecewaan. Tapi, setidaknya cinta pula yang membuat orang berubah. Entah ke arah baik atau sebaliknya.
Sama halnya dengan sosok Benicia Askana. Kini wanita tersebut mencoba menelisik kehidupan cintanya. Meluruskan kembali benang yang telah kusut. Sampai ia menemukan arti cinta sesunggunya. Walaupun ia telah dilukai berulang kali. Tak seharusnya ia menghilang begitu saja. Sudah cukup. Kali ini, ia harus tegas dan membereskan semua kesalah pahaman di masa lalu. Biar dirinya bisa membuka lembaran buku baru bersama orang lain. Entah itu seseorang di masa lalunya. Atau Sang Semesta telah meyiapkan lakon tak terduga. Ia tak pernah tahu. Yang terpenting, masa lalu selesai. Maka selamat datang masa depan. Dan ia selalu optimis bila semua akan indah pada waktunya.
Begitu pula dengan Arbani Sauqi Salam. Ia merasa berdosa pada Askana. Wanita yang telah ia nikahi. Bukan kebahagian yang ia berikan. Namun luka dan kekecewaan. Ia ingin memperbaiki semua kesalahannya. Semoga wanita tersebut mau kembali padanya lagi. Karena ia yakin, Kana masih sendiri. Begitu pula dengan dirinya yang baru menyadari rasa cinta kepada Kana.
Kadang, cinta datangnya terlambat. Baru menyadari saat kehilangan. Menyakitkan memang. Namun itulah hidup mengajarkan arti perjuangan. Terus bertahan dan berjuang. Sebab kebahagian hanya tercipta bila ada rasa duka. Dan cinta akan ada bila ada rasa rindu. Dan kamu hanya untukku, Benicia Askana.