Hi!
MISSION IN SCHOOL 2
"Segala sesuatu yang terjadi, tidak selalu sesuai dengan apa yang terlihat."
•••••
"Nama korban Gilang Bramantyo, pria, 17 tahun, perkiraan kematian pukul 23.45 WIB. Diduga ini adalah kasus pembunuhan, korban mengalami pendarahan hebat pada perut, kepala, dan punggung." Iptu Pratama menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Daniel. "Siswa yang berhubungan dengan korban dan diduga berada di lokasi ini sedang dalam proses interogasi."
"Paman, bagaimana bisa pelaku meninggalkan jejak di tubuh korban?" tanya Daniel tak mengerti sembari memperhatikan foto luka yang ia pegang.
"Kemungkinan kasus ini sama seperti 3 bulan lalu dengan motif balas dendam pada kalian." Iptu Pratama menghela napasnya pelan.
"Maksudnya?"
"Tulisan yang dibuat pelaku di kaca itu, kamu pasti paham maksudnya. Kalian diincar, kalian diancam, yang berarti target sesungguhnya adalah kamu dan Krystal."
Daniel mengamati kertas yang ia pegang dengan baik, memperhatikan gambar luka korban yang aneh.
Ia sangat sadar, pelaku berusaha memberikan petunjuk. Dan itu berarti, akan ada korban selanjutnya. Tapi Daniel masih belum mengerti, apa motif pelaku melakukan hal ini? Mengapa dia membunuh dan mengancamnya juga Krystal?
Terlihat luka korban berupa garis membentuk silang yang berupa sayatan, menyerupai huruf X. Namun di bagian tengah, luka tersebut cukup dalam, mengakibatkan korban kehilangan banyak darah. Jangan lupakan bahwa korban juga diperkirakan jatuh dari lantai 3, menyebabkan bocornya kepala. Seakan tidak puas dengan hal itu, pelaku juga meninggalkan pisau yang tertancap tepat di punggung korban. Sayangnya, tidak ada sidik jari atau hal yang mencurigakan dari pisau tersebut.
Daniel mengalihkan tatapannya pada lokasi ditemukannya korban, polisi sudah mengevakuasi dan mengamankan tempat tersebut. Sekolah sangat gempar dan ketakutan. Ia yakin kasus ini akan diselidiki lebih lanjut oleh pihak berwajib.
Daniel masih mengamati tempat tersebut dalam diam.
Apa mungkin.... ini ada hubungannya dengan kasus 3 bulan lalu?
***
"Ini kasus baru."
"Udah jelas ini pasti ada kaitannya sama 3 bulan yang lalu."
"Tapi, kenapa Krystal ikut-ikutan diancam? Sedangkan kita semua tahu, kalau dulu yang jadi target sebenarnya adalah Daniel dan Arlan."
"Kira-kira siapa pelaku pembunuhannya?"
"Jangan-jangan Rissa?"
Jessica menampol pelan jidat Allena, "Rissa udah almarhumah, jangan diomongin lagi, didatengin baru tahu rasa lo." Yang ditampol mencebik kesal.
"Apa mungkin pelakunya Raja?" Semuanya menoleh pada Arlan yang menanyakan hal itu. Jessica beralih menatap Krystal yang sedari tadi hanya duduk diam. Bahkan es teh di depannya masih utuh. Zoya buru-buru mengkode Arlan dengan menyenggol kakinya, berbisik bahwa ia tak seharusnya membicarakan mantan Krystal itu.
"Ta, lo oke, kan?" Jessica menyentuh pelan punggung tangan Krystal.
Gadis bermarga Angkasa itu tersadar dari lamunannya, ia tersenyum tipis lantas mengangguk pelan, "Gue nggak papa, kok, Ca."
Krystal tidak sedang baik-baik saja, Jessica dan yang lain tahu hal itu. Namun, mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang pembahasan ini. Biarlah untuk kali ini pihak berwajib yang akan mengurus kasus pembunuhan tersebut, mereka memutuskan untuk tak terlibat.
Pandangan kelima remaja itu teralihkan pada seorang pria yang baru saja memasuki kantin. Dia Nathan, kakinya melangkah mendekati mereka kemudian duduk di samping Allena.
"Lo ngapain di sini?" tanya Allena heran.
"Dipanggil sama Daniel." Nathan mengedarkan pandangannya, "Daniel mana?"
Allena mendengus, seakan mau mengatakan, 'Pacarin aja, tuh, Daniel!'
"Tadi di belakang, sama polisi."
"Tuh, dia!" seru Jessica menunjuk ke arah belakang Nathan. Rupanya Daniel telah selesai dengan urusannya.
"Gimana?" tanya Nathan tepat ketika Daniel duduk di sampingnya.
Daniel sekilas melirik Krystal yang menatap kosong cup es teh yang isinya masih utuh. Ia menghela napas, "Masih diselidiki polisi. Kalian mending pulang aja dulu, gue masih ada urusan sama Paman."
"Lo oke, kan, Niel?" Daniel mengangguk.
Allena beranjak berdiri, "Ya udah, yuk, pulang! Lagian kasus ini udah dipastikan bakalan diselidiki sama pihak kepolisian. Kita gak perlu pusing-pusing mikirin siapa pelakunya." Jessica mengangguk, ikut berdiri bersamaan dengan Arlan dan Zoya.
"Lo gak pulang, Nat?" tanya Allena ketika melihat Nathan masih duduk manis di sampingnya.
"Gue ada urusan sama Paman Pratama."
Bibir Allena mengerucut, "Hm, ya udah, deh."
Nathan berdiri, menepuk bahu Daniel dua kali, "Gue nganterin pacar dulu." Ia menoleh pada Allena, mengulurkan tangannya, "Yuk!"
Arlan memutar mata melihat adegan itu. Apalagi saat Allena menerima uluran tangan Nathan dengan malu-malu.
"Yang punya pacar mah rasanya udah beda," sindir Jessica.
"Dunia serasa milik berdua. Yang lain cuma figuran," timpal Zoya.
Allena tak menghiraukan kicauan di sekitarnya itu. Ia dan Nathan beranjak meninggalkan kantin.
Krystal berdiri, namun tangan Daniel menahannya, "Lo di sini dulu, ada interogasi dari kepolisian."
"Interogasi?"
Daniel mengangguk, "Karena ada nama kita di jendela itu."
Ah, Krystal baru menyadarinya. Ia sejak tadi melamun memikirkan hal itu. Sebenarnya, apa motif pembunuhan ini? Mengapa dia dan Daniel bisa ikut terlibat?
"Gue sama yang lain duluan, ya." Jessica pamit. Gadis itu menoleh pada Arlan dan Zoya, mengkode untuk segera meninggalkan kantin.
"Lo gak papa?" tanya Daniel setelah semuanya pergi. Dari tadi ia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara berdua dengan Krystal. Apalagi ia yakin, Krystal pasti kebingungan dengan semua ini.
"Gue gak ngerti, Niel. Kenapa nama gue sama lo dijadikan ancaman oleh pembunuhnya?" Krystal memilih untuk jujur pada Daniel. Tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari pria itu.
"Gue sama lo udah pasti terlibat dalam kasus ini karena tulisan itu. Bokap lo juga udah tahu. Kemungkinan lo bakal pindah sekolah, Tal."
Krystal membelalakkan matanya. Ia menggeleng keras, "Nggak! Gue gak mau pindah ke mana pun!"
"Trus lo mau apa? Di sini jelas, lo sama gue adalah target selanjutnya. Satu-satunya cara supaya lo aman cuma pindah sekolah."
"Trus lo gimana?" Krystal menatap Daniel tak mengerti. "Lo juga harus pindah, kan, supaya aman?"
Daniel terdiam sejenak, ia menatap Krystal dalam. "Gue ditugaskan untuk tuntaskan kasus ini. Gue masih termasuk bagian dari kepolisian, Tal."
"Tapi gue gak mau pindah, Niel." Suara Krystal melirih. "Gue gak mau pisah sama kalian semua."
"Gue juga tahu itu. Gue juga gak mau lo pindah." Daniel menghela napasnya. "Tapi bokap lo gak akan diam aja ketika tahu anaknya terancam."
"Gue tahu, gue terlibat dalam kasus ini karena tulisan di kaca jendela itu. Artinya, gue juga target selanjutnya." Krystal menatap Daniel penuh arti. "Sebisa mungkin gue bakal yakinin Ayah dan gue ikut menemukan siapa dalang di balik semua ini."
"Itu bisa bahaya buat lo, Tal. Kasus ini lebih berat daripada kasus Rissa."
"Gue ngerti itu, tapi gue gak bisa diem aja diancam kayak gini. Gue juga harus tahu, siapa yang udah jadiin gue sebagai target. Gue harus tahu alasan kenapa gue yang jadi target kali ini." Krystal tetap keras kepala. Dia tak bisa diam begitu saja sedangkan Daniel harus mencari tahu siapa pembunuh yang sebenarnya.
"Lo masih berada di bawah pengawasan gue, Tal. Jangan lupa kalau gue adalah bodyguard lo."
Krystal mengangguk. "Itu artinya, gue majikan lo, kan? Jadi, lo gak bisa menentang keputusan yang gue buat sendiri untuk ikut mencari siapa pembunuh yang sebenarnya. Itu juga hak gue, Niel."
Daniel pasrah. Ia melirik jam tangan yang digunakannya. Pukul 10.00 WIB. Lalu ia menatap Krystal, "Oke, tapi janji sama gue lo gak akan bergerak sendirian. Kalau ada yang mencurigakan di sekitar lo, segera hubungi gue." Daniel menjeda kalimatnya sesaat. "Gue juga akan bantu ngomongin ini ke bokap lo."
Krystal tersenyum. "Jadi, sekarang gue harus apa?"
"Lo ikut gue. Paman pasti udah nungguin dari tadi buat interogasi."
***
To be continued ....