Quila mengusap matanya beberapa kali sambil menatap lembaran rancangan yang memang sejak tadi digelutinya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Malam masih sangat panjang untuknya agar menyelesaikan pekerjaan ini.
Beberapa menit yang lalu Hugh dan Oliv baru saja meninggalkan lantai ini. Kedua rekan kerjanya juga mengerjakan sesuatu yang membuat mereka berdua ikut lembur. Tetapi sepertinya tidak selembur Quila tentu saja.
Sedangkan boss besar ? Tentu saja pria itu sudah pulang sejak pukul lima tadi sore. Pria itu melenggang pergi tanpa menatap Quila sedikitpun. Seperti seseorang yang tidak saling mengenal.
Hal itu sangat disyukuri oleh Quila karena Quila tidak ingin sampai Ares tau jika kedua matanya bengkak karena habis menangis.
Quila tidak ingin sampai ketahuan menangis hanya karena kemarahan pria itu. Sialan egonya selalu harus menang di atas segalanya.
Yeah, sebentar lagi pasti akan selesai.
Quila mengetikkan sesuatu di ponselnya, pesan untuk Akhza. Pria itu tidak tau jika hari ini Quila sedang lembur dan mengerjakan beberapa pekerjaan. Jadi lebih baik Quila mengirimkan pesan pada kakaknya itu.
Langkah kaki seseorang membuat Quila menoleh dan menemukan Ares yang terlihat terkejut dengan kehadiran Quila.
Seharusnya Quila yang merasa terkejut pria itu kembali ke kantor jam segini. Tetapi kenapa malah kebalik ? Quila mau tidak mau berdiri dan memberikan hormat ke Ares.
"Ada yang bisa saya bantu, Mr. Alfarell ?" ucap Quila yang menyadarkan Ares tadi keterkejutannya. Pria itu berdehem sebentar seperti berusaha menjernihkan tenggorokkannya.
"Kau belum pulang ?" pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Ares bukannya jawaban dari pertanyaan Quila. Selalu mengabaikan segala hal menurut pria itu tidak penting.
"Ya, seperti yang Anda lihat" jawab Quila. Ares melihat jam yang melingkar di tangannya dan Quila mendengar helaan nafas kasar dari Ares. Pria itu terlihat gusar entah karena apa.
"Ada barang yang kutinggalkan. Kau pulang saja dulu" ucap Ares sambil masuk ke dalam ruangannya itu.
Quila mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Ares. Seakan pria itu mengatakan jika Quila akan menunggunya. Memang siapa yang akan menunggu pria itu ?
Quila menghela nafas pelan dan memilih melanjutkan pekerjaannya. Jika pekerjaan ini di bawa pulang. Bisa-bisa Quila akan tidur bukannya mengerjakannya. Setidaknya sebentar lagi akan selesai, jadi lebih baik selesaikan terlebih dahulu.
Lima belas menit kemudian Quila masih berkutat dengan pekerjaannya. Hingga pintu ruangan Ares kembali terbuka dan memunculkan pria itu yang keluar dengan menatap sekilas Quila sebelum melengos.
"Pukul delapan malam kantor akan dimatikan. Segeralah pulang" ucap Ares sambil pergi.
Quila menatap jam di mejanya. Dengan cepat Quila membereskan beberapa barangnya. Membayangkan jika dirinya terkunci di sini dengan suasana gelap membuat Quila bergidik ngeri.
Sialan Ares bahkan meninggalkannya setelah mengatakan hal yang sukses membuat Quila merasa takut dan panik.
*_*_*
Gagal
Hanya satu kata itu yang terngiang di pikiran Quila. Setelah keluar dari ruang pertemuan Quila hanya diam tak mengatakan apapun.
Inilah yang diterimanya setelah semalaman Quila begadang. Sialan! Quila ingin sekali menangis tapi Quila berusaha menahannya sekuat tenaga.
Oliv berdiri ketika melihat Quila mendekati mereka. Oliv tadi pagi memberikan semangat 45 untuk Quila sebelum perempuan itu berjalan menuju ruang rapat.
"Bagaimana ?" tanya Oliv dengan senyum merekahnya. Quila menggelengkan kepalanya dan tersenyum lemah. Senyuman Oliv luntur ketika mendengarkan hal itu dan membuat perempuan itu maju.
Perempuan itu cukup tau apa arti dari respon Quila. Memang sesama perempuan lebih saling mengerti satu sama lainnya.
"Gagal hal biasa bukan ? Kau tenang saja" ucap Oliv menghibur Quila yang terlihat murung itu.
Ucapan Oliv sama sekali tidak mengubah suasana hati Quila, Karena Quila tau jika hal ini tidak bisa dikatakan biasa. Mungkin saja ini adalah hari terakhirnya untuk berada di sini.
Oliv ingin memeluk Quila dan menyalurkan semangat lagi. Namun Ares baru saja keluar dari ruangan pertemuan dan berjalan mendekati mereka. Tentu saja dengan wajah garangnya bukan wajah penuh kelembutan.
"Quila ke ruangan saya sekarang" ucap Ares sambil masuk ke dalam ruangannya.
Quila menguatkan hatinya sebelum ikut masuk. Oliv dan Hugh hanya diam saja tak mampu melakukan apapun.
Ares duduk di kursi kebesarannya dengan wajah dinginnya. Quila berjalan mendekati meja Ares dengan perlahan hingga berdiri di depan pria itu.
"Ada pembelaan?" itulah ucapan yang keluar dari mulut Ares dengan menatap Quila tajam.
"Tidak ada. Saya akan menepati janji untuk mundur dari perusahaan karena kesalahan saya ini. Maafkan saya" ucap Quila sambil membungkukkan tubuhnya.
"Karena hal ini Rich Company lebih memilih rancangan saingan kita. Memang kau tau berapa kerugian yang kita dapatkan ? Kau pikir dengan kau mundur dari perusahaan ini bisa membayar kerugian itu, Nona Quila ?"
Quila menggenggam kedua tangannya. Berusaha tetap berdiri dengan tegak dan tidak jatuh ke lantai. Kepalanya sangat pening menghadapi semua ini.
Quila sangat tau jika kerugian yang dimaksud bukanlah uang yang kecil. Persaingan perusahaan besar selalu memberikan kerugian besar untuk pihak yang kalah.
"Saya akan berusaha membayar kerugian itu" Ucap Quila dengan suara bergetarnya.
"Cih apa yang akan kau lakukan ? Menjual dirimu hm ?"
Perkataan Ares membuat Quila yang awalnya menunduk langsung mendongakkan kepalanya. Ucapan Ares sangat menampar harga diri Quila.
Setidaknya jika memang harus membayar ganti rugi yang sangat besar bukan cara itu yang dipikirkan Quila.
Menjual diri ?
"Oh bagaimana jika begini saja. Jual saja dirimu padaku dan aku akan menganggap semuanya selesai" ucap Ares dengan senyuman merendah itu.
Quila mengepal tangannya karena amarah. Ucapan Ares sukses sekali menggores hati Quila. Memberikan sayatan yang sangat dalam dan menyakitkan.
"Itu tawaran yang menarik bukan ?" ucap Ares kemudian.
Quila tertawa sumbang. Kesesakan yang ada di d**a Quila yang memberikan efek tertawa sumbang. Tangisannya sudah tidak dapat keluar karena rasa sesak itu.
"Jika saya harus melunasi hutang dengan menjual diri. Saya tidak akan bodoh menjual diri pada Anda. Saya akan menjajahkan diri saya pada siapapun asalkan bukan Anda" balas Quila yang sukses membuat Ares terbungkam.
"Surat pengunduran diri saya akan ada di atas meja Anda besok pagi. Saya permisi" ucap Quila sambil meninggalkan ruangan itu.
Sialan! Mulutnya lagi!
Kenapa mulutnya itu tidak bisa diam sama sekali! Melihat tatapan terluka yang dilayangkan Quila kepadanya.
Tangan Ares langsung saja mendorong semua barang yang ada di atas meja kerjanya sampai suara pecahan terdengar begitu keras.
Semua hancur tanpa sisa begitupun laptop kerja Ares. Kedua tangan pria itu terlihat berdarah karena pecahan kaca.
"Apa yang baru saja kau ucapkan, Ares!" Erang Ares sambil menarik rambutnya kasar.