Malam semakin gelap, tak ada satupun penerangan yang menyelimuti kami selain sinar bulan yang menggantung di atas langit itu. Kami saling terdiam, tak ada satupun pembicaraan yang kami lakukan dan tak ada satupun yang mengawalinya. Kedua pandangku kini menatap Cassandra yang sudah terlelap dengan posisi tubuh yang diikat pada batang pohon agar tidak terjatuh, posisinya sama seperti posisiku dan Rason.
Terduduk dan diikat dibatang pohon itu.
Diawal aku juga sempat merasa bingung ketika Rason mengikat tubuhku dengan tali itu pada batang pohon besar ini, namun ketika melihat Cassandra yang juga diikat dan dia mengikat dirinya sendiri disana, pada akhirnya aku memahaminya, tali ini berfungsi untuk menjaga kami agar tidak terjatuh ketika kami tengah tertidur.
RRraaaaaaaakkkkkkk
Kualihkan pandanganku dengan singkat ke arah suara yang berasal dari bawah sana, geraman yang cukup menakutkan membuatku akhirnya lebih memilih untuk menutup kedua mata dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendengarkan geraman mereka yang tengah mencari mangsa empuk di bawah sana.
Satu hal yang baru kupelajari dari Rason, ia mengatakan bahwa Malea tidak dapat memanjat Pohon dan mereka juga tidak pernah mendongakkan kepala mereka keatas, karena mereka tidak dapat leluasa melakukannya. Rason mengatakan padaku bahwa jika malea mendongak ke atas maka akan sulit bagi mereka untuk memposisikan kepala mereka seperti awal, karena kedua mata mereka yang besar itu sangatlah berat dan mungkin karena leher mereka yang juga kecil-lah penyebab mereka tidak dapat melakukannya. Pada awal mendengar perkataan itu aku tertawa dan menganggap bahwa itu adalah lelucon yang bagus, namun setelah dipikirkan kembali itu juga masuk kedalam informasi penting yang hebat.
…
Pandanganku gelap ketika kututup kedua mataku, pandangan gelap itu kini tergantikan oleh ribuan butir cahaya silau yang berlalu dengan begitu cepat melewatiku, cahaya kuning, putih, pink, biru.. seluruh cahaya itu terasa amat lembut namun sensasinya sangatlah menyenangkan dan menegangkan seolah aku terjatuh dan masuk ke dalam lubang hitam yang penuh dengan ribuan bintang yang tersesat.
Perasaan jatuh itu membuat pendengaranku terhadap geraman yang menakutkan dari Malea kian kemari berubah menjadi tangisan serta jeritan pilu yang menyayat hati. Yang pada akhirnya membuatku memutuskan untuk membuka kedua mata dan kudapati diriku tengah berdiri diantara mayat-mayat bergelimpangan dengan orang-orang yang tengah menangisinya.
Tubuhku praktis membeku menatapnya, nafasku menjadi memburu kala melihat mereka-mereka yang tergeletak tanpa nyawa, darah serta potongan daging berceceran memenuhi jalanan yang kini kupijaki. Tak ada yang dapat kulakukan selain terdiam kaku diantara mereka yang menangisi orang terkasihnya yang telah pergi secara mengenaskan.
“k.. ke.. kenapa mereka?” gumamku tergugup “Motremus, mereka melakukannya lagi” kini kupandangi ia, lelaki bermata biru dengan topi hitam itu kini tengah menggelengkan kepalanya melihat keadaan ini. Pandangku kini teralihkan pada langit hitam yang menghalangi mentari, tidak separuhnya, namun aku melihat seluruh langit itu benar-benar hitam kelabu.
“apa yang mereka lakukan?” tanyaku seraya mengimbangi langkahnya yang kala itu mulai melangkah meninggalkan tempat yang cukup menyedihkan tersebut “mereka memerlukan sebuah wadah, mereka merasuki orang-orang itu satu persatu” kukernyitkan dahiku tidak mengerti dengan apa yang telah ia jelaskan “maaf, tapi aku tidak dapat mencerna ucapanmu. Apa yang kau maksud dengan merasuki?” kutatap ia yang kini menoleh kearahku dan menepuk bahuku “jumlah Motremus tidaklah sedikit, mereka mencapai ribuan! mereka merasuki orang-orang itu secara bersamaan. Satu tubuh untuk beribu motremus, bila tubuh itu dinyatakan tidak cocok maka mereka akan membunuhnya dari dalam, hingga tubuh itu meledak karenanya dan berakhir seperti jasad yang kau lihat tadi, Adrea” kali ini penjelasan yang amat panjang itu mampu membuatku menahan nafas karena kengeriannya,tenggorokanku terasa tercekat dan kepalaku menjadi sakit setelah menangkap seluruh penjelasan mengenai wadah yang tengah mereka cari.
GLAAARRRR
“!!!” kubuka kedua mataku setelah mendengar suara kilat yang menggelegar dengan begitu kencangnya, nafasku seketika memburu karena terkejut “kau baik?” sebuah pertanyaan yang membuatku menoleh kearah Rason yang masih terbangun diujung sana, duduk di samping Cassandra yang sudah terlelap sedari tadi “hh.. yah” jawabku singkat, ya… aku merasa bahwa mimpi itu semakin menjadi jelas dan aku menjadi sedikit ragu karenanya. Mimpi itu perlahan memberikanku informasi mengenai makhluk yang bernama Motremus, makhluk hitam yang melayang-layang yang terus memanggilku di dalam mimpiku saat itu.
…
Ketika malam tergantikan oleh mentari pagi dan ketika Rason memastikan bahwa Malea sudah tidak lagi berada di bawah kami, maka saat itu pula kami melanjutkan langkah kami setelah sebelumnya kami melakukan ritual berupa sarapan pagi dengan sepotong roti.
Kembali berjalan menerobos semak, dahan dan rerumputan yang menjulang tinggi.
Kutendang dengan perlahan bebatuan yang menghalangi langkahku disisir sungai yang kami lewati saat ini, sejenak kami duduk-duduk di sana untuk mengistirahatkan diri dan sekedar membasuh wajah kami dan akhirnya kembali melangkah melanjutkan rute kami menuju Valles.
Hujan turun dengan lebatnya, membuat kami segera berlari dan berlindung dibawah pohon hingga derasan hujan itu tergantikan oleh rintikan lembut yang membasahi bumi. Pepohonan yang tumbuh di sana, semak, tanah bahkan kami yang tengah berlindung di bawah pohon yang besar pun terkena tetesan hujannya di siang hari. Kuhelakan nafasku dan kembali berfikir mengenai berapa lama aku tertidur hingga bumi yang tadinya dipenuh sesaki oleh gedung-gedung pencakar langit kini dikuasai kembali oleh lebatnya pepohonan hijau dan rerumputan liar yang sempat kutemui dan tingginya bukan main.
“apa yang kau lamunkan?” sebuah ucapan yang sempat membuyarkan lamunanku itu membuatku menoleh kearah Cassandra yang ternyata sudah terduduk disampingku dan memberikan sebuah akar umbi padaku “… apa ini?” tanyaku menatap akar umbi yang telah dibakar itu dan beralih menarapnya sempat menyerahkan akar tersebut dan kini beranjak untuk memberikan hal yang serupa pada Rason “makanlah, ini makan siang kita” jawabnya, kukerutkan keningku seraya menatap akar umbi tersebut.
“ini bukan ubi dan kentang, akar apa ini?” kutolehkan pandangku menatap Cassandra yang tersenyum “ini adalah akar dari pohon sagu” jelasnya “makanlah, ini lezat. Kau harus mencobanya” kini kedua pandangku beralih menatap Rason yang baru saja berucap seraya mengunyah akar tersebut. Pandangku kini kembali menatap akar tersebut, awalnya perasaan ragu menggerayangi hatiku, mengingat obat racikan Cassandra yang amisnya bukan main saat itu membuatku menjadi waspada terhadap apa yang dia berikan padaku. Namun mencoba hal baru tidaklah selalu buruk hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencobanya, akar berbentuk wortel dengan rasa yang nyaris sama seperti ubi jalar, meski tidak terlalu manis dan juga tidak terlalu hambar. Setelah merasakan rasanya, pada akhirnya kuputuskan akar ini cukup lezat hingga dapat mengurangi rasa laparku.
“bagaimana??” kulirik Cassandra yang menatapku dengan pandangan berbinar, seolah meminta jawaban yang bagus dariku hingga akhinya aku tersenyum dan mengatakan bahwa akar ini sangatlah lezat yang akhirnya membuat dia bereaksi sangat kegirangan mendengar ucapanku.
Aku tersenyum kala kutatap Cassandra yang tersenyum lebar saat berbincang dengan Rason, ia nampak seperti gadis manis yang sangat ceria. Aku menilai bahwa anak ini adalah anak yang polos dengan pengetahuan yang bahkan melebihi dari pengetahuanku mengenai obat-obatan serta makanan, dia adalah gadis yang cerdas. Senyuman yang selalu ia pasang seperti saat ini membuatku tersadar bahwa siapapun yang melihat senyuman indah itu pasti akan jatuh cinta setelahnya, itulah yang aku rasakan saat ini.. dia begitu manis.
“apakah hobimu itu melamun, Adrea?” sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Rason yang kini menyadarkanku bahwa saat ini mereka berdua tengah menatapku “a..aku hanya sedang berfikir” jelasku sedikit tergagap, Rason menghampiriku dan membuatku menatapnya yang kini berdiri tepat dihadapanku seraya melipat kedua tangan di depan dadanya “kalau begitu, hal apa yang kau pikirkan saat ini?” tanyanya yang membuatku gelagapan bukan kepayang berusaha untuk mencari alasan lagi untuk mengelak dari pertanyaan yang dipanjangkan dari alasanku sendiri.
“a…i… itu..-
Kedua mataku kini menatapnya yang terkekeh di hadapanku, aku yakin bahwa ia hanya menggodaku saat ini dengan bukti bahwa kini ia berjalan kembali ke tempatnya dan terduduk di sana seraya menggelengkan kepala. Membuatku memberenggut cukup kesal padanya, menghiraukan Cassandra yang terkikik pelan melihat ulah kami berdua saat itu. Hujan siang itu mereda, membuat kami memutuskan untuk kembali memulai perjalanan menuju Valles, lokasi yang lumayan dekat dari rumahku.
…