Pagi ini terasa amat dingin bagiku, hingga rasanya aku menggigil kecil dan bibirku terasa bergetar, berkali-kali kuusap dan kupeluk tubuhku sendiri berusaha untuk menghangatkan diri “kau baik?” tanya Rason menoleh kearahku yang berjalan beriringan dengannya, dan Cassandra yang saat itu tengah memetik beberapa Berry pun menghampiri kami “aku hanya merasa sedikit menggigil, tapi tak apa… kita bisa melanjutkannya!” ucapku menatap mereka berdua dan tersenyum.
Kutatap Rason yang kini membuka jaket yang ia kenakan dan memakaikan jaket itu padaku seraya berucap “jika sudah lelah katakan, maka kita akan beristirahat sebentar” kuanggukan kepalaku mengerti dengan maksudnya dan kami mulai meninggalkan sungai indah ini untuk melanjutkan perjalanan kami.
…
Kembali berjalan melewati rerumputan yang menjulang tinggi serta semak berduri. Kami berjalan dan terus berjalan, meski aku merasakan lelah namun aku menyembunyikan rasa itu mengingat sudah lebih lebih dari tiga kali kami beristirahat karenaku.
Tidak… keputusanku karena menyembunyikan perasaan lelahku tidaklah baik, aku merasa tubuhku tumbang dan seketika tidak dapat mempertahankan kesadaranku lagi.
Kurasakan tubuhku terombang-ambing, bukan oleh laut… namun aku terombang-ambing oleh angin yang kini kurasakan mengangkat tubuhku yang lemas ini… mengangkat tubuhku ke atas langit yang begitu gelap gulita.
“Huc..(kemarilah)...”
Bisikan yang terdengar perlahan, kini kian menjadi jelas. Kudengar mereka seperti berteriak dikejauhan sana hingga layaknya berbisik ditelingaku saat ini.
“Adrea, Huc(kemarilah)”
Suara itu selalu terdengar olehku ketika kudapati mereka, Motremus yang menari-nari di angkasa sana. Mereka mengajak diriku seolah akulah yang mereka butuhkan. Kutatap lelaki bermata biru, bertopi hitam itu tengah berbincang dengan beberapa orang di sana, hingga aku memberanikan diri untuk mendekat dan berbincang dengannya mengenai hal yang kurasakan dan kudengar.
“mereka menginginkanku” ucapku seraya menatap lelaki itu yang kini menoleh padaku “Adrea? Apa maksudmu?” tanyanya, kini beberapa orang yang ada di sana menatapku dengan tatapan yang sama seperti lelaki bermata biru itu padaku “motremus, kurasa akulah tubuh yang mereka inginkan” jelasku kala itu menghasilkan gelengan dari kepalanya serta tatapan tak percaya dari mereka semua, seolah mereka menganggap bahwa aku sudah gila karenanya “kurasa kau tengah tertekan saat ini, tenanglah… kami tengah mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini” ucap pemuda lain yang menatapku dan diberikan anggukan oleh yang lainnya termaksud lelaki bertopi itu, kugelengkan kepalaku dengan cepat “tidak! Aku mendengar mereka memanggilku, mereka jelas memanggilku!” terangku “kau gila?! apa yang kau katakan??” bentakannya membuat semua orang yang ada di sana menatap kami, tak satupun dari mereka melepaskan pandangnya dari kami berdua… seolah menunggu apa yang hendak kuucapkan, hingga akhirnya kuucapkan lagi.
“mereka memanggilku berulang kali, mereka mengatakan bahwa aku adalah wadah mereka” tak ada sedikitpun persiapan yang kulakukan hingga tubuhku dengan cepat terdorong dan beradu dengan tembok dinding ruangan itu, kedua mataku menatapnya. Menatap mata biru nan indah dari lelaki yang baru saja mendorongku itu “tidak ada yang mengatakannya, dan jangan mengada-ada Adrea!!!” sentakannya begitu keras padaku hingga aku dengan jelas dapat melihat segurat kemarahan yang terlihat di kedua matanya dan akhirnya aku meminta maaf karena ucapanku yang membuatnya marah padaku
…
…
Aku terbaring di matras keras itu, namun tubuhku dan otakku singkron tidak menginginkan beristirahat barang sedikitpun karena rasa penasaranku terhadap mereka. Apakah benar bahwa akulah yang mereka inginkan? Itulah pertanyaan yang menghantuiku hingga akhirnya aku beranjak dari sana dan pergi secara diam-diam dari mereka yang terlelap.
Dinginnya udara pagi serta terbatasnya pandangan karena tertutupi kabut kala itu sama sekali tak mengurungkan niatku untuk kembali masuk ke dalam gedung persembunyian kami, aku berjalan diantara dua gedung yang kini sudah tidak begitu kokoh lagi.
Kupandangi gumpalan hitam kelam yang saat itu tepat berada di langit hadapanku “Motremus!!! akulah orang yang kalian cari!” aku berteriak cukup kencang hingga kutatap awan hitam itu kini bergerak-gerak dan menghasilkan gemuruh serta angin yang cukup kencang di sana “Adrea, Stop!!”
BRUGHT!!!
Aku merasakan limbung dan terjatuh dengan keras, kutatap lelaki bermata biru itu menatapku dengan lekat “jangan pergi, jangan tinggalkan aku” bisiknya, suara gemuruh semakin terdengar keras hingga kutatap motremus keluar dari awan itu. Tubuhku tertarik dan langkahku terbawa oleh langkahnya yang membawaku ke dalam salah satu gedung itu, aku bersandar diantara pojokan ruangan gelap.
Pandanganku kini menatap wajahnya yang terlihat amat panik, kedua tangannya yang tengah menggenggam bahuku saat itu pun bergetar “kenapa kau melakukannya?” tanyaku “aku tidak ingin kau pergi!” kukerutkan keningku ketika mendengar jawabannya “aku hanya akan ma..- ucapanku terhenti ketika aku akhirnya mengerti dengan apa yang ia maksud “kau mengetahuinya? Kau tau bahwa aku adalah wadahnya?!” kutatap ia yang kini terdiam dihadapanku, tidak berbicara sama sekali dan memilih untuk menghela nafas serta menundukkan kepalanya “katakan padaku bila kau mengetahuinya, Santos!” bentakku padanya dengan cukup keras “ya!! aku mengetahuinya dari awal, aku tau semuanya! Dan aku tidak mau menyerahkanmu pada mereka, adrea” kepalaku menjadi panas mengingatnya, pada mereka… orang-orang yang mati karenaku, hanya karenaku “kenapa?? kenapa kau menyembunyikanku?! seharusnya kau menyerahkanku agar ini semua tidak terjadi!” kutatap kedua matanya yang kini menatapku dengan sendu, sangat sedih dan sangat takut akan kehilanganku “karena aku mencintaimu dan aku tak mau kehilanganmu… tak ada lagi yang kupunya selain dirimu!” aku tertegun mendengarnya, kedua bahuku terasa sakit kala ia meremasnya dengan kuat, seolah tidak ingin melepaskanku “tapi kau kakakku” sambungku, dia terdiam menunduk dihadapanku seolah ucapannya sangatlah tabu.
…
Cahaya yang begitu menyilaukan datang seolah waktu berjalan dengan begitu cepat, semua negeri benar-benar hancur, semua orang nyaris mati dan ketakutan.
Kini aku benar-benar memutuskan untuk melakukannya, aku berdiri diatas perahu kecil ditengah danau yang hampir membeku karena pergantian cuaca yang ekstreem akan segera datang. Kedua mataku kini menatap kearah Santos dan Irene yang berlari kearahku dari bukit sana, mereka dicegah oleh beberapa orang yang mau membantu dan sepakat merelakanku untuk menghentikan kekacauan ini. Pandangku teralih menatap ribuan mahkluk yang kukenal sebagai motremus kini melayang atau lebih tepatnya melesat menghampiriku.
“mereka akan menghampiriku, mereka membutuhkanku untuk tetap ada, maka aku akan membunuh mereka bersamaan dengan diriku sendiri” itulah bayangan yang kuingat ketika aku berbincang di dalam ruangan bersamaan dengan orang-orang yang menyetujui kesepakatanku, tanpa adanya Santos dan Irene saat itu.
Kupejamkan mata dan melompat kearah belakang bersamaan dengan pemberat yang kulilit ditubuhku yang berguna menenggelamkan diriku, aku masuk ke dalam air yang perlahan mulai membeku. Aku tenggelam dengan sangat cepat karena pemberat yang kupakai sangatlah efektif mempercepatnya menuju dasar yang paling dalam dari danau itu. Kubuka kedua mataku dan mendapati ribuan motremus kini masuk ke dalam air ini, mengikutiku tenggelam ke dasar danau gelap itu. Tangan-tangan mereka yang hanya menyisakan tulang benulang yang kini terulur hendak meraihku, namun… suhu yang berubah di sana praktis membekukan kami semua yang tenggelam di danau itu.
“ADREAAAAA!!!!!”
Suara terakhir yang kudengar ialah suara panggilan darinya untukku, dari kakakku… Santos.
…
“!!!!! aaaaah!!” kuhirup banyak-banyak udara, panik seolah tidak dapat menghirupnya “hei, hei!! bernafaslah adrea!!” sebuah suara menginterupsi kepanikanku dan perlahan kuhembuskan nafasku dengan cepat dan kutatap Rason menggenggam kedua bahuku di sana dengan wajah paniknya, nafasku mulai teratur dan kusadari aku tergeletak diatas tanah bersamaan dengan Rason yang duduk disampingku “hah… a..apa yang terjadih?” tanyaku terduduk dengan lemas, nafasku masih memburu “kau pingsan dan mengigau lalu tubuhmu mengejang dan tidak bernafas selama satu menit, tapi untunglah ka Rason bisa melakukan CPR” pandangku teralih menatap Cassandra yang kini memberikanku sebotol air yang akhirnya kuminum.
Aku terdiam dan mengulurkan kakiku kedepan, kedua pandangku kini bertemu dengan kedua mata Rason yang ternyata menatapku “terima kasih” ucapku dan dia mengangguk seraya berdiri dari sana “ sudah semestinya aku menolongmu” ucapnya seraya bangkit dan berjalan sedikit menjauhiku dan Cassandra di sana.
“ini sudah terlalu sore untuk kita melanjutkan perjalanan, kurasa kita akan kembali beristirahat diatas pohon… kali ini kita tidur di sini” kuanggukan kepalaku mengiakan saran Rason dan meskipun aku menjadi sedikit canggung padanya… entah karena kata CPR itu atau karena aku merasa tidak enak padanya yang kerepotan mengantar dan mengurusiku.
…