Pandanganku tertuju pada semak-semak yang bergerak dengan cepat, nafasku menjadi tak terkontrol merasakan hawa dingin yang berganti secara tiba-tiba
“KRAAAAAAAAKKKKK!!!!!”
DARR!!!
“Sial, mereka datang!” rutukku seraya memasukan peluru dan bersiap untuk menembaki mereka yang datang.
ZRAAATTT!
DARR!!
DARR!!
Tanpa jeda, tak ada sama sekali kesempatan kami untuk berlari. Malea datang tiada henti layaknya rintikan hujan yang turun untuk membasahi satu wilayah saja di bumi. Kembali ku lepaskan tembakan yang mampu melubangi kepala mereka para Makhluk menjijikan itu. sama halnya dengan Rason dan Cassandra, kami sibuk satu sama lain tanpa bisa sedikitpun beristirahat.
DARR!!
Tembakan terakhir yang dikeluarkan Rason menghentikan kami, kutatap ia yang kini menarik tangan kami seraya berlari meninggalkan tempat itu setelah dirasa bahwa itu adalah kesempatan kami untuk segera bersembunyi.
Ranting, semak dan lumpur kami lewati dengan panik menerobos masuk kedalamnya tanpa memerdulikan beberapa duri semak yang menyayat kulit-kulit yang tak tertutupi kain, menimbulkan goresan yang tak kentara namun amat menyakitkan. Terus berlari cukup jauh dan segera mencari tempat yang tepat untuk bersembunyi, nafasku menderu begitu hebat ketika perasaan panik mulai menggerayangiku lagi, hingga akhirnya kembali lenganku tertarik dan tubuhku terperosok masuk ke dalam lumpur dengan posisi tubuh kami saat ini bersembunyi diantara ilalang yang menjulang tinggi. Kepalaku tertekan kebawah guna menyembunyikannya dalam-dalam agar tak terlihat “ini tempat yang aman” kulirik Rasonlah pelaku yang menekan kepalaku itu, belum sempat akan merutuk karena kesal seluruh kataku lenyap seketika saat menatap ia yang memelukku dan adiknya dengan amat erat, hingga dapat sekali kulihat dan kurasakan bahwa lengannya bergetar seolah enggan untuk melepaskan kami. Saat itupun aku menyadari akan satu hal. Bahwa dia saat ini tengah berusaha melindungi kami dari mereka.
Posisi kami saat ini lebih tepatnya tengah berbaring didalam lumpur antara ilalang yang menjulang, bersembunyi dari Malea yang mungkin saja datang tanpa terduga setelah mendengar letupan senjata berkali-kali yang sempat kami keluarkan tadi. Kami terdiam tanpa ada satupun suara yang kami keluarkan, hingga akhirnya sekitar 30-40 menit kami memutuskan untuk mengecek keadaan.
“biarkan aku yang mengecek kondisi sekitar” kuanggukan kepalaku pelan ketika Rason bangkit dari sana dan menoleh kearah sekitar, matanya menelik dengan amat teliti, begitu pula dengan kedua tangannya yang senantiasa bersiap menggenggam senjata apabila Malea datang.
Perasaanku berubah menjadi tenang kala Rason berkata “ayo! Mereka tidak ada” hingga aku maupun Cassandra segera bangkit dari lumpur tersebut dan menjauhi ilalang yang menjulang tinggi yang setidaknya telah banyak membantu kami untuk bersembunyi.
Aku berlari bersama dengan mereka, kutatap lengan kananku yang senantiasa digenggam olehnya yang menuntunku dan Cassandra kearah yang semestinya. Kurasakan genggaman itu sangatlah kuat, hingga aku kembali menyadari bahwa aku pernah mengalami ini semua, perasaan ketika aku ketakukan karena sesuatu mengejar ku, dan seseorang atau lebih tepatnya kakakku Santos lah yang menggenggam lenganku saat itu. Perasaan yang membuat jantungku berdebar dengan hebat dan nafas yang memburu dengan cepat. Dan pada akhirnya kami lolos dari kejaran Malea saat itu.
…
Malam ini tidak kurasakan hawa dingin yang datang serta angin malam yang berhembus sekali pun tak kurasakan, namun kesunyian ini terasa amat mencekam hingga rasanya berbincang untuk mencairkan suasana pun enggan untuk kulakukan. Aku termenung menatap helaian daun yang terjatuh dari tangkainya. Kutatap pula burung malam yang kala itu juga menatapku dengan amat tajam, seolah mengatakan bahwa tempat yang kami pijaki saat ini adalah tempatnya. Keheningan yang sedari tadi menyelimuti kami pun akhirnya pecah saat Rason bertanya “jadi.. itu benar?” kualihkan pandangku untuk menatapnya yang saat ini beralih menatap cahaya rembulan yang bersinar di atas sana.
Kukerutkan keningku menandakan bahwa aku kurang faham dengan apa yang ia tanyakan, dan sedetik menolehku, dia mengerti dengan rautku yang seperti itu hingga ia kembali menjelaskannya “kau… tertidur selama itu dan kau menyaksikan Motremus dengan mata kepalamu sendiri” ku katupkan kedua bibirku setelah mengerti ke arah mana pembicaraan kami saat ini “aku rasa” jawabku dengan sedikit ragu “kau rasa??” kembali kutatap ia yang kini mengerenyitkan dahinya merasa tidak puas dengan jawaban yang kuberikan.
Kuhela nafasku dengan dalam sebelum akhirnya kembali menerangkan “entahlah! Ketika aku terbangun, ingatanku menghilang seluruhnya hingga nama sendiri pun aku tidak mengingatnya. Tapi mimpi itu selalu datang dan kian menjadi jelas, seperti ..- aku terdiam berusaha untuk menemukan kata-kata yang tepat yang dapat membuatnya mengerti “seperti potongan-potongan memori yang datang?” kedua mataku kini menatapnya yang berucap, kuanggukan kepalaku untuk menyetujui bahwa kata tersebutlah yang cocok untuk menggambarkannya. “dan asal kau tau saja, aku merasa bahwa itu seperti hal yang amat nyata” ya… ketika aku mengalami mimpi itu, jantungku semakin berdegub saat ketakutan menyelimutiku di mimpi itu. Seolah tubuh dan otakku menerimanya sebagai memori kenyataan yang amat menakutkan.
“...” pandanganku kini menatapnya yang menghela nafas di sana, entah apa yang ia fikirkan mengenai ucapanku ini yang jelas aku tidak mempermasalahkannya. Karena percaya ataupun tidak setidaknya aku sudah menjelaskan apa yang kualami dengan sejujur-jujurnya.
Kesunyian kembali datang menyelimuti kami, baik aku maupun Rason tidak lagi memiliki topik untuk dijadikan perbincangan saat ini, akhirnya kupeluk erat kedua kakiku seraya menatap terangnya rembulan yang kala itu menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan malam. Hanya itu yang dapat kulakukan, melihat sinarnya rembulan. Namun, kudapati cahaya itu kian meredup saat awan datang dan perlahan menutupinya. Sepercik harapan kembali datang begitu saja, berharap bahwa Minor dan orang-orang di sana selamat, berharap bahwa mereka akan menyambutku dengan penuh haru dan kami akan melakukan aktivitas seperti biasanya serta merta meninggalkan memori buruk yang telah menimpa kami semua. Bagaikan badai yang menerpa dan menghilang dikemudian hari yang hanya menyisakan indahnya pelangi yang kekal abadi.
Perasaan rindu seketika menggerayangi hatiku, Aku merasa bahwa aku amat merindukan mereka, merindukan ketika kami berkumpul bersama-sama didepan perapian, merindukan ketika kami saling menertawai tingkah bodoh kami yang kala itu membetulkan pipa air hingga tubuh kami dikotori oleh banyaknya lumpur, aku merindukan mereka para orang tua yang memelukku dengan hangat dan mengelus-elus kepalaku guna menenangkanku, aku merindukan mereka semua hingga aku terisak pelan didalam pelukanku sendiri … Kurasakan hatiku menjadi resah dan akhirnya aku terus menggumamkan doaku agar aku dapat bertemu dengan mereka, agar mereka baik-baik saja di sana, dan agar perjalanan Rason dan Cassandra tidak sia-sia karena telah mengantarku untuk kembali bertemu dengan mereka semua. Aku terus memikirkan itu hingga akhirnya kesadaranku hilang seiringan dengan rasa kantuk yang tidak bisa kubendung lagi.
…
Pagi itu, kembali kami memulai untuk melangkah menelusuri hutan. Semak, serangga bahkan binatang kecil melata lainnya yang sering kami jumpai. Sudah cukup lama kami berjalan dan kurasa sudah lebih dari tujuh hari kami berjalan menuju Valley, namun sedikit pun tak ku jumpai sungai kecil yang jernih yang amat tak asing bagiku.. ya, sungai dimana aku bersamaan dengan Minor berpisah dari Julia, Mark dan Philip untuk berburu. Tempat dimana terakhir kali kami bertemu, sebelum akhirnya aku terjatuh dari jurang itu dan kembali koma satu tahun lamanya.
Lagi dan lagi kuhelakan nafasku karena sudah cukup lama kami berjalan, hingga hanya dapat kuseret kakiku ini dan pada akhirnya tubuhku terjatuh karena lilitan tanaman rambat yang cukup menjengkelkan di sana. Kuhiraukan Cassandra yang terkekeh, aku masih terfokus dengan beberapa tanaman rambat yang semakin banyak meliliti kakiku seolah mencegah diriku untuk berjalan lebih jauh lagi.
“oh ayolah!” rutukku dengan kesal dan akhirnya bantuan yang Cassandra berikan padaku, mereka-mereka tanaman itu pun melepaskanku, pandangku dan Cassandra kini tertuju pada Rason yang tadi sempat memanggil namaku.
Kutatap sebuah jalanan beraspal dengan rerumputan tidak begitu tinggi berada di sana, aku terdiam dengan kaget ketika melihat wilayah yang tidak salah lagi amat sangat kukenali. Langkahku mulai menjadi cepat dan berlari menuju sebuah gedung tua yang berdiri kokoh di sana “ini dia, ini tempat kami” gumamku dengan pelan, perasaanku tidak karuan saat ini… bahagia, amat bahagia kurasakan.
“Hai!! aku kembali! Minor, Julia!” seruku dengan senang, menoleh ke arah sekitar, mencari-cari mereka yang mungkin saja ada di sini “entahlah, Adrea… aku merasa bahwa tempat ini sudah tak berpenghuni” aku tertegun dan segera menatap Rason yang baru saja berucap dan kini balas menatapku.
...