Aku memejamkan mataku dan merasakan bahwa perasaan dendam kini dengan perlahan memeluk tubuhku di sana.
DAR!!!
DARR!!!
“maaf membuat kalian menunggu lama, Rason!!” sebuah teriakan membuatku segera membuka kedua mata dan menatap Rason masih terduduk di atas batu itu dengan malea yang sudah tergeletak akibat peluru yang bersarang tepat di kepalanya. Dengan jelas kutatap Rason tersenyum menatap kearah belakang hingga membuat Minor berbalik dan tertembak di bagian lengannya hingga ia jatuh tersungkur di tanah.”aarrrght!!” DARR!!! DARR!!! aku mendengar tembakan peluru berkali-kali keluar di sana, aku bangkit dan menoleh ke arah belakang demi menatap Yevan yang baru saja melepaskan tali yang mengikat tubuhku.
“Yevanh…” panggilku dengan suara seadanya, ia tersenyum dan segera berlari untuk menembaki mereka yang dinilai melawan saat itu. Tidak sedikit orang yang datang, kurang lebih dari lima belas orang datang dan menembaki para Malea serta menyandera pengikutnya mereka adalah Mark, Ea, Minor dan Julia. Kedua mataku kini menatap Rason yang dipapah oleh dua orang di sana, langkahku segera mendekati mereka “Rason!!” panggilku dengan panik. Kugenggam lengannya dan menangis sekencang-kencangnya di sana ketika ia tersenyum dan menanyakan keadaanku.
Bodoh!
Disaat seperti ini, seharusnya dia kesal padaku karena telah menjebak mereka, seharusnya dia khawatir pada dirinya sendiri yang baru saja akan menghadapi mautnya, seharusnya ia menanyakan Cassandra terlebih dahulu dibandingkan dengan bertanya padaku, namun dengan bodohnya ia sempat bertindak pustus asa ketika mereka hendak membunuhnya, dan dengan bodohnya juga ia justru bertanya keadaanku?! itulah yang ada dalam pikiranku saat ini “bodoh!” isakan kerasku terhenti ketika ia mengatakannya yang beriringan dengan tangannya yang menepuk-nepuk kepalaku dan mengusapnya dengan pelan, kutatap ialah pelakunya “kau juga harus kukhawatirkan, karena di sini kaulah yang merasa paling tertipu… dan lihatlah… bahkan kau menangis lebih kencang dari Cassandra” jelasnya seraya terkekeh melihatku, harus kuakui… dia memang dapat mengetahui isi pikiranku dengan mudah.
“baiklah, kurasa kita harus membakar tempat ini dan segera kembali ke Serenus” pandangku beralih menatap Yevan yang berdiri tepat disampingku saat itu.
“Cepat!!” pandangku teralih pada seorang lelaki yang kini mendorong Julia dengan kasar, memaksanya untuk berjalan dan berkumpul di dekat pohon besar itu, ikut berkumpul dengan Minor serta Ea. “berlakulah lembut pada wanita!” ya, aku melihatnya… Albert berjalan beriringan dengan Julia seraya menatap lelaki itu dengan amat tajam, ia juga sempat menggertaknya dan wajahnya terlihat mengeras saat ini.
“Adrea” panggilan Yevan membuat pandangku teralih menatapnya yang kini memberikan jaket untukku.
“euargh!!!”
”ARRGHT!!!!”
“hentikan!!” aku menjerit menatapnya, peristiwa itu sangatlah cepat hingga aku terpatung ketika suara tembakan terdengar dan menghentikan pergerakannya di sana “Albert!!” panggilan Minor yang begitu keras terdengar beriringan dengan letupan senjata yang dilepaskan oleh Yevan pada Albert yang kala itu menusuk berkali-kali lelaki yang sempat ia gertak ketika mendorong Julia dengan kasar saat itu, lelaki tersebut tewas. Jantungku berdegub dengan kencang, aku shock melihat sesuatu hal yang begitu mengerikan yang baru saja terjadi, darah menyembur di mana-mana.
Tubuhku praktis melorot menatapnya, Albert terkapar di sana dengan luka tembak tepat di kepalanya. Jujur, meskipun ada rasa benci terhadap mereka yang telah berkhianat… namun aku masih dapat merasakan bahwa mereka adalah keluargaku, keluarga yang menemukanku dan melindungiku selama ini.
Perasaan ngilu datang dari dalam hatiku, meruak begitu saja menjalar melalui aliran darah hingga kepalaku terasa sangat panas dan air mataku menerobos dan lolos begitu saja membasahi pipiku, aku menangis dalam keterkejutanku atas kematian Albert di depan mataku saat ini, bukan karena Malea… namun manusialah yang melakukannya, terlebih orang itu adalah teman dari seseorang yang telah menyelamatkanku dan mengantarku menuju keluargaku sendiri.
Aku merasakan ironi yang begitu pedih saat ini, hingga aku tidak dapat menerima apapun. Tanganku yang bergetar kini mengepal, meremas beberapa rumput yang tak bersalah di sana “Adrea” sebuah panggilan yang terdengar beriringan dengan sepasang tangan yang kini meraih bahuku dan membimbingku untuk bangkit dari sana dan itu adalah Ali yang kini berdiri tepat di belakangku.
“Lepaskan aku! Biarkan aku mendekatinya!!!” Geraman Minor terdengar dan kutatap ia yang sempat meronta kini berlari menghampiri Julia yang menangisi Albert di sana, nafasku menjadi tidak karuan dan perasaan sesalku datang begitu saja.
Hatiku sesak, sangat sesak ketika melihat Julia yang menjerit dan terisak menangisi Albert “segera bawa mereka, kita tidak boleh berlama-lama di wilayah ini!” ucapan Yevan membuat beberapa orang di sana menodong Minor dan Julia untuk segera pergi kembali ke tempat yang seharusnya bersama dengan Ea dan Mark. Minor membopong Julia yang masih menangis setelah sebelumnya ia mancabut kalung yang dikenakan oleh Albert dan pergi ke tempat yang di tuju.
“apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan membakar wilayah ini, Yevan?” “Jika kalian ingin selamat, janganlah membuat api yang besar untuk membakar wilayah ini dan bermalamlah di sini” kutatap Minor yang berucap yang membuat Yevan terkekeh “kenapa aku harus mengikuti ucapanmu yang baru saja akan membunuh ketuaku?” ujung mataku kini menangkap Yevan yang terkekeh tepat di sampingku saat itu dan mataku tak henti tertuju pada Minor yang masih menatapnya dengan tajam seraya berucap “karena mereka akan mengetahuinya jika kau membakar wilayah ini, dan aku lebih tau karena aku sudah lama bersama dengan mereka… mereka tidak akan mengganggu atau sekedar mampir ke wilayah yang bukan wilayah miliknya, jika tidak ada yang janggal di wilayah tersebut” penjelasan Minor saat itu membuat Yevan kini berbalik dan menoleh menatap Rason yang menganggukan kepala “kurasa dia benar, kita bermalam di wilayah ini” deruan nafas berat kudengar dari Yevan yang kini mengangguk dan memerintahkan untuk mereka bermalam di sini dengan posisi tawanan yang harus di jaga 24 jam nonstop.
…
Kumasuki salah satu gubuk yang terlebih dahulu telah di periksa oleh mereka-mereka yang diperintahkan oleh Yevan saat itu, kutatap sebuah ranjang yang terbuat dari kayu dengan bulu-bulu angsa atau semacamnya yang menjadi alas dari kasur tersebut agar terasa empuk dan nyaman, memang hanya ada kasur itu di sana saat ini… meski terbilang luas, namun aku merasa bahwa hawa didalam gubuk ini terasa amat panas.
“Adrea” sebuah suara membuatku menoleh menatap Cassandra yang berdiri di sana, ia berjalan dengan cepat dan segera memelukku seraya menangis “maafkan aku” itulah kata yang ia ucapkan padaku.
Kugelengkan kepalaku menanggapi ucapanya yang ia ulang berkali-kali di sana “tak ada yang perlu di maafkan, kau tidak salah di sini… akulah yang salah karena membawa kalian ke sini” ucapku dengan suara yang terbata, ya… aku ikut menangis karenanya.
Malam ini benar-benar malam yang sangat berat bagiku, menyadari banyak hal yang amat menyakitkan. Rasa kecewa, kebencian, kemarahan, kesedihan bahkan kehilangan kurasakan saat itu secara bersamaan membuat emosiku teraduk dan aku tenggelam di dalamnya.
Dan aku memutuskan untuk tidak tertidur malam itu, hanya termenung merasakan gejolak emosiku yang bersampur di samping Cassandra yang terlelap.
…
Malam yang telah berganti menjadi pagi dengan mentari yang belum menunjukkan diri, waktu fajar adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan wilayah ini.
Kutatap bara api yang kini melahap wilayah tersebut dengan amat ganasnya, kubiarkan seluruh perasaanku tertinggal di sana bersamaan dengan hangusnya bangunan-bangunan serta jasad-jasad yang juga dibiarkan terbakar dan lenyap dari pandangan.
Langkahku kini beriringan dengan mereka yang berjalan di depan sana, bersamaan dengan keempat orang yang dijadikan tawanan kembali ke Desa Serenus.
…
Deruan angin serta suara aliran air di sungai yang kami singgahi terasa menenangkan hati, meski seluruh emosiku kubiarkan tertinggal di sana namun kesedihanku terasa tidak berhenti, mengalir dan bergejolak begitu saja di dalam hati.
Sebuah tangan menepuk pelan bahuku dan kudapati Rason lah pelakunya yang kini terduduk di batu samping diriku “kau baik-baik saja?” tanyanya padaku “perasaanku tidak pernah seperti ini sebelumnya” jelasku padanya yang kini mengusap lembut bahuku “maaf” kata yang sama persis seperti terucap di bibir Cassandra malam itu kini terdengar dan diulang oleh Rason yang kini membuatku menggigit bibir bawahku dan menggeleng, berusaha menahan isakanku yang datang bersamaan dengan kesedihan seketika merasuki diriku begitu saja “jangan… hk jangan mengatakannya kumohonh… “ kuusap air mataku yang terjatuh dengan kasar dan menatapnya kini yang menatapku dengan tatapan sendu, seolah ia memahami perasaanku saat ini.
“akulah yang seharusnya mengatakan itu, karena aku… ini semua terjadi” ucapku padanya dan kini ia menggelengkan kepala “tidak, tak ada yang salah di sini… kita lupakan saja hal ini, oke? ” kuanggukan kepalaku mendengarnya yang kini menepuk bahuku dan pergi meninggalkanku di bibir sungai itu.