-Jaden.-
Kau sudah pulang kerja? Aku mengirim pesan pada Adeline.
Butuh sekitar lima menit untuknya membalas pesanku.
Tiga puluh menit lagi. jawabnya.
Ku jemput ya.
Ah merepotkanmu. Tidak usah. jawabnya.
Aku menghela napas, kecewa.
Bolehkah? ia mengirim pesan lagi.
Aku menyeringai, Aku berangkat sekarang. kataku lalu aku bergegas dan ketika aku membuka pintu, Elis berdiri disana.
"Jaden, kau mau kemana?" Elis bertanya sambil membawa kantong belanjaan.
"Aku baru akan pergi." jawabku.
"Kemana?"
"Umm.. ada keperluan saja." Aku tidak ingin repot-repot menjelaskan padanya
"Bisa temani aku makan malam? Aku sudah belanja bahan makanan, ku pikir aku akan memasak di rumahmu." Sepertinya Elis adalah tipe wanita yang pantang menyerah. Padahal sebelumnya aku sudah pernah menjelaskan padanya bahwa aku hanya menganggapnya sebagai teman.
"Maaf, tapi aku ada urusan penting." Meski aku merasa kasihan padanya, tapi aku tetap ingin pergi menemui Adeline. "Lain kali ku traktir ya."
"Tapi aku sudah disini, aku bisa menunggumu." Elis memaksa.
"Maaf, jangan menungguku, lain kali saja oke?"
"Boleh aku tau siapa yang akan kau temui?"
"Kurasa aku berhak memiliki privasi," aku menolak. "Oh ku antar kau pulang saja ya."
"Aku bawa mobil." Elis berwajah masam, aku tahu ia kesal, tapi kurasa ini bukan salahku. Toh ia datang tanpa memberitahuku lebih dulu.
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu, kurasa aku sudah terlambat." kataku lalu aku masuk ke mobil dan melaju dengan cukup cepat, aku tidak ingin Adeline menungguku terlalu lama.
Dan saat aku sampai, Adeline sudah berdiri di pinggir jalan, dari kejauhan kulihat ia berdiri dengan menggoyangkan kakinya pelan untuk menghalau rasa bosan.
"Hai." ucapku lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Adeline tersenyum lalu masuk, duduk di kursi penumpang.
"Apa aku sangat terlambat?" tanyaku.
"Tidak. Aku juga baru saja keluar." kurasa ia berdusta, karena sepertinya aku terlambat sekitar lima belas menit karena Elis.
"Kita makan dulu ya." Aku tidak ingin langsung mengantarnya pulang ke rumah.
"Ah, langsung pulang saja," katanya.
Aku berdecak ketika ia menolak. "Kenapa?"
"Lain kali saja aku yang traktir, kau juga tahu sekarang sedang tanggal tua." jawabnya.
"Kalau begitu aku traktir dulu, lain kali baru kau." aku memaksa.
Adeline setuju.
"Makanan disini enak sekali." katanya ketika mencicipi Spageti carbonara yang ku pesankan untuknya. "Besok akan ku buatkan roti yang enak untukmu."
"Janji ya." Aku menuntut.
"Tentu saja." katanya.
Aku menatapnya cukup lama, menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu yang sudah pasti akan membuatnya ternganga.
"Ada apa?" katanya ketika menyadari aku hanya menatapnya dan mengabaikan makananku.
"Umm.. kak." Ucapku ragu-ragu.
Adeline menungguku untuk melanjutkan kata-kataku
"Maksudku jika..." Rasanya aku hampir pingsan karena gugup.
Adeline mengangkat alis, sedikit mencondongkan wajahnya mendekat padaku. "Jika apa?"
"Jika aku..."
"Kau kenapa?"
"Bukan kenapa-kenapa."
"Lalu?"
"Bagaimana seandainya jika aku..." Aku menghela napas, mengumpulkan tekad ku untuk mengatakan ini padanya. Lalu aku melihat seseorang tiba-tiba berdiri di belakang Adeline.
Adeline menoleh. "Elis."
"Kalian disini?" Elis menatapku dengan tatapan kesal.
"Iya, Jaden tadi menjemput ku, dan kami mampir untuk makan." Adeline tersenyum pada Elis, ia tidak menyadari kemarahan yang tersembunyi dari tatapan Elis padaku.
"Jadi sudah ada tukang jemput?" Kata Elis ketus pada Adeline.
Adeline ternganga. "Bukan begitu, tidak setiap hari juga dia..."
"Aku akan menjemputmu setiap hari." kataku, aku ingin menegaskan situasi ini pada Elis.
"Kau mau bergabung?" Adeline menawarkan.
"Apa kau yang membayar?" Elis ketus lagi pada Adeline. Dan itu membuatku kesal.
"Tidak, Jaden yang mentraktir ku." Suara Adeline merendah dengan bingung.
"Kalau begitu seharusnya dia yang menawarkan." kata Elis.
"Silahkan kalau mau bergabung." aku menawarkan pada Elis dengan terpaksa.
"Tentu, kau juga tahu aku belum makan." katanya lalu duduk diantara aku dan Adeline.
"Tidak biasanya jam segini kau belum makan." kata Adeline.
"Karena seseorang." Elis menatapku lagi, jika saja Adeline lebih teliti, ia pasti tahu situasi canggung antara aku dan Elis.
"Apa kau suka lychee tea nya?" Setelah beberapa menit kami terjebak dalam situasi yang canggung, akhirnya aku mengatakan sesuatu pada Adeline.
"Segar sekali, tapi sebenarnya aku lebih suka lemon tea," jawab Adeline.
"Lemon itu asam, tidak baik untuk lambung mu." kata ku. Lalu aku melirik pada Elis yang menatapku dengan kesal. Terserah, aku juga tidak ingin memberikan harapan palsu untuknya.
"Lambungku tidak bermasalah sama sekali." kata Adeline.
"Maaf aku tidak bertanya dulu sebelum memesan." kataku. "Ku pesankan lemon tea ya."
"Tidak, tidak, ini juga sudah cukup enak."Adeline mencegahku untuk memesan lagi.
Elis tiba-tiba berdiri dengan menghentakkan kaki.,"Sebaiknya aku pergi."
"Kenapa?" tanya Adeline, ia mendongak menatap Elis yang berdiri di sampingnya.
"Kurasa aku mengganggu kencan kalian berdua." kata Elis sambil memalingkan wajah.
Adeline tertawa. "Tidak seperti itu situasinya."
"Apa kau ingin pulang denganku?" tanya Elis pada Adeline.
"Dia akan pulang bersamaku." aku menyela.
"Aku tidak bertanya padamu." kata Elis dengan sangat ketus padaku.
"Umm.. Aku akan pulang bersama Jaden." Adeline jelas terlihat bingung dengan perang dingin antara aku dan Elis.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Elis melangkahkan kaki dengan kesal meninggalkan kami.
Adeline hanya menatapku dengan penuh tanya setelah Elis pergi.
"Jaden." sapa beberapa wanita yang berpakaian SMA."Kau Jaden kan?"
"Oh, iya." jawabku.
"Boleh kami berfoto bersamamu?" pinta mereka, berebut untuk duduk di sampingku.
Aku segera berdiri untuk berfoto dengan mereka. Satu persatu hingga ketiganya selesai.
Aku memang cukup terkenal di dunia hiburan, karena ketenaran ibuku dan mungkin karena paras tampanku. Foto-fotoku yang seliweran di akun sosial media mendapatkan respon yang baik dan sudah memiliki banyak penggemar,"Putera dari Mrs.Amber," itu adalah julukan yang menyebalkan bagiku.
Meski sering kali aku dibuat repot oleh para penggemar, tapi aku sama sekali tidak khawatir untuk berkeliaran diluar, hanya dengan bermodalkan masker dan topi kurasa sudah cukup aman.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" kata Adeline saat kami baru saja keluar restoran. "Yang agak sensitif."
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Firasatku mengatakan bahwa Adeline ingin membahas tentang Elis.
"Ini tentang Elis." kata Adeline.
Aku menghela napas.
"Apa hubunganmu dengannya?" Aku tidak melihat sedikitpun keresahan dalam ekspresi nya.
"Kami hanya berteman." jawabku.
"Teman?" katanya lalu tersenyum. "Kalian sudah sepakat untuk berteman?"
"Kenapa harus sepakat untuk berteman?" aku balas bertanya.
"Berteman juga adalah sebuah hubungan, jadi keduanya harus setuju, karena jika tidak, kalian bukanlah teman." katanya.
"Aku tidak melakukan kesepakatan apapun pada teman-teman ku." kataku. "Kecuali untuk hubungan lain."
"Hubungan lain?"
"Ya, hubungan lain." kataku. "Dan ada yang ingin ku sepakati bersamamu." Akhirnya aku mulai membulatkan tekad lagi.
"Denganku?" Adeline menoleh padaku. Kami masih berdiri di halaman parkir restoran.
"Aku menyukaimu," ucapku begitu pelan, saat ini aku yang biasanya begitu narsis, kini sedang kehilangan semua kepercayaan diriku ketika aku menyatakan perasaan ini pada Adeline, "maukah kau berkencan denganku?" sambungku, sambil mengatasi tubuh yang gemetar, kakiku terasa begitu lemas.
Aku sangat tidak menyangka akan menyatakan perasaanku saat ini, sebenarnya semua ini tanpa persiapan apapun, semua terjadi begitu cepat sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku sedang menyatakan perasaanku pada mantan calon kakak iparku.
Adeline hanya terdiam sejenak menatap mataku, mungkin mencari tahu apakah aku serius atau sedang bercanda. "apa kau sudah gila?" Adeline masih shock dan tidak percaya.
"Aku tidak gila." jawabku, berusaha tetap tenang, "apa semua pria menjadi gila karena mengajakmu berkencan?"
"Iya, kau sudah tidak waras." Adeline sudah mulai panik dan agak marah, "kau tahu bagaimana hubungan kita seharusnya, kenapa kau malah mengajakku berkencan?"
"Lalu apa yang harus kulakukan agar layak untuk memintamu berkencan denganku?" tanyaku, "apa salahnya denganku?"
"Apa yang salah denganmu?" Ulang Adeline, "aku lebih tua darimu, dan hubungan kita adalah.."
"Aku tau kau adalah mantan calon kakak ipar ku, tapi itu adalah masa lalu," Aku menyela sebelum Adeline melanjutkan kata-katanya, "Umurku sekarang dua puluh tahun, kau hanya tiga tahun lebih tua dariku, memangnya apa salahnya dengan mengencani pria yang lebih muda?"
"Berhenti, berhenti," Adeline mengangkat satu tangannya, "kau masih sangat muda, karena itu kau mungkin berpikir bahwa berkencan dengan berbagai macam wanita merupakan tantangan tersendiri, termasuk mengencani wanita yang lebih tua, tapi bukan aku orangnya, hubungan kita sebelumnya begitu dekat sebagai kakak adik, lalu bagaimana bisa.."
"Aku tidak pernah berniat mencari tantangan dengan berkencan denganmu." Aku menyela lagi.
"Lalu?" tanya Adeline, "apa karena aku cantik?" ucapnya dengan semua kepercayaan dirinya, "aku yakin kau memiliki banyak teman wanita yang tidak kalah cantik, dan mereka seumuran denganmu."
"Memang banyak teman wanitaku yang berparas cantik." ucap ku, "tapi aku tidak meminta setiap wanita cantik untuk berkencan denganku."
Adeline tidak berkata apapun, hanya memandang wajahku lekat-lekat, memperhatikan setiap mimik wajahku ketika bicara.
"Aku bisa mengerti kau terkejut oleh pernyataanku yang tiba-tiba ini," Aku bicara lagi setelah kami saling menatap beberapa saat, "aku mengatakan ini bukan tanpa berpikir panjang, aku mungkin sudah menyukaimu sejak kau masih bersama dengan kakakku karena.."
"Kata mungkin yang kau gunakan membuktikan bahwa kau sendiri tidak yakin dengan perasaanmu." kali ini Adeline balas menyela kata-kataku.
"Aku bukanya tidak yakin dengan perasaanku, aku sadar bahwa ini adalah sebuah kesalahan, tapi nyatanya aku tidak bisa lari darinya." Aku masih bersikeras.
"Kau benar-benar pandai berbicara, kurasa aku hampir goyah, aku akan goyah jika saja aku sedikit lebih muda." Adeline menyeringai namun mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu goyah lah." pintaku.
Adeline membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil, aku mengikutinya masuk dan mengemudi dengan tenang, berusaha untuk tenang.
Adeline terkekeh, semakin geli lalu kemudian tertawa tanpa sebab.
"Apa kau jadi tidak waras karena aku memintamu berkencan?" tanyaku memandang Adeline sambil menggelengkan kepala pelan.
"Lihat kedepan." Adeline mengingatkan. "Aku merasa seperti dipandang rendah." Ia berhenti tertawa, namun masih terlihat begitu santai, "seorang pria muda mengajakku berkencan, apa aku terlihat gampangan? Apa selama ini aku sudah terlalu dekat denganmu dan melewati batas? Sehingga kau berpikir aku bisa kau ajak bersenang-senang."
"Apa umur itu penting?" tanyaku. "Aku bahkan tidak pernah berniat bermain-main denganmu, ini kali pertama aku benar-benar serius meminta seorang wanita untuk berkencan."
Aku menginjak rem dan berhenti mendadak, lalu menggerutu karena ada seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan dan hampir terlindas.
Adeline hampir terjatuh dari kursinya, cepat-cepat aku memegangi bahu Adeline, hampir saja memeluknya. "Pakai sabuk pengaman mu." kataku.
Sejenak Adeline hanya memandang mataku, lalu ia kembali duduk dengan benar.
"Apa kau benar-benar tidak merasakan sesuatu?" tanyaku setelah beberapa saat kami saling tatap.
Adeline menoleh lagi, menatap wajahku sambil terus berpikir, "Aku akan menolak tawaran mu hari ini, aku tidak bisa melakukan itu sekarang." ucapnya setelah menimbang-nimbang.
"Kalau begitu kau bisa menerimaku nanti?" tanyaku, belum putus asa.
"Entahlah, siapa yang tahu tentang masa depan?" kata Adeline lalu turun dari mobil setelah sampai di depan rumahnya.
Aku ikut turun dan masih mengikutinya.
"Pulanglah," usir Adeline, "aku sudah sampai."
Aku mengangguk, "sampai besok." kataku dengan wajah masam, kecewa.
"Iya, sampai besok." kata Adeline, "Kau masih bisa menjemputku jika kau mau, kita akan tetap berhubungan seperti biasa."
"Umm.." Aku mengangguk, "Bye.." kataku lalu melangkah pergi.
* * *
Sesampainya di rumah, aku mendapati Elis sedang menunggu tepat di depan pintuku.
"Ada apa?" tanyaku pada Elis.
"Urusan penting mu adalah Adeline?" Elis menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau seperti ini padaku? Apa kurangnya aku dibandingkan dengannya?"
"Sudahlah, suasana hatiku juga sedang buruk," kataku. "Kita bicarakan ini nanti."
"Apa kau tidak merasa bersalah padaku?" Elis sudah benar-benar menangis.
"Aku minta maaf karena tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan, tapi semua orang memiliki hal yang bisa membuatnya bahagia ,dan bagiku Adeline adalah hal itu." Aku menjelaskan dengan penuh kesabaran, karena saat ini sebenarnya aku pun sedang ingin mengamuk.
"Kenapa kau menganggapku tidak bisa membahagiakanmu?" Elis masih memprovokasi ku.
"Semua orang tidak bisa membuatku bahagia kecuali Adeline." kataku, aku sudah hampir marah
"Aku belum mengatakannya padamu tapi kau tahu perasaanku kan?" Elis terisak di koridor, di depan pintu ku.
"Kau juga tahu bagaimana perasaanku kan?" aku membalas. "Kurasa aku tidak pernah melakukan hal yang membuatmu semakin berharap padaku. Aku tidak bertanggung jawab atas perasaanmu, kuharap kau bisa mengurus perasaan itu sendiri. Jangan lakukan apapun untuk melampiaskan kemarahan mu pada Adeline."
"Kau mengkhawatirkan nya? Aku yang terluka tapi kau malah mengkhawatirkan nya?" Elis memukul d*da ku, aku membiarkannya melampiaskan kemarahannya padaku."Haruskah kau berkata seperti ini?"
"Surah kubilang aku tidak ingin kau semakin berharap padaku." Aku memegang tangannya, hanya agar dia berhenti memukuli ku.
"Apa kau tidak ingat siapa Adeline? Bukankah dia pacar kakakmu?" Elis membahas tentang hal yang sangat ingin ku hindari.
"Kumohon, aku sudah cukup bersabar, jadi jangan membahas hal ini denganku." Aku memejamkan mata dan menundukkan kepala agar aku bisa meredam emosi ku.
"Kenapa kau menyukai pacar kakakmu?" Elis berteriak.
"Kakakku sudah meninggal, dan sebelum itu Trevor dan Adeline juga sudah berpisah, apa salahnya dengan perasaanku?" Aku balas berteriak, kali ini aku tidak bisa menahan kemarahan ku padanya. "Kumohon Elis, pergilah, atau aku benar-benar bisa menyeret mu untuk pergi dari sini.
Tanpa mengatakan apapun, Elis berbalik dan pergi. Aku tahu dia terluka, tapi aku juga sedang terluka, tidak ada waktu untukku mengobati lukanya sementara hatiku juga sedang sakit.