-Adeline.-
Aku sudah gila. pikirku ketika aku meanyadari apa yang sudah ku lakukan.
Tadinya aku hanya ingin menenangkannya dan membawanya kembali pada realita yang nyata. Tapi aku malah menciumnya. Pria muda yang kupikir adalah adikku.
Aku sama sekali tidak siap dengan reaksinya. Mataku terpejam saat kuhirup aroma tubuhnya yang lembut, aroma amber dan bargamot berasal parfumnya. Wanginya berhasil menggoda ku.
Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. Dengan lembut dan tegas tanganku mendorong wajahnya. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang kebingungan.
“Ups," desahku.
Jaden mengerjap dan menatapku dengan bingung.
Tidak ada yang bisa ku katakan lagi, tidak ada alasan ataupun pembelaan diri.
"Kau mencari kesempatan saat aku sedang panik?" katanya, ia menyapu sisa air mata di wajahnya. "Itu namanya melecehkan."
Caraku untuk menenangkan nya jelas salah besar, tapi kurasa aku berhasil.
Dan Jaden memegangi wajahku dengan kedua tangannya, Aku tak bisa bernapas. Tatapannya liar, rahangnya menegang. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Ku akui aku terpana karena wajah tampannya.
Haruskah aku membiarkan nya? Aku bertanya pada diri sendiri.
Lalu bibir Jaden menempel di bibirku,sebelum aku berhasil memutuskan apa yang harus ku lakukan dan aku tak mampu melawannya. Pertahanan diriku langsung ambruk begitu bibir
kami bertemu.
Kalau memang aku akan menghancurkan diriku lebih jauh lagi, maka lebih baik sekalian saja. Maka aku pun membalas ciumannya, jantungku berdebar-debar tidak berirama saat napasku memburu dan jari-jariku membelai wajahnya dengan lembut.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang menempel di setiap lekuk tubuhku, dan tangan Jaden meraba wajahku, sama seperti tanganku meraba wajahnya, dan saat bibir kami terpisah sejenak beberapa detik, Ia menatap dengan tatapan yang membuat jantungku semakin berdegup kencang.
Aku terus menatap matanya, memerhatikan hasrat yang berkobar-kobar di dalamnya mulai memudar dan melembut. Kemudian ia tersenyum, dan senyumnya tak disangka-sangka nakal.
"Nah," katanya, jelas puas dengan dirinya sendiri.
"Bisa ditolerir?" tanyaku. Kugenggam tangannya yang terasa dingin, kurasa perasaanku padanya lebih dari dugaanku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya karena gugup.
"Apa kau masih mau pingsan karena ciumanku yang menghanyutkan?" Betapa ceria dia ketika sedang tertawa sekarang ini, wajah tampannya tampak tenang. Ia adalah Jaden yang yang hilang selama ini.
“Aku tidak yakin, aku masih pening," akhirnya aku berhasil menyahut. "Kurasa kau benar."
"Tampaknya hanya kau yang lebih penting daripada semua yang kuinginkan... yang kubutuhkan. Apa yang kuinginkan dan kubutuhkan adalah bersamamu, dan aku tahu aku tidak akan pernah cukup layak bersamamu. Terlalu banyak alasan untuk..."
"Jangan katakan apapun lagi," bisikku. Kalau aku membiarkan diriku terhanyut, jarak antara aku dan Jaden bukan hanya tentang usia, tapi juga status sosial, saat bersama Trevor, keluarganya menentang hubungan kami, lalu apa bedanya jika aku bersama dengan Jaden? dan jika ternyata harapanku kosong lagi.. kurasa itu akan membunuhku.
"Kupikir kau..."
“Tidak, jangan berpikir apapun juga, aku sudah cukup shock saat ini." Aku menggeleng, berusaha berpikir jernih. Mempelajari hipotesis bahwa ia memang mencintaiku, namun tetap berpikir objektif dan klinis, sehingga aku tidak akan jatuh dalam perangkap harapan dan kecewa lagi. "Kau memang bersungguh-sungguh sekarang. Tapi bagaimana dengan besok, kalau semua masalah menghampiri kita, hubungan antara kau dan aku yang seperti ini jelas salah."
"Aku tidak setegar yang kaukira," sergah Jaden. "Benar atau salah tidak lagi berarti banyak buatk,; aku akan tetap kembali. Hanya soal waktu saja, dan tidak lama lagi sebenarnya, aku akan muncul lagi di depan rumahmu dan memohon agar kau mau menerimaku. Aku tidak keberatan memohon sekarang, kalau memang itu maumu."
Aku meringis. "Kumohon, serius lah.”
"Oh, aku serius kok," tegas Jaden, sikapnya garang sekarang. "Bisakah kau mencoba mendengarkan apa yang akan kukatakan padamu? Maukah kau memberiku kesempatan menjelaskan apa artinya kau bagiku?”
Jaden menunggu, mengamati wajahku saat ia berbicara untuk memastikan aku benar-benar mendengarkan.
"Sebelum kau, Adeline, Aku hanya menganggap wanita hanya sebagai hiburan yang berfungsi dengan batas waktu tertentu, tapi entah kenapa aku seperti mendapat karma ku melalui dirimu, mungkin gadis-gadis itu dulu mencintaiku seperti aku mencintaimu sekarang,dan ternyata rasanya menyakitkan saat tahu bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan." Jaden menjelaskan dengan kalimat yang cukup romantis.
"Kau mencintaiku," ujarku kagum. Keyakinan dan kebenaran itu melanda diriku lagi. Walaupun matanya masih waswas, senyum melintasi wajahnya. "Tapi kurasa ini bukan saatnya untuk membahas apakah kita bisa bersama, karena aku sendiri belum mengerti tentang bagaimana perasaanku padamu, semuanya masih samar."
Hatiku menggelembung hingga rasanya seperti nyaris meremukkan tulang-tulang rusukku. Memenuhi rongga d**a dan menyumbat kerongkongan hingga aku tak bisa bicara. Jaden benar-benar menginginkanku mungkin seperti aku juga menginginkan nya, hanya saja semua tetap terasa salah bagiku apapun alasannya.
"Aku tidak meminta jawaban apapun sekarang, tapi setidaknya maukah kau mempertimbangkannya?" Aku merasa lega karena Jaden tidak memaksaku untuk memutuskan.
Aku mengangguk. Tidak berani menatap matanya, karena begitu aku melihat wajahnya, maka yang terlintas dalam benakku adalah dia adikku, dan aku telah menciumnya.
"Sebaiknya kita kembali ke dalam. Anginnya terlalu kencang disini." katanya. Ia berjalan mendahuluiku melalui pintu depan yang terbuka, memasuki penginapan yang terang. Aku menyusul di belakangnya.
Ini adalah ide ku untuk menginap di kamar yang sama, tapi kenapa hatiku yang malah merasa resah, meski ia tidur di tempat tidur yang berbeda, dan kami berjarak sekitar tiga meter, tapi aku merasa sangat tegang.
"Jaden." Aku memanggilnya, berbaring miring menghadapnya yang juga berbaring miring menghadap ku.
"Hmm.." ia bergumam.
"Kulihat kau sangat terkenal di media sosialmu." kata ku, ku akui aku sempat menguntitnya melalui akun i********: nya.
"Memang, itu karena ayah dan ibuku cukup terkenal, beberapa kali aku diwawancarai untuk kepentingan mereka." jawabnya.
"Apa kau tidak ingin mengikuti jejak mereka?" tanyaku.
"Entahlah, aku belum memikirkan tentang itu, tapi kupikir profesi itu cukup menjanjikan." katanya.
"Ada banyak gadis yang tergila-gila padamu, sebagian besar dari mereka cantik, kenapa kau tidak memilih satu diantara mereka?" Aku ingin tahu apakah ia masih tertarik pada gadis-gadis centil di sekitarnya.
"Maksudmu kenapa aku malah menyukaimu sedangkan ada mereka di sekitarku?"
"Umm.. pertanyaanku tidak ada hubungannya denganku." Aku berdusta, aku merasa ia akan berpikir aku sedang merasa cemburu jika aku mengatakan iya.
"Sudah kubilang dulu aku hanya menganggap gadis-gadis itu sebagai hiburan sementara, tidak lebih." katanya. "Apa kau ingin kita membahas tentang ini lagi?"
"Tidak." Meski itu bertolak belakang dengan keinginanku, tapi kurasa lebih baik tidak membahas masalah ini lagi, atau kami akan berada dalam situasi yang semakin canggung.