“Di mana aku sekarang?”
Markus frustrasi. Dia mondar-mandir di depan TV yang menyala. Menghalangi pandangan seseorang yang tengah duduk di sofa. Markus diculik, tapi tidak mengalami kekerasan. Bahkan tidak diikat atau disembunyikan di tempat gelap. Markus hidup enak, sekarang pun berada di sebuah hotel mewah yang kebetulan dia tidak tahu letaknya.
“Di mana ini?” tanyanya lagi sambil mengepalkan kedua tangannya erat.
“Mark, bisa kau duduk diam di sebelahku? Aku tak bisa menonton TV!” pinta orang itu.
“Tidak bisa. Kau menculikku padahal aku sudah menolak. Kenapa kau melakukannya?” Markus membentak, kesal sekaligus marah besar. “Kau benar-benar keterlaluan.”
Seseorang tadi membuang napas. Dia tidak sedang memaklumi tingkah Markus, hanya mencoba tidak ambil pusing. Markus tidak memberikan alasan kenapa dia menolak diajak bersembunyi padahal sudah jelas hidupnya terancam oleh orang-orang tidak dikenal. Bukan bermaksud ingin menculik Markus, tapi demi kebaikan sahabatnya itu, dia harus melakukannya.
“Kali ini kau harus menjawab, sebenarnya kenapa kau menolak ajakanku kemari?”
“Sudah kubilang, aku dalam perlindungan polisi. Kalau kau membawaku paksa begini bisa-bisa kau disangka penculik. Kau akan dipenjarakan.”
Seseorang itu angkat bahu. “Aku menyelamatkanmu,” dalihnya.
“Menyelamatkan dari apa? Tidak pernah terjadi apa-apa padaku.”
“Tabrakan itu?”
“Aku memang ditabrak, tapi bukan berarti mereka langsung merencanakan pembunuhan lagi setelah tahu aku belum mati,” jawab Markus kasar. “Aku di bawah lindungan polisi!” ulangnya sambil berhenti mondar-mandir.
Seseorang itu tidak terpengaruh. Dia malah asyik mengganti-ganti chanel, mencari acara yang paling bagus.
“Yang kudengar kau koma karena dikeroyok. Heran, kenapa kau terlihat baik-baik saja?” Markus membuka percakapan lagi. Kali ini bukan tentang dirinya sendiri, tapi tentang sahabatnya itu.
Seseorang tadi angkat bahu lagi. “Aku ini orang hebat. Nyawaku saja ganda, sudah pasti tak ada orang yang bisa membunuhku dengan mudah,” jawabnya sombong. “Lagipula kau juga baik-baik saja setelah tabrakan maut itu. Kulihat cuma kakimu saja yang jadi pincang.”
“Aku tidak pincang!” sangkalnya. “Nanti juga bisa jalan normal kembali.”
Setelah diingatkan bahwa kakinya cedera, dia baru merasakan sakitnya sekarang ini. Ngilu tidak tertahankan. Dia mulai menyesal kenapa harus mondar-mandir barusan. Kemudian dia duduk di sebelah sahabatnya itu
Ini sudah hari ketiga dia dipenjara di hotel. Jangankan keluar ruangan, mengintip saja dia tidak diizinkan. Kata sahabat yang menculiknya, yang sekarang duduk sambil menonton TV dengan nyaman itu, ini demi kebaikannya. Kalau ada mata-mata musuh melihat, lalu mengirimkan penembak jitu untuk membunuhnya, akan sia sia usahanya membawa Markus kemari. Jadi, diawasi secara ketat adalah tindakan yang diambilnya.
“Max,” panggil Markus dengan nada bosan. Bosan setengah mati. “Apa tidak ada berita yang memuat pencarianku?” tanyanya sambil berharap.
“Tidak. Yang ada malah berita pencarianku,” jawab Maxim santai. “Kelihatannya polisi tak mau repot-repot mencarimu. Mereka pasti mengira kau sudah mati.”
“Tidak mungkin. Kalau Bryan tahu aku diculik, dia pasti mencariku,” jawab Markus congkak. Merasa hidupnya menguntungkan orang banyak, jelas polisi akan mencarinya. Dia harus ditemukan dalam keadaan hidup, begitu persepsinya. “Bryan adalah detektif hebat. Kalau sampai dia menemukanku dan mengira kau penculiknya, jangan minta bantuanku kalau kau dijebloskan ke penjara!”
Maxim menatap Markus malas. Demi apa dia menyombongkan detektif bernama Bryan itu? Tidak terdengar seperti Markus selama ini. Manusia yang hanya peduli tentang pekerjaan dan hidupnya sendiri tiba-tiba menyanjung orang lain, pasti ada yang salah dengan otaknya?
“Aku berani bertaruh kalau Bryan akan sampai di sini sebelum ....”
“Sebelum Bryan sampai di sini, coba jelaskan apa yang membuatmu berkali-kali menyebut namanya?”
Markus mengernyit. Apa dia tidak bilang kalau Bryan itu detektif yang ditugaskan melindunginya?
“Bahkan saat tidur saja kau menyebut namanya? Jangan bilang kau rindu padanya.”
Markus menggeleng mantap, tapi agaknya Maxim tidak percaya.
“Dia detektif yang ditugaskan untuk melindungiku.”
Cuma detektif pelindung tapi Markus menyebutnya bak panglima perang. Detektif pelindung hampir sama derajatnya dengan bodyguard. Menyanjung bodyguard sampai segitunya, kalau tidak ada apa-apanya, tidak akan mungkin Markus melakukannya.
“Bryan seorang detektif. Perawakannya pasti tinggi besar, badannya kekar, otot-ototnya besar, dan dadanya lebar seperti lelaki idamanmu selama ini,” tebak Maxim.
“Idaman apanya?” sangkal Markus sambil merebut remot dari tangan Maxim lalu mengganti chanel TV. Dia berusaha tidak terpancing lalu mengatakan memang ada hubungan antara dia dengan Bryan. Nanti bisa ketahuan kalau memang itulah alasan dia tidak mau diajak sembunyi dari orang-orang yang ingin membunuhnya. “Bryan itu jelek, ototnya lembek, dia juga pendek, dan sama sekali tidak seperti lelaki idamanku,” lalu mengatakan kebalikannya.
“Dia detektif kriminal, kan?”
Markus mengangguk.
“Sering kerja di luar ruangan. Pasti kulitnya cokelat karena terbakar matahari. Katamu kau suka yang seperti itu.”
“Iya, tapi Bryan tidak seperti itu.”
“Lalu seperti apa?” pancing Maxim
“Biasa saja.”
“Jujur saja padaku, siapa tahu aku mengizinkanmu menelepon lelaki itu.”
Markus mulai terpengaruh. Kalau iya Maxim mengizinkannya menelepon Bryan, dia ingin tahu apa Bryan juga rindu seperti yang dirasakannya sekarang?
“Kalau dia memang detektif hebat, kau akan kuperbolehkan menemuinya.”
“Yang benar?”
Maxim balik mengangguk.
Dengan jujur Markus mengatakan, “Dia kekasihku. Tidak bertemu dengannya, aku jadi sangat merindukannya. Sekarang izinkan aku meneleponnya!” pintanya tak sabar.
Maxim hampir tertawa, tapi Markus memelototinya hingga tawanya gagal keluar. “Kau bilang dia jelek, bukan tipemu. Kenapa orang jelek bisa jadi kekasihmu? Kalau menurutku, lebih baik kau tak usah meneleponnya, apalagi menemuinya!”
“k*****t kau!” teriak Markus sambil melempar remot ke kepala Maxim. “Jangan main-main denganku!”
Maxim sempat berteriak kesakitan. Kepalanya juga belum sembuh benar, sekarang sudah kena timpuk dari Markus. Kalau dia kembali lupa ingatan seperti kemarin-kemarin bagaimana? Sebelum Markus lebih menyiksanya, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengaktifkan lalu menyerahkan benda itu pada Markus.
“Aku ini orang yang selalu menepati janji. Seperti janjiku menolongmu kabur dari pembunuh-pembunuh itu, juga janjiku memperbolehkanmu menelepon kekasihmu.”
“Isshhh!”
Markus mencibir Maxim. Sambil menunggu ponsel siap, Markus mulai mengingat-ingat nomor telepon Bryan.
“Kemana wanita sialan itu? Kenapa beli makanan saja lama sekali?”
“Seperti kau tak tahu Jessy saja. Bertemu lelaki berkantong tebal, dia pasti lupa dengan tugasnya. Salah-salah kita bisa mati kelaparan hari ini,” jawab Maxim asal.
Bersamaan bel pintu apartemen dipencet, saat itu juga ponsel di tangan Markus berbunyi. Maxim mengira Jessy sudah berada di depan pintu. Dia telanjur bahagia tidak jadi kelaparan untuk hari ini. Secepat mungkin pergi ke depan untuk membuka pintu, sedangkan Markus mengangkat telepon.
“Max, jangan buka pintu. Ada segerombolan orang tak dikenal di sana. Bertahan di dalam, aku akan panggil polisi sekarang!" perintah Jessy, lalu telepon ditutup sepihak.
Kalau Jessy yang menelepon, berarti yang memencet bel barusan adalah segerombolan orang itu.
“Max, jangan buka pintunya!” teriak Markus sambil melompat dan tertatih-tatih menghampiri sahabatnya.
***
Jessy mendial nomor telepon kantor polisi sembari berlari cepat menuju lift. Setelah tersambung dengan seorang petugas, dia segera melaporkan kejadian barusan. Dengan menyinggung nama Maxim dan Markus, laporan Jessy ditanggapi dengan serius. Petugas segera mencatat alamat, lalu menyarankan Jessy untuk menjauh dari tempat itu agar dia selamat. Petugas juga menyuruhnya melapor pada keamanan hotel untuk mendapat pertolongan awal. Jessy melakukan apa yang disarankan padanya sebelum polisi datang.
Wanita penggila uang itu menerobos kerumunan orang setelah keluar dari lift, dia berteriak minta tolong pada pihak keamanan hotel. Setelah mendapat perhatian hampir seluruh orang, dia mengatakan bahwa dua temannya yang berada di salah satu kamar hotel didatangi segerombolan orang jahat. Sesegera mungkin petugas keamanan mengambil langkah, mengecek kebenaran pengaduan Jessy.
Seorang petugas keamanan naik lewat lift dan seorang lain lewat tangga darurat. Yang lewat lift sampai lebih cepat, tapi kedatangannya disambut dengan tendangan keras tepat setelah pintu lift terbuka. Agaknya penjahat-penjahat itu tahu kedatangannya. Penjaga keamanan itu diseret keluar dari lift lalu dipukuli oleh seorang penjahat berbadan gempal. Tenaganya kuat hingga penjaga keamanan tidak sekali pun dapat membela diri. Dia berakhir terkapar di lantai.
“Akan datang yang lain lagi,” tebak penjahat gempal itu.
“Cepat selesaikan. Dobrak saja kalau tak segera dibuka!” perintah seorang lagi pada kawanannya yang berada di depan pintu kamar Maxim.
Tepat selesai kedua penjahat itu bicara, pintu dibuka oleh Maxim. Sama seperti yang didapat petugas keamanan tadi. Maxim dapat tendangan keras di perutnya sampai jatuh ke lantai. Empat penjahat melangkah masuk. Dua mengurus Maxim dan dua lagi mengejar Markus yang masuk ke dalam kamar.
Maxim ditarik paksa, diberdirikan walau masih meringis-ringis menahan sakit di perutnya. Seseorang memeganggi tubuhnya dari belakang sedangkan seseorang lain melepaskan pukulan ke mukanya. Dia ditahan untuk tak terjatuh demi menerima pukulan berikutnya. Empat, lima pukulan bersarang di wajahnya. Pelipisnya bocor, hidungnya berdarah, bibirnya robek dan yang mengenaskan lagi, matanya lebam. Pandangannya kabur dengan banyak darah mengalir melewati matanya. Begitu Maxim berusaha berontak, sebuah tonjokan lain melesak ke perutnya. Ulu hatinya tertohok membuatnya tak bedaya.
Maxim bukan lelaki petarung, dia tidak begitu tahu cara membela diri. Dia kalah. Tepat setelah seorang penjahat menarik belati dari balik jaket kulitnya, tubuh Maxim sudah melemas dan berat. Sebelum belati sempat dihunuskan ke perutnya, Maxim pingsan. Tubuhnya kemudian dilepas dan dibiarkan terjatuh ke lantai.
Dua penjahat yang lain berhasil mendobrak pintu kamar Markus. Markus sudah siap dengan besi di tangannya yang diambil dari gantungan pakaian dalam lemari. Untuk mempertahankan diri, Markus memukul lengan seorang penjahat saat dua orang itu bergegas menghampirinya. Dia dikeroyok. Pukul sana, pukul sini, hanya satu dua pukulan yang mengenai penjahatnya. Dia berhasil berkelit saat balasan pukulan demi pukulan ditujukan padanya. Ketika dia mendapat celah untuk kabur, dia tertangkap. Salah seorang penjahat berhasil menarik rambutnya. Markus berteriak merasakan sakit di kulit kepalanya. Tak berselang lama, penjahat itu menghantamkan kepalanya di tepian ranjang hingga Markus roboh.
Markus belum kehilangan kesadarannya, mengumpulkan tenaga lalu meluncurkan tendangan keras pada s**********n penjahat itu. Kesakitan Markus terbayar lunas dengan raungan kesakitan si penjahat. Ketika seorang lain sibuk dengan temannya yang kesakitan, Markus mengambil ancang-ancang untuk lari. Belum sampai pintu, besi yang tadi dia bawa menghantam bahunya, menghantam kepalanya dan menghantam punggungnya sampai dia roboh untuk kedua kalinya. Penjahat itu tidak mungkin membiarkan Markus lari.
Markus masih belum menyerah, dengan menyeret tubuhnya keluar kamar, dia menendang pintu sampai mengenai penjahat di belakangnya. Ketika dia mulai merasa ada kesempatan untuk lari, dua penjahat lainnya menunggu di hadapannya.
“Kau harus mati hari ini!” kata penjahat itu sambil memukul Markus di mukanya.
Markus pingsan juga seperti Maxim.