Andrew tergesa-gesa memasuki ruangan Markus. Mukanya tampak tidak senang, padahal ini hari pertama Markus kembali bekerja. Biasanya kalau melihat Markus, Andrew selalu ceria dan enak untuk diajak bicara. Kali ini, lelaki itu terkesan tidak sabaran, apalagi saat mengulurkan berkas pada Markus. Seperti hendak melemparkannya langsung ke muka Markus.
“Mister Ma belum menerima uang darimu. Sekretarisnya menelepon lebih dari sepuluh kali dalam seminggu ini. Mister Ma sendiri menghubungiku dan Dennis empat kali. Dia ingin bicara langsung denganmu?”
“Mister Ma?” Markus bingung. Tampaknya baru pertama kali dia dengar nama barusan. "Mister Ma yang mana?”
“Mister Ma, pemilik perusahaan clothing dari kota Gamma. Kau menginvestasikan uang pada perusahaannya tanpa bilang pada kami. Memang uang yang k