Matahari sudah mulai naik dan Alpha tak pernah sedikitpun berniat untuk meninggalkan kursi di samping bangkar kekasihnya. Menatap Aileen seakan meniliti setiap gerak yang mungkin menunjukkan bahwa gadisnya itu akan sadar.
“ Ayo bangun baby, jangan buat aku semakin khawatir” ucap Alpha mengelus pipi Chubby Aileen yang terlihat pucat.
Sudah lima jam berlalu namun Aileen masih setia menutup kedua matanya, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan gadisnya ini akan sadar.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka menampakkan Aiden yang membawa dua paper bag coklat dan tas jinjing ditangannya.
“ Lo mending bersih-bersih dulu terus sarapan. Ini titipan dari bunda”
Setelah mengurus administrasi tadi Aiden mendapat panggilan dari bundanya Alpha yang menanyakan keberadaan anaknya apakah pergi menemui Aileen atau tidak, karena Alpha sama sekali tidak bisa ia hubungi.
Mengetahui bahwa Alpha sedang menemani Aileen yang masuk rumah sakit sedari pagi tadi menambah kekhawatiran Luna. Ia sudah menganggap Aileen seperti anaknya sendiri.
“ Lo aja yang makan” ucap Alpha tanpa minat.
“ Ck gue udah makan tadi di rumah lo” decak Aiden.
“ Buruan elah, biar gue yang jagain Aileen. lo bersih-bersih sana badan lo bau bangke” Aiden menutup hidungnya mengejek Alpha. Padahal Alpha tidak mandi pun ia masih tetap wangi.
Aiden memang tidak tahu diri.
Alpha menatap Aiden tajam, merebut kasar paper bag di tangan Aiden.
“ Aku tinggal sebentar baby” Alpha mengecup kening Aileen sayang, Kemudian beranjak menuju ruang sebelah untuk membersihkan dirinya.
“ Buset timbang di tinggal mandi doang kaya mau di tinggal haji” Kata Aiden sembari mengelus d**a-nya takjub.
********
Tak lama Alpha keluar dengan wajah yang lebih segar, pakainnya pun sudah berganti. Menghampiri Aiden yang sedang memainkan ponsel di sofa sebelah ranjang, matanya sempat melirik kekasihnya itu yang masih setia menutup mata cantiknya.
“ Makan dulu lo” Aiden mengalihkan tatapan dari ponselnya, memandang Alpha yang sedang menutup mata dengan lengannya.
Tidak mendapat respon, Aiden meletakan paper bag berisi makanan dari Bunda itu di pangkuan Alpha.
“ Capek-capek Bunda lo masakin” ucap Aiden setengah memaksa.
Alpha mengehela napas pasrah, mulai membuka isi paper bag itu. Sambal goreng kentang dan capcay, makanan kesukaannya.
“Bunda mau kesini?” tanya Alpha sembari menyuapkan sesendok nasi.
“ Katanya Bunda ada urusan di butik dulu, nanti siang mau kesini bareng mommy sama daddy” Ujar Aiden memberi penjelasan.
Hening.
Alpha fokus pada makanannya sesekali melirik Aileen, sedangkan Aiden sedang bermain game di ponselnya.
Pintu ruang rawat terbuka, Dokter Liana masuk bersama seorang suster.
“ Permisi tuan muda, saya ingin memeriksa keadaan nona Aileen” izin Dokter Liana sedikit membungkuk hormat.
Alpha meletakkan makanannya yang hanya tertinggal setengah itu, mengkode Dokter Liana untuk melakukan tugasnya.
Aiden dengan cepat menutup ponselnya, menghampiri Alpha yang sedang menunggu Dokter Liana selesai memeriksa pernapasan Aileen. Dengan harap cemas Alpha memandang kekasihnya.
“ Gimana keadaan kekasih saya?” Alpha berujar cepat setelah Doker Liana selesai memeriksa Aileen.
Dokter Liana tersenyum tipis, memaklumi kekhawatiran Alpha.
“ Nona Aileen sudah baik-baik aja tuan muda, efek obatnya sudah habis kemungkinan sebentar lagi nona akan sadar. Dan untuk masker oksigennya sebaiknya dilepas saat nona sudah tidak merasakan sesak lagi.”
Alpha dan Aiden menghela napas lega. Kemudian Aiden mempersilahkan Dokter Liana untuk undur diri tak lupa mengucapkan terimakasih.
“ Sekarang lo bisa jelasin ke gue kenapa Aileen bisa drop?” Alpha menatap Aiden meminta kejelasan.
Aiden menghembuskan napas kasar, seakan sudah tahu apa yang Alpha ingin tanyakan sedari tadi.
Ia mulai menjelaskan bagaimana saat Aileen datang ke kamar-nya mencari hairdryer dengan keadaan yang sudah menggigil kedinginan.
Mendengar penjelasan Aiden, Alpha tak bisa menahan keterkejutannya. Seharusnya kekasihnya tahu peraturan yang sudah ditetapkan untuknya. Gadisnya memang keras kepala.
“ Enghh...” Tiba-tiba Aileen mengerang pelan, matanya sayu-sayup terbuka. Alpha dengan sigap menghampiri Aileen, mengenggam tangan kekasihnya.
“ Hey baby, kamu dengar aku sayang?”
Alpha tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, begitu juga Aiden yang tersenyum haru menatap mata indah adiknya yang mulai terbuka.
“ Kak Al... Abang...” lirih Aileen berusaha memanggil Alpha dan Aiden.
“ Iya prinsses ini abang, Ada yang sakit?” tanya Aiden cepat.
“ Minum.. Ai mau minum” ucap Aileen sesekali memejamkan matanya merasakan pusing yang menyerang kepalanya.
Alpha dengan sigap melepaskan masker oksigen Aileen dengan hati-hati, membantu Aileen bersandar pada bantal yang sudah di susun oleh Aiden.
“ Udah minumnya baby?” tanya Alpha yang hanya dibalas anggukan lemah Aileen. Aiden meletakkan kembali botol minum yang hanya tersisa setengah itu.
“ Apa yang kamu rasain sayang?” tanya Alpha khawatir saat melihat Aileen meringis pelan.
“ Kepala Ai pusing” ucap Aileen menyandarkan kepalanya pada Alpha yang ikut duduk di atas ranjang.
“ Abang panggilin dokter ya” ujar Aiden sembari mengusap surai panjang adiknya.
“ Gausah abang, Ai gapapa cuma pusing doang” Aileen mengenggam tangan Aiden mencoba meyakinkan.
“ Napas kamu udah nggak sesak baby?” tanya Alpha pada Aileen yang kini memejamkan matanya nyaman di d**a bidangnya.
Aileen hanya menggeleng dan semakin membenamkan wajahnya. Alpha tersenyum tipis melihat sikap manja kekasihnya.
Aiden yang merasa teracuhkan hanya menampakkan wajah piasnya.
Sabar den adik lo lagi sakit batin Aiden.
Merasa ada yang kurang Aileen mengangkat wajahnya menatap keseluruhan ruang rawatnya, Alpha yang tahu apa yang gadisnya itu cari kembali memeluk Aileen.
“ Mommy sama daddy tadi pulang dulu baby, nanti siang kesini lagi sama bunda” Kata Alpha.
Aiden yang mendengar ucapan Alpha itu menepuk jidatnya seakan melupakan sesuatu.
“ Gue kabarin mommy sama daddy dulu kalo Princess udah sadar”