Langit sudah menggelap pertanda pergantian siang ke malam telah terjadi. Tampak dari kejauhan. Arsitektur hunian mewah nan berkelas ala Sultan.
Berdiri tegak di sana, empat pilar menjulang tinggi. Menjadi simbol keagungan. Rumah bernuansa kuning keemasan itu kentara bak istana Schonbrunn di Kota Wina. Taman megah yang dilengkapi air mancur, terlihat sangat sempurna dengan pengaturan penerangan di sekelilingnya.
Siapa sangka! Bangunan yang kelihatan memanjakan mata, justru tengah diselimuti hawa panas. Kediaman Dewanata tak sehangat biasanya. Kesalahan fatal yang dilakukan Jun, menjadi penyebabnya.
"Berapa total kerugian akibat Dewanata Awards tahun ini?" cecar Pandhu Dewanata, menatap Pak Jamil dingin tak berempati. Membahas pencapaian program perusahaan yang paling buruk selama empat puluh lima tahun perusahaan itu berdiri.
Pria yang telah puluhan tahun mengabdikan diri pada keluarga itu menjawab, "Sepuluh milyar."
Dengan berat hati Pak Jamil menyampaikan. Menunduk sopan saat manik legam Jun memercikkan api.
Mendengar nominal yang tidak sedikit, rahang Pandhu mengeras. Pancaran matanya bagai sebilah pisau pada putra tunggal yang tengah duduk persis di depan penguasa Dewanata Group.
"Kenapa bisa seperti itu!" bentak Pandhu pada Jun, menuntut penjelasan.
Gebrakan di meja membuat Jun terperanjat. Rasa takut terpampang jelas di wajah rupawan pria itu.
Jun tertunduk. Tak kuasa bertatapan dengan pria yang tengah diliputi amarah yang mengandung kekecewaan.
"Maaf," ucap Jun lemah tak berdaya. Mengakui kesalahannya.
Jun sadar, kecerobohan yang dilakukan mengakibatkan keuangan perusahaan tidak stabil.
Tiga tahun bergantung pada mantan sekretaris yang pernah menaklukkan hatinya, Jun terbuai. Menganggap sekretaris baru sama seperti wanita yang pernah bertakhta. Jun yang pada dasarnya perfeksionis, tidak mengecek ulang semua data yang tersaji.
Masih melekat di ingatan, mantan kekasih yang konstan bekerja dengan sempurna itu selalu menyajikan laporan relevan.
Berawal dari sebuah kebiasaan yang terbentuk, pewaris takhta Dewanata Group yang gagal move on itu membuat kesalahan.
Data yang tidak akurat menjerumuskan Jun pada keputusan yang tidak tepat. Persentase hadiah yang diberikan untuk para dealer justru menguntungkan customernya. Mengakibatkan resesi yang fantastis akibat hadiah program yang telah dijanjikan.
Pandu menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Seakan ada bongkahan batu yang tengah menindih.
"Pergilah ke Bandung! Buktikan bahwa kau masih Jun yang kukenal! Aku ... Pandhu Dewanata, dengan ini menurunkan jabatanmu secara hormat! Mulai besok, kau resmi menjabat sebagai Area Manager Dewanata Cabang Bandung! Keputusanku mutlak!" seru pria itu terdengar tidak ingin dibantah.
Sepasang bola mata Jun melebar, tersentak dengan perintah yang baru diturunkan. Jun menatap Pandhu tidak percaya.
"Cabang Bandung?" Jun menggeleng pelan. "Apa papah sedang bercanda?" tanya Jun menyambung kalimatnya.
"Tidak!" jawab Pandhu tegas. Memalingkan wajah, menepis perasaan tidak tega yang mulai menggerogoti hatinya.
Jun melengos, tertawa hampa. Wajahnya kosong, menerbitkan ekspresi tumpul. Tak lama kemudian, Jun kembali fokus pada Pandhu.
"Cabang Bandung baru berdiri enam tahun. Keberadaannya nyaris tak terlihat. Omset penjualan dalam sebulan kurang dari 1 milyar. Selalu yang terkecil dari semua cabang. Pangsa pasar Jawa Barat dikuasai kompetitor hampir 80%. Kudengar etos kerja di sana sangatlah buruk. Kau sedang mengujiku atau mengusirku secara perlahan?" cecar Jun, menyelidik.
Pandhu tersenyum kecut. "Tunjukan kepadaku bahwa kau pria yang bertanggung jawab! Ganti kerugian perusahaan dan bekerja keraslah di sana!"
Jun mendengus pasrah, menjatuhkan kepala di atas meja. Pria yang anti hidup susah itu meminta belas kasih.
"Kenapa papah tidak mengirimku ke dataran tandus Afrika saja? Gurun Sahara atau Kalahari contohnya. Sepertinya menjinakkan berbagai binatang buas di sana lebih menarik. Tidakkah sama saja? Ibarat memeluk gunung tapi tangan tak sampai. Penjualan sebulan tidak sampai 500 juta. Net income tidak mencapai setengahnya. Bagaimana aku bisa mengganti defisit perusahaan jika yang kupegang cabang tidak berguna itu? Yang benar saja!" keluh Jun, keberatan dengan keputusan Pandhu.
Pandhu menyunggingkan senyum mengejek. Ia bangkit, mendekati kaca megah yang menyuguhkan pemandangan langit malam nan memukau. Kedua tangannya menyusup pada saku celana yang dikenakan.
Pandhu menengadahkan wajah. Gugusan rasi bintang yang saling memancarkan pesona itu seolah tengah diajak berdiskusi. Hanya beberapa detik sebelum pria paruh baya itu berbalik, menatap pria muda yang baru saja melayangkan protes.
"Arjuna putraku?" panggil Pandhu, sudah bisa meredam emosi yang sebelumnya membara.
Jun mengangkat kepala. Mereka pun bersirobok.
Jun menciptakan ekspresi yang dibuat-buat. Berharap Pandhu mau mengurangi hukumannya. Diberikan salah satu cabang favorit menjadi impian pria itu saat ini.
"Apa putus cinta membuatmu kehilangan kepercayaan diri?" Pandhu menghampiri Jun. Menepuk bahunya perlahan lalu kembali berkata, "ketahuilah! Sehari sebelum opa meninggal, dia sangat ingin melihat sosok Jun tiga tahun yang lalu. Jun yang cerdas, tegas, teliti, tidak mudah mempercayai seseorang, berwibawa, dan tidak dibutakan oleh cinta. Kau terlalu banyak berubah. Tidakkah kau menyadari hal itu?"
Jun bergeming, kenangan indah bersama mendiang Dewanata silih berganti, berputar bagai kaset video.
Timbul rasa sedih yang teramat di benaknya. Percakapan terakhir bersama sang opa menggema berulang kali di pendengaran. Menimbulkan luka dalam yang sulit diukur. Jun merasa semakin bersalah. Pria itu memejamkan mata, mengangguk mantap kemudian menatap Pandhu.
"Baik! Kirim aku ke sana! Jangan salahkan aku jika cabang itu nantinya menuai banyak prestasi. Mengalahkan cabang Bekasi, Surabaya, Manado, dan Medan yang selalu kau banggakan!" seru Jun, api pembuktian tengah berkobar di iris gelapnya.
Pandhu bersorak dalam hati. Berhasil menemukan kembali pribadi Jun yang ia kenal.
"Beristirahatlah! Pak Jamil akan menemani perjalananmu besok pagi," kata Pandhu yang lagi-lagi membuat Jun tercengang.
"Besok pagi?" ulang Jun, tidak percaya dengan apa yang baru saja Pandhu katakan.
Jun mengalihkan pandangan pada Pak Jamil. Pria setia itu mengedipkan mata. Memberi isyarat agar anak asuhnya tidak melawan.
Kembali ke tempat duduk. Pandhu enggan menjawab. Rautnya yang tidak ramah membuat Jun paham. Perintah Pandhu sudah seperti titah raja yang pantang untuk tidak dilakukan.
Pandhu, pemilik Dewanata Group. Sepak terjangnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Semua orang yang berada di bawah singgasananya sudah pasti tunduk dan patuh.
Jun tidak punya pilihan. Memilih berdamai dengan dirinya sendiri. Jun berjanji akan membuktikan kualitasnya.
'Cabang Bandung ... satu-satunya anak perusahaan yang paling dicintai opa. Entah apa yang membuatnya begitu istimewa. Opa bahkan tidak mau menutupnya. Sejauh yang aku tahu, tidak ada yang menarik di sana. Tapi kehadiranku haruslah membawa manfaat! Aku ... Arjuna Dewanata! Putra Pandhu yang siap mengubah persepsi orang! Perusahan kecil yang nampak seperti makhluk astral itu akan berjaya di bawah kepemimpinanku! Lihat dan buktikan! Aku bersumpah akan menggulingkan siapa saja yang telah menjebakku!' ikrar Jun di dalam hati.
***