Seorang bayi perempuan baru saja lahir di sebuah rumah sakit. Tidak seperti biasanya, bayi itu menangis sangat kencang, seolah-olah memberitahukan ke semua orang bahwa ia telah lahir ke dunia.
Ibu dari sang bayi membantu menenangkan bayi mungil tersebut, tetapi ia tetap saja menangis. Sampai akhirnya Sarah Blezenki memanggil sang ibu; Amira Gidden untuk datang. Wanita tua itu sangat senang karena ada garis keturunan yang mewarisi kemampuannya.
"Bu, kenapa dengan anak ini? Dari tadi menangis dan tak mau berhenti." Sarah bertanya pada Amira.
"Biarkan aku yang menggendongnya," pinta Amira seraya membopong bayi tersebut.
Tak berapa lama tangisan bayi itu mulai mereda. Ia juga tersenyum pada Amira yang kini berusia hampir 90 tahun itu.
"Oh, cucuku yang cantik, jangan takut, ya. Nenek akan selalu menjagamu dari mereka," ujarnya tiba-tiba membuat kedua orang tua bayi itu menatap dengan heran.
Amira tau bahwa bayi mungil itu sedang dikelilingi para arwah, makanya ia tak berhenti menangis. Hanya wanita tua itu yang bisa mengusir para arwah tersebut.
Setelah beberapa hari tinggal di rumah sakit, akhirnya Sarah dan keluarganya di perbolehkan pulang. Sesampainya di rumah, Amira meletakkan bayi yang ia gendong di keranjang bayi yang terbuat dari kayu. Wanita tua itu lalu berpesan pada Sarah dan Rahmat Ericson.
"Nak, kamu tau ... anak kamu ini istimewa, bukan? Ketika dia besar nanti, dengarkan semua yang ia katakan. Ia bukan anak biasa, matanya bisa melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Apa kalian mengerti?" Amira berkata kepada mereka.
"Iya, Bu. Kami mengerti," sahut Rahmat kepala keluarga di rumah itu.
"Tongkat kayu ini, berikan padanya ketika ia sudah dewasa. Saat ia sudah bisa mengontrol kekuatannya. Kuharap kalian bisa menjaganya dengan baik, ketika aku sudah tiada nanti," ujar Amira lagi.
"Ibu tenang saja, kami pasti akan menjaganya dengan baik," sahut wanita yang berambut panjang tersebut.
***
Sepuluh tahun kemudian.
Seorang gadis kecil tampak berlari di sebuah gang yang tak berujung. Wajahnya cemas ingin segera pulang ke rumah. Sesekali ia melihat ke belakang khawatir ada yang mengikuti.
"Ibu! Bu! Ibu di mana, sih," teriak gadis cilik itu yang tak lain adalah Viana Maya Ericson sambil berlari mencari Sarah.
Ibunya langsung keluar dari dapur mendengar ia berteriak.
"Ada apa, Viana? Kenapa, Sayang?" tanya wanita itu dengan heran.
Viana langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu sambil menangis. Sarah menghela napas dan menepuk bahu anak perempuannya itu. Ia tahu apa yang sedang dirasakan anak semata wayangnya tersebut. Sarah segera mendudukkan Viana di kursi dan memberinya minum.
"Minum dulu, Sayang. Lalu makan, ya. Kamu pasti lapar," Sarah mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Bu! Sampai kapan aku harus melihat mereka, Bu? Aku takut, Bu!" isak gadis kecil itu seraya mengusap kedua matanya yang sudah berair.
"Sayang ... suatu hari nanti, kamu pasti akan bersyukur karena mendapatkan keistimewaan ini. Bersabarlah sedikit lagi, ya," sahut Sarah sambil mengelus rambut Viana yang dikucir buntut kuda.
Malam harinya, Viana merasa tak enak badan. Setelah makan malam ia pun langsung tidur di kamar. Kedua orang tuanya merasa cemas dengan keadaan anak gadisnya tersebut.
"Bu, gimana keadaan Viana?" tanya pria berkacamata yang tak lain adalah Rahmat.
"Ya begitulah, Yah. Viana masih begitu muda untuk mengemban tugas seberat itu," keluh istrinya sembari menuangkan kopi.
"Bu, apa sudah saatnya kita berikan tongkat kayu pemberian nenek ke dia. Bukankah Viana sudah cukup dewasa," pinta suaminya seraya menutup koran yang sedang dibaca.
"Benar juga, Yah. Baiklah, besok ibu akan memberikan kepadanya," sahut istrinya seraya menyeruput kopi yang ada di gelas.
Di kamar Viana, gadis cilik itu tidur seraya memeluk photo sang nenek. Bulir bening mengalir membasahi pipinya, ia membayangkan saat-saat dulu bersama sang nenek.
"Nenek, kenapa begitu cepat meninggalkanku? Padahal masih banyak yang mau kutanyakan pada Nenek," isak gadis itu sampai ia tertidur lelap.
Cahaya matahari masuk ke celah-celah jendela kamar dari rumah berdinding beton tersebut. Seorang gadis cilik mengusap-usap matanya yang mungil karena kebisingan mendengar ayam yang berkokok dari tadi. Gadis cilik itu masuk ke kamar mandi, kemudian berganti pakaian seragam sekolah dan turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi.
"Pagi, Sayang. Gimana keadaanmu? Apa sudah baikkan?" tanya pria berkumis tipis itu yang tak lain adalah ayahnya.
"Udah mendingan, Yah," sahut Viana dengan lesu.
"Ayah percaya .. kamu itu kuat, Vi. Kamu pasti bisa melalui semua ini." Rahmat memberinya semangat.
"Makasih, Yah," sahut Viana mulai sedikit tersenyum.
Ibunya berjalan mendekati mereka seraya membawa sebuah kotak, lalu memberikannya pada Viana.
"Ini apa, Bu?" tanya Viana heran karena tiba-tiba diberi sebuah kotak.
"Ini pemberian Nenek untukmu. Sebelum meninggal, beliau berpesan. Jika dengan tongkat kayu ini kamu bisa mengendalikan arwah-arwah yang mencoba mengganggumu. Ibu rasa, kamu sudah bisa menerima ini sekarang. Maaf membuatmu menunggu, ya," jelas Sarah seraya mengusap rambut Viana.
Gadis cilik itu langsung membuka kotak yang diberikan Sarah dengan perasaan senang. Matanya berbinar-binar ketika memegang tongkat kayu yang ada di dalamnya.
"Ibu yakin, ini bisa mengalahkan mereka?" tanyanya penasaran.
"Yakin, Sayang. Nenekmu sudah menggunakan tongkat ini sejak dulu," sahut Sarah.
"Horeeee! Ahirnyaa, aku tidak akan takut lagi pada mereka!" ucap Viana merasa senang seraya memeluk kedua orang tuanya.
Sepulang sekolah, di jalan gang yang sering ia lewati. Biasanya, Viana harus lari tergesa-gesa dari mereka. Kini, gadis cilik itu berdiri dengan berani dan menantang mereka untuk berduet.
"Hari ini aku tidak akan lari!" Mata gadis itu berbinar seraya mengeluarkan tongkat kayu di tangan mungilnya.
"Wahhh! Berani sekali kamu! Ayo kita serbu dia!" ujar para arwah tersebut dan mendekati Viana.
Viana dengan cepat memukul mereka satu per satu menggunakan tongkat yang ia genggam. Mereka menjerit karena kepanasan dan merintih kesakitan.
"Ouchhhh! panass! apa ini!" ujar arwah itu mengerang kesakitan.
"Ampun, ampun! Ayo pergi!" sahut yang lain dan pergi begitu saja.
Gadis cilik itu tersenyum dan merasa puas.
***
Tahun berganti tahun kini gadis cilik itu pun sudah beranjak dewasa. Viana sedang berada di acara kelulusan SMA-nya. Saat itu semua keluarga datang untuk menyaksikan kelulusan anak-anak mereka, begitupun kedua orang tua Viana. Mereka juga berpoto bersama.
Di tengah kegembiraan mereka, terdengar suara wanita menangis begitu keras. Viana bisa mendengar suara itu dengan jelas.
"Bu, Yah! Apa kalian mendengar suara tangisan?" tanya Viana tiba-tiba.
"Nggak denger apa-apa kok, Vi," sahut Rahmat sembari menyalami orang tua murid lainnya.
"Memangnya apa yang kamu dengar, Sayang?" tanya Sarah.
"Oh, enggak, Bu. Mungkin aku salah dengar," sahut Viana yang tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
"Vi, ibu sama Ayah ke ruang guru dulu. Kamu tunggu di kelas, ya. Sana! Pamitan pada teman-temanmu. Nanti kita pulang bersama," titah Sarah dan membelai rambut anak kesayangannya.
"Iya, Bu!" sahut Viana dan pergi meninggalkan mereka.
Viana berjalan menyusuri lorong sekolah, ada banyak kenangan di bangunan itu. kini ia harus meninggalkan sekolahnya dan melanjutkan ke jenjang pendidikan lain.