“Sial!”
Ravendra memukul tangki motornya begitu sampai di garis finis. Di sana, orang-orang sudah berkerumun di dekat pria yang menjadi lawannya.
Mereka memberikan ucapan selamat yang biasanya selalu Ravendra terima setiap kali memenangkan balapan.
Namun, malam ini berbeda.
Ravendra kalah.
Tirtha dan Langit langsung menghampirinya. Hal pertama yang mereka pastikan bukan mengenai menang atau kalah, melainkan kondisi sahabat mereka.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Tirtha.
Ravendra tidak menjawab.
Dia turun dari motornya, melepas helm full face, lalu berjalan menuju lawannya yang juga sedang memandang ke arahnya.
Tirtha dan Langit hanya mampu mengembuskan napas berat sebelum mengikuti Ravendra dari belakang.
Ravendra sebenarnya ingin menuduh lawannya berbuat curang.
Bisa saja cewek yang tiba-tiba muncul di tengah jalan tadi memang suruhan lawannya.
Namun, dia tidak punya bukti.
Kalau sampai dia mengutarakan tuduhan itu tanpa bukti, justru dirinya sendiri yang akan dipermalukan.
Ravendra menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
Dia mengabaikan semua tatapan yang kini tertuju kepadanya.
Pelan, tangan kanannya terangkat.
Kunci motor miliknya ia berikan kepada lawannya dengan perasaan berat.
“Congrats. Motor gue jadi milik lo,” ucap Ravendra datar.
Lawannya menatap Ravendra selama beberapa saat sebelum akhirnya menerima kunci tersebut.
Dia mengangkat kunci itu sebentar sebagai tanda terima kasih, lalu melemparkannya kepada salah satu penonton yang tampaknya merupakan orang terdekatnya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, cowok itu melajukan motornya pergi dari sana.
Motor Ravendra pun dibawa pergi oleh seseorang yang tadi menerima kunci darinya.
Ravendra memandang tajam ke arah kepergian lawannya.
Kedua tangannya mengepal.
Rasa kesal memenuhi d**a dan kepalanya.
Dibilang malu?
Jelas.
Dia yang sejak awal begitu percaya diri akan menang, kini hanya bisa menahan emosi karena harus kehilangan motor kesayangannya.
“Ven.”
Tirtha dan Langit menghampiri.
Keduanya tidak mengatakan apa pun.
Kalau kondisi Ravendra sedang seperti ini, mereka bingung harus berkata apa.
Takutnya, satu kalimat yang salah justru membuat sahabat mereka semakin emosi.
“Cari tahu siapa dia lewat tanda yang ada di helmnya,” suruh Ravendra.
Tirtha mengangguk.
Kalau urusan mencari informasi, biasanya memang menjadi tugasnya.
“Tugas gue apaan?” tanya Langit.
Ravendra menoleh.
Dia terlihat seperti sedang mempertimbangkan tugas apa yang cocok diberikan kepada Langit.
“Lo bisa retas CCTV, kan?”
Langit bengong sebentar.
Kemudian mengangguk.
“Lo ngerasa dicurangin?”
Ravendra menggeleng.
“Gue nggak tahu. Tapi gue mau minta lo cek CCTV di pertigaan Jalan Kadal Buntung.”
“Buat apa?”
“Cari tahu siapa cewek yang tiba-tiba muncul di tengah jalan sampai bikin gue celaka.”
Kedua mata Langit dan Tirtha langsung melebar.
“Lo celaka beneran?” tanya Tirtha. “Lo ada luka?”
“Gue nggak apa-apa. Lakuin aja tugas kalian berdua.”
Tirtha menghela napas panjang.
“Cari identitas orang biar jadi tugas gue.”
Langit mendelik tidak setuju.
Namun, sebelum dia sempat protes, Ravendra lebih dulu menyela.
“Biarin. Biar dia ada gunanya jadi teman.”
Bukannya tersinggung, Langit malah tersenyum lebar.
Dia menepuk pundak Ravendra.
“Lo emang—”
“Argh!”
Ravendra spontan meringis.
Langit langsung menarik tangannya.
“Eh, sorry! Sorry! Refleks.”
Tirtha langsung memperhatikan bahu Ravendra.
“Bahu lo cedera?”
“Gue nggak apa-apa,” jawab Ravendra.
Namun, rahangnya mengeras menahan rasa nyeri.
“Yang penting sekarang, cari tahu siapa cewek itu.”
Ravendra menatap jalan yang mulai sepi.
“Dia bikin gue kehilangan motor.”
Dia mengepalkan tangan.
“Dan harga diri gue.”
Tirtha dan Langit bertukar pandang.
Mereka tahu betul, bagi Ravendra, motor itu bukan sekadar kendaraan untuk balapan.
Motor itu juga bagian dari harga dirinya.

Sementara itu...
Alesha menghentikan motor di depan rumah makan sederhana milik Bu Wirda, tempatnya bekerja.
Dia berulang kali menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
Pikirannya sibuk memikirkan alasan apa yang harus dia berikan mengenai beberapa belanjaan yang rusak dan motor yang kini memiliki beberapa goresan.
“Jujur aja deh. Bohong kan nggak boleh. Apalagi yang dibohongin tuh orang yang baik banget sama kita,” gumam Alesha.
Dia mengambil dua kantong belanjaan lalu melangkah menuju pintu warung.
Belum sempat mengucapkan salam, pintu warung sudah terbuka.
Bu Wirda keluar dan langsung menatap Alesha.
“Alesha, tumben lama. Macet jalanannya?” tanya Bu Wirda lembut.
Berbeda jauh dengan cara bibinya berbicara kepadanya.
Alesha menggigit bibir bawah.
Dia kemudian menyerahkan kantong belanjaannya.
“Loh, ini...”
Ucapan Bu Wirda terhenti saat melihat isi kantong yang sudah berantakan.
Ada noda kecap di plastik.
Beberapa telur juga pecah.
“Maaf, Bu,” ucap Alesha pelan. “Tadi... aku keserempet sama orang yang lagi balapan. Jadi...”
“Ya Allah!”
Bu Wirda segera meletakkan belanjaan dan memegang kedua lengan Alesha.
“Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka? Di mana?”
Bukannya menjawab, mata Alesha justru terasa panas.
Air mata mulai menggenang.
Bu Wirda malah mengkhawatirkan dirinya.
Bukan memikirkan barang yang rusak.
Bukan pula memarahinya karena motor yang tergores.
Alesha teringat masa lalu.
Dulu, dia pernah jatuh bersama anak bibinya.
Jatuh pun karena kesalahan anak bibinya.
Namun, bukannya bertanya mengenai kondisinya, sang bibi justru memarahinya habis-habisan.
Itu keluarga.
Sedangkan Bu Wirda jelas bukan keluarganya.
Namun, perempuan itu begitu peduli kepadanya.
Mungkin benar.
Kadang keluarga sendiri terasa seperti orang asing.
Sedangkan orang lain justru bisa terasa seperti keluarga.
“Ibu nggak marah?” tanya Alesha dengan suara bergetar.
Bu Wirda berdecak lirih.
“Ngapain Ibu marah sama kamu?”
Dia kembali memperhatikan luka lecet di tangan kanan Alesha.
“Ibu justru merasa bersalah. Kamu sampai luka begini gara-gara disuruh belanja sama Ibu.”
Alesha menggeleng.
“Semua itu bisa dibeli lagi,” lanjut Bu Wirda. “Kamu selamat aja, Ibu udah bersyukur banget, Luna.”
Alesha benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.
Dia sedikit berbalik lalu menunjuk motor matic milik Bu Wirda.
“Motornya juga ada baretnya, Bu.”
Bu Wirda mengibaskan tangan.
“Udah. Nggak usah dipikirin.”
Dia malah tersenyum kecil.
“Motor butut ini bisa diperbaiki. Yang penting sekarang kita obatin dulu luka di tangan kamu.”
Bu Wirda memegang tangan Alesha dan membawanya masuk ke dalam warung.
Untungnya, warung tersebut memiliki satu kamar kecil yang biasa digunakan untuk beristirahat.

Satu jam kemudian, Alesha pulang.
Rumah sudah dalam keadaan sepi ketika dia masuk.
Mungkin paman dan bibinya sudah tidur.
Namun, ternyata Alesha salah.
Baru saja dia hendak mengambil air minum, sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
“Heh. Mana uang bayaran kamu bulan ini?”
Tuminah, bibinya, mengulurkan tangan.
Alesha mengembuskan napas berat.
Tangannya refleks merogoh saku hoodie yang dipakainya.
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang yang memang sudah disiapkannya untuk sang bibi.
“Ini, Bi. Tapi nggak banyak. Soalnya kemarin ada potongan karena—”
“Potongan-potongan!” potong Tuminah cepat.
“Kamu pikir Bibi peduli?”
Alesha terdiam.
“Hidup kamu di sini makan, tidur, numpang mandi juga. Udah syukur Bibi nggak usir kamu dari dulu!”
Alesha mengepalkan kedua tangannya.
Dia ingin membalas.
Namun, dia teringat nasihat kedua orang tuanya.
Belum lagi, pamannya yang merupakan adik ibunya masih bersikap baik kepadanya.
“Cuma segini?” desak Tuminah sambil menghitung uang tersebut.
“Mana sisanya?”
Alesha menggeleng pelan.
“Memang cuma segitu, Bi. Beneran. Kemarin—”
Tamparan kecil mendarat di lengannya.
Tidak terlalu sakit.
Namun, cukup membuat Alesha tercekat.
“Kamu jangan bohongin Bibi!”
Alesha kembali mengembuskan napas berat.
“Ya kan biasanya juga segitu, Bi. Aku tuh kerja di warung nasi. Bukan di restoran atau kafe mewah.”
Tuminah menggerakkan bibirnya seperti mencibir.
“Ya udah. Berarti kamu harus kerja double. Di mana kek, biar uangnya nambah.”
“Ya mana bisa? Aku ijazah aja belum punya.”
Tuminah mengibaskan tangannya.
“Halah. Banyak alasan. Itu kamu aja yang malas.”
Alesha mulai tidak tahan.
“Terus kenapa nggak Bibi suruh Davira kerja? Dia kan berani.”
Tuminah langsung berkacak pinggang.
“Enak aja nyuruh Davira!”
“Dia itu anak kesayangan Bibi. Mana mungkin Bibi nyuruh dia kerja? Fokusnya harus sekolah sama main. Bukan kerja!”
Amarah di d**a Alesha semakin menumpuk.
Dia mengangkat dagunya.
“Lalu aku?”
Tuminah menatapnya.
“Aku juga anak kesayangan Ayah sama Ibu. Aku itu—”
“Ayah sama Ibu kamu udah mati kalau kamu lupa,” sela Tuminah dingin.
Alesha terdiam.
“Udahlah. Bibi mau tidur.”
Tuminah langsung berbalik dan masuk ke kamarnya.
Alesha mengepalkan kedua tangannya.
Dia memejamkan mata sejenak.
“Sabar, Alesha. Sabar.”
Dia menarik napas.
“Tapi sambil doain aja tuh mulut Bi Tuminah nggak bisa mingkem pas meninggal nanti.”
Alesha langsung menggeleng.
“Ya Tuhan... Alesha ngomong apa, sih?”
Dia mengambil segelas air putih lalu meminumnya.
Setelah mencuci gelas, Alesha masuk ke kamar.
Kamar tersebut sebenarnya adalah gudang.
Namun, ketika Alesha pertama kali tinggal di rumah itu, pamannya membersihkannya dan mengubahnya menjadi kamar sederhana.
Alesha duduk di atas kasur busa.
Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kaus kaki yang dipakainya.
Beberapa lembar uang.
Bibirnya langsung mengulas senyum.
Itu uang bonus dari Bu Wirda.
Bu Wirda memberikannya sebagai uang jajan.
Perempuan itu juga menyarankan Alesha menyimpan uang tersebut diam-diam karena tahu uang hasil kerja Alesha selalu diambil oleh Tuminah.
“Masih ada orang baik di dunia ini,” gumam Alesha.
Namun, ketika hendak berganti pakaian, dia meringis saat luka di tangannya terkena gesekan hoodie.
Dia kemudian memperhatikan lutut kanannya.
Ada luka gores di sana.
“Ya ampun.”
Alesha mengerutkan hidung.
“Semua ini gara-gara dia.”
Dia teringat kembali wajah cowok yang menabraknya.
“Awas aja kalau ketemu lagi. Habis lo sama gue.”

Sementara itu, Ravendra sampai di basement apartemen yang menjadi tempat tinggalnya bersama Langit dan Tirtha.
Malam ini dia terpaksa menumpang kendaraan Tirtha.
Ravendra mengembuskan napas berat.
Yang dia bawa pulang malam ini hanya helmnya.
Motor yang selama ini menjadi kebanggaannya sudah menjadi milik orang lain.
Meski masih berstatus siswa, Ravendra memilih tinggal sendiri di apartemen pemberian mendiang kakeknya.
Apartemen tersebut merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke-17.
Berada di rumah membuatnya muak.
Dia tidak betah.
“Gue langsung pulang, ya,” pamit Langit.
Tirtha mengangguk.
“Gue juga. Tenang aja. Tugas lo bakal selesai malam ini. Besok lo tinggal cari tuh cewek.”
Ravendra tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya mengangguk.
Kedua sahabatnya kemudian pergi.
Ravendra melangkah menuju lift.
Dia menekan tombol angka enam, lantai tempat unit apartemennya berada.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Langkah Ravendra terhenti.
Di depan pintu unit apartemennya berdiri seorang pria paruh baya.
Ravendra langsung mengenalinya.
“Ck. Ngapain ke sini coba?” pikirnya.
Pria itu adalah Pak Ravindra, ayah Ravendra.
Tatapan pria tersebut tajam.
Raut wajahnya datar dan dingin.
“Dari mana aja kamu?” tanyanya tegas.
Ravendra hendak memasukkan password pintu.
Namun, dia mengembuskan napas pelan.
“Ngapain pengen tahu?”
Pak Ravindra menghela napas panjang.
“Jawab yang benar.”
Dia berusaha menahan emosinya.
“Kamu balapan lagi?”
“Hem.”
Ravendra hanya menjawab dengan gumaman.
Pak Ravindra mengusap wajahnya kasar.
“Harus berapa kali Papa bilang? Jangan pernah balapan! Apalagi balapan liar kayak gitu!”
Ravendra terdiam.
“Kenapa kamu nggak nurut sama Papa?”
Ravendra berbalik.
Tatapannya tajam.
“Lalu, pas aku bilang Papa jangan nikah lagi, apa Papa nurutin aku?”
Pak Ravindra terdiam.
“Nggak, kan?”
Ravendra tersenyum miring.
“Jadi, stop ngatur-ngatur hidup aku!”
Pak Ravindra menunduk.
Kedua tangannya berada di pinggang.
Helaan napas panjang terdengar sebelum dia kembali menatap putranya.
“Gayatri wanita yang baik. Dia juga menyayangimu. Bahkan—”
“Ya, Papa pasti bakal bilang anak dari wanita itu juga sayang sama aku, kan?”
Ravendra tertawa hambar.
“Lalu akhirnya Papa bakal banggain anak tiri kesayangan Papa itu.”
Dia menatap ayahnya dengan sorot penuh kekecewaan.
“Dahlah. Basi.”
Ravendra membuka pintu apartemennya.
“Papa sama Mama sama aja. Bikin muak.”
Dia menatap ayahnya sekali lagi.
“Pergi aja sana!”
Pak Ravindra terdiam.
Sorot matanya menyiratkan kekecewaan.
Namun, dia tetap berdiri di sana.
“Ravendra, kamu anak Papa.”
Suaranya lebih lembut.
“Apa pun yang terjadi, kamu tetap darah daging Papa. Tapi kamu nggak bisa terus-terusan hidup seperti ini.”
Ravendra tidak menjawab.
“Papa datang ke sini bukan buat cari ribut. Papa cuma khawatir.”
Ravendra menghela napas.
Sorot matanya sempat melembut.
Namun, hanya sesaat.
Bibirnya mengulas senyum miring.
“Khawatir?”
Dia mendengus.
“Cih.”
“Ravendra!”
Pak Ravindra kembali menghela napas.
“Oke. Sekarang motormu ke mana? Papa lihat kamu tadi pulang bareng dua temanmu.”
“Nggak ada.”
Pak Ravindra mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Hilang.”
“Hilang?”
Ravendra mengangkat bahu.
“Aku kalah. Motornya jadi milik yang menang.”
Raut wajah Pak Ravindra langsung berubah.
Mulutnya terbuka.
Beberapa detik dia hanya menatap putranya dengan tidak percaya.
“Kamu... kamu taruhan motor?”
“Aku kalah.”
“Motor itu Papa kasih buat kamu sekolah! Buat kamu pergi-pulang dengan aman, bukan buat—”
“Aku tahu.”
Ravendra memotong perkataan ayahnya.
“Tapi kenyataannya, motor itu udah bukan milik aku lagi sekarang.”
Dia memasukkan tangannya ke saku.
“Jadi Papa nggak usah repot-repot ceramah.”
Pak Ravindra menatap anaknya dengan sorot kecewa.
“Kenapa kamu seperti ini?”
Suaranya mulai bergetar.
“Kenapa kamu mencari masalah terus?”
Ravendra diam.
“Papa tahu kamu belum bisa menerima pernikahan Papa. Tapi apa harus kamu menghancurkan diri kamu sendiri seperti ini?”
Ravendra tertawa hambar.
“Papa yang nyuruh aku bertahan hidup sendiri, kan?”
Dia menatap ayahnya.
“Jadi ya udah. Aku bertahan dengan cara aku.”
“Ini bukan bertahan, Ravendra!”
Suara Pak Ravindra meninggi.
“Ini menyeret diri kamu ke jurang!”
Ravendra terdiam.
“Kamu pikir kakek kamu memberikan apartemen ini supaya kamu bisa jadi liar seperti ini?”
Ravendra terkekeh.
“Kakek kasih apartemen ini supaya aku bisa bebas dari rumah itu.”
Tatapannya semakin tajam.
“Bebas dari omong kosong Papa dan keluarga baru Papa.”
Pak Ravindra terpaku.
Napasnya memburu.
Dia kemudian mengusap tengkuknya.
“Oke.”
Suaranya mulai melembut.
“Nggak apa-apa. Papa bakal beliin kamu motor baru.”
Ravendra menggeleng.
“Tapi kamu pulang, ya?”
“Gak usah.”
Ravendra membuka pintu apartemennya.
“Aku bisa beli sendiri.”
Dia menatap ayahnya.
“Udah, kan?”
Pak Ravindra tidak menjawab.
“Kalau udah, pulang gih.”
Brak!
Pintu apartemen tertutup sebelum Pak Ravindra sempat mengatakan apa pun.
Pria itu berdiri sendirian di depan pintu.
Wajahnya tampak lelah.
“Ya Tuhan...” gumamnya pelan.
“Apa yang harus aku lakukan pada putraku sendiri?”
Sementara di balik pintu, Ravendra berdiri diam.
Tangannya mengepal.
Pikirannya kembali kepada satu hal.
Cewek yang membuatnya kehilangan motor.
Alesha Keisya.
Dia harus menemukan gadis itu.
Apa pun caranya.