Alesha memandang motor sport warna hijau yang dinaiki Ravendra. Motor yang tentunya berbeda dengan yang ada saat malam itu.
Jelas beda. Ravendra memakai motor milik Langit.
"Kemarin malam motornya warna hitam. Sekarang udah ganti lagi. Dia beneran orang kaya," batin Alesha.
Dia terkesiap saat tiba-tiba harus menangkap helm yang dilempar oleh Ravendra.
"Pakai. Terus naik," ujar Ravendra tanpa nada ramah sedikit pun.
Alesha mengerucutkan bibirnya lalu menghela napas panjang.
"Kita mau ke mana? Ngobrol di sini aja kan bisa."
Ravendra langsung memberikan tatapan tajam.
"Ngga usah banyak tanya."
Alesha mengepalkan sebelah tangannya. Melakukan gerakan seperti ia akan memukul Ravendra. Tapi tentu saja hal itu tak ia lakukan.
Takut saja kalau ancaman yang Ravendra berikan benar-benar akan dilakukan. Atau mungkin... lebih parahnya, Ravendra memberinya ancaman lain yang lebih menakutkan.
Alesha akhirnya naik dengan cara memegang ujung jaket yang dipakai Ravendra.
Dia terlonjak kaget dan berakhir menarik kupluk jaket Ravendra karena hampir saja terjengkang kala Ravendra menarik gas dan melajukan motornya secara tiba-tiba.
Ravendra sontak kembali mengerem motornya.
Melirik ke belakang dan dari sorot matanya saja sudah kelihatan kalau dia kesal.
Alesha mengerjapkan kedua matanya.
"Bukan salah gue. Tapi lo yang ngga bilang dulu kalau motornya mau mulai jalan."
"Ck."
Ravendra berdecak saja. Dia kembali melajukan motornya, membawa Alesha pergi dari parkiran kafe.
Masih di tempatnya, Arkana menatap kepergian Alesha.
Kedua tangannya mengepal. Dia tak suka melihat Alesha dibawa pergi sama cowok lain.
"Lo beneran ngga tahu cowok itu siapa?" tanya Arkana pada Anindha.
Anindha menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya juga masih kelihatan seperti orang bingung.
"Beneran. Gue ngga tahu. Alesha juga ngga ada cerita kalau dia lagi dekat sama cowok lain."
Arkana memalingkan wajah dan mengembuskan napas berat.
Kalimat terakhir yang Anindha ucapkan sungguh membuatnya tak suka.
Cowok lain? Alesha dekat sama cowok lain?
Yang benar saja.
Selama ini, dia yang selalu ada buat cewek itu.
Ravendra menghentikan motornya di basement apartemen.
Dia melirik ke belakang, di mana Alesha masih duduk.
"Turun," titahnya dengan nada dingin.
Alesha mencebik dan turun.
Dia melepas helmnya sendiri dan memperhatikan sekeliling yang tentu sangat asing baginya.
"Kita di mana?" tanya Alesha.
"Apartemen," jawab Ravendra singkat.
Ravendra melepas helm dan sedikit mengacak-acak rambutnya lalu menyugarnya.
Semua gerakan itu tak luput dari pandangan Alesha.
Bukannya terkesima karena ketampanan yang dimiliki Ravendra, Alesha malah menggerakkan bibir seperti sedang mencibir.
"Apartemen siapa?"
"Emangnya mau ngapain?"
"Apart gue."
Kedua mata Alesha langsung melebar.
Dia tahu kawasan itu termasuk kawasan elite. Dan apartemennya pun tentu termasuk ke dalam jajaran tempat elite.
Bisa Alesha lihat. Di basement itu, yang terparkir hanya mobil dan motor mewah semua.
Tak ada mobil Carry terparkir di sana.
"Dia masih SMA udah punya unit apartemen di gedung ini?" tanya Alesha dalam hati.
Lalu dia menepuk keningnya sendiri.
"b**o. Anaknya Pak Ravindra. Tinggal di apartemen mewah kayak gini ya wajar."
Ravendra memperhatikan tingkah cewek di depannya.
Tanpa mengatakan apa pun, ia mengambil helm yang masih Alesha pegang dan menyimpannya di atas tangki motor.
Ravendra lalu berjalan menuju lift tanpa mengajak Alesha.
Cewek cantik yang hari itu rambutnya dicepol dan poninya dibiarkan berbaris di kening pun jelas bingung.
Ravendra membawanya pergi tapi meninggalkannya begitu saja di basement.
"Hei! Lo ninggalin gue di sini?!" seru Alesha.
Ravendra menghentikan langkahnya.
Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana seragam dan berbalik.
"Ya terus, kenapa lo diam aja di sana?"
Alesha mengerucutkan bibirnya lucu.
"Ya kan lo ngga ajak."
Lagi, Ravendra berdecak mendengar jawaban Alesha.
"Ikutin gue."
Ia kembali berbalik dan berjalan menuju lift.
Meski ragu dan sebenarnya tak mau, Alesha akhirnya berjalan cepat menyusul Ravendra.
Ia ikut masuk ke dalam lift dan berdiri di samping cowok yang aura wajahnya terkesan datar dan dingin itu.
"Dia bawa gue ke sini mau ngapain? Di apartemennya ada siapa? Kalau cuma berdua, gimana?"
Alesha mendadak resah.
"Awas aja kalau dia mau macam-macam sama gue."
Mereka sampai di lantai 17, tempat unit apartemen milik Ravendra berada.
Ravendra menekan beberapa angka sebagai password hingga pintu apartemennya terbuka.
Alesha memegang erat tali tas yang ia pakai.
Tentu saja ia tak langsung mengikuti Ravendra masuk.
Dia ragu dan mungkin lebih ke takut.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia pergi ke suatu tempat yang bisa dibilang privat bersama seorang cowok.
"Ya ampun, gue beneran harus masuk?" gumam Alesha galau.
Dia lalu melepas sebelah tali tasnya dan membuka resleting bagian saku kecil yang ada di tasnya.
Mengeluarkan satu botol kecil semprotan berisi air cabai yang selalu ia bawa.
Buat jaga-jaga kalau ada seseorang yang berniat jahat atau kurang ajar padanya.
Alesha terkesiap saat Ravendra kembali menghampirinya dan lagi-lagi memberinya tatapan tajam.
"Masuk."
Satu kata yang Ravendra ucapkan sungguh membuat Alesha merinding.
Ingin menolak pun dia sendiri sudah tahu risikonya seperti apa.
Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, Alesha akhirnya masuk.
Ia dibuat menelan ludah seketika saat suara pintu yang tertutup terdengar.
"Lo ngga boleh kelihatan takut, Alesha. Lo harus berani."
Alesha memandangi isi apartemen itu.
Lumayan luas, rapi, tak banyak perabotan apalagi hiasan.
Ada dapur, mini bar, meja makan yang muat untuk empat orang, sofa panjang warna abu-abu yang menghadap ke sebuah televisi besar.
Satu pintu yang entah kamar atau bukan dan ada pintu kaca yang mengarah ke balkon.
Ravendra memperhatikan Alesha yang masih berdiri.
Ia lalu memilih untuk duduk di sofa.
Menyugar rambutnya dan menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Gara-gara lo, gue kalah balapan dan motor gue raib jadi milik lawan gue," ujar Ravendra memulai pembicaraan.
Alesha langsung menoleh.
Keningnya mengerut.
"Itu bukan sepenuhnya salah gue. Dari jauh, lo ngga mungkin ngga lihat kalau ada gue di depan."
Satu alis Ravendra naik.
"Lo yakin ngomong kayak gitu? Amnesia terus lupa kalau lo muncul tiba-tiba kayak setan?"
Alesha sudah membuka mulutnya.
Hendak protes, tapi tak jadi.
Ravendra sepertinya tipe cowok keras kepala.
Mau dia membela diri seperti apa pun, dia tetap akan kalah.
Ia melipat kedua tangannya di d**a dan menatap Ravendra.
"Terus, lo minta gue ganti rugi kayak gimana?" tanyanya.
"Jadi babu gue."
"Apa?!"
"Nolak?" tanya Ravendra.
Alesha menganga dan menurunkan kedua tangannya.
"Tapi lo juga bikin Bu Wirdha rugi. Belanjaannya banyak yang rusak. Belum lagi motornya baret. Lo—"
"Baret doang. Ngga sampai hilang kayak gue," potong Ravendra lalu menatap tajam ke Alesha.
"Kalau ngga bisa bayar pakai duit, bayar pakai diri lo sendiri kayak yang gue bilang tadi. Jadi babu gue."
Alesha langsung seakan kehabisan kata-kata mendengar ucapan Ravendra.
Dia mendongak dan mengembuskan napas kasar.
Ravendra kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Jadi babu gue, atau..." Ia berhenti sebentar. "Jadi cewek gue juga ngga apa-apa."
Alesha membelalak.
"Lo gila?"
Ravendra mengangkat satu alis.
"Diam berarti iya. Kalau jawab juga berarti lo terima gue."
"Lo—"
Ravendra tersenyum tipis.
"Oke."
Ia bangkit dari sofa dan menatap Alesha lurus-lurus.
"Mulai sekarang, lo jadi cewek gue."