Napas gadis itu terengah-engah, ia berlari sambil merapikan riasannya. Jam menunjukan kalau dia sudah terlambat masuk kerja. Sampai di depan pintu kantor bosnya, ia menghela napas panjang mempersiapkan diri sebelum bertemu bos.
"Permisi Pak," sapanya. Bosnya beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah gadis itu.
"Rose Indrayana ... ini pesangonmu," ucap pria berjas biru itu pada gadis yang ia panggil Rose Indrayana.
Amplop coklat kini di depan mata Rose, ia menyadari kesalahannya dan menerima amplop itu. Beberapa kali ia melakukan kesalahan yang sama, tapi kali ini sang bos tidak mau menerima alasan apapun lagi dari Rose.
Gadis itu pergi dari kantor dan menyusuri jalanan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia masih butuh pekerjaan tapi sekarang nasibnya malang.
Seraya menyusuri jalan ia mencoba berpikir untuk mencari pekerjaan lain tapi di kota besar seperti Jakarta sangatlah sulit mencari pekerjaan. Ia pun mencoba menghubungi Aruna-sahabatnya untuk menanyakan tentang lowongan pekerjaan di perusahaan tempat sahabatnya itu bekerja. Namun, Aruna membalas pesan Rose dengan tidak menyenangkan, karena gadis itu malah memarahi Rose yang selalu tidak serius saat bekerja hingga selalu berakhir dengan pemecatan.
Walau Aruna seringkali memarahi Rose, tapi ia selalu menjadi teman baik Rose yang selalu bisa diandalkan. Aruna mencoba menghubungi sahabatnya-Sifanya untuk bertanya tentang lowongan pekerjaan untuk Rose. Hasilnya, Sifanya mengatakan pada Aruna kalau di perusahaan ia berkerja sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai sekretaris presdir perusahaan itu. Mendapat pesan seperti itu, Aruna langsung memberitahu Rose tentang lowongan itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, di saat Rose kehilangan pekerjaannya ia dapat pekerjaan baru dengan cepat. Walau belum tentu diterima tapi gadis itu sangat bersyukur memiliki peluang kerja lagi.
***
Pagi seperti biasa menyambut cantiknya Rose hari ini. Gadis itu akan melakukan wawancara untuk pekerjaan barunya. Ia berangkat dengan taksi online yang sudah dipesan. Di mobil Rose memandang indahnya Jakarta dengan hirup pikuk kota yang sibuk.
Sesampainya di kantor yang di tuju, Rose di sambut Sifanya yang sudah menunggu dari tadi. Dengan senyum yang terus terlihat gadis itu mengikuti Sifanya menuju ruangan presdir perusahaan itu.
Sifanya sendiri bekerja sebagai salah satu staff perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan pengembangan game itu. Rasa gugup mulai menguasai Rose yang kini berdiri di depan pintu ruangan presdir.
Pintu diketuk Sifanya sebagai tanda ia membawa orang untuk wawancara.
"Maaf Pak, saya membawa seseorang yang akan interview," ucap Sifanya di depan pintu yang masih tertutup itu.
"Masuklah," jawab seseorang dari dalam ruangan. Hanya Rose yang masuk ke ruangan itu.
Di depannya terlihat seorang pria berjas hitam duduk di balik meja kerjanya. Di meja itu ada papan nama bertuliskan "Dan Prayoga Presdir".
"Kamu yang mau interview?" tanya pria itu. Rose mengangguk dan tersenyum, secara tiba-tiba presdir itu memberi satu kali tepukan tangan dan membuat seorang wanita berpakaian serba hitam keuar dari pintu rahasia yang berada di belakang rak buku yang berdiri di ruangan itu.
Rose merasa bingung dengan keadaan ini. Wanita yang berdiri di sampingnya sekarang, terlihat sangat anggun dengan gaya rambut poni tale dan pakaian serba hitamnya. Wanita itu terlihat seperti seorang bodyguard cantik.
"Lawan dia dan jika kamu menang, kamu akan langsung di terima," ujar presdir itu. Tertegun ia mendengar ucapan calon bosnya itu. Bagi Rose, ini adalah sesi wawancara tergila yang pernah ia alami. Bukannya diwawancara tapi malah harus berkelahi sesama wanita. Apalagi wanita yang kini berdiri di sampingnya terlihat sangat kuat.
Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Rose saat ini, hanya ada dua pilihan mundur atau maju. Gadis itu mencoba untuk tetap tenang, ia menaruh tasnya di atas meja kerja calon bosnya itu. Rose juga melepas high heels yang ia pakai.
Sebenarnya ada rasa takut dalam hati, tapi jika ia tidak maju, pekerjaan yang sudah ada di depan mata akan lenyap seketika. Rose memberanikan diri melawan wanita itu, ia pasang kuda-kuda sebelum menyerang. Tangan gadis itu mulai gemetaran
"Eh tunggu dulu. Maaf Pak. Apa itu air mineral Bapak?" tanya Rose pada Dan Prayoga. Pria itu menganggukan kepala. Seketika Rose mengambil botol berisi air mineral itu lalu meminumnya. Pemandangan yang membuat Dan Prayoga tidak mampu berkata apapun tentang calon sekertarisnya itu.
Rose menghela napas dan menghampiri wanita yang berpakaian serba hitam itu lagi. Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan belati dan membuat jantung Rose seakan berhenti berdetak. Ia tidak menyangka jika wanita itu membawa belati.
"A-apa maksudnya ini Pak? I-ini sesi wawancara atau sesi pembunuhan berencana?'' tanya Rose dengan suara gemetar.
Dan tidak menjawab dan hanya menunjukkan senyum tipis di depan Rose. Tanpa aba-aba, wanita itu menyerang Rose dengan belati yang ia pegang. Dengan sigap, gadis itu menghindar. Rose tidak bisa bela diri jadi ia hanya bisa menghindari setiap serang dari wanita itu.
Di tengah perjuangan Rose menghindari serangan, tiba-tiba Dan menghentikan wanita itu. Dan berjalan ke arah Rose yang napasnya masih terengah-engah. Pria itu menunjukkan senyum tipis seraya memberikan tepuk tangan untuk Rose.
"Kamu hebat," puji Dan pada Rose. Mendadak ada sesuatu yang membuat jantung Rose berdebar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Rose tidak mengerti apa arti debaran yang sekarang ia rasakan.
Dan Prayoga memang tampan, ia tinggi dan terlihat sangat sempurna penampilannya. Jadi, wajar bila senyumannya saja mampu membuat Rose terpana.
"Kamu diterima sebagai sekertaris pribadiku, dan ... jangan panggil aku bapak. Panggil saja Pak Dan. Oke? Oh ya, mejamu ada di depan ruangan ini. Mengerti?" Rose mengangguk, kakinya masih gemetaran karena kejadian tadi. Rasa takut masih terasa tapi ia bersyukur karena diterima di perusahaan milik Dan Prayoga.
***
Jam makan siang tiba, Rose masih sibuk dengan beberapa agenda yang harus ia catat agar tidak terlupa. Dan keluar dari ruangannya dan mengajak Rose makan siang. Ia tidak mau jika hari pertama gadis itu bekerja akan membuat ia terlalu lelah, ia juga tidak mau dicap sebagai bos yang jahat. Namun, ajakan pria tampan itu ditolak oleh Rose. Gadis itu lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Dan tidak mengerti dengan cara berpikir gadis itu. Dia beri kelonggaran oleh bosnya tetapi malah lebih memilih bekerja keras di hari pertama.
Dan Prayoga mulai menemukan keunikan gadis itu dibanding gadis lain. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik dan karena itu juga dia memberi perhatian pada Rose.
Sikap spontan Rose adalah hal unik yqng dibutuhkan Dan dalam mencari sekertarisnya.