Aera menggeliat pelan di atas kasur empuknya, menarik kembali selimut karena cuaca yang sangat dingin sehabis hujan di tambah pendingin ruangan yang belum ia sesuaikan dengan udara saat ini. Saat hendak menarik selimut, tangan Aera mendapati kaki seseorang yang menemaninya saat hujan lebat turun. Dengan rasa khawatir, tubuhnya langsung berbalik untuk memastikan posisi sang kakak.
Rupanya pria itu tengah tertidur pulas dengan posisi bersandar pada kepala tempat tidur dengan sebelah tangan yang masih memegangi kepala Aera. "Dia ketiduran lagi di kamarku? Oh ya ampun, bagaimana jika suatu saat dia menikah dan istrinya melihat dia tidur di kamarku? Mungkin istrinya akan mencabik-cabikku sambil mengatakan 'Hei, kau adik yang sungguh tidak tahu diri'. Hhh, aku tidak bisa membayangkan itu."
Aera menggerak-gerakan tubuh Alfa sambil berkata, "Kakak, bangunlah.. Hujan sudah berhenti."
Melihat tidak ada reaksi, Aera pun berinisiatif mencari cara lain dengan menutup hidung sang kakak dengan ibu jari dan telunjuknya cukup lama hingga Alfa kehabisan nafas. Pria itu mulai mengigau dan bicara, "Aera, lepaskan tanganmu dari hidungku."
"Kakak.. Tapi aku sudah besar, hujan pun sudah berhenti. Aku berani tidur sendiri."
"Baiklah, aku akan pindah sebentar lagi." Sahutnya masih dengan mata tertutup tentu dengan kesadaran yang sangat minim.
"Dengan matamu yang tertutup seperti ini mana bisa kau pindah ke kamarmu? Kemarilah, aku akan menopang tubuhmu dengan tubuhku yang mungil ini." Aera menyibak selimutnya dan turun dari atas kasur. Meraih sebelah tangan Alfa lalu diletakkan pada bahunya.
Ia mulai berjalan dengan langkah yang sangat lambat karena tubuh Alfa yang jauh lebih berat darinya. "Bangunlah, Kak! Apa kau tidak menyadari bobot tubuhmu?"
"Apa kau lupa Tuan Greg selalu mengingatkanmu untuk menjaga pola makan?" Tuan Greg adalah pelatih taekwondo Alfa semasa ia berjaya di dunia bela diri.
"Turunkan tinggimu sedikit. Ya ampun, adikmu sungguh kesulitan sekarang." Wajar saja jika Aera terus mengeluh dan mengoceh sejak tadi karena Alfa memiliki bobot tubuh 69 kg dan tinggi 185 cm yang tentu jauh lebih tinggi darinya.
Aera terus berjalan sambil menopang tubuh berat nan tinggi milik sang kakak yang sebentar lagi akan tiba di kamarnya.
Dengan menggunakan siku sebelah kiri, Aera membuka handle pintu dengan susah payah lalu menyalakan lampu kamar. "Kak.. Kau sudah sampai di kamarmu, berbaringlah." Ucap Aera sambil merebahkan tubuh Alfa di kasur.
Dengan penuh perhatian, Aera juga menutupi tubuh Alfa dengan selimut tebalnya dan keluar dengan hati-hati agar sang kakak tidak terbangun dari tidur.
Aera kembali ke kamarnya sambil sesekali menguap karena rasa kantuk yang menyerang. "Bagaimana aku bisa tinggi jika kakak terus ketiduran setelah menemaniku di saat hujan? Aku harus mencarikan wanita yang siap menopang tubuhnya saat tidur di sembarang tempat seperti tadi." Aera mengakhiri ocehannya, ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dan terlelap tidur. Semoga malam ini ia bisa tidur nyenyak tanpa diganggu oleh mimpi buruk yang seringkali menghantuinya.
Cahaya matahari menembus jendela kamarnya yang sudah tidak di tutupi gorden. Mungkin saja para pegawai sudah datang dan membersihkan kamarnya sejak tadi. Aera sengaja bangun siang karena ia sedang datang tamu bulanan. Sambil bermalas-malasan ia meraih benda pipih berwarna hitam yang berada di atas nakas dan melihat notifikasi paling atas pada layar ponselnya. "Aku hampir saja melupakannya." Ia langsung menyimpan kembali ponselnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Aera Tifanka Wayland, gadis 22 tahun yang sedang menjalani tahap akhir kuliah S1nya di Oxford University. Dengan gamis berwarna hijau muda dan jilbab hijau tua bermotif daun Aera berjalan terburu-buru menuju ruang kelasnya untuk mengikuti ujian hari ini. Fakultas pendidikan dan pelatihan dengan jurusan pendidikan anak usia dini menjadi minat yang Aera inginkan sejak kecil. Kecintaannya pada apapun yang berhubungan dengan anak kecil membuat Aera ingin memiliki sebuah taman kanak-kanak di kemudian hari.
Tangannya terus menulis jawaban dari seluruh pertanyaan yang ada pada selembaran kertas yang ia letakkan di atas meja. Aera merupakan salah satu dari murid yang bisa dikatakan pandai sejak sekolah dasar hingga saat ini. Namun sesuatu yang membuatnya spesial adalah Aera tidak pernah kekurangan waktu untuk membagi ilmu dengan teman-temannya di kelas bahkan sesekali mereka membahas materi yang disampaikan dosen bersama-sama sepulang kuliah.
Ujian baru saja selesai, Aera memasukkan kembali alat tulisnya ke dalam tas dan berjalan keluar ruangan. Tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam tas berbunyi. Sebuah pesan masuk berasal dari Alfa.
Jangan lupa kabari aku jika hujan turun. Jangan memaksakan dirimu untuk pulang sendiri seperti kemarin. Jika kau tidak ingin pulang bersamaku, kau bisa meminta Tuan Smith untuk menjemputmu. Tuan Smith merupakan salah satu driver keluarga Wayland yang seringkali mengantar dan menjemput Aera kemanapun ia pergi.
Baiklah, Kakak. Aera menekan tombol send pada ponselnya untuk membalas pesan Alfa.
Bukan tidak mau di temani atau di jemput, Aera hanya ingin jika dirinya bisa menjadi wanita mandiri di usianya yang sebentar lagi genap 23 tahun. Aera juga sering menolak jika kedua orang tuanya ingin jika dirinya di jaga ketat dalam 24 jam oleh para pengawal keluarga. Ia tidak suka semua yang berlebihan. Ia rasa, ia bisa menjaga dirinya sendiri lebih dari siapapun menjaganya. Bahkan ilmu bela diri yang seringkali di ajarkan Alfa padanya cukup untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada yang berniat buruk padanya.
Aera menyempatkan diri untuk bersantai dan menikmati pagi ini di taman yang berada di kampus kebanggaannya. Tiba-tiba kedua sahabatnya datang. Gadis berambut coklat dengan blouse selutut yang menjadi kecintaannya ini bernama Kyla. Kyla lahir dan besar di Kanada namun ia justru pindah ke London dan tinggal seorang diri sejak mendaftar kuliah di Oxford. Satu lagi, gadis berkuncir kuda dengan ponsel yang membuatnya menjadi seseorang yang update informasi ini bernama Runa. Runa lahir di Korea Selatan, surganya oppa tampan nan rupawan.
"Aera," Sapa keduanya saat baru saja bergabung.
"Kemarin hujan deras sekali, kau pulang dengan siapa?" Tanya Kyla khawatir karena tahu rasa takut Aera pada hujan sangat besar.
"Aku.. Pulang sendiri. Ku pikir awan cerah saat pulang kuliah tidak membuat hujan turun. Nyatanya aku salah.."
"Lalu, apa kau kehujanan?"
"Ya. Untung saja kakakku cepat datang. Kalau tidak.. Aku akan merasa ketakutan sepanjang malam."
"Omong-omong soal kakakmu.. Dia selalu membuatku salah fokus." Sahut Kyla yang sejauh ini mengidolakan Alfa.
"Ya benar, jika saja aku belum memiliki kekasih, mungkin aku akan mengencani kakakmu." Runa menambahkan.
"Hey, ingatlah Aera memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita berdua." Ya, Kyla dan Runa memang non Muslim. Meski begitu, mereka bisa menghormati keyakinan yang Aera anut sama seperti Aera menghormati keyakinan mereka. Bagi mereka, perbedaan keyakinan bukanlah tembok besar yang menjadi penghalang sebuah persahabatan.
"Omong-omong, kalian tahu tidak siswa baru di fakultas Arsitektur yang sedang terkenal itu? Kudengar dia merupakan putra kedua rektor kita." Ucap Runa sambil mencari nama orang yang ia maksud dalam sosial medianya.
"Benarkah? Siapa namanya?" Tanya Kyla dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
"Namanya Arga. Gabriel Arga Hamilton." Sahut Runa lagi sambil menunjukkan akun sosial media dari orang yang ia maksud.
Aera diam saja. Ia tetap sibuk membaca sesuatu pada layar ponselnya.
"Aera, kemarilah. Lihat! Dia tampan sekali." Ucap Kyla histeris. Ia bersikap seolah-seolah tidak ada satu pria pun menyukainya, padahal hampir 80 persen seantero Oxford kenal siapa Kyla. Bagaimana tidak terkenal, jika ayah Kyla merupakan seorang lawyer sekaligus pebisnis yang memiliki banyak usaha dimanapun ia singgah.
"Aku tidak tertarik." Sahut Aera singkat.
"Apa kau yakin tidak penasaran pada wajah putra rektor kita?" Tanya Kyla.
"Uhm, kurasa tidak."
"Aera.. Aera.. Kurasa, siapapun pria yang mendekatimu, ia akan berurusan dengan kakakmu Alfa. Dan mungkin, pria itu juga harus ahli taekwondo. Jika tidak, ia pasti kalah KO oleh Alfa." Runa menambahkan.
Mereka bertiga pun tertawa. Siapa yang tidak kenal sosok Alfa Dustin Wayland. Sesuai dengan namanya Dustin dalam bahasa Norwegia yang memiliki arti ksatria pemberani, Alfa seringkali menang KO dalam pertandingannya.
***
Flashback On
Jam istirahat tiba. Para murid berhamburan menikmati jeda dalam proses belajar mengajar mereka dengan riang gembira. Lain hal dengan Alfa. Murid laki-laki berusia 10 tahun itu justru berdiam diri di balkon kelas sambil memperhatikan gerak-gerik sang adik yang sedang bermain di lapangan sekolah bersama teman-temannya. Gadis berkuncir kuda dengan poni itu lebih muda 2 tahun darinya.
Alfa tersenyum saat sang adik menyapanya sambil berteriak, "Kakak!"
"Nikmati waktu istirahatmu, Aera. Jadilah pemenang." Sahutnya dengan nada yang cukup keras.
Aera yang baru menduduki bangku kelas 2 sekolah dasar itu mengangguk sambil memberi isyarat oke.
Tiba-tiba sesuatu membuat Alfa kembali teriak dan berlari menuju lantai bawah untuk memastikan kondisi sang adik. "Aera!!!"
Alfa terus menuruni tiap anak tangga dengan perasaan campur aduk. Dan saat sudah tiba di lapangan, ia langsung meraih kerah baju murid laki-laki yang mengenai kepala Aera dengan bola basket miliknya. "Apa yang baru saja kau lakukan pada adikku?!"
"Aera.. Dia adikmu?" Tanya murid laki-laki itu dengan sombongnya.
"Berani-beraninya kau!" Ucap Alfa terus memukul mundur lawannya. Untung saja sahabatnya yang bernama Harry melerai dan mengatakan, "Alfa, hentikan ini. Lebih baik kau lihat kondisi adikmu."
Alfa melepas kerah baju murid tadi dengan rasa kesal. Saat hendak berbalik badan dan memastikan keadaan Aera, murid laki-laki tadi mengejeknya dengan sebuah kalimat yang tidak akan bisa Alfa lupakan sampai kapanpun. "Bagaimana kau bisa melindungi adikmu jika kau tidak punya keahlian apapun." Tangannya mengepal sempurna. Jika saja bukan di lingkungan sekolah, mungkin Alfa sudah memukul murid itu sejak tadi.
Memang harus di akui, murid itu merupakan pemenang lomba taekwondo di sekolahnya. Namun Alfa tidak bisa tinggal diam. Ia harus membuktikan jika suatu hari nanti ia bisa melindungi Aera lebih dari siapapun.
Alfa meraih tengkuk kepala sang adik untuk bersandar di pahanya. Darah mengucur deras dari pelipis mata Aera. "Aera! Maaf aku tidak bisa melindungimu."
"Aku berjanji. Aku akan berlatih taekwondo dengan sungguh-sungguh seperti yang daddy inginkan."
Flashback Off
Menggunakan mobil maserati hitam miliknya, Alfa berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang dijadikan sebagai tempat latihan taekwondonya selama beberapa tahun ini.
"Coach Alfa!" Panggil salah seorang murid yang berusia 5 tahun. Ya, setelah berhasil meraih gold medal dalam beberapa kesempatan, kini Alfa juga menyandang status sebagai pelatih dalam ilmu bela diri taekwondo. Tua Greg lah yang memberinya izin akan hal itu.
"Hey, Gogo. How are you?" Tanya Alfa yang kini berlutut di depan juniornya.
"I'm fine, Coach."
"Kau harus lebih semangat hari ini, Gogo!"
"Yes, i will." Sahutnya dengan suara yang cukup lantang.
Alfa mengelus puncak kepala Gogo sambil tersenyum. Meski berasal dari keluarga berada dan serba berkecukupan, Alfa mampu mengatur keuangannya dengan sebaik mungkin. Termasuk saat SMA dan kuliah, ia bisa mengumpulkan pundi-pundi uang dari hasil kejuaraan taekwondonya untuk di tabung dan membeli beberapa samsak tinju. Selain belajar taekwondo, Alfa juga menekuni ilmu bela diri tinju meski tidak seserius belajar taekwondo.
Baru saja menginjakkan kaki di dalam ruang latihan, sudah banyak sekali junior yang menyapanya dengan sumringah. "Coach Alfa, tekhnik apa lagi yang akan kira pelajari hari ini?" Rey, murid laki-laki berusia 6 tahun itu selalu semangat di tiap pertemuannya.
"Rey, apa cedera kakimu sudah membaik?"
"Sudah, Coach. Aku sudah tidak sabar untuk kembali berlatih."
"Baiklah, waktu pemanasan dimulai. Lakukan dengan benar, jangan ada yang main-main." Alfa memerintahkan muridnya dengan nada yang cukup lantang. Disaat seperti ini, ketampanan dan kegagahannya terlihat sangat jelas. Alfa tidak hanya layak dikatakan sebagai petarung, ia juga layak dijadikan sebagai model bahkan pemain film. Tubuh atletis dan wajah tampan yang sudah terpahat sejak lahir membuatnya beberapa kali mendapat tawaran acting. Namun Alfa menolak tawaran itu dengan cara baik, ia harus memikirkan semuanya matang-matang. Setidaknya taekwondo sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Selain bisa menyalurkan hobi, Alfa juga mampu melindungi sang adik agar tidak ada siapapun yang berani menyakitinya. Termasuk murid laki-laki yang sengaja melempar bola basket itu pada Aera.