Pemandangan indah di senja ini di kereta yang sedang aku naiki menuju Kota Kembang, kota yang akan ku coba menjalani kehidupan baru tanpa siapapun hanya kita berdua, lebih tepatnya 8 bulan lagi untuk kata 'Berdua' karena Dia belum terlahir ke bumi, Dia masih dalam perutku yang akan tetap dan selalu terjaga olehku sendiri.
"Maafkan embun nak, kita hanya akan hidup berdua nantinya. Tak ada ayah, tak ada kakek nenek, dan tak ada siapapun. Maafkan embun karena kamu akan terlahir dari kesalahan terbesar dan terbodoh yang embun buat dengannya." Sambil ku usap perutku yang masih rata, di kursi kereta Parahyangan.
EMBUN.. Panggilan itu yang ingin aku dengar dari calon anakku. Semoga aku menjadi seperti embun di pagi hari yang selalu menyejukan untuknya, itulah harapanku.
3 jam sudah perjalanan dari Ibukota - Kota Kembang tujuanku. Sempat terlelap karena terlalu dalam dengan pikiranku sendiri. Bagaimana aku nanti membesarkannya seorang diri? Apa aku sanggup menghidupi nya? Apa benar aku akan sanggup melahirkannya tanpa siapapun yang menemaniku?. Itulah saat terberat dalam pilihanku, memilih untuk hidup sendiri tanpa siapapun yang tahu ke tempat ini.
Tibalah aku di stasiun Bandung, dengan berat hati ku tinggalkan Jakarta demi aib ini, ya, ternyata memang aib ini yang membawaku ke Bandung. Maafkan aku Bandung.
Dengan langkah gontai keluarlah aku dari stasiun, bingung harus kemana kaki ini tertuju tak ada banyak bekal uang dan tak ada yang aku kenal. Perutku berbunyi minta di isi nutrisi untuk si janin, untung saja ada warung nasi sekitar stasiun ini, semoga tidak terlalu mahal.
"Bu, mau nasi sama ikan nila pakai sayur dan sambal." Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin ikan, padahal biasanya aku tak suka makan dengan ikan karena duri nya yang membuatku ribet. 'Mungkin bawaan si bayi' batinku. Tak lupa ku usap perut rataku dengan senyum, karena hanya dia yang selalu menemani ku.
"Siap neng." Sambil di ambilnya piring
"Bu maaf, kalau sekitar sini ada kost atau kontrakan yang harganya tidak terlalu mahal?" Tanyaku.
"Untuk berapa orang neng? Neng mau kuliah disini?".
"Untuk saya sendiri bu. Tidak bu saya sudah lulus kuliah, mau cari kerja disini, mudah-mudahan ada rezekinya disini." Jawabku
"Kalau buat neng sendiri mah kebetulan ibu punya rumah tidak ada yang mengisi, kalau neng mau mengisinya boleh." Sambil menyodorkan piring pesananku.
"Berapa bu perbulannya?"
"Terserah neng saja, ibu sebenarnya hanya perlu orang untuk mengisinya karena sayang neng sudah 2 bulan kosong, neng gak bayar juga gak apa-apa buat ibu mah yang penting neng mau mengisi."
"Jangan begitu bu, saya kan cari kontrakan bukan tumpangan rumah, walaupun sebenarnya kalau mahal saya juga belum sanggup, hehe." Seulas senyum untuk ibu warung nasi yang ramah itu.
"Ya makanya neng, neng lihat saja dulu rumahnya besok saya antar, kalau sekarang neng mau kemana kalau belum dapat kontrakan?" Tanyanya seperti cemas padaku.
'Sepertinya ibu warung nasi ini baik sekali, perhatian, apa harus ku Terima tawarannya?' dalam hatiku.
"Kalau sekarang paling saya cari penginapan untuk 1 hari sambil cari kontrakan mumpung masih sore." Dengan suapan sendok ke mulutku, enak benar-benar enak masakan ibu warung nasi ini.
"Jangan neng bahaya perempuan jalan sendiri, kalau kemalaman bagaimana? Kecuali kalau neng ada yang kenal disini." Wajah ibu warung nasi itu panik.
"Saya tidak punya teman di Bandung bu, karena niat saya kesini merantau mencari pekerjaan." Jelasku.
"Ya sudah habiskan makannya neng, kalau mau tambah silakan. Sekarang pulang sama ibu saja, kebetulan ibu tinggal sendiri." Pungkasnya, sambil membereskan piring dan wadah kotor, mungkin warung nasinya sudah mau tutup.
Sebenarnya aku ingin sekali menerima tawaran dari ibu itu, tapi aku malu menerima kebaikannya karena baru saling mengenal. Apalagi awalnya niatku hanya makan saja yang sejak dalam kereta perutku sudah berbunyi.
"Tidak usah bu gak apa-apa, saya mencoba mencari penginapan saja dulu sambil mencari kerja juga." Sebenarnya menolak juga tidak enak karena si ibu terlihat tulus.
"Neng.. Ibu benar-benar tulus menawarkan neng menginap di rumah, karena ibu tahu dan pernah mengalami rasanya sendiri tanpa arah dan tujuan itu tidak enak. Tolong jangan di tolak. Dan mudah-mudahan ada info lowongan kerja dari tetangga ibu." Jelasnya dengan penuh permohonan.
Aku sendiripun menjadi tak kuasa untuk menolak kebaikan ibu warung nasi ini, mungkin ini cara Tuhan melindungiku dan anakku melalui ibu warung nasi ini. Akhirnya ku Terima saja tawarannya karena menolak pun aku memang akan kebingungan jika pada kenyataannya aku tak punya teman dan tak tahu jalan di Kota ini.
"Baiklah bu, saya ikut ibu. Terimakasih banyak bu sudah mau membantu saya."
"Sama-sama neng, jangan sungkan sama ibu ya."
Terimakasih Tuhan.. Engkau mempertemukan aku dengan ibu warung nasi yang baik dan tulus ini.