Ajeng segera menghampirinya "Om Surya?" sapanya sambil membungkukkan badannya ketika sudah di dekatnya.
Ya ternyata yang datang itu Om Surya ditemani asistennya itu.
Yang dipanggil itu pun segera mengangkat mengangkat wajahnya dan menyimpan ponsel yang sedari tadi di tatapnya itu. "Eh Nak Ajeng, sini-sini duduk!" ujarnya sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Ajeng pun menurut. "Kok Om nggak ngabarin dulu kalau mau kesini? Sudah lama menunggu?" tanyanya tak enak karena andai saja dia tahu Om Surya akan datang, dia pasti segera menemuinya dari tadi.
Surya malah tersenyum, dia memang sengaja tak memberi tahu dulu. "Kamu sudah selesai prakteknya?"
Ajeng menganggukkan kepalanya. "Ya baru saja selesai!"
"Em gimana yang ngomongnya," gumam surya sambil masih berpikir. "Kamu ada waktu luang nggak sekarang?"
Ajeng agak heran tapi dia segera menganggukkan kepalanya. "Ya ada Om, kenapa? Om punya keluhan dengan gigi?" tebaknya karena aneh sekali om Surya datang sampai menunggu di rs seperti ini, jadi pasti ada hubungannya dengan kesehatan giginya bukan.
Surya malah tertawa, "Ah bukan Jeng."
Ajeng menundukkan wajahnya sedikit karena ia merasa sangat malu karena tebakannya salah.
"Om cuma ingin ngobrol sebentar sama kamu. Bisa?" lanjut Surya bertanya.
"Ya tentu saja bisa Om," jawabnya kemudian tanpa berpikir panjang lagi karena jelas dia tak bisa menolak ajakan dari Om Surya itu.
Surya tersenyum lega. "Syukurlah kalau gitu. Tapi enaknya di mana yah, dekat sini apa ada tempat makan atau apa gitu yang nyaman?"
"Ada Om di seberang ini ada cafe, mau coba di sana?" tawar Ajeng.
Surya langsung menganggukkan kepalanya setuju. "Ok kalau gitu Om duluan ke sana yah, nanti kamu nyusul karena kamu pasti harus beres-beres dulu kan."
"Ah iyah baik Om," ujar Ajeng sambil tersenyum.
Surya segera bangkit dari duduknya. "Ya sudah Om duluan yah!" pamitnya.
Ajeng pun sama bangkit dari duduknya, "Iya silakan Om!"
Setelah Om Surya pergi, Ajeng segera kembali ke ruangannya dan membuka jas dokternya, kemudian merapikan meja dan tasnya sambil menggerutu dalam hatinya. Karena bisa-bisanya tadi dia malah berpikir kalau Kama yang datang lagi padahal malah calon bapak mertuanya itu yang datang.
Tapi, kenapa tiba tiba Om Surya datang? Mengajak ngobrol hanya berdua pula? Ajeng semakin resah dibuatnya tapi dia pun segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju cafe yang berada di seberang RS-nya itu.
Sesampainya disana Ajeng segera menghampiri Om surya yang sudah duduk di salah satu meja dan sudah ada dua minuman di sana.
"Ayo-ayo sini duduk!" seru Surya saat melihat Ajeng sedang berjalan menghampirinya.
Ajeng menurut segera duduk. "Aduh maaf yah Om jadinya harus nunggu lagi," sesalnya.
"Nggak apa-apa santai aja Jeng!" katanya sambil tersenyum. "Ah ya ini Om sudah pesankan jus strawberry tanpa es dan gula, benarkan?" jelasnya antusias.
Ajeng mengulum senyumnya dan menganggukkan kepalanya, dia tak menyangka kalau Om Surya masih saja mengingat minuman kesukaannya itu. "Makasih banyak Om!"
Surya ikut tersenyum lebar, "Kamu tau kan Om sudah anggap kamu sebagai anak Om dari kecil, makanya Om selalu ingat semua tentang kamu," terangnya lagi.
Ajeng tentu tahu betul itu karena memang Om Surya selalu memperlakukannya dirinya sangat baik dan ia bersyukur akan itu. "Terima Kasih banyak Om, oh iyah bagaimana kabar Om sehat?"
Surya menarik napasnya dalam, lalu menjawab. "Alhamdulillah sehat!"
Ajeng tersenyum lega. "Alhamdulillah."
"Jeng, kamu pasti kaget kan tiba-tiba Om pengen ngobrol berdua seperti ini dengan kamu." Surya menegakkan posisi duduknya.
Begitupun dengan Ajeng yang kini duduk tegak siap mendengar perkataan selanjutnya Om Surya yang terlihat serius.
"Sebenarnya, Om kemari ingin meminta maaf kepada kamu atas perlakuannya Kama kemarin malam.” Lanjut Surya dengan sepenuh hati.
Ajeng tertegun mendengar pernyataan itu apalagi dengan raut wajah Om Surya yang terlihat sangat menyesal seperti itu. "Ah itu tidak sepenuhnya salah Kama kok Om. Dia begitu pun karena saya yang berbuat salah duluan,” belanya karena memang itulah kenyataannya.
Surya menggelengkan kepalanya. "Tetap saja perlakuan Kama itu tidak dibenarkan Jeng!" timpalnya agak kesal mengingat kembali kelakuan putranya itu. Tapi, ia pun segera mengontrol emosinya kembali karena tidak seharusnya Ajeng melihat kemarahannya itu. "Intinya Om sangat malu dan bersalah melihat perlakuan dia kemarin pada kamu. Ah apa dia sudah meminta maaf?" tanyanya penasaran.
Ajeng terpaku sebentar mendengar pertanyaan itu, tapi dia malah menganggukkan kepalanya, padahal dia ingat betul kalau Kama tidak mengucapkan maaf satu kali pun padanya.
"Tapi, Om tetap harus meminta maaf padamu sebagai Papa-nya!” keukeuh Surya lalu menarik napasnya dalam. "Tolong maafkan perlakuan anak Om semalam yah!" ujarnya lagi sambil menundukkan wajahnya.
Ajeng menjadi tak enak, karena Om surya terlihat sangat bersungguh-sungguh, padahal dalam kasus ini putranya yang bersalah. "Ya Om!" katanya karena dia tak tahu harus berkata apalagi.
Surya menghela napas beratnya. "Maaf juga kalau selama ini Kama belum baik memperlakukan kamu. Om rasa semua ini pun gara-gara kesalahan Om.”
Ajeng malah mengerutkan keningnya heran mendengar pernyataan itu dan ia sengaja tak bicara apa-apa karena ia tahu kalau Om Surya akan melanjutkan pembicaraannya.
“Kamu tahu kan selama ini Kama tumbuh tanpa sentuhan ibunya," lirihnya. Kemudian Surya mengangkat kepalanya ke atas karena matanya tiba-tiba berair setelah mengatakan itu. Hatinya ternyata masih sakit meskipun sudah 25 tahun yang lalu sang istri meninggalkan mereka semua. "Sorry yah Jeng, aduh sebentar!" katanya sambil mengatur napasnya kembali, tentu saja ia tak mau menangis di depan calon menantunya itu.
Ajeng ikut sedih melihat Om Surya yang terlihat masih sangat sedih atas kepergian istrinya itu. Ya, tentu ia tahu soal Mamanya Kama yang meninggal di saat Kama masih berumur 5 tahun.
Setelah hatinya mulai tenang, Surya segera mengangkat wajahnya dan tersenyum pada calon menantunya. “Maaf ya Jeng, Om terlihat cengeng dan lemah memang jika menyangkut almarhum Mamanya Kama,” terangnya.
“Wajar kok Om!” ujar Ajeng lalu tersenyum.
Surya menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Om merasa Kama tidak tahu cara memperlakukan perempuan karena selama ini dia tumbuh sendiri tanpa sentuhan seorang ibu. Dan, ternyata itu berpengaruh juga terhadap kepribadiannya dia sekarang. Kamu lihat saja kepribadiannya berbeda jauh kan dengan Dava, adiknya yang tinggal dengan neneknya sedari bayi. Sedangkan, saat itu Kama yang umurnya 5 tahun sudah bisa menolak tak ingin bersama neneknya. Om sangat menyesal, saat itu Om malah sibuk sendiri tak memperhatikan Kama sama sekali. Maaf yah Jeng kamu pasti baru mendengar semua ini,” terangnya panjang lebar dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Ajeng merasa sangat sedih mendengar pernyataan itu, selama ini dia tak tahu yang sebenarnya terjadi karena tentu saja Om Surya maupun orang tuanya tak pernah membahas soal ini, serta saat itu terjadi Ajeng masih sangat kecil hingga dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang ia tahu saat itu hanya sebatas Mama Kama meninggal itu saja.
“Terima kasih Om sudah mau menceritakan ini!” seru Ajeng karena ia tahu pasti berat membicarakan lagi soal ini, terlihat jelas dari raut wajah dan matanya yang tampak sedih itu.
Surya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. ”Kamu memang berhak mengetahui semuanya Jeng. Tapi, hari ini Om tidak sanggup menjelaskan semuanya. Maka dari itu jika kamu penasaran sesuatu kamu bisa bertanya pada Om ataupun orang tuamu yah.”
Kini Ajeng yang menganggukkan kepalanya, “Baik Om!” katanya sambil tersenyum.
“Ayo diminum dulu!”
Surya langsung meneguk minuman kopi yang dipesannya tadi, begitupun dengan Ajeng ikut meminum jus strawberry-nya.
“Oh iyah, Jeng?” panggil Surya kemudian.
Ajeng segera menaruh gelasnya, “Iyah, Om!” jawabnya sambil melihat ke arah Om Surya. Tiba-tiba saja ia menjadi gugup kembali dan pertanyaan muncul di kepalanya karena melihat raut wajah Om Surya yang mulai terlihat serius kembali. 'Apa lagi yang akan dibicarakan oleh Om Surya sekarang?' tanyanya dalam hati.