Ajeng menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia harus bisa mengendalikan dirinya dan terlihat baik-baik saja di depan semua orang, tekadnya. Lalu perlahan ia mengangkat kembali wajahnya dan tersenyum ke arah ibunya itu. “Ya aku hanya kaget sebentar,” lirihnya.
Semua orang menghela napas lega mendengar pernyataan itu.
Terdengar deheman Surya dan kini semua orang menatap ke arahnya.
"Jadi, begini Ajeng. Baiklah tadinya kita ingin mengulur waktu membahas ini, tapi rupanya Kama sudah tak sabar dan terlalu semangat sehingga mengatakan itu di awal.” Surya melirik tajam sebentar pada putranya itu.
Kama hanya tersenyum sinis mendengar perkataan aneh yang dilontarkan Papanya itu, bersemangat katanya? Jelas-jelas agar tak banyak membuang waktu saja dan agar acara ini segera selesai, gerutunya dalam hati.
Surya segera mengalihkan pandangannya kembali menatap pada Ajeng. “Jadi, ya benar Om dan kedua orang tuamu sudah berdiskusi soal ini dan sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putra sulung Om yaitu, Kama!"
Mendengar penjelasan itu lebih detail membuat Ajeng terpaku kembali di tempatnya dan hanya menatap lurus ke arah satu lukisan yang menggantung dalam ruangan itu.
Saat ini Ajeng sangat bingung, ia tak mengerti kenapa semua orang sudah sepakat untuk menjodohkannya. Padahal, kedua orang tuanya tak pernah membahas persoalan ini sedikit pun padanya. Serta jika orang tuanya sudah memutuskan sudah dipastikan itu adalah keputusan akhirnya, yang artinya ia harus menerima keputusan itu tanpa bantahan.
Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan orang tuanya yang tak melibatkannya dalam mengambil keputusan. Tapi, entah kenapa ia merasa kecewa dan berat sekali mendengar keputusan perjodohan ini. Terlebih mungkin karena ini begitu tiba-tiba dan ternyata nampaknya dari semua orang yang hadir di ruangan ini, hanya dirinya lah yang tak mengetahui soal perjodohan ini.
“Jeng?”
Panggilan itu menyeret dirinya keluar dari lamunan. Ajeng menggelengkan kepalanya, lalu mengamati semua orang kini sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. “Ya!” ujarnya lalu menegakkan duduknya kembali.
“Kamu baik-baik saja sayang?” Sekar sangat khawatir segera menggenggam tangan putrinya itu.
Ajeng memaksa menarik bibirnya sedikit untuk tersenyum. “Aku hanya kaget saja Bu,” lirihnya.
“Ya, wajar saja jika kamu kaget Nak,” timpal Prasetya mencoba menenangkan putrinya itu.
“Maaf yah Ajeng!” sesal Surya menatap kasihan wanita yang sudah dianggap anaknya juga, kemudian ia berganti melirik putranya dengan tajam. Sedangkan Kama hanya mengangkat bahunya saja dengan wajah tak bersalahnya itu.
“Ya sudah kalau begitu ayo-ayo kita makan dulu hidangannya!” lanjut Surya. Lalu semua orang mulai kembali memakan makanan yang sudah ada di atas meja.
Ketika yang lain terlihat sangat menikmati hidangannya sambil mengobrol ringan. Hanya Ajeng yang terlihat tidak semangat karena selera makannya hilang begitu saja, serta perkataan om surya sedari tadi terus berputar di kepalanya.
Sekar sangat khawatir, ia sampai terus memperhatikan putrinya itu di sela makannya. Kemudian ia segera menepuk pundaknya pelan. "Jeng, kita keluar dulu sebentar yuk!" serunya sambil berbisik.
Ajeng menganggukkan kepalanya setuju.
“Maaf semuanya, saya dan Ajeng mau keluar dulu sebentar. Ingin menghirup udara segar dulu di luar sebentar!” Sekar berpamitan pada semua orang.
“Ah ya benar-benar, silakan. Nanti kalian tinggal belok kiri saja nanti langsung keluar ke arah taman hotel!” seru Surya memberitahu.
“Baik, kalau begitu kita keluar dulu yah!” Sekar segera beranjak dari kursinya sambil menggenggam tangan putrinya itu. Lalu mereka segera keluar dari ruangan itu.
“Pras, anakmu akan baik-baik saja kan dengan perjodohan ini?” tanya Surya khawatir.
Prasetya malah tersenyum. “Tenang saja Sur, dia akan baik-baik saja. Biarkan ditenangkan dulu oleh ibunya!” terangnya agar sahabatnya itu tak khawatir.
Surya menghela napas lega mendengar penjelasan itu.
“Jadi, bagaimana Pah? Rencana kita tetap jalankan?” Kama bertanya memastikan rencananya jadi atau tidak.
Surya berpikir sejenak menimbang-nimbang, karena melihat kondisi Ajeng yang terlihat sangat kaget dengan perjodohan ini. “Kita bicarakan dulu dengan Om Pras!” serunya. Lalu ia segera mengajak diskusi Pras soal rencana putranya yang tadi dibicarakan di luar.
***
Dua wanita sedang duduk di bangku taman menikmati keindahan taman yang berada di hotel itu. Entah sudah berapa banyak Ajeng menghela napasnya berat di sini, otaknya pun terus bekerja memikirkan soal perjodohan. Dan, tiba-tiba ia mengerti soal alasan ibunya yang bersikeras membuat dia berpenampilan seperti ini agar terlihat cantik dan sempurna di depan pria yang akan dijodohkan dengannya itu. Pantas saja, pikirnya kemudian meringis.
“Bu?” panggil Ajeng.
Sekar segera menoleh dan tersenyum ke arah putrinya itu, “Ya Nak!”
“Bu, kenapa nggak bilang dari sebelumnya?” lirihnya ingin mengetahui.
“Maaf!” Sekar merasa menyesal, lalu menggenggam tangan putrinya itu. “Kita tak mengira kamu akan kaget seperti ini, Nak!”
Ajeng menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Ibu tau ini berat bagimu Jeng. Tapi, ini awalnya keinginan Om Surya. Lantas kami hanya menyetujuinya, karena kamu tahu sendiri alasannya seperti apa dan hanya kamu yang bisa melakukannya Nak!” lanjut Sekar lalu menundukkan wajahnya.
Saat ini Ajeng benar-benar tak tahu harus berkata apa mendengar penjelasan barusan. Ia baru mengerti sekarang dan tentu saja ia pun tahu betul alasan orang tuanya menyetujui semua ini. Kemudian Ajeng segera menggenggam tangan ibunya itu. “Ya aku mengerti Bu!”
Sekar segera menoleh pada putrinya. “Nak, Ibu tahu ini berat. Tapi, tenang saja Kama adalah anak Om Surya. Serta Ibu dan Bapak juga yakin kalau Kama adalah pria baik yang akan menjadi pendamping hidup kamu."
Ajeng hanya tersenyum tipis mendengar ibunya yang berusaha meyakinkannya.
Sekar menghela napas lega karena sudah melihat putrinya tersenyum lagi. “Jeng, menurut kamu Kama seperti apa? Apa kamu sudah tertarik dengannya?” tanyanya penasaran.
Ajeng meringis mendengar pertanyaan itu, sebab ia sama sekali tak memperhatikan pria itu. Yang jelas pria itu punya tatapan tajam yang membuatnya agak takut dan juga jarang tersenyum alias kurang ramah, beda dengan Dava, jawabnya dalam hati. “Kalau menurut ibu?” Ia sengaja balik bertanya.
Sekar bergumam sambil tersenyum. “Dia manly, macho, dan pekerja keras loh Jeng!” jawabnya antusias.
Ajeng mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban ibunya itu. “Tapi, kenapa dengan wajah yang menarik, serta pekerjaan yang bagus, dia mau dijodohkan dengan ku Bu? karena sudah dipastikan banyak sekali wanita yang ingin bersamanya.”
Sekar menghela napas berat mendengar pertanyaan itu, ia segera mengusap rambut putrinya itu. “Tapi, Om Surya maunya kamu sayang!”
Kini Ajeng yang menghela napas berat, karena ia merasa bebannya semakin menambah setelah mendengar itu.
“Nak, kamu itu cantik, pintar, dan mempunyai pekerjaan bagus, seorang dokter loh. Kamu sepadan sama dia.” Sekar mencoba meyakinkan putrinya yang terlihat tidak percaya diri.
Ajeng hanya tersenyum tipis mendengar itu.
“Jadi, kamu udah siap masuk ke dalam lagi?” Sekar menaikkan satu alisnya.
Ajeng menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan, sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri 'Semua akan baik-baik aja, Jeng!' tekadnya dalam hati. Tak lama ia pun segera menganggukkan kepalanya dan tersenyum lagi ke arah ibunya.
Sekar segera memeluk putrinya itu, "Terima kasih, Nak!" lirihnya lalu mencium kepalanya. Setelah itu mereka pun segera kembali ke dalam bergabung dengan yang lain.
"Bagaimana, sejuk dan nyaman kan tamannya?" Surya bertanya dengan antusias apalagi ia sangat lega ketika melihat Ajeng kembali dengan wajah berserinya.
"Ya benar, bagus sekali kita sampai betah di sana!" Sekar tertawa kecil sedangkan Ajeng hanya menganggukkan kepalanya saja menyetujuinya.
"Syukurlah kalau kalian suka!" seru Surya. "Ajeng, bagaimana perasaanmu saat ini? Sudah membaik?" lanjutnya ingin memastikan.
Ajeng malah mengamati semua orang dan mengangukkan kepalanya perlahan. "Baik Om!" jawabnya lalu tersenyum.
Surya membalas senyumannya dengan sangat lebar, lalu melirik pada Prasetya dan terlihat sahabatnya itu menganggukkan kepalanya.
"Ajeng, bagaimana kalau kamu mengobrol berdua dulu dengan Kama?" usul Surya hati-hati.
Ajeng malah melirik kedua orang tuanya, kemudian ia mengangguk. "Boleh Om!" jawabnya tenang, padahal ia mulai gugup. Bahkan, saat ini ia tak berani melihat ke arah pria bernama Kama itu.
Senyum Surya merekah kembali, lalu ia melirik putranya untuk melakukannya.
Kama menganggukkan kepalanya mengerti, "Ajeng!"