Keadaan di dalam mobil kini hening, Kama sedang mengemudi sambil otaknya berpikir tentang kejadian barusan. Jelas penglihatan dan ingatannya benar kalau pria itu pria yang sama. Apalagi sangat jelas tadi pria itu memanggil tunangannya ini dengan nama Ajeng, berarti benarkan kalau mereka saling mengenal.
Kama menarik napasnya dalam lalu membuangnya kasar. “Jadi, kamu di dalam bersama pria yang tertukar ponselnya dan mengantarkanmu waktu itu?” tanyanya penuh selidik karena sudah dipastikan tadi ia tak salah melihat, ia ingat betul wajah pria yang mengangkat video call saat itu jelas dia. “Kalian jalan bersama lagi? Di belakangku? Apa kalian sedang kencan? Dan artinya aku mengganggu kencan kalian?” cecarnya lagi karena wanita di sebelahnya itu hanya diam saja membatu.
Tentu saja Ajeng masih sangat kaget atas kejadian barusan dan ternyata Kama benar-benar mengingat pria bernama Abisatya itu. Mendengar cecaran pertanyaan itu ia menghela napas berat karena jelas Kama mulai marah padanya kembali. “Bukan begitu Kam, aku bisa jelasin!”
Kama menggelengkan kepalanya cepat, “Sebenarnya apa sih hubungan kalian? Pantas saja tadi kamu lama di dalam karena sedang asyik mengobrol dengannya, ya kan?” tanyanya dengan nada mulai meninggi kemudian tersenyum sinis.
Ajeng lagi-lagi menghela napas berat karena ini mengingatkannya kejadian minggu lalu dan jujur ia tak ingin bertengkar lagi dengan calon suaminya ini. Tiba-tiba saja ia merasa sangat kesal, tapi bukan pada Kama melainkan pada pria yang menolong bapaknya tadi. Nampaknya pertemuannya dengan pria bernama Abisatya itu membuatnya sial dan selalu berujung dirinya bertengkar dengan Kama kembali. Padahal ia sangat berharap pertengkaran kemarin adalah yang pertama juga terakhir dan hari ini ia akan mencoba menjadi pasangan tunangan yang sesungguhnya berkencan lalu dinner. Tapi, kenapa malah seperti ini, tak sesuai dengan rencananya, sesalnya membatin.
Kama melirik sebentar pada wanita yang di sampingnya yang malah masih diam saja. “Jawab, kamu nggak bisa jawab?” ketusnya lagi.
Ajeng menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Aku bisa menjelaskannya, tapi nanti kamu mengira aku mengarang cerita atau dibilang drama kembali. Jadi, aku harus bagaimana agar kamu percaya?" ia mengatakan itu dengan nada frustasinya.
Kama melirik sebentar pada wanita di sampingnya itu lalu mengangkat bahunya dan kembali fokus menyetir.
'Aku tak mau kita bertengkar lagi, karena itu melelahkan!' lirihnya dalam hati, karena Ajeng tak punya keberanian mengatakan itu. Tak lama terdengar deringan ponsel, Ajeng segera mengangkatnya karena itu adalah bapaknya. Lalu Ajeng segera menjelaskan soal ia tak bisa menemani pria yang menolong bapaknya itu makan karena Kama sudah menjemputnya.
Kama tentu mendengar semua perkataan wanita yang sedang menelpon itu sambil mencoba mengambil kesimpulan dan tiba-tiba ia malah disodori ponsel olehnya.
“Bapak mau bicara!” bisik Ajeng.
Kama segera menempelkan ponsel itu ke telinganya dan ia ternyata mendapatkan penjelasan tentang Ajeng dengan pria yang tadi itu, lalu ia mengembalikan ponsel itu pada Ajeng. "Hidup kamu memang selalu begini? Berasa penuh kejutan!" ujarnya ketika selesai mendengar kejadian yang sebenarnya.
Ajeng malah tertawa kecil mendengar itu sambil menerima ponselnya. "Ya begitulah, termasuk kamu!" timpalnya.
Ya bagi Ajeng, calon suaminya itu adalah adalah orang yang memberikan kontribusi terbesar dalam memberi kejutan di hidupnya.
Kama hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. “Kenapa dari semua orang harus dia yang membantu Bapak kamu?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulutnya.
Ajeng menggelengkan kepalanya karena ia pun berpikir persis seperti Kama itu tapi ia tak menemukan jawabannya. “Jadi, kamu sudah mengerti kan alasan ku kenapa dengan dia tadi?”
Jujur saja Ajeng sendiri pun tak mengerti kenapa bisa bertemu kembali dengan pria itu dan bahkan Kama juga bertemu dengannya, yang berakhir Kama kembali marah serta memberikan tuduhan-tuduhannya lagi tentang dirinya dan pria tadi.
Kama melirik sebentar pada wanita di sampingnya yang terlihat tertekan atau pun mungkin banyak pikiran itu. Kemudian ia menganggukkan kepalanya, jujur saja dirinya pun sudah capek harus marah-marah karena ia sudah bekerja dari pagi hari ini. “Jadi, sebenarnya Papa menyuruh apa sih?”
Ajeng tanpa sadar menghela napas lega karena ternyata Kama sudah mengubah topik lain yang artinya pria itu tidak akan marah-marah lagi padanya kan. Memikirkan itu ia mengulum senyumnya dan berteriak dalam hati.
Dia sangat senang, nyatanya telepon dari bapaknya cukup membantu. Bahkan, ia tak perlu menjelaskan sendiri dan Kama langsung percaya akan itu. Lalu ia segera menegakkan duduknya dan akan menjawab pertanyaan dari pria itu yang mulai meliriknya dengan tajam karena lama menjawab. "Om Surya tadi chat katanya sudah reservasi dinner malam ini untuk kita berdua di restoran internasional yang di Tirtodipuran.”
Kama menghela napas berat mendengar itu, karena tadinya ia ingin beristirahat saja di rumah. “Papa memang menyuruhku mengajak kamu berkencan malam ini tapi aku sengaja mengabaikan pesannya dan nampaknya ia terus berusaha sampai ber-inisiatif reservasi untuk kita.”
Ajeng berdecak pelan, pantas saja pesan darinya saja diabaikan karena memang tak penting bagi pria itu.
Kemudian saat berada di lampu merah, Kama memperhatikan Ajeng dari atas sampai bawah dan menggelengkan kepalanya tak percaya. "Terus kita sekarang akan ke sana dengan pakaian kamu yang seperti itu, begitu?" Kama bertanya sambil mengangkat satu alisnya
Ajeng lantas segera melihat pakain yang sedang dipakainya hanya celana panjang kain dan blouse lengan panjang sederhana. "Tentu saja tidak, karena aku baru pulang praktik dan berniat pulang ke rumah barulah siap-siap untuk dinner. Sekarang masih sore, makanya aku heran kenapa kita sudah bersama?"
Kama tersenyum tipis dan mulai mengendarai mobilnya lagi karena sudah lampu hijau. “Tadi pas telepon kebetulan aku juga lagi di jln. gajah mada itu, makanya aku langsung berhenti saja di apotek itu saat lewat. Padahal tadinya aku dalam perjalanan pulang!”.
"Pantas saja!" lirihnya mengerti kenapa Kama tiba tiba datang begitu cepat.
"Tapi, nampaknya kalau kita sekarang ke rumah kamu dulu kita akan terjebak macet saat akan ke resto. Akan tetapi, tentu saja kamu juga tidak bisa datang ke sana dengan tampilan biasa seperti ini," terangnya sambil terus berpikir mencari jalan keluar.
"Jadi, aku harus berpenampilan luar biasa begitu? Kenapa? Ini kan hanya dinner kita berdua?" Ajeng bertanya karena ia sangat malas mendengar kata tampilan biasa dan harus selalu luar biasa.
"Tentu saja, karena yang mengelola restoran itu adalah orang yang selalu bersaing dengan ku sejak kuliah. Jadi, kamu harus terlihat sempurna!" Kama mengatakan kalimat akhirnya dengan penuh penekanan.
Kali ini Ajeng menghela napasnya berat, ia merasa bebannya semakin bertambah lagi. "Terus bagaimana?"
Kama masih berpikir sambil memperhatikan jalan, lalu tiba-tiba ia menyeringai dan segera memarkirkan mobilnya di depan sebuah salon.
Ajeng mengerutkan keningnya heran, "Harus banget salon?"
Kama langsung mematikan mobilnya. "Ya, cepat keluar!" serunya sambil keluar mobil duluan.
Sedangkan Ajeng malah meringis tapi ia tetap menurut keluar dari mobil dan menyusul Kama yang sudah masuk ke dalam salon itu.
“Tolong dandani dia dengan riasan yang elegan!” Kama memerintah pada pelayan salon itu.
“Baik Pak!” Pelayan wanita itu segera menganggukkan kepalanya. “Ayo silahkan duduk sini Mbak!” serunya sambil menunjuk satu kursi di depan cermin.
Ajeng menatap sejenak pada Kama yang sudah duduk di sofa tempat menunggu sambil memainkan ponselnya. Lantas ia segera duduk di kursi yang ditunjuk oleh pelayan salon itu. “Mbak make-up nya jangan tebal yah!” bisiknya.
Pelayan salon itu hanya tersenyum mendengarnya dan mulai melakukan tugasnya.
Jujur saja Ajeng sangat tak suka berada di salon karena ia hanya bisa duduk diam seperti ini membuatnya pegal. Lalu diam-diam ia melirik pada Kama yang terlihat sudah mulai bosan dalam duduknya karena kakinya bergerak-gerak tak sabar sambil memainkan ponselnya terus.
“Baik sudah selesai Mbak!” seru pelayan salon itu.
Ajeng menghela napas lega karena ia hampir 1 jam duduk di sini dan kini sudah berakhir. Lalu ia melihat pantulan dirinya yang berada di cermin, lalu tersenyum karena memang riasannya tidak tebal. Namun, cukup membuatnya tampil beda karena mereka main di sekitar alis dan matanya saja, serta rambutnya hanya di buat bergelombang dan jepitan sederhana di sisi kanannya.
Wanita yang sudah tampil beda itu segera menghampiri Kama, “Ayo sudah!” serunya sambil tersenyum.
Kama mengalihkan pandanganya dari ponselnya itu lalu melihat wanita yang sudah berdiri di hadapannya sekilas, kemudian menempelkan telponnya ke telinga. “Ya? Masuk saja!”
Ajeng mengerutkan keningnya heran, sebenarnya pria itu sedang apa sih? Dari tadi hanya sibuk dengan ponselnya saja. Lalu tadi calon suaminya itu hanya melihatnya sekilas tampak tak peduli atau takjub melihat riasan di wajahnya ini, kemudian malah mengabaikan perkataannya juga, gerutunya dalam hati.
Tak lama pintu salon terbuka dan masuklah 3 orang berseragam berjalan menghampiri Kama.