Suatu hari di sebuah lapangan voli sekolah, para siswa laki-laki terlihat sedang asik bermain voli. Mereka mengenakan seragam olahraga pada saat itu. Hanna datang selepas mengambil air minumnya, ia berdiri di depan lapangan voli, menonton teman-temannya bermain. Saat salah seorang siswa meng-smash bola, namun bola itu terlempar kearah Hanna yang sedang minum dan mengenai wajahnya. Lemparan bola yang keras membuat Hanna pun pingsan dan di bawa ke UKS.
Pulang dari sekolah dengan wajah lebamnya Hanna turun dari Bus di depan gang kecil rumahnya. Ia terlihat kelelahan dan cuaca yang terik membuatnya haus. Ia pergi ke suatu minimarket untuk membeli minuman. Sesampainya di minimarket ia memilih-milih minuman dan membayarnya. Tiba-tiba kaleng minumannya mendadak terjatuh sendiri. Si kasir bilang kenapa minumannya dijatuhkan. Kasir minimarket itu adalah seorang pria tua dan ia sekaligus pemilik minimarket itu. Selesai membayar Hanna pun pergi.
Hanna berjalan memasuki lorong rumahnya, ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Sering kali ia menoleh kebelakang tetapi tidak ada seorang pun. Ia lalu berlari dan masuk ke dalam rumah. Rumahnya sepi dan berantakan. Saat Hanna membuka baju seragamnya, ia mendengar suara benda jatuh. Ia mencari sekeliling tetapi tak ada orang. Tiba-tiba sesosok hantu muncul di hadapannya. Hanna pun Terkejut, ia terjatuh dan berusaha berlari mencari sapu. Tapi hantu itu terus muncul dan mendekati Hanna. Hantu tersebut seorang anak laki-laki terlihat wajahnya sebaya dengan Hanna. Hanna menyodongkan sapu kedepan Hantu tersebut, Hanna bertanya kenapa ia bisa masuk ke rumah Hanna, apa ia ingin mencuri. Hantu itu tersenyum lega seraya berkata “ternyata kau bisa melihatku”.
“siapa kau?” tanya Hanna. Hantu itu mencoba menenangkan Hanna, menyuruh Hanna menurunkan sapunya.
“sebenarnya aku bukan orang jahat, bahkan bukan pencuri. Aku bukan manusia tapi... juga bukan Hantu.” Kata si Hantu.
Hanna kebingungan tidak percaya dengan ucapan si Hantu, ia meminta Hantu itu berhenti berlelucon dan pergi dari rumahnya. Hanna beranjak pergi dan membereskan rumahnya. Tapi Hantu itu mendekat dan memohon, ia tidak berniat menyakiti Hanna. ia hanya ingin meminta bantuan Hanna. Hanna melempar boneka ke wajah si Hantu tetapi boneka itu malah menembus wajahnya. Hanna menutup mulut nya, ia terkejut akan hal itu. Hanna menghela nafas dan mendekati si Hantu. Tangannya menggapai si hantu dan menembusnya. ia menggerak-gerakkan tangannya.
“waahhh apa ini? Apa benar kau hantu?”tanya Hanna.
“hmm...bisa di bilang seperti itu”jawab si hantu.
“tapi aku tidak bisa melihat hantu atau makhluk halus apapun selama ini”ucap Hanna terheran.
Si Hantu memajukan badannya selangkah, dengan wajah penuh harap ia berkata “apapun itu yang jelas tolong aku”
Hanna bingung kenapa si Hantu harus meminta bantuannya. Si Hantu berkata kalau hanya Hanna saja yang bisa melihatnya. Hanna berbalik dan menolak dengan keras permintaan hantu tersebut. Hanna berkata bahwa ia tidak ingin terlibat dalam urusan apapun. Hantu itu bersedih dan ia pun pergi. Hanna pun membereskan rumahya kembali.
Malamnya Hanna menonton TV bersama Ayahnya, Ayahnya bertanya apa Hanna sudah mengerjakan PR nya. Hanna menjawab ya, dan Ayahnya menyuruh Hanna tidur lalu mematikan TV.
Dikamarnya Hanna gelisah ia tidak bisa tidur, ia berpikir kenapa ia tiba-tiba bisa melihat hantu itu. Ia memejamkan matanya lalu membukanya. Ia memutarkan badan kesana kemari di atas kasurnya. Saat ia memutarkan badan untuk kesekian kalinya tiba-tiba hantu tadi muncul kembali dan membuatnya ketakutan. Si Hantu berjanji tidak akan menganggu Hanna lagi jika Hanna berhasil membantunya. Penasaran akan permintaan hantu tersebut Hanna pun menyanggupi. Ia bertanya siapa nama hantu tersebut. Tetapi ia tidak ingat namanya. kemudian Hanna bertanya lagi apa yang perlu dirinya bantu. Hantu itu berkata bahwa besok ia akan kasih tau Hanna.
Saat jam pelajaran Hanna kesal karena si hantu masih muncul di depannya.”pergilah ku mohon”bisik Hanna. Si hantu bertanya kenapa Hanna merasa terusik akan kehadirannya sedangkan banyak hantu lainnya yang juga muncul di depan Hanna. Hanna lalu melihat ke sekitar ruang kelasnya dan terkejut betapa banyak dan menyeramkannya hantu yang ia lihat. Ia memejamkan matanya ketakutan. “
“lihat lah hantu wanita itu, aku rasa ia dulu guru disini” ujar si Hantu.
Sambil memejamkan mata Hanna pun berteriak “cukup!!”.
Semua orang terkejut mendengar terikan Hanna. Ibu Guru menanyakan apa yang Hanna lakukan, ia lalu menyuruh Hanna mengerjakan soal di depan. Hanna terdiam berdiri menggepal tangannya.
“Hanna cepat maju”teriak Ibu Guru.
“Hanna berjalan dan mengambil spidol. Dengan tangan bergetar ia menggerakkan spidol ke papan tulis.. Si Hantu muncul di samping nya, ia tau kalau Hanna kesulitan dan membantunya mengerjakan soal.
Ia membisikkan Hanna“= sin (75-15)=sin 60=1/2√3”.
Ibu guru melihat jawaban Hanna itu benar lalu menyuruhnya duduk.
Sepulangnya Hanna dan si Hantu berjalan bersama. Hanna menghentikan langkahnya dan menunjuk jari nya kepada si Hantu. “terima kasih”ucap Hanna.
“nampaknya kau bodoh dalam matematika”ejek si Hantu.
“aku bukan bodoh hanya saja tidak suka, karena membuat ku berpikir terlalu keras.” Ucap Hanna.
“sama saja dengan bodoh”ejek si Hantu.
“kalau kau terus mengejekku, aku tidak akan pernah mau membantu” ujar Hanna sambil menyilangkan tangannya.
“kalau mau membantu ayo ikut aku” ajak si Hantu.
Mereka berhenti di sebuah minimarket yang biasa Hanna kunjungi. Si hantu berkata bahwa disinilah ia melihat temannya dipukuli mengenaskan. Dan sebelum temannya itu dibunuh ia sempat mendengar percakapan mereka bahwa si pelaku jugalah yang membunuh si Hantu itu. Hanna bertanya apa benar spelakunya si pemilik tetapi apa motifnya. Ternyata hal itulah juga yang dipertanyakan si Hantu selama ini. Dia lupa akan kehidupan lampaunya dan bagaimana ia bisa terbunuh. Ia merasa tiba-tiba ada di dalam sebuah ruangan gelap lalu saat ia berjalan ia berada di dalam minimarket itu dan melihat temannya hendak dibunuh. Hanya itulah yang ia tau. Sejak saat itu ia lalu merasa keanehan di minimarket itu dan kecurigaan terhadap pemiliknya karena itulah si Hantu selama ini menetap di minimarket . Maka ia meminta bantuan Hanna untuk mengungkap itu semua.
Si hantu sering melihat si pemilik menggerek plastik besar seperti bau mayat. Si pemilik melakukannya di rumah belakang minimarket itu tetapi si Hantu tidak bisa masuk karena ada jimat yang ditempel di atas pintu. Hanna merasa bahwa itu adalah sebuah kasus pembunuhan tapi ia tidak yakin siswi SMA sepertinya bisa membantu memecahkan misteri itu. Hanna lalu berjalan pergi, ia berkata bahwa ia tidak bisa memantu karena takut berurusan dengan pembunuhan. Si Hantu terus memohon dan meyakinkan Hanna.
“apa kau tau dulu ibuku juga korban pembunuhan, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku bersembunyi di balik tumpukan sampah. Ibuku hendak menolong sesorang tetapi ia malah di bunuh oleh orang itu” ucap Hanna sambil menangis.
“lalu apa pembunuh itu harus di biarkan begitu saja sampai semua warga disini mati menjadi korban nya”ketus si Hantu.
“maaf aku meninggikan suara ku tapi aku tidak ingin melihat korban jiwa lagi, teror pembunuhan, isak tangis keluarga yang di tinggalkan. Polisi pun tidak mampu mengungkapkan semua”ucap si Hantu. Ia lalu pergi menghilang.
Hanna terduduk menangis tersedu-sedu di lorong rumahnya.
Hanna dan Ayahnya sedang makan malam bersama, ayahnya bertanya bagaimana sekolahnya apakah Hanna sudah punya pacar. Hanna berkata bahwa ia belum ingin berpacaran, ia akan sekolah tinggi-tinggi dan menjadi putri kebanggaan ayahnya. Ayahnya pun tersenyum. Tiba-tiba ayah Hanna memegang perutnya dan kesakitan. Hanna sontak berlari ke dapur mengambil obat ayahnya. Namun kotak obat itu isinya telah kosong. Hanna lalu bergegas pergi ke minimarket dan membeli obat ayahnya. Hanna meletakan obat di meja kasir untuk membayarnya.
“apa kau sakit maag?”tanya si pemilik minimarket.
“bukan tapi ini untuk ayahku”ujar Hanna.
“waahh kau sungguh anak yang berbakti ya hehehe”ucap si pemilik.
Hanna melihat lipglos di atas etalase ia lalu meminta si pemilik mengambilkannya. Saat si pemilik mengambil lipglos itu, lengan bajunya turun dan terlihat ada tato kalajengking. Hanna terkejut dan sontak menutup mulutnya.
“rasa ini? Tanya si pemilik.
“tidak, aku hanya penasaran ingin melihatnya saja. Eee... Terima kasih paman, ayahku pasti menunggu”ucap Hanna tergagap lalu berlari pergi.
Hanna menyuapkan obat ke mulut ayahnya dan berkata bahwa ayahnya harus makan teratur. Ayahnya mengelus pipi putrinya itu dan membuat Hanna mengangis.
“tidak apa-apa, ayah baik-baik saja. Itu karena makannya saja yang pedas” ucap ayah Hanna.
“ayahhhh....”sahut Hanna.
“hemm”jawab ayahnya.
“aku melihat pembunuh ibu”ucap Hanna sambil menangis.
Ayahnya terdiam dan memeluk putrinya itu, ia berkata bahwa masa lalu cukup di lupakan saja. Apa yang telah terjadi pada ibunya semua adalah takdir. Dan kita tetap harus menjalankan kehidupan kita. Cukup doakan saja ibu mu.
Hanna masuk ke toilet sekolahnya, ia lalu duduk di kloset. Namun ia terusik dengan suara tangisan. Hanna ketakutan ia menggenggamkan tangannya. Suara itu lalu menghilang, tetapi tiba-tiba sesosok Hantu perempuan duduk di atas pintu tepat di depan Hanna dan tertawa. Hanna menjerit ketakutan. Hantu itu terus tertawa dan tertawa menakuti Hanna. Lalu si Hantu datang menarik rambut Hantu perempuan yang menganggu Hanna dan mendorongnya. Hantu perempuan itu lalu pergi.
Hanna masih ketakutan dan jantung nya berdetak kencang. Dari luar si Hantu itu menyuruh Hanna keluar karena keadaan telah aman. Hanna berterima kasih, ia rasanya ingin sekali memeluk si Hantu tetapi tidak bisa. Hanna lalu menceritakan kepada si Hantu kejadiannya di minimarket semalam. Seorang siswi masuk ketoilet dan melihat Hanna berbicara sendiri. ia berjalan perlahan melalui Hanna sambil terheran melihat Hanna. Hanna lalu keluar dan mengajak si Hantu berbicara lagi nanti.
Di kelas si Hantu membantu Hanna mengerjakan ulangan harian matematikanya. Hanna tersenyum-senyum senang karena mendapat teman Hantu yang pintar.
Hanna duduk sendiri di ruang kelasnya tetapi sebenarnya ia tidak sendiri karena ada si Hantu duduk di sebelahnya. Hanna selesai memasukkan buku-bukunya dan mereka berjalan pergi bersama sambil berbincang. Si Hantu meyakinkan Hanna bahwa mereka akan berusaha bersama. Hanna dan si Hantu mulai merancang strategi bersama.
Sepulang sekolah Hanna pun duduk di depan kursi minimarket sambil membaca buku pelajarannya. Si Hantu berkata Hanna sangat rajin tetapi tidak dalam matematika. Hanna berkata bahwa ia suka semua pelajaran kecuali matematika. Dan ia harus menjadi orang yang hebat demi cita-cita orang tuanya. Hanna memandang wajah si Hantu lalu melihat tulisan di baju si Hantu yang bertulisan Grey. Ia lalu berkata pada si Hantu bahwa mulai sekarang namanya adalah Grey. Si Hantu sempat terdiam berpikir lalu tersenyum“oke juga”.
Si pemilik keluar dan bertanya kepada Hanna apa yang ia lakukan di depan tokonya. Hanna berkata kalau ia menunggu Ayahnya pulang karena takut sendirian dirumah. Si pemilik masuk ke dalam toko lalu tak lama kemudian ia keluar dan memberikan Hanna camilan. Hanna pun tersenyum berterima kasih. Grey si Hantu berdiri di depan si pemilik dan memandang si pemilik dengan sinis tapi si pemilik tidak bisa melihatnya. Grey berkata pada Hanna bahwa si pemilik hanya berpura-pura baik.
Mereka berdua seharian mengawasi si pemilik sampai Hanna terkantuk-kantuk. Si pemilik tiba-tiba mendapat sebuah telepon. Grey mendekati dan mendengarkan pembicaraan mereka. Lalu ia mengatakan pada Hanna bahwa malam ini si pemilik akan pergi. “baiklah mari kita bersiap-siap” ujar Hanna. Grey mengangguk.
Malamnya mereka diam-diam memanjat pagar minimarket dimana di belakang nya ada sebuah rumah. Grey memandang rumah tersebut dan merasa sedih. Hanna yang mengendap-endap kesekitar rumah dan memanggil Grey untuk mengikutinya. Mereka berdiri di depan pintu yang di gembok itu. Grey menunjukkan jarinya keatas pintu, Hanna menyungak ke atas dan melihat jimat itu. “ternyata hanya sebuah kertas” ujarnya. Hanna lalu melompat-lompat untuk mengambil jimat itu tapi tidak sampai. Ia lalu memcoba mencari sesuatu di sekitar rumah dan menemukan tongkat bambu. Hanna menggesekkan tongkat bambu ke jimat itu dan jimat berhasil terlepas. Grey kemudian masuk kedalam sedangkan Hanna menunggu di luar. Grey mencari-cari sesuatu kesekitar rumah. Ia menemukan sebuah kotak yang menurutnya itu mencurigakan.
Grey keluar dan menemui Hanna ia ingin Hanna juga melihatnya. Hanna berpikir bahwa ia hanya bisa masuk lewat jendela, maka ia meminta Grey masuk dan membukakan jendela dari dalam. Saat Grey mencoba membuka jendela, tiba-tiba terdengar langkah kaki si pemilik datang. Hanna langsung berlari dan membawa tongkat bambu itu. Ia bersembunyi di balik troli. Si pemilik membuka gembok pintunya dan melihat jimat miliknya dilantai. Ia menatap sekitar dengan curiga, lalu menempelkan kembali ke dinding. Grey tiba-tiba merasa kepanasan dan pingsan lalu menghilang. Si pemilik membopong karung misterius dan membawanya masuk.
Hanna terlihat ketakutan ia memejamkan matanya dan berbisik memanggil Grey. tapi Grey tidak muncul-muncul. Si pemilik keluar dari rumah dan berjalan pergi, kemudian langkahnya terhenti lalu memutar badannya ke arah troli, si pemilik mendekati troli itu dan hendak membukanya, Hanna berkeringat ketakutan, ia terus memejamkan matanya. Saat tangan si pemilik memegang troli. Handphone nya berbunyi ia lalu pergi dan menghidupkan mobilnya. Hanna menghela nafas lega. Dengan terengah-engah ia berjalan keluar dari troli. Tangannya gemetar ketakutan, ia mengintip dari jendela terdengar suara tangisan yang membuatnya semakin takut. Hanna menutup mulutnya dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya.. Hanna berjalan kaki di depan gerbang sekolahnya. Ia melihat Grey tersenyum duduk menunggunya di koridor sambil melambaikan tangan pada Hanna. Tapi Hanna cuek mengacuhkannya. Grey lalu berdiri dan mengikuti Hanna. Grey tau kalau Hanna pasti semalam ketakutan dan mencari dirinya. Hanna sontak marah dan bilang “aku tidak mau ikut campur lagi akan urusanmu, sudah cukup pergilah menjauh, jangan mengganguku lagi”. Para siswa yang lewat melihat kearah Hanna, mereka terheran melihat Hanna yang bicara sendiri dan marah sendiri. Grey berlutut meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia semalam tiba-tiba pingsan dan hilang. Hanna masih tidak percaya dan berlari meninggalkan Grey yang masih berlutut.
Diruang kelas Hanna memandang kesal Grey yang berdiri di depan papan tulis. Grey bertingkah lucu mengubah-ubah dan menjelekkan wajahnya. Ia menirukan suara para artis dunia membuat Hanna tertawa terbahak-bahak. Ibu Guru yang sedang menulis menoleh dan berteriak “Hanna.....” sontak Hanna terdiam dan ia pun di hukum berdiri di depan tiang bendera dibawah terik mata hari. Grey datang dengan wajah bersalah dan duduk di sebelah Hanna. “pergilah aku bisa gila jika kau terus menggangguku”ucap Hanna dengan ketus tanpa melihat Grey .
“aku mengerti, itu pasti mengingatkan mu pada kejadian ibumu. Dan itu butuh keberanian”Grey tertunduk lesu lalu pergi.
Pulang sekolah Hanna duduk menunggu Bus di depan Halte, ia melihat Hantu korban kecelakaan yang duduk disebelahnya dan menatapnya. Wajah hantu itu hancur dan matanya sangat seram. Hanna menutup matanya ketakutan dan berdiri tapi hantu itu ikut berdiri lalu memegang pundak Hanna. Hanna sontak berteriak dan tidak bisa bergerak. Orang-orang kebingunan dan membicarakan Hanna wanita tidak waras. Hanna menangis tangannya bergetar mengusir Hantu itu yang terus menatap dan memegang pundaknya“pergi...pergiiiiii.
Dari kejauhan Grey yang saat itu lewat tidak melakukan apapun lalu berjalan pergi, Hanna melihatnya dengan wajah sedih. Grey terus berjalan namun merasa kasihan lalu berbalik berlari kearah Hanna. ia menendang Hantu itu, ia mengusir dan mengancam jangan lagi mengganggu Hanna, jika tidak maka si Hantu akan berhadapan dengannya. Si Hantu menggerang lalu pergi. Grey bertanya apakah Hanna tidak apa-apa. Hanna masih syok ketakutan. Hanna menangis tersedu-sedu.
Di rumah Hanna. Hanna bertanya kenapa para hantu takut pada Grey dan pergi saat Grey mengusir mereka. Grey lalu berkata mungkin karena ia tampan. Hanna tertawa dan melemparkan bantal ke wajah si Grey. Bantal itu jatuh menembus Grey.
Si pemilik menutup tokonya dan pergi, ia tiba dirumah sakit dan berdiri di depan kamar seorang pasien yang tidak terlihat wajahnya. “aku akan segera membunuhmu” ucap si pemilik dengan dingin.
Hanna dan Grey duduk di sofa. Hanna menyantap mie kesukaanya. “terima kasih dan maaf aku terlalu kasar padamu” ujar Hanna. Grey menoleh dan tersenyum “tidak apa-apa aku mengerti bagaimana perasaanmu terus di ganggu oleh ku”.
“apa kau tidak lapar?”tanya Hanna.
“tidak sama sekali”jawab Grey.
“bukannya Hantu itu suka makan bunga, kopi, menyan dan sejenisnya?” tanya Hanna.
“jangan terlalu banyak nonton film horor” ujar Grey.
Hanna terdiam sejenak lalu berkata “mari kita lanjutkan dan selesaikan” ujar Hanna.
Grey menoleh“apa kau yakin” tanya Grey. Hanna mengangguk meyakinkan.
Hanna mendatangi si pemilik dan meminta menerimanya sebagai pegawai. Hanna berkata bahwa ia membutuhkan uang saat ini untuk biaya ujian sekolahnya. Ayahnya seorang pegawai pabrik sehingga ia jarang pulang dan Hanna ingin mencari uang membantu ayahnya juga. si pemilik mengatakan tidak bisa dan menyuruh Hanna pulang. Tapi Hanna tetap memohon dengan memegang baju si pemilik “paman... tolong yaaa.. Aku bisa mengerjakan apapun. saat ini aku sangat-sangat butuh uang. Bagaimana aku bisa menyelesaikan sekolahku kalau aku tidak ikut ujian. Gaji Ayahku hanya cukup untuk bayar keperluan rumah. Pamannnn....” ucap Hanna sambil menangis.
Sekeras apapun Hanna berusaha si pemilik tetap menolak dan mengusir Hanna keluar. Hanna kesal tetapi ia tetap sabar dan duduk di depan meja minimarket. “sepertinya akan sulit” ucap Grey. “tenanglah ia hanya sedikit jual mahal”ujar Hanna.
Hanna tetap duduk disana dan terus memperhatikan si pemilik. saat si pemilik sesering kali melihatnya Hanna tersenyum manis pada si pemilik sambil mengedipkan matanya. Si pemilik hanya membuang muka. Hujan pun datang dan Hanna merasa lapar. Si pemilik keluar dan menyuruh Hanna masuk. Hanna berjingkrak bahagia. “apa anda sudah mau menerimaku paman?”tanya Hanna dengan bahagianya. “tapi jangan sentuh apapun kecuali barang-barang yang aku jual di toko ini saja. Oh iya tugas mu hanya membersihkan toko ku dan memajang produk di etalase. Jangan melakukan apapun diluar tugasmu , mengerti!” ucap si pemilik. Hanna mengangguk dan memberi hormat “siap laksanakan bos”.
Hanna membersihkan lantai toko sambil berbisik pada Grey “saat ia sibuk aku akan pergi keatas”
“percuma” ujar Grey.
“kenapa?”tanya Hanna.
“dulu aku sudah pernah naik kesana dan tidak menemukan apapun, aku hanya curiga bagian rumah di belakang toko ini” ucap Grey.
Si pemilik mendekati Hanna dan bertanya siapa yang Hanna ajak bicara. Hanna lalu bilang kalau ia sedang latihan drama pentas sekolahnya. Si pemilik menyuruh Hanna berhenti mengepel dan memakan nasi kotak yang ia belikan. Hanna mengangguk berterima kasih. Hanna ke toilet untuk membuang air. Ia melihat pintu keluar lalu membukanya. Tepat di hadapannya rumah kosong yang ia datangi kemarin. Hanna lalu mendekati rumah itu. Ia kembali mendengar suara tangisan. Hanna memanggil Grey dan Grey muncul tiba-tiba. Grey bilang bahwa suara itu bukan suara hantu tetapi suara anak kecil, dan anak kecil itu pasti di sekap di dalam rumah ini. Terdengar suara si pemilik memanggilnya, Hanna lalu bergegas kembali masuk.
Toko tutup. si pemilik masuk ke mobilnya ia menyuruh Hanna pulang dan istirahat. Hanna bertanya bukan kah si pemilik tinggal disini kenapa tidak istirahat dan keluyuran di luar. Si pemilik bilang kalau ia ingin mencari penumpang. Hanna heran dan bertanya “apa anda berkerja sambilan jadi supir taksi online?”. Si pemilik mengangguk, mesin dihidupkan dan si pemilik pergi.
Hanna dan Grey mulai beraksi dan kembali ke rumah kosong itu. Hanna kembali melepaskan jimat dan Grey masuk membukakan jendela. Hanna masuk dari jendela dan melihat ruangan yang gelap. Ia menghidupkan senter HP dan terkejut melihat ada karung yang bergerak. Grey berkata itu pasti korban yang disekap. Benar saja saat Hanna membuka ikatan tali ada anak perempuan yang lemah telah di sekap dalam karung itu. Hanna marah dan mengutuk si pemilik yang sangat psikopat itu. Grey berkata si pemilik hanya merobek bagian kecil karung agar anak ini bisa bernapas. Untungnya ia tidak membunuhnya. Hanna lalu bertanya apa motif si pemilik menculik anak ini. “entahlah, mari kita cari sesuatu lalu membawa anak ini keluar” ujar Grey.
Grey dan Hanna membongkar barang-barang dirumah itu untuk mencari sesuatu. Anak kecil itu berkata pada Hanna sembari duduk menekuk kakinya sambil menangis“Tolong ibuku... ia membawa ibuku ke sungai”
“tenang ya kami akan menemukannya dan menangkap si psikopat tua itu”ujar Hanna.
“aku melihat ia sering membawa sesuatu kedalam sana (menunjuk sebuah pintu)”kata si anak kecil.
Hanna lalu membuka pintu dan terkejut banyak ditemukan mayat disana. Ia lalu memotret dengan tangan bergetar. Tetapi Hanna heran kenapa tidak ada baunya. Grey berkata karena si pemilik sering membakar garu yang menutupi bau busuk. Sesosok perempuan tiba-tiba muncuk dan membuat Hanna terjatuh ketakutan. Hantu perempuan itu menunjukkan jarinya ke arah kerdus (itu adalah kerdus yang sempat Grey lihat). Grey membukanya dan melihat ada sebuah tas. Saat menyentuh tas itu, Grey menahan tangisnya dan sedikit mulai mengingat bagaimana si pemilik mencoba membunuhnya.
*masuk ke ingatan Grey*
si pemilik memukul kepalanya berulang kali menggunakan batu dan Grey yang lemah hanya mencoba melindungi kepalanya itu. Si pemilik menggeret Grey dan membawanya pergi. Grey yang tidak sadarkan diri dibuang ke tempat pembuangan sampah oleh si pemilik.
Hanna menggenggam erat Hp nya lalu berkata “aku akan laporkan ini ke kantor polisi, Grey mari kita akhiri”
Hanna dan Grey keluar membawa anak kecil itu. Hanna menyuruh Grey membawa anak kecil itu ke rumahnya agar aman. Tapi grey bingung dan bilang kalau anak kecil itu tak bisa melihatnya. Hanna lalu menambil ranting dan menyuruh Grey menuntun si anak kecil itu kerumahnya. Hanna berjalan menuju kantor polisi dan mencoba menelpon polisi melaporkan bahwa ada banyak mayat ditemukan di rumah belakang minimarket, lalu menyebutkan lokasinya. Saat Hanna mengirim beberapa foto mayat-mayat kepada polisi, si pemilik datang dari belakang dan memukul kepalanya memakai tongkat membuat Hanna terjatuh dan pingsan.
Hanna membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya berada dalam bagasi mobil. Ia berteriak tapi mulutnya di tutup lakban serta kaki dan tangannya ikat. Hanna mendobrak-dobrak pintu bagasi dengan kakinya. Si pemilik membuka pintu lalu berkata “kenapa bocah sepertimu ikut campur urusanku, kenapa!!!!!”(si pemilik memukul kayu ke tutup bagasinya) Hanna gemetar ketakutan dan mencoba mengatakan sesuatu. “tetaplah disini, saat aku membereskan rumahku kau akan ku bunuh” ucap si pemilik. Hanna menitihkan air matanya ia mencoba memanggil Grey dalam hatinya.
Ayah Hanna pulang kerumah dan terkejut melihat ada anak kecil dirumahnya dan bertanya kenapa anak itu bisa ada dirumahnya. Anak kecil itu berkata bahwa Hanna saat ini dalam bahaya, ia mungkin akan dibunuh oleh si pemilik minimarket. Ayahnya lalu berlari bergegas menuju minimarket. Dengan gelagapan si pemilik menyiramkan bensin keseluruh area rumah itu untuk membakarnya. Suara sirine polisi terdengar. Si pemilik menghidupkan pematik api lalu melemparkannya ke rumah itu. Api pun menyala dan si pemilik kabur. Saat ia berusaha kabur Ayah Hanna datang memukulnya. Ia bertanya di mana Hanna. Si pemilik tertawa “bunuh lah aku jika kau bisa maka kau tak akan bertemu dengan putrimu lagi dan membusuk di penjara”
Ayah Hanna kembali memukul si pemilik. Polisi pun datang dan menodongkan pistol pada si pemilik, menyuruhnya mengangkat tangan dan jangan melawan. ”sial”ujarnya.
Grey datang membantu Hanna, Hanna menangis memeluknya erat dan Grey berkata semua sudah tidak apa-apa. Hanna berlari mendatangi ayahnya. Ayahnya cemas dan memeluk putriya itu. Si pemilik kemudian di penjara dan dijatuhi hukuman seumur hidup atas perbuatannya. Tokonya disegel dan tutup selamanya. Anak kecil yang disekap kembali ke keluarganya dan mayat ibunya ditemukan.
Dirumah sakit Hanna berkata pada Ayahnya bahwa sipemilik lah yang telah membunuh ibunya, ia ingat tato si pelaku dan itu sama. Sambil menitihkan air mata Ayah Hanna memeluknya dan berkata bahwa ia bangga memiliki anak yang pemberani. Hanna keluar dari rumah sakit, ia dan Ayahnya menaiki taksi, Hanna teringat akan Grey kemudian tersenyum. Lalu ia teringat saat ia di bagasi mobil dan memeluk Grey. Hanna heran mengapa ia bisa memeluk Grey padahal selama ini tubuh mereka tidak bisa bersentuhan.
Sejak kejadian itu Grey tidak nampak lagi. Hanna fokus duduk di meja kelasnya sambil mengerjakan ujian sekolanya. Ia membuka lembaran soal matematikanya dan tersenyum, ia ingat apa yang di ajarkan oleh Grey, ia lalu menjawab satu persatu soal dengan mudah.
Beberapa bulan kemudian. Hanna berdiri di depan minimarket. Terlihat kotor dan berdebu. Matanya berkaca-kaca, sejenak ia merasa rindu akan Grey. “semua keadaan sudah membaik pasti di alam sana kau sudah tersenyum tenang Grey, aku sangat merindukanmu dan selalu mengirim doa untukmu. Sekarang aku sudah terbiasa dan tak takut hantu lagi. ternyata terkena bola voli membuatku bisa melihat Hantu. aku senang bisa mengenalmu. Oh ya sekarang aku jadi pintar matematika. Selamat jalan teman, tenang-tenang ya di surga sana”ucap Hanna sambil tersenyum.
“siapa yang tenang di surga sana”
Terdengar suara laki-laki dari arah belakang. Hanna pun membalikkan badan dan terkejut melihat Grey berdiri di hadapannya. Ia lalu berlari memeluk Grey. Hanna menitihkan air matanya namun ia lalu melepaskan pelukannya.
“Grey aku mendengar detak jantung mu, Kenapa bisa? Saat itu jantung mu tidak terdengar”tanya Hanna terheran.
Grey tersenyum dan berkata bahwa ia bukanlah hantu. Selama ini Grey koma dirumah sakit (scene saat si pemilik berdiri di depan kamar pasien). Lalu jiwanya berpergian ke berbagai tempat lalu menetap di minimarket itu saat melihat temannya dibunuh. Dahulu Grey dan temannya itu terus menyelidiki si pemilik, karena sempat melihat si pemilik membawa mayat masuk ke mobil taksinya. Tetapi saat mencari tau dan mereka ketahuan. Grey yang hampir mati terbunuh dibuang ke tempat sampah, lalu temannya yang seorang anak polisi di siksa dan dibunuh. Ia mengalami peristiwa antara mati dan hidup.
Hanna tidak percaya atas apa yang telah ia dengar. Tapi ia senang bisa bertemu dengan Grey kembali dan ternyata seorang manusia. Hanna lalu penasaran dan bertanya pada Grey siapa nama asli Grey yang sebenarnya. Grey mendekati Hanna lalu berbisik. Nama asliku adalah..........