"Yang barusan senyum itu adik kamu, kan? Aku nggak salah lihat?" Alfa terheran-heran melihat Deon tersenyum cukup ceria.
Yaras tidak sempat melihat wajah Deon. Sebelumnya ia sibuk dengan layar ponsel. Ia membalas pesan seorang rekan kerjanya di rumah sakit. Yaras pikir, suatu keajaiban adiknya tersenyum. Bukan Deon tidak pernah tersenyum, tapi sangat jarang. Mungkin, Yaras bisa menghitungnya dengan jari.
Yaras menaruh ponselnya ke meja. Ia memanjangkan leher berharap bisa melihatnya. Namun ia cuma bisa melihat punggung Deon. Yaras menurunkan bahu, ia kecewa tidak bisa melihatnya.
"Adik kamu senyum, bisa masuk tujuh keajaiban dunia kayaknya," celetuk Alfa sembarangan.
Tidak lama, Anne keluar melewati Alfa dan Yaras dengan bibir mengerucut lucus. Yaras menyapa Anne, dan dibalas perem