Aku turun dari bus setelah berhenti di depan sebuah halte. Setelah itu, berdiri di samping bus seraya menunggu mobil besar itu melaju sebelum kulangkahkan kaki menyeberangi jalan. Namun, aku terkejut saat menemukan wajah Raya dengan pakaian serba hitam yang terpantul di badan bus. Detik setelahnya, aku menghela napas berat. Entah kenapa dadaku terasa ngilu tiap kali melihat itu. Sebab, sepertinya aku masih belum bisa menerima kenyataan jika wajah tampanku memang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Aku menyeberangi jalan setelah sorot lampu lalu lintas berubah berwarna merah. Tujuanku saat ini ialah ke kantor Polisi untuk menyelediki mobil sedan yang menjadi barang bukti. Masih segar di dalam ingatanku saat beberapa hari yang lalu datang ke tempat ini, aku melihat mobil itu terparkir di sini. Ya, siapa tahu saja aku berhasil menemukan sesuatu yang mungkin saja terlewatkan oleh para penyidik korup itu.
Pandanganku menjelajah di sekitar kantor yang luas ini setelah memasuki pintu gerbang utama. Tidak ada siapa pun di sini. Aku langsung berbelok ke arah kiri di mana parkir mobil terletak di sana. Aku berlari. Kemudian, berjalan berjongkok saat sudah sampai di deretan belakang mobil-mobil. Sebab, aku harus menghindari kamera CCTV yang berada di depan pintu masuk kantor yang mengarah ke tempat ini. Huft … beruntung tubuh Raya begitu kurus sehingga aku tidak terlalu sulit untuk melakukan hal ini.
Aku membuka mobil sedan yang tampak hancur di bagian depannya. Aku bisa bernapas dengan lega, sebab mobil itu tidak terkunci dan terletak di belakang sebuah mobil, sehingga perbuatanku ini tidak akan terekam oleh kamera. Aku segera masuk ke dalam mobil, lalu duduk di bagian kemudi. “Baiklah, kita mulai pencarian,” tuturku seraya mengenakan sarung tangan dan mulai mencari sesuatu.
Aku meraba kursi depan di sampingku. Mencari dengan teliti sampai kumasukkan jari-jemariku ke bagian sudut-sudut kursi. Sayangnya, tidak ada apapun di sana. Kemudian, aku memilih mencari di sekitar belakanag kursi mobil. Aku membalikkan tubuh dan mulai mencari di sekitar alas kaki. Ah, aku mulai frustrasi. Sebab aku juga tidak menemukan apapun di sana.
Kubalikkan tubuh mungil ini kembali dan kusandarkan punggung. Namun, aku terpegun saat kaki kananku terasa menginjak sesuatu. Keningku mengerut. Lalu, aku mencoba mencari tahu apa itu. Kuangkat sedikit kakiku dan juga alas pada mobil ini. Kemudian, aku terbelalak saat menemukan sebuah benda berbentuk bintang berwarna cokelat emas di sana. Buru-buru aku mengambilnya dan mengamati benda tersebut dengan kembali menyandarkan punggung ini.
“Apa kau lihat sebuah benda berbentuk bintang di saku jaket pengemudi?” tanyaku memastikan sekali lagi.
Ibu itu tampak berpikir seraya meletakkan jari di dagu. “Ah, ya, aku melihatnya. Di bagian atas saku kiri orang itu ada dua buah benda berbentuk bintang.”
“Jadi, semua pradugaku memang benar jika pengemudi dan orang berjaket hitam yang membunuhku ialah orang yang sama,” gumamku seraya menggenggam erat benda kecil tersebut.
Ya, aku ingat sekarang. Saat malam penyekapan itu, aku melihat pada jaket hitam orang itu terdapat tiga buah benda berbentuk bintang. Namun, ternyata ada salah satu bintang yang hilang. Mungkin saat itu karena penglihatanku kabur sehingga aku salah mengira jika bekas melekatnya benda tersebut yang berwarna putih ialah bintang.
Aku mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpoint di dalam tas slempang kecil Raya. Kemudian, aku mencatat semua yang telah kutemui hari ini.
••••••••
Hujan selalu datang, membawa semua memori. Membawa air kehidupan, lantas membasahi tanah juga membasahi kalbu ini. Aku pun ingin memiliki ingatan hidup yang indah. Namun nyatanya ingatanku terlalu memilukan untuk diingat.
Aku mendesah pelan. Kini, pandanganku beralih ke arah teman-teman Raya yang sedang fokus mengerjakan soal ujian kuis mereka. Sedangkan aku yang telah selesai mengerjakannya tidak tahu harus berbuat apa. Oleh sebab itu, aku kembali menolehkan kepala ke samping kiri, memandang deras hujan yang saat ini mulai mereda.
Hujan hanya menyisakan desiran angin dingin yang tiba-tiba saja menerpa wajah dan menyibak rambut panjang Raya. Dan saat yang sama entah kenapa bayang-bayang Bunga yang sedang menangis kembali mengusik ruang pikiranku. Membuat rinduku kian menganga hingga membuat luka yang semakin menganga. Ah, haruskah hari ini aku pergi menemui gadis itu lagi?
••••••••
Aku berhenti di depan pagar rumah Bunga. Ya, pada akhirnya aku memutuskan untuk ke tempat ini. Namun, aku berpikir sejenak. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus aku katakan sementara aku memakai tubuh Raya sekarang. Tidak mungkin aku langsung mengaku sebagai arwah Bintang dan berkata jika aku sangat merindukannya, kan?
Namun, detik setelahnya sebuah ide yang sangat menakjubkan terlintas di dalam benakku. Bagaimana jika aku berpura-pura menjadi adiknya Bintang saja? Lalu aku bisa membuat alasan menemuinya karena ingin menyampaikan sesuatu yang ingin disampaikan olehku. Bagus, ide yang cemerlang Bintang!
Dengan percaya diri, aku pun berjalan melewati pagar rumah Bunga dan menekan belnya. Aku menunggu sebentar dan akhirnya seseorang membukakan pintu untukku.
“Siapa?”
Mataku langsung berbinar senang ketika melihat Bunga. Gadis itu selalu terlihat cantik di mataku. “Bunga, aku sangat merindukanmu.”
“Siapa ya?” ulang Bunga dan aku langsung tersadar.
“Kak, apa kau yang bernama Bunga?”
••••••••
“Kau adiknya Bintang?” tanya Bunga sekali lagi. Ia seperti ingin memastikan seyakin-yakinnya.
Aku tersenyum lebar dan seramah mungkin. “Ya begitulah,” jawabku lagi.
“Oh ... lalu, ada masalah apa kau datang ke rumahku?” Kali ini Bunga mengganti pertanyaannya.
Aku terdiam sejenak sambil bernapas panjang sebelum menjawab pertanyaannya itu. “Ada yang ingin aku sampaikan mengenai kakak ku.”
Bunga terlihat terkejut menatapku. Kedua matanya berkaca-kaca. “A-apa itu?” ucapnya hati-hati.
Aku tersenyum lalu meletakkan sebuah buket mawar merah ke meja di hadapan kami. Sontak, Bunga meneteskan air matanya. Aku sedikit goyah dan ingin memeluknya saat ini juga. Namun, dengan terpaksa lagi-lagi aku hanya bisa menahan keinginanku.
“Kak Bintang sebenarnya dia ingin memberikan mawar ini padamu. Setahuku, kakak selalu memberimu mawar merah setiap ia akan bertemu denganmu, kan?” jelasku berusaha mengontrol emosi. Bagaimana mungkin aku menceritakan kisah hidupku sendiri ketika aku sudah meninggal? Ini semua sungguh menyesakkan.
“Apa ia akan memberikan ini padaku?”
Aku melenggut. “Hari itu, seharusnya kak Bintang akan ke sini menemuimu. Tapi sayang, ia telah lebih dulu mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya,” jelasku.
Bunga memeluk buket mawar itu. “Aku sangat merindukan kakakmu. Aku begitu ingin memeluknya. Aku sangat takut. Aku takut tidak bisa melanjutkan hidupku lagi tanpanya. Kau tahu? Dia bahkan sudah menjadi bagian dari hidupku yang tidak bisa kuhilangkan begitu saja. Aku sudah terlanjur mencintainya terlalu dalam,” ungkap Bunga sambil menangis. Tangisannya pun terdengar sangat menyedihkan.
Aku meremas jari-jari Raya. Sungguh, aku tidak tega melihatnya sendiri. Aku ingin sekali keluar dari tubuh Raya, berharap Bunga bisa melihatku dan memeluknya saat itu juga. “Kakak, kau hanya perlu meyakini satu hal. Kakakku, ia akan selalu bersamamu, melihatmu dan memelukmu setiap saat tanpa kau sadari.”
Bunga berhenti sesenggukan dan menatapku. “Maksudmu?”
“Ya, selama 40 hari pertama kematiaannya, ia masih bisa berada di dunia ini. Jadi yakinilah itu. Kalau kau mau mengungkapkan kesedihanmu, katakanlah. Maka kakak akan mendengarnya. Percayalah,” jelasku yang tak lain dengan mengatakan keinginanku. Ya, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan agar gadis itu tidak harus kesepian lagi.
“Siapa itu Bunga?”
Aku dan Bunga sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Aku mengerutkan keningku ketika melihat seorang laki-laki bertubuh kekar dan tampan yang baru saja turun dari tangga rumah. Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya selama aku masih hidup dulu.
“Ah, Raja,” ucap Bunga sambil menyeka air matanya. Lalu aku melihat laki-laki itu mendekat ke arah kami berdua dan duduk di sisi Bunga.
Perasaanku mulai tidak enak. Apa mungkin … Ah, tidak. Bunga bukanlah gadis seperti itu. Meskipun aku tidak melarangnya mempunyai kekasih lain setelah aku meninggal, tapi tidak mungkin Bunga menemukan penggantiku secepat ini.
“Raya, dia Raja. Tunanganku dan calon suamiku.”