Pemuda berambut pirang itu terjengkang ke belakang.
Tirai yang baru saja dibukanya terlepas dari genggaman, melambai pelan tertiup angin malam yang masuk melalui celah jendela. Sinar rembulan menerobos masuk, menyapu seisi kamar dengan warna perak yang dingin. Dan di balik kaca jendela itu, tepat di hadapan wajahnya, berdiri sesosok laki-laki yang menatapnya tanpa berkedip.
Laki-laki itu tidak memiliki pijakan. Kedua kakinya menggantung begitu saja di udara, di luar sana, di lantai yang entah keberapa. Rambutnya basah oleh sesuatu yang berwarna gelap. Dari pelipis hingga ke rahangnya, cairan itu mengalir turun, menetes, tetapi tidak pernah sampai ke mana pun.
“Aaarrrgggghh!”
Pemuda itu menjerit untuk kedua kalinya. Ia merangkak mundur dengan panik, menabrak meja, menjatuhkan lampu tidur hingga pecah berkeping-keping di atas lantai. Kedua matanya membeliak, tidak sanggup berkedip sedikit pun, seolah kelopaknya menolak untuk menutup.
Sosok itu menembus kaca. Masuk. Berdiri di tengah ruangan.
“Bakemono …,” gumam pemuda itu dengan bibir bergetar. (Monster ….)
Bintang tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, satu tapak demi satu tapak, dengan tatapan yang dipenuhi oleh amarah yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Semua benda di dalam kamar itu mulai bergetar. Gelas di atas nakas. Gantungan baju di dinding. Kaca lemari yang perlahan merekah, membentuk garis retak dari sudut ke sudut.
Prang!
Kaca lemari itu pecah berhamburan.
Pemuda itu memekik, lalu bangkit dan berlari terbirit-birit ke arah pintu. Ia menggedor, memutar kunci dengan tangan yang gemetar hebat hingga berkali-kali gagal. Ketika akhirnya pintu itu terbuka, ia berlari keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan pakaiannya, meninggalkan sepatunya, meninggalkan segalanya.
Kamar itu kembali sunyi.
Bintang menoleh ke arah ranjang. Dadanya naik turun, walau ia tahu betul jika sesosok arwah sepertinya tidak lagi membutuhkan napas.
“Raya,” panggilnya serak.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara isakan tertahan dari kolong ranjang.
Bintang berlutut. Ia menunduk, dan di sanalah ia menemukan gadis itu. Meringkuk di sudut paling dalam, memeluk kedua kakinya, dengan bad cover yang dililitkan erat-erat menutupi tubuhnya. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah. Di sudut bibirnya masih ada darah yang mengering. Pipi kanannya membiru.
Dan gadis itu bergetar. Bergetar hebat, seperti orang yang dibuang ke tengah salju.
“Raya, ini aku,” ucap Bintang pelan.
Raya tidak bergerak.
“Raya, dia sudah pergi. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Lihat aku.”
Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Kedua netranya sembab dan merah. Ketika tatapan mereka bertemu, bibir Raya bergetar hebat, dan tangis yang selama ini ditahannya pecah begitu saja.
“Bintang ….”
“Ya. Aku di sini.”
“Ke mana saja kau?” Suara gadis itu nyaris tidak terdengar. “Aku memanggilmu. Aku memanggilmu terus. Kenapa kau tidak datang? Kenapa kau tidak datang, Bintang?”
Bintang membeku.
Sungguh, dari semua pertanyaan yang pernah dilontarkan Raya kepadanya, inilah pertanyaan yang paling tidak sanggup ia jawab. Ia mengulurkan tangan, ingin menyeka air mata di pipi gadis itu. Namun, seperti biasa, jari-jemarinya hanya menembus udara.
Tidak ada yang bisa disentuhnya. Tidak pernah ada.
“Maafkan aku,” bisiknya.
Raya terisak semakin keras.
“Raya, dengarkan aku.” Bintang berusaha menajamkan suaranya supaya gadis itu mau mendengar. “Kau tidak boleh tinggal di sini. Orang itu bisa saja kembali. Kau harus keluar sekarang.”
“Aku tidak bisa,” lirihnya. “Kakiku tidak bisa digerakkan, Bintang.”
“Bisa. Kau pasti bisa.”
“Aku tidak bisa!”
“RAYA!” bentak Bintang, hingga gadis itu terperanjat. Lalu, suaranya melunak kembali. “Dengar. Kau ini gadis paling keras kepala yang pernah kutemui. Kau bahkan berani membentak sesosok arwah di koridor Kampus yang gelap. Kau berani menantang Hiroshi sensei. Masa kau kalah oleh satu ruangan kosong?”
Raya membisu. Namun, isakannya perlahan mereda.
“Aku akan berjalan di depanmu,” lanjut Bintang. “Aku tidak akan ke mana-mana. Kalau ada yang mendekat, aku akan membuat seisi hotel ini gelap sekali lagi. Aku janji.”
Beberapa saat lamanya gadis itu hanya diam. Kemudian, dengan gerakan yang begitu lambat, ia merangkak keluar dari kolong ranjang sambil mencengkeram bad cover erat-erat di dadanya.
Bintang berdiri. Ia melangkah ke depan, membuka jalan bagi gadis itu, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi arwah, ia merasa memiliki alasan untuk tetap berada di dunia ini.
••••••••
Koridor hotel itu panjang dan terang. Terlalu terang.
Raya berjalan menyusuri dinding sambil menunduk dalam-dalam. Setiap kali ada pintu yang terbuka, tubuhnya langsung menegang. Bintang berjalan mundur di hadapannya, tidak sedetik pun mengalihkan pandangan dari gadis itu.
“Sedikit lagi. Ada lift di ujung sana.”
“Bintang …,” panggil Raya lemah, “apa wajahku jelek sekali sekarang?”
“Jelek,” jawab Bintang tanpa berpikir panjang.
Raya tertawa kecil di sela isakannya. Tawa yang paling menyedihkan yang pernah didengar Bintang seumur hidupnya.
Baru beberapa langkah lagi mereka mencapai lift, terdengar suara langkah kaki berlari dari arah tangga darurat. Raya langsung berhenti. Tubuhnya membeku, dan bad cover di tangannya nyaris terlepas.
“RAYA!”
Andra muncul dari balik pintu tangga dengan napas tersengal-sengal. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi. Ia tercekat ketika melihat keadaan gadis itu.
“Astaga …,” gumamnya.
Andra tidak bertanya apa pun. Ia langsung melepas jaketnya, lalu menyampirkannya ke bahu Raya dengan hati-hati, seolah takut menyentuh gadis itu terlalu keras.
“Aku mencarimu ke mana-mana. Kau tidak ada di kamar. Yuki bilang kau keluar sendirian.” Suara Andra bergetar. “Siapa? Siapa yang melakukan ini?”
Raya menggeleng. Ia tidak sanggup mengucapkan satu kata pun.
“Baiklah. Tidak apa-apa. Nanti saja.” Andra membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya. “Bisa berjalan?”
Gadis itu menggeleng lagi.
Tanpa banyak bicara lagi, Andra memapah tubuh Raya, membiarkan gadis itu bertumpu pada bahunya. Mereka berjalan pelan ke arah lift.
Bintang berjalan di belakang keduanya.
Aneh sekali. Seharusnya ia lega. Seharusnya ia bersyukur ada Andra di sini, karena sahabatnya itu bisa melakukan hal yang tidak akan pernah bisa ia lakukan lagi. Memapah. Menyampirkan jaket. Menghangatkan.
Namun, entah kenapa, dadanya justru terasa semakin remuk.
••••••••
Malam itu lorong lantai dua hotel dipenuhi oleh suara.
Hiroshi sensei datang dengan wajah yang tidak lagi menyeramkan seperti biasanya. Pihak hotel berdatangan. Seorang petugas keamanan berbicara cepat dalam Bahasa Jepang sambil menunjuk-nunjuk rekaman kamera pengawas. Beberapa mahasiswa berkumpul di ujung lorong, berbisik-bisik, sampai akhirnya diusir kembali ke kamar masing-masing.
“Raya,” panggil Hiroshi sensei sambil berjongkok supaya wajahnya sejajar dengan gadis itu. Nada suaranya pelan, sama sekali berbeda dengan nada yang biasa dipakainya di dalam kelas. “Saya tidak akan bertanya banyak malam ini. Tapi saya harus tahu satu hal saja. Apa dia sempat melukaimu selain di wajah?”
Raya menggeleng pelan.
Hiroshi sensei mengembuskan napas panjang, lalu melenggut. “Baik. Sisanya besok saja. Malam ini kau tidak perlu bicara dengan siapa pun.” Ia bangkit dan menoleh ke arah petugas hotel di belakangnya, lalu mengatakan sesuatu dalam Bahasa Jepang dengan nada yang tegas dan dingin.
Dari ambang pintu, Bintang bisa mendengar potongan-potongan kalimat itu. Kamera pengawas. Nomor kamar. Laporan ke pihak berwenang. Rupanya, di balik semua kegalakan yang selama ini ditakuti seluruh mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, dosen itu adalah orang pertama yang berdiri paling depan ketika salah satu muridnya celaka.
Andra tidak ikut masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu memilih berdiri di lorong, bersandar pada dinding, dengan kedua tangan yang terkepal erat di dalam saku celananya. Sesekali ia menendang lantai pelan, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak berlari mencari seseorang dan menghajarnya.
Yuki menangis. Gadis itu memeluk Raya erat-erat sambil terus meminta maaf, seolah semua ini adalah kesalahannya karena telah membiarkan Raya keluar sendirian.
“Maaf, Raya. Maaf …,” isaknya berkali-kali.
Raya hanya diam. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong ke arah lantai, membiarkan tangan Yuki menggenggam tangannya.
Bintang berdiri di ambang pintu.
Ia tidak masuk. Entah kenapa, ia merasa tidak pantas masuk ke dalam ruangan itu. Ia hanya berdiri di sana, menyandarkan bahu ke kusen pintu, memandangi gadis yang selama ini selalu ia anggap sebagai gadis paling menyebalkan di dunia.
Dan di dalam kepalanya, satu pertanyaan itu terus berputar tanpa henti.
Di mana kau tadi, Bintang?
Ia tahu jawabannya. Ia tahu betul.
Ia sedang berada ribuan kilometer dari sini. Berdiri di dalam sebuah rumah di Jakarta, menyaksikan Raja menendang wajah Bunga berkali-kali tanpa bisa berbuat apa pun. Berteriak sekuat tenaga kepada orang yang tidak akan pernah mendengarnya. Menjambak rambutnya sendiri karena merasa begitu lemah dan tidak berguna.
Dan sementara ia melakukan semua itu di sana, di tempat ini ada seorang gadis yang memanggil namanya berulang-ulang di dalam kegelapan.
Bintang menutup kedua matanya rapat-rapat.
Dua orang. Dua tempat. Satu arwah yang tidak bisa berada di keduanya sekaligus.
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, Bintang menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan tubuhnya sendiri. Bahwa menjadi seperti angin bukan berarti bebas. Melainkan berarti selalu terlambat.
“Bintang.”
Ia membuka mata. Raya sedang menatapnya dari tepi ranjang, melewati bahu Yuki yang masih terisak.
Gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap. Namun, di dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat dada Bintang berdenyut ngilu. Bukan kemarahan. Bukan pula tuduhan.
Melainkan permintaan agar ia jangan pergi ke mana-mana malam ini.
Bintang melenggut pelan.
“Aku tidak akan ke mana-mana,” ucapnya, walau ia tahu hanya gadis itu seorang yang bisa mendengarnya.
Dan sepanjang malam itu, ia benar-benar tidak beranjak dari ambang pintu. Sedetik pun.