“Kau terlihat tidak bersemangat sekali? Ini kan hari pertamamu kembali ke Kampus?” tanya Bintang yang berdiri di depan Raya di taman belakang kampus yang sepi.
“Bintang, apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan? Sudah berapa hari waktumu terbuang percuma?”
Bintang menatap Raya tidak percaya. Kenapa tiba-tiba Raya peduli padanya? Biasanya gadis itu selalu masa bodoh. “Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau tidak tertarik?”
“Ck,” decak Raya. “Aku hanya ingin tahu, Bodoh!”
“Hei! Aku lebih pintar darimu, Mengerti?”
“Mengerti, mengerti! Jawablah pertanyaanku, Bintang!”
Bintang berhenti bicara dan tidak menjawabnya langsung. “Kau ingat? Aku pernah bercerita kepadamu jika aku, ingin membebaskan Bunga dan membahagiakan keluargaku.”
Raya melenggut seraya tatapannya tidak beralih ke arah wajah tampan Bintang.
“Pulang kuliah, bagaimana kalau kita pergi ke rumahku?”
Raya mengerucutkan bibirnya, lalu meletakkan jari di dagu untuk berpikir. “Tidak masalah,” jawabnya akhirnya.
•••••••
Setelah turun dari angkot yang membawaku ke kawasan rumahku, aku melanjutkan perjalanan di sebuah gang yang tidak terlalu sempit. Aku berjalan sembari mengingat-ingat semua memori ketika aku masih hidup, ketika aku masih sering melintasi jalanan ini dengan sepeda motorku. Dulu, mungkin aku tidak pernah memikirkan seberapa berharganya jalan ini. Namun saat ini, saat aku menapakkan langkahku dengan kaki orang lain, aku baru menyadari betapa berartinya jalan ini dalam hidupku. Sungguh, menyedihkan sekali.
Lima belas menit aku berjalan kaki, akhirnya sampai di depan sebuah gerbang berwarna hitam yang memagari sebuah rumah yang sederhana di dalamnya. Aku membaca nomor dan nama pemilik rumah itu. 25 A, Angga Pradipa.
Ayah, aku merasa sangat merindukan pria paruh baya itu. Aku merindukan sosoknya yang keras akan tetapi ramah, yang selalu menceramahiku dengan petuah-petuahnya yang sering ku sepelekan. Ah, sekarang aku malah merasa sebaliknya.
Saat aku akan menekan bel rumah, tiba-tiba aku melihat seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Arsen. Untuk apa laki-laki itu kemari? Aku pun langsung bersembunyi di balik pohon yang tumbuh di depan rumahku. Dari sini, aku bisa melihat Arsen menekan bel rumahku. Aku mengerutkan kening. Perasaan heran, bingung dan penasaran bercampur menjadi satu membentuk beberapa pertanyaan di otakku.
Tidak lama kemudian, muncul Ibuku dari dalam rumah. Kini aku benar-benar terkejut saat Ibuku mengusap kepala Arsen dengan penuh kasih sayang. Sesuatu yang dulu sering Ibu lakukan padaku. Namun, kenapa Arsen juga diberi perlakuan seperti itu?
“Arsen anakku, kau sudah pulang?” ujar Ibu.
Apa? Anak? Aku merasa semakin bingung saja. Kenapa Ibu memanggil Arsen seperti itu? Sejak kapan ia menjadi anak Ibu? Kenapa aku tidak pernah tahu?
Kini, aku melihat Ibu membawa Arsen masuk ke dalam rumah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Arsen bisa tinggal dengan keluargaku?
Apakah aku bisa masuk ke dalam rumahku? Namun, aku harus memakai alasan apa? Masa aku memakai alasan untuk mencari Arsen? Rasanya tidak mungkin karena kami memang baru mengenal dan hal itu bisa membahayakan kehidupan Raya juga. Lalu, apa yang harus kulakukan?
Tiba-tiba aku melihat Arsen keluar. Namun, kali ini ia tidak sendirian. Tunggu, siapa yang ada di kursi roda itu? Ayah? Benarkah itu Ayah? Kenapa Ayah bisa duduk di kursi roda? Ada apa dengan Ayah?
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun mengikuti ke mana Arsen membawa Ayahku. Perasaanku mulai cemas dan aku tidak bisa melepaskan hal ini begitu saja.
Sambil berjalan diam-diam dengan jarak di belakang Arsen, aku tetap bersiaga. Siapa tahu tiba-tiba Arsen menoleh ke belakang dan harus secepatnya aku menemukan tempat untuk bersembunyi.
Setelah mengikuti beberapa menit, akhirnya Arsen berbelok ke sebuah taman di dekat rumahku. Ah, aku ingat jika Ayah memang menyukai taman ini. Mungkinkah Ayah merindukanku? Karena dulu kami berdua sering berolahraga kecil di taman ini setiap sore.
Arsen duduk di sebuah bangku panjang di depan kolam air mancur. Setelah berbicara serentetan kata yang tidak bisa kudengar, lalu ia pergi meninggalkan Ayahku. Aissh, dasar sialan, kenapa ia membiarkan Ayahku seorang diri? Bagaimana kalau terjadi apa-apa?
Kemudian aku memperhatikan Ayahku. Wajah beliau terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Ayah, kenapa kau sampai sakit begitu? Apakah semuanya karenaku? Maafkan aku Ayah.
Tanpa ku duga, tiba-tiba Ayah menolehkan kepalanya kepadaku. Ia melihatku sejenak, lalu tersenyum. Senyum yang hangat dan ramah, ya senyum yang kusukai dari beliau. Aku pun membalas senyumannya. Aku sangat merindukanmu, Ayah.
“Ayah, ini s**u untukmu,” ucap Arsen sambil memberikan s**u kotak pada Ayahku. Aku langsung tertunduk dan duduk di bangku panjang yang berjarak lumayan jauh dari mereka.
Sesekali aku melirik ke arah mereka, memantau apa-apa yang mereka lakukan. Sampai aku dibuat terkejut karena Arsen sedang berjalan ke arahku entah sejak kapan. Astaga, apa yang harus kulakukan? Ku pikir dia sudah tahu kedatanganku!
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Arsen yang sudah berdiri di hadapanku dengan senyum lebarnya itu.
Aku langsung memutar otakku. Alasan apa yang harus kukatakan? Ah, begini saja. “Aku sedang menikmati pemandangan di taman ini. Aku suka taman ini.”
“Ah, begitu. Oh ya, aku sedang bersama Ayahku. Kau mau berkenalan dengannya?” tawar Arsen.
“Tunggu!”
“Iya?”
“Dia Ayahmu?”
Yah ... aku tahu pertanyaanku ini terdengar aneh dan terburu-buru. Namun, memang tidak ada pertanyaan lain yang bisa ku katakan untuk mendapatkan penjelasan dari semua ini.
“Ya. Walau bukan Ayah kandungku,” jawab Arsen. Raut wajahnya terlihat sedikit berubah. Apa dia sedih?
“Beberapa hari yang lalu, aku diangkat menjadi anak di keluarganya. Mereka sangat baik padaku,” lanjutnya membuatku terkejut. Anak angkat? Arsen adalah anak angkat keluargaku?
“Bagaimana? Kau mau menyapa Ayahku?”
Aku sedikit tersinggung saat ia menyebut kata ‘Ayahku’. Asal kau tahu saja, Arsen. Kedudukanku bahkan lebih tinggi dari kau. Karena aku adalah anak kandung. Bahkan aku sempat menjadi anak semata wayang sejak kakakku meninggal dunia.
“Hei. Kenapa kau melamun?” tanya Arsen sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku. Membuatku langsung tersadar.
“Ah, ya. Aku mau,” jawabku setuju.
Lalu, kami berdua berjalan menghampiri Ayah. Tanganku sempat gemetaran saat melihat Ayah dari jarak dekat. Rasanya aku ingin menghambur ke pelukannya saat ini. Menangis dan menumpahkan segala kesedihanku selama ini.
“Halo, saya Raya Putri,” kataku memperkenalkan diri. Ayah, anak laki-lakimu yang sangat kau banggakan itu, kini telah berada dalam tubuh gadis ini. Andai kau bisa mengetahuinya, Ayah.
“Halo saya Angga,” balas Ayahku ramah. Aku tahu Ayah memang orang yang sangat ramah pada siapa saja. Aku begitu bangga menjadi anaknya.
“Ayah, dia temanku di kampus. Dia sangat cantik, kan?” kata Arsen senang. Aku mencuri-curi waktu untuk mencibirnya.
Ku lihat Ayah tersenyum. Aissh, tapi kenapa harus cantik? Aku benci predikat itu. Selama aku hidup, aku selalu dipuji karena aku tampan. Tapi sekarang? Aku dipuji karena kecantikan wajah seorang Raya? Oh, astaga ….
“Paman, kau sakit apa?” tanyaku kemudian.
“Ah… aku sedang tidak enak badan,” jawabnya.
Tidak enak badan? Aku sangat ingin menyembuhkanmu Ayah. Aku tidak ingin melihatmu sakit seperti ini.
“Apa … ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?”
“Apa? Hahaha … kenapa kau bisa tahu?” katanya sambil tertawa. Aku senang ketika melihatnya bisa tertawa seperti itu. “Ya, aku baru saja kehilangan seorang putra yang sangat ku banggakan.”
Itu aku. Ya, itu aku. Bintang, putra yang sangat di banggakan oleh Angga Pradipa. Rasanya aku sangat ingin berteriak sekarang.
“Dia meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Aku sangat terpukul hingga aku jatuh sakit karena terus memikirkannya,” aku Ayah dengan wajah sedih. “Dia adalah anak yang sangat baik. Sejujurnya, aku ingin menghabiskan masa tuaku nanti bersamanya. Tapi, ternyata ia malah pergi mendahuluiku,” lanjut Ayah lalu terkekeh kecil. “Apa dia tidak bisa menepati janjinya sebagai laki-laki? Aissh!”
Aku tertegun. Ternyata Ayah memiliki sebuah keinginan seperti itu? Ayah sangat menginginkan aku ada disisinya ketika ia beranjak tua. Aku juga ingin melakukannya Ayah. Karena aku sangat menyayangimu. Tapi bagaimana caranya? Aku sudah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa kau lihat. Maafkan aku Ayah, sekali lagi maafkan anakmu yang melanggar janjinya dengan bodoh ini.
••••••
“APA? Arsen diangkat anak oleh keluargamu? Jadi dengan kata lain… dia adalah adik angkatmu?” cerca Raya seolah tidak memercayai pendengarannya sendiri. Namun sikapnya cukup normal karena semua ini memang tidak pernah terduga sebelumnya.
“ya. Aku juga sangat terkejut saat mengetahuinya,” ungkap Bintang sambil menunduk.
“Bagaimana mungkin? Kenapa Ayah dan Ibumu mengangkat Arsen sebagai anak mereka?”
“Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin, mereka melakukan hal itu karena tidak memiliki anak lagi setelah aku meninggal.”
“Apa orang tuaku juga akan melakukan hal yang sama kalau aku meninggal?”
“Aissh, kau! Hal seperti ini kau jadikan bahan perumpamaan?” balas Bintang kesal. “Raya, kalau kau jadi aku, apa kau akan menerima Arsen sebagai adikmu?”
Raya menempelkan telunjuknya di dagu. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sangat rumit. “Bagaimana ya? Aku tahu semua ini cukup sulit. Tapi, mereka juga tidak salah kok. Siapa sih orang tua yang mau menghabiskan masa tuanya sendirian?”
Bintang menghela napasnya. “Kau benar. Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka. Aku hanya merasa takut. Takut kalau mereka akan melupakanku setelah ada Arsen.”
“Tak akan, Bintang. Mereka tidak akan melupakanmu. Karena kau adalah anak orang tuamu yang sebenarnya, anak kesayangan mereka. Kau tak akan tergantikan. Percayalah…,” hibur Raya sambil tersenyum penuh semangat.
Bintang menatap Raya dengan heran. “Kenapa sifatmu sedikit berubah? Kau terlihat lebih dewasa, Raya.”
Raya mengernyit heran. Namun, mendadak wajahnya berubah takjub. “Aku terlihat lebih dewasa?”
“Aissh…. baru dipuji seperti itu sekarang sudah berubah kekanakan lagi!”
“HEI!” seru Raya kesal.
•••••••
Raya menduduki kursi di kelasnya dengan malas. Hari ini Bintang sedang berkunjung ke rumah Bunga. Aissh… kenapa rasanya mendadak sepi ketika laki-laki itu pergi? Huft!
“Raya!” seru sebuah suara membuat Raya hampir mati jantungan. Saat ia menoleh ke arah jendela di sampingnya, ia melihat Andra sudah menongolkan kepalanya sambil bertopang dagu.
“Andra, kau mengejutkan saja!” sentak Raya kesal.
“Ayo ikut denganku,” ajak Andra sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ke mana?”
“Ayolah… nanti kau akan tahu sendiri kok. Cepat!”
Raya mendengkus kesal. Namun, hatinya tetap menuruti apa yang Andra katakan. Ia pun berlarian kecil keluar kelas.
••••••
“Apa?” tanya Raya begitu sampai di lapangan basket, tempat di mana Andra berada sekarang. Raya melihat ke sekelilingnya. Lapangan basket begitu ramai karena suara para mahasiswa yang sedang duduk santai di bangku tribun. “Apa ada pertandingan basket?”
Andra menganggukkan kepalanya. “Kau harus menontonnya, Raya.”
“Maksudmu kau akan ikut pertandingan ini?” tanya Raya tak percaya.
“Aku bahkan menjadi kapten,” yakin Andra sambil menunjukkan sesuatu yang melingkar di lengan atasnya. Sesuatu yang menandakan jika ia adalah kaptennya.
Raya masih menatap Andra dengan tatapan meragukan. Bagaimana bisa laki-laki ini menjadi kapten tim? Sungguh, rasanya begitu sulit bagi Raya untuk memercayai semua ini.
“Sudahlah, duduk sana!” suruh Andra sambil menunjuk sebuah tempat kosong di bangku depan.
“Aku sudah mempersiapkannya,” timpal Andra dan Raya hanya mencibir. Lalu, ia melangkahkan kaki langsingnya ke bangku yang di siapkan Andra itu.
Pertandingan basket antara kelas Andra melawan Jurusan Teknik itu berlangsung sangat sengit. Dari barisan tribun, Raya memperhatikan Andra. Jika sebelumnya ia meragukan Andra sebagai kapten tim, sekarang ia mulai berpikir lain. Ternyata, laki-laki itu boleh juga. Ya, setidaknya ia sudah beberapa kali mencetak angka dan bermain cukup keren. Raya menghela napas pendek. Jika ia perhatikan lagi, sebenarnya Andra cukup tampan juga.
“Kau mulai jatuh cinta padanya?” kata Arsen yang tiba-tiba duduk di sebelah Raya entah sejak kapan.
Raya menoleh terkejut. Ia tidak tahu kapan Arsen duduk di sebelahnya. “Kenapa kau bisa ada di sini?”
“Memang aneh? Ini, kan, masih di lingkungan kampus. Tentu saja aku bisa ke sini kalau aku mau,” jawab Arsen membenarkan.
Raya tidak membalas lagi. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke lapangan basket, di mana Andra sedang berlari sambil mendrible bola dengan kerennya. Dan saat ia sampai di depan ring basket. SET! Bola berwarna cokelat tua itu masuk dengan mulusnya. Semua pendukung kelas Andra pun bersorak gembira sementara Raya hanya tersenyum tipis. Bahkan ketika Andra mengedikkan mata ke arahnya, gadis itu masih tetap pada posisi kalemnya.
“Kau benar-benar lucu,” gumam Arsen tapi masih dapat terdengar oleh Raya.
“Heh?” tanya Raya tidak mengerti. Jujur, ia merasa aneh pada Arsen kali ini. Laki-laki yang sering terlihat ceria itu, kenapa saat ini berubah seperti orang yang sangat misterius?
Arsen tertawa kecil. Garis wajahnya benar-benar memperlihatkan kalau ia memang menyembunyikan sesuatu. “Kau tidak takut jika … Bintang akan cemburu padamu?”
Raya membelalakkan matanya. Wajahnya mendadak pucat dan mulutnya seolah terkunci rapat. Ia menatap Arsen dengan keterkejutan yang luar biasa. Hingga saat ini ia merasa ada di sebuah dimensi lain, hanya berdua dengan Arsen yang mengerikan ini.
“Aku sudah tahu semuanya,” tambah Arsen semakin membuat jantung Raya serasa berhenti berdetak. Kemudian, ia meninggalkan Raya yang masih terpaku dengan sekujur tubuh mendingin.