Tik, tik, tik ….
Suara deras hujan diiringi oleh gemuruh dan petir, seakan menggema di ruangan. Bintang bisa mendengarnya dengan samar. Kabur. Hilang. Dan, kembali terdengar, tapi hilang lagi bersama dengan suara decit pintu yang menutup. Ia merintih, merasakan sakit luar biasa pada bagian punggungnya. Apalagi, ketika mencoba untuk menggerakkan kedua tangan. Ya, Tuhan, sakit sekali. Ditambah lagi, ia tidak bisa merasakan apa-apa dengan kedua kakinya. Bahkan, terlalu lemah hanya sekadar untuk membuka kedua kelopak mata. Mirisnya, ia hanya bisa diam dalam balutan kelemahan, serta rasa sakit yang sangat menyiksa ini.
Tik, tik, tik ….
Suara deras hujan kembali terdengar. Kali ini, begitu jelas, bersamaan dengan suara derap langkah kaki seseorang, yang mulai mendekat ke arahnya. Bintang mencoba untuk membuka kedua kelopak mata. Sialnya, kepalanya semakin berdenyut menyakitkan. Namun, sebisa mungkin ia harus tetap membukanya untuk mengetahui siapa orang itu.
Akhirnya, Bintang bisa membuka kedua matanya, akan tetapi semua yang terlihat tampak kabur. Ia mengerjap. Tak lama kemudian, pandangannya terlihat samar. Namun sayangnya, ia tidak bisa menolehkan kepala ke samping, akibat ada sesuatu yang mengganjal pada bagian lehernya. Sehingga, ia mencoba untuk melirik ke arah kiri, dan dengan samar, melihat seseorang berpakaian serba hitam melangkah maju ke arahnya. Orang itu menggunakan topi berwarna hitam, juga masker, menghampirinya.
Mungkinkah itu ayah?
“A-ayah.” Bintang mencoba untuk memanggilnya. Terdengar begitu lirih, hingga ia tak tahu apakah orang berjaket hitam itu bisa mendengar suaranya atau tidak.
“Cih! Rupanya kau masih hidup!”
Bintang terlonjak kaget. Suara itu? Bukan suara ayahnya. Lantas, siapa orang itu? Ia mencoba untuk memperhatikan kembali. Samar-samar. Ia melihat sebuah lubang bekas tindik di telinga kiri orang itu. Beralih dari sana, sedikit ke bawah, ia juga melihat tiga buah benda kecil berbentuk bintang berwarna cokelat emas, yang melekat di atas saku kiri pakaiannya. Kini, ia yakin jika orang itu memang bukanlah sang ayah. Namun, dari postur tubuhnya, ia seperti … mengenali orang itu. Bahkan, juga pakaian dan suaranya. Namun … siapa? Dan di mana ia pernah melihatnya?
Orang yang memiliki perawakan tinggi itu, kini telah berada tepat di samping ranjangnya. Bintang tercenung, ketika orang berjaket hitam itu membelai rambutnya dengan lembut. Akan tetapi ….
“Aaarrgghh!” Bintang merintih. Merasakan punggungnya semakin sakit, layaknya sedang dipukuli oleh banyak orang menggunakan besi. Terasa remuk pada tulang punggungnya. Sakit sekali.
Entah kenapa, tiba-tiba saja orang itu menarik kasar bantalnya. Sebenarnya apa yang akan dilakukan orang berjaket hitam itu kepadanya? Berulang kali, ia mencoba untuk memerintahkan otak supaya mau menggerakkan tubuh, sayangnya seakan lumpuh, sehingga hanya jari-jemari saja yang bisa digerakkan.
“Apa tadi menyakitkan? Haha. Sebentar lagi, aku akan menghilangkan semua rasa sakitmu.” Orang berjaket hitam itu terdengar menjeda ucapannya, “sekaligus nyawamu! Hahaha,” tambahnya kemudian diiringi oleh tawanya yang menakutkan.
Bintang tergemap. Apa? Apa dirinya tidak salah dengar? Orang itu ingin membunuhnya?
“To-tolooong!” Bintang berusaha untuk berteriak sekeras mungkin, tapi sayang bibirnya terasa kelu, sehingga mungkin terdengar seperti sebuah dengungan saja. Jujur saja jika saat ini rasa panik, sekaligus takut mulai mendekapnya secara bersamaan. Ke mana perginya ibu dan ayah? Kenapa ruangan ini sepi sekali? Sialnya, kenapa tubuhnya tak kunjung mau mendengarkan titahnya? Sungguh, jika boleh jujur, ia ingin berlari, dan pergi dari tempat ini sekarang juga!
“Aarrgghh!” Bintang terperanjat dan menjerit histeris, ketika tiba-tiba saja, orang berjaket hitam itu menekan wajahnya menggunakan bantal dengan sekuat tenaga. Namun sepertinya, sia-sia saja ia melakukannya, karena suaranya pasti teredam oleh benda tersebut.
Bintang merasakan sakit luar biasa, saat mencoba menggerakkan tubuhnya untuk melawan orang itu. Sakit sekali. Sialnya, tenaganya terlalu lemah, sehingga orang berjaket hitam itu bisa lebih leluasa untuk menindih tubuhnya dan semakin kuat menekan bantal. Oh, Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Ia sulit untuk bernapas, tenggorokannya terasa tercekat, dan dadanya begitu sesak.
Seberapa kuat, Bintang berusaha melawan, hanya rasa sakit pada sekujur tubuh yang dirasakannya. Sungguh, ia tidak mau mati sekarang. Akan tetapi, kenapa dadanya terasa begitu sakit?
“Kau harus mati! Mati! Mati! Hahaha.”
Bintang merasa semakin sulit untuk bernapas. Detak jantungnya terasa tak keruan. Berdebar-debar kencang, akan tetapi denyut nadinya melemah, bersamaan dengan napasnya yang tersengal-sengal. Ia juga merasakan keringat dingin mulai merebak. Namun, ia harus mempertahankan kesadarannya sekarang. Ia tidak boleh mati. Akan tetapi, kepalanya terasa begitu berat.
“Bagaimana? Sudah tidak terasa sakit, bukan?”
Seketika tenggorokan Bintang tercekat. Napasnya megap-megap, seiring dengan tubuhnya yang terlonjak. Dan lama-kelamaan, ia tidak bisa bernapas. Kedua matanya membeliak, bersamaan dengan air mata yang mulai merebak pelan. Tubuhnya mulai terkulai lemas. Pun, denyut jantungnya perlahan mulai berhenti berdetak. Tuhan … ia belum siap jika harus meninggalkan dunia secepat ini. Tetapi … kenapa semuanya mendadak menjadi gelap? Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya hidup di dunia ini?
••••••••
Raya melihat keadaan putih di sekitarnya. Semuanya putih akan tetapi kosong. Ia tidak bisa merasakan apapun. Sel saraf dari mata, telinga, tangan kaki dan sekujur tubuh seperti tersesat mengantarkan rangsangan dari dunia luar. Atau jangan-jangan Raya sudah tidak berada di dunia ini. Namun, rasa itu datang lagi. Sepertinya, ia masih hidup. Masih hidup untuk merasakan rasa sakit yang merayap di sekujur tubuh. Sakit. Hanya rasa sakit!
“Raya? Raya sayang? Ini Ibu.”
Sayup terdengar seseorang memanggil namanya dengan lembut dan penuh kasih. Pancaran khawatir dari nada suaranya membawa Raya kembali hidup.
“Raya, kau sudah sadar?”
Kini, Raya bisa melihat sesosok Wanita yang sedang menangis di sampingnya. Kedua netranya sedikit terasa berat dan berkunang-kunang. Namun, ia sangat bersyukur sebab masih diberi kesempatan.
“Ibu,” ucapnya lirih. Kemudian, ia juga melihat sang Ayah. Dua orang yang sangat dirindukan kini berada di dekatnya, dan tersenyum kepadanya. Dan sekali lagi Raya sangat mensyukuri semua ini.
••••••••
“Kau mau makan apel?” tanya Nadia menyodorkan sebuah apel merah yang segar.
Raya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu ia terdiam memperhatikan Ibu mengupaskan apel untuknya.
“Ibu, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Raya memecah keheningan. Jujur saja, sejak terbangun dari tidurnya tadi ia langsung teringat pada Bintang. Ia tidak tahu keadaan laki-laki itu sekarang dan saat ini dirinya sangat ingin mengetahuinya.
“Lima hari sayang. Kau hanya mengalami luka ringan. Dan akan segera pulih, jangan kawatir,” jawab Nadia sambil tersenyum. Lalu, ia menyuapkan irisan apel pada putrinya itu.
Raya tidak menjawabnya lagi. Ia hanya memakan suapan apel dari Ibunya dengan menurut. “Ibu, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Hm, kau mau menanyakan apa?”
“Mm … apa Ibu tahu keadaan seseorang yang saat itu menolongku? Oh, maksudku apa semua korban kecelakaan itu dirawat di sini?”
Nadia mengerutkan dahinya. “Ibu tidak tahu, sayang. Memang ada seseorang yang kau cari?”
Raya mengangguk. “Temanku, Ibu.”
“Teman?” tanya Nadia tidak yakin. “Bukannya selama ini kau tidak punya teman? Teman yang mana sayang?”
Raya tertegun. Benar, selama ini ia memang tidak pernah memiliki seorang teman satu pun. Dan Bintang? Ah, sebenarnya ia sendiri masih bingung dengan laki-laki itu. Mereka bertemu secara tidak sengaja dan terakhir kali Bintang berusaha keras untuk melindunginya.
••••••••
Langkah kaki Raya surut perlahan menyusuri lorong rumah sakit siang ini. Akhirnya ia diperbolehkan jalan-jalan setelah memohon pada dokter yang merawatnya. Namun, sejujurnya ia merasa sedikit heran karena dokter mengatakan kalau keadaannya bisa pulih dengan cepat. Aneh memang, tapi ia menganggap semua ini adalah mukjizat Tuhan.
“Apakah ada pasien yang bernama Bintang Pradipa? Dia masuk kemarin karena mengalami kecelakaan bus,” tanya Raya pada perawat yang menjaga meja recepcionist.
“Bintang Pradipa? Tunggu sebentar ya,” kata perawat itu lalu mengetikkan nama Bintang di komputernya. Tidak lama kemudian, ia menekan enter dan segera mendapatkan informasi mengenai orang yang dicarinya. “Dia sudah tidak dirawat di sini.”
Raya mengernyit heran. “Maksudnya? Jadi dia sempat di rawat disini?”
“Ya. Saat kecelakaan itu terjadi, kak Bintang memang dibawa ke rumah sakit ini. Akan tetapi, nyawanya tidak tertolong.”
Raya tergemap. Ia membungkam mulut dengan kedua tangannya. Bintang meninggal? Bagaimana mungkin? Ia baru saja bersamanya kemarin. Laki-laki itu yang melindungi dirinya. Namun, kenapa Bintang meninggal secepat ini? Bahkan ia belum sempat mengucapkan terima kasihnya pada Bintang.
“Apa kau mau bertemu keluarganya? Hari ini jasadnya akan diambil oleh keluarganya,” tanya perawat itu. Sedangkan, Raya hanya melenggut lemah.
••••••••
“HAAAAAAA … BINTANG!”
Raya menatap pemandangan di depan matanya itu dengan sangat miris. Seorang pria paruh baya yang sedang memeluk peti jenazah itu, mungkin Ayahnya Bintang. Dan pria itu pasti sangat terpukul.
Raya begitu ingin mendekati keluarga itu. Namun, entah kenapa ia tidak berani. Padahal, ia sangat ingin berterima kasih akan kebaikan Bintang yang telah menyelamatkannya, akan tetapi nyalinya terasa begitu ciut. Baru kali ini ia merasakan begitu takut menghadapi orang lain.
“JANGAAAN! Kau tidak boleh menyentuh anakku! Anakku masih hidup!” bentak pria itu pada seorang pria bertubuh tinggi yang akan menyentuh peti jenazah anaknya.
Raya berpengangan pada dinding di sebelahnya. Ia merasa lututnya sangat lemas dan bisa saja terjatuh saat itu juga. Sungguh, Raya benar-benar tidak percaya. Dirinya yang bisa pulih dengan cepat, sedangkan Bintang justru telah meregang nyawa. Seandainya Bintang masih hidup, ia pasti akan mengucapkan terima kasihnya sambil berlutut. Ya, ia akan melakukannya.
“Sayang….”
Raya terkesiap kaget begitu ada suara wanita yang memanggilnya. “Ibu,” ucapnya sambil menepis air mata yang tanpa terasa sudah membasahi pipinya.
“Apa itu temanmu?” tanya Nadia sambil mengelus kepala anaknya.
Raya menelan salivanya sebelum benar-benar menjawab pertanyaan itu. “Ya. Dia meninggal Ibu.”
Nadia terkejut. Ia melihat anaknya sedang menangis sekarang. Ia tertegun, ini adalah pertama kalinya Raya menangis karena seseorang. “Sabar, ya, sayang. Setiap orang akan mengalami kehilangan,” hibur Nadia, simpati.
Kali ini Raya membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Ya, ia ingin menangis karena seseorang. Baru kali ini ia merasakan apa yang disebut dengan kehilangan itu. Sesuatu yang sering ia dengar, tetapi tidak pernah dirasakannya. Dan ternyata rasanya begitu perih dan sulit, meskipun Bintang baru menjadi bagian dari hidupnya beberapa hari ini.
“Bintang, terima kasih untuk semuanya. Kau menyelamatkanku,” bisiknya dalam hati. Raya yakin jika Bintang akan mendengarnya.
••••••••
Raya menata semua baju-bajunya ke dalam tas. Hari ini tepat seminggu dirinya dirawat di rumah sakit dan mendapat kabar bahagia jika sudah diperbolehkan pulang. Menyenangkan sekali. Sebab, ia tidak menyukai bau rumah sakit.
“Kau sudah mau pergi, Mbak?” tanya seorang perawat cantik yang masuk ke kamar perawatan Raya.
Raya tersenyum. “Ah, iya,” jawabnya singkat lalu menenteng tasnya, “terima kasih,” ucapnya.
Kemudian, Raya berjalan keluar. Ayah dan ibunya tidak bisa mengantarkan pulang karena sedang ada bisnis ke luar negeri. Namun, Raya juga bukanlah anak manja yang harus selalu ditemani orang tuanya. Jadi, ia sama sekali tidak merasa marah bila orang tuanya itu tidak bisa menemaninya.
Raya berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit. Seminggu terakhir dirawat menjadikannya akrab dengan suasana di sini. Dan hari ini ia akan meninggalkannya. Rumah sakit ini seperti menjadi tempat yang cukup berkesan untuknya.
Raya tersenyum seraya mengirup lamat-lamat udara dingin malam ini. Namun, kedua netranya tidak melihat seorang dokter yang sedang setengah berlari menghampiri, hingga kejadian yang tidak terduga pun mereka alami.
Bruuukk !
Keduanya terjatuh di atas lantai. Sedangkan, Raya meringis sakit dan memegangi bokongnya yang terbentur lantai. Ia merutuki dokter itu yang seenaknya saja berjalan tanpa melihat sekelilingnya. Namun, ia tertegun saat laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Alih-alih memarahi, Raya menerima uluran tangan dokter muda tersebut. Ia sedang tidak ingin berdebat sekarang. Sebab, saat ini ia hanya ingin cepat sampai di rumahnya.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru,” tutur dokter itu seraya menarik pergelangan tangan Raya, membantu gadis itu berdiri.
“Ya. Tidak apa-apa.” Kedua netra Raya tidak sengaja membaca name tag yang tertempel di jas putih dokter tersebut setelah berhasil berdiri. Arsen.
“Aku permisi dulu,” tutur Raya dengan mulai melangkahkan kedua kakinya melintasi dokter tersebut yang menghalangi jalannya. Ia tidak sadar jika lupa mengucapkan terima kasih.
Arsen terkekeh kecil. Ia pun berniat untuk kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Namun, sebelum benar-benar berlalu pergi, ia masih sempat membisikkan sesuatu ke arah telinga kiri gadis itu.
“Kau tidak boleh menolak. Kau harus mau membantu seseorang yang akan kau temui nanti.”
Mendadak langkah Raya kembali terhenti. Keningnya mengerut, sekaligus otaknya berusaha mencerna makna akan ucapan dokter itu terhadapnya. Segera, ia tolehkan kepalanya ke belakang dan hanya mendapati punggung dokter itu yang sudah menjauh.
Raya mencibir. “Siapa dia? Apa maksudnya berbicara seperti itu terhadapku?” tanyanya heran.
Namun, detik setelahnya ia melenggut mantap. “Ah, aku tahu siapa dia sekarang. Dia pasti dokter jiwa yang sedang mengidap gangguan jiwa.”
Oh, astaga! Bagaimana bisa pengidap gangguan jiwa seperti dokter itu berkeliaran bebas di Rumah Sakit ini? Raya bergedik ngeri. Sungguh, ia tidak ingin lagi kembali ke sini.
Raya pun memilih untuk melanjutkan langkahnya. Namun, dalam jarak hanya beberapa meter saja, langkah kaki Raya harus kembali terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya.
“Raya.”
“Raya Putri.”
Entah kenapa, kedua kaki Raya langsung terasa dihentikan oleh sesuatu. Raya tidak tahu apa itu, yang jelas suasana mencekam begitu terasa di sekitarnya. Siapa yang telah memanggilnya tadi? Astaga, apa ia harus mengalami peristiwa ini? Sungguh, ia tidak siap jika harus melihat ….