Ravin melajukan mobil pribadinya dengan sangat kencang di tengah kegelapan malam serta guyuran hujan yang cukup deras. Ia tidak peduli dengan kondisi jalan yang basah. Sebab, pikirannya telah hanyut meninggalkan tubuhnya. Kini, yang tersisa hanyalah seonggok tubuh yang terasa remuk dan lelah setelah dihujani oleh serentetan pemotretan yang tiada pernah berujung. Membuat harinya terasa sangat panjang dan melelahkan.
"Hoaamm …." Ravin menangkup mulut dengan lengan berototnya. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Ia pun menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Oh sungguh, ingin rasanya Ravin segera cepat sampai di rumah untuk beristirahat dan tidur di ranjang yang empuk. Pada akhirnya, ia pun memilih untuk menambah laju kecepatan pada mobilnya agar bisa cepat tiba di